RSS

Jumat, 13 Maret 2015

Pseudomonas syringae pv. Syringae


Taksonomi
Domain : Bacteria

Family : Pseudomonadaceae

Genus : Pseudomonas

Spesies : Pseudomonas syringae pv. Syringae


Morfologi

Geminivirus dicirikan dengan bentuk partikel kembar berpasangan (geminate) dengan ukuran sekitar 30 x 20 nm. Partikel virus yang rangkap, tidak menyelimuti, partikel berpasangan adalah 18-20 nm diameter dan 30 nm panjang, profil sudut, pengaturan capsomere tidak mudah terlihat. Daun getah mengandung beberapa partikel. Mikroskop elektron: aldehyde diperlukan untuk fiksasi kecuali asam fosfotungstat (PTA) digunakan pada pH 4 (Brunt et al, 1990.).

Media Pembawa

Buah / polong (Fruits/pods), perbungaan (inflorescence), daun (leaves), batang (stems) dan seluruh tanaman (whole plant).

BGMV tidak dilaporkan seedborne.

Biologi

BGMV ditransmisikan secara terus-menerus oleh kutu putih atau kutu kebul (Bemisia tabaci) secara persisten yang berarti selama hidupnya virus terkandung di dalam tubuh kutu tersebut. Dewasa dapat memperoleh virus dalam waktu 6 menit . BGMV dipertahankan selama berhari-hari atau berminggu-minggu , dan melalui mabung . Tidak berkembang biak dalam vektor dan tidak menular secara langsung ke keturunan . Non – vector transmisi adalah dengan inokulasi mekanis ( dengan pengecualian isolat dari Argentina dan Brazil ) , dengan mencangkok, tetapi tidak oleh kontak antara tanaman. Virus tidak ditularkan lewat biji dan juga tidak ditularkan lewat kontak langsung antar tanaman.

Gejala

Gejala penyakit pada tanaman cabai berupa bercak kuning di sekitar tulang daun, kemudian tampak vein clearing yang berkembang menjadi warna kuning sangat jelas, tulang daun menebal dan helai daun menggulung ke atas (cupping). Gejala lanjut penyakit ini menunjukan daun-daun muda menjadi kecil-kecil, helai daun berwarna kuning cerah atau hijau muda yang berseling dengan warna kuning dan cerah yang akhirnya tanaman kerdil (Sulandari et al., 2001).

Tanaman cabai yang terserang virus ini menunjukkan gejala: daun menguning cerah/pucat, daun keriting (curl), daun kecil-kecil, tanaman kerdil, bunga rontok, tanaman tinggal ranting dan batang saja, kemudian mati. Infeksi virus pada awal pertumbuhan tanaman menyebabkan tanaman menjadi kerdil dan tidak menghasilkan bunga dan buah. Gejala kuning dapat dilihat dari kejauhan.

Gejala : Vena menguning , jaring dan kliring , memperluas klorosis interveinal kuning cerah . Daun muncul setelah gejala pertama kali muncul meringkuk turun , gagal untuk memperluas dan menjadi kaku dan kasar (EPPO quarantine pest ) .

Gejala dari bagian tanaman yang terkena
  1. Buah / polong: bentuk abnormal.
  2. Perbungaan: jatuh atau shedding.
  3. Daun: warna tidak normal, bentuk normal.
  4. Batang: pertumbuhan abnormal.
  5. Seluruh tanaman: pengerdilan.





Kamis, 12 Maret 2015

DAMPAK PEMANASAN GLOBAL TERHADAP SERANGGA


Pemanasan global (global warming) adalah suatu bentuk ketidakseimbangan ekosistem di bumi akibat terjadinya proses peningkatan suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan di bumi. Selama kurang lebih seratus tahun terakhir, suhu rata-rata di permukaan bumi telah meningkat 0.74 ± 0.18 °C. Meningkatnya suhu rata-rata permukaan bumi yang terjadi adalah akibat meningkatnya emisi gas rumah kaca, seperti; karbondioksida, metana, dinitro oksida, hidrofluorokarbon, perfluorokarbon, dan sulfur heksafluorida di atmosfer. Emisi ini terutama dihasilkan dari proses pembakaran bahan bakar fosil (minyak bumi dan batu bara) serta akibat penggundulan dan pembakaran hutan.

Pemanasan global diperkirakan telah menyebabkan perubahan-perubahan sistem terhadap ekosistem di bumi, antara lain; perubahan iklim yang ekstrim, mencairnya es sehingga permukaan air laut naik, serta perubahan jumlah dan pola presipitasi. Adanya perubahan sistem dalam ekosistem ini telah memberi dampak pada kehidupan di bumi seperti terpengaruhnya hasil pertanian, hilangnya gletser dan punahnya berbagai jenis hewan.

Efek rumah kaca sebagai suatu sistem di bumi sangat dibutuhkan oleh makhluk hidup di bumi. Suhu atmosfer bumi akan menjadi lebih dingin jika tanpa efek rumah kaca. Tetapi, jika efek rumah kaca berlebihan dibandingkan dengan kondisi normalnya maka sistem tersebut akan bersifat merusak. Melihat sebagian besar emisi gas rumah kaca bersumber dari aktivitas hidup manusia, maka pemanasan global harus ada upaya solusinya dengan merubah pola hidup dan perilaku masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.


A. Pemanasan Global 

Pemanasan global (global warming) menjadi salah satu isu lingkungan utama yang dihadapi dunia saat ini. Pemanasan global berhubungann dengan proses meningkatnya suhu rata-rata permukaan bumi. Peningkatan suhu permukaan bumi ini dihasilkan oleh adanya radiasi sinar matahari menuju ke atmosfer bumi, kemudian sebagian sinar ini berubah menjadi energi panas dalam bentuk sinar infra merah diserap oleh udara dan permukaan bumi. 
Sebagian sinar infra merah dipantulkan kembali ke atmosfer dan ditangkap oleh gas-gas rumah kaca yang kemudian menyebabkan suhu bumi meningkat. Gas-gas rumah kaca terutama berupa karbon dioksida, metana dan nitrogen oksida. Kontribusi besar yang mengakibatkan akumulasi gas-gas kimia ini di atmosfir adalah aktivitas manusia. Temperatur global rata-rata setiap tahun dan lima tahunan tampak meningkat, seperti pada diagram berikut (Anonim, 2004). 

B. Dampak Pemanasan Global
Pemanasan global telah memicu terjadinya sejumlah konsekuensi yang merugikan baik terhadap lingkungan maupun setiap aspek kehidupan manusia. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut: 
1. Mencairnya lapisan es di kutub Utara dan Selatan. Peristiwa ini mengakibatkan naiknya permukaan air laut secara global, hal ini dapat mengakibatkan sejumlah pulau-pulau kecil tenggelam. Kehidupan masyarakat yang hidup di daerah pesisir terancam. Permukiman penduduk dilanda banjir rob akibat air pasang yang tinggi, dan ini berakibat kerusakan fasilitas sosial dan ekonomi. Jika ini terjadi terus menerus maka akibatnya dapat mengancam sendi kehidupan masyarakat. 
2. Meningkatnya intensitas fenomena cuaca yang ekstrim. Perubahan iklim menyebabkan musim sulit diprediksi. Petani tidak dapat memprediksi perkiraan musim tanam akibat musim yang juga tidak menentu. Akibat musim tanam yang sulit diprediksi dan musim penghujan yang tidak menentu maka musim produksi panen juga demikian. Hal ini berdampak pada masalah penyediaan pangan bagi penduduk, kelaparan, lapangan kerja bahkan menimbulkan kriminal akibat tekanan tuntutan hidup. 
3. Punahnya berbagai jenis fauna. Flora dan fauna memiliki batas toleransi terhadap suhu, kelembaban, kadar air dan sumber makanan. Kenaikan suhu global menyebabkan terganggunya siklus air, kelembaban udara dan berdampak pada pertumbuhan tumbuhan sehingga menghambat laju produktivitas primer. Kondisi ini pun memberikan pengaruh habitat dan kehidupan fauna. 
4. Habitat hewan berubah akibat perubahan faktor-faktor suhu, kelembaban dan produktivitas primer sehingga sejumlah hewan melakukan migrasi untuk menemukan habitat baru yang sesuai. Migrasi burung akan berubah disebabkan perubahan musim, arah dan kecepatan angin, arus laut (yang membawa nutrien dan migrasi ikan). 
5. Berubahnya habitat memungkinkan terjadinya perubahan terhadap resistensi kehidupan larva dan masa pertumbuhan organisme tertentu, kondisi ini tidak menutup kemungkinan adanya pertumbuhan dan resistensi organisme penyebab penyakit tropis. Jenis-jenis larva yang berubah resistensinya terhadap perubahan musim dapat meningkatkan penyebaran organisme ini lebih luas. Ini menimbulkan wabah penyakit yang dianggap baru. 

C. Studi Kasus Dampak Pemanasan Globat terhadap Ekosistem Serangga

Penyebaran Hama Tanaman Akibat Pemanasan Global

Sebuah studi terbaru mengungkapkan bahwa pemanasan global mengakibatkan penyebaran hama tanaman menuju arah Utara dan Selatan semakin sering terjadi, penyebaran hama ini terjadi hampir di setiap daerah dengan kecepatan hampir 3 kilometer per tahunnya.

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nature Climate Change dan dilakukan oleh para peneliti di University of Exeter dan Universitas Oxford, menunjukkan sebuah hubungan yang kuat antara suhu global yang meningkat selama 50 tahun terakhir dan ekspansi berbagai hama tanaman.

Pada saat ini sekitar 10-16% dari produksi tanaman (terutama pangan) global terserang hama. Hama tanaman yang menyerang yaitu jamur, bakteri, virus, serangga, nematoda, viroid dan Oomycetes. Keragaman serta strain hama tanaman pun terus berkembang. Kerugian akibat hama tanaman berupa jamur dan mikroorganisme, jumlahnya cukup untuk memberi makan hampir sembilan persen dari populasi dunia saat ini. Studi ini menunjukkan bahwa angka-angka ini akan meningkat terus-menerus jika suhu global terus meningkat seperti yang diperkirakan.

Penyebaran hama pada tanaman disebabkan oleh aktivitas manusia (terutama hasil dari pengangkutan kargo internasional) dan proses alami. Namun dalam studi ini menunjukkan bahwa pemanasan iklim memungkinkan hama semakin mudah untuk beradaptasi di daerah yang sebelumnya tidak cocok.

Sebagai contoh, kenaikan suhu umumnya merangsang serangga herbivora di daerah subtropis, pada daerah ini wabah kumbang pinus (Dendroctonus ponderosae) telah menghancurkan sebagian besar wilayah hutan pinus di Pacific Northwest, Amerika Serikat. Selain itu, rice blast fungus pada padi yang saat ini sudah menyebar di lebih dari 80 negara, dan memiliki efek yang besar, baik pada ekonomi maupun keseimbangan ekosistem, kini telah berpindah ke tanaman pangan lainnya yaitu gandum. Jenis jamur ini dianggap sebagai penyakit baru pada gandum (wheat blast), dimana penyakit ini mengurangi hasil panen gandum di Brasil secara signifikan.

Salah satu serangan hama yang telah terjadi adalah kumbang kentang di Colorado. Kumbang Colorado bergerak ke utara melewati kawasan Eropa dan memasuki wilayah Finlandia dan Norwegia. Padahal biasanya kumbang tidak bisa bertahan melewati musim dingin.

Dr. Dan Bebber dari University of Exeter mengatakan: “Jika penyebaran hama tanaman akibat pemanasan global terus terjadi ditambah efek pertumbuhan jumlah penduduk dunia yang tak bisa ditekan akan menjadi ancaman keamanan pangan global.

Dampak Penyebaran hama tanaman akibat Pemanasan Global bagi Indonesia

Di Indonesia sendiri yang termasuk negara dengan iklim tropis, dipekirakan juga akan mengalami penurunan produktivitas pertanian khususnya tanaman padi, bila kenaikan suhu rata-rata global antara 1-2 oC sehingga meningkatkan resiko bencana kelaparan di Indonesia.


Penurunan produktivitas pangan merupakan dampak nyata yang harus dihadapi Indonesia. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya peningkatan sterilitas serealia, penurunan areal yang dapat diirigasi dan penurunan efektivitas penyerapan hara serta penyebaran hama dan penyakit. Selain itu, pergeseran musim juga ikut berpengaruh pada penurunan produktivitas. Pemanasan global juga akan menimbulkan peningkatan intensitas kejadian iklim ekstrim (El-Nino dan La-Nina) dan ketidakteraturan musim.

Perkembangan hama dan penyakit sangat dipengaruhi oleh dinamika faktor iklim. Fluktuasi suhu dan kelembaban udara yang semakin meningkat yang akan mampu menstimulasi pertumbuhan dan perkembangan organisme pengganggu tanaman, baik hama maupun penyakit. Sehingga tidak jarang kalau pada musim hujan petani banyak disibukkan oleh masalah penyakit tanaman. Hama-hama yang menyerang tanaman padi antara lain; Pengerek batang padi (scirpophaga innotata) atau lebih dikenal masyarakat dengan “sundep”, pengerek batang padi (Scirpophaga incertulas), wereng coklat (Nilaparvata lugens), wereng hijau (Neppotetix impicticeps), ganjur (Pachydiplosis oryzae), lalat bibit (Arterigona exigua), ulat tentara atau grayak (Spodoptera litura), dan tikus sawah (Rattus argentiventer). Sedangkan penyakit-penyakit penting yang menyerang tanaman padi antara lain; blas (Pyricularia oryzae, p. Gricea) dan hawar daun bakteri atau “kresek”(Xanthomonas oryzae pv. Oryzae). Ledakan populasi organisme pengganggu tanaman seperti serangga disebabkan oleh peningkatan konsentrasi CO, yang berakibat pada penurunan perbandingan unsur Nitrogen dalam tumbuhan. Padahal, Nitrogen mutlak untuk hidup serangga. Kompensasinya, serangga akan memakan biomassa tumbuhan yang lebih banyak dan karena siklus hidup serangga yang pendek, sehingga serangga cepat mewariskan genetika paling sesuai dengan kondisi iklim kontemporer pada keturunannya termasuk pada racun.

D. Meminimalisasi Dampak Pemanasan Global 

1) Konservasi lingkungan, dengan melakukan penanaman pohon dan penghijauan di lahan-lahan kritis. Tumbuhan hijau memiliki peran dalam proses fotosintesis, dalam proses ini tumbuhan memerlukan karbondioksida dan menghasilkan oksigen. Akumulasi gas-gas karbon di atmosfer dapat dikurangi. 
2) Menggunakan energi yang bersumber dari energi alternatif guna mengurangi penggunaan energi bahan bakar fosil (minyak bumi dan batu bara). Emisi gas karbon yang terakumulasi ke atmosfer banyak dihasilkan oleh pembakaran bahan bakar fosil. Kita mengenal bahwa paling banyak mesin-mesin kendaraan dan industri digerakkan oleh mesin yang menggunakan bahan bakar ini. Karena itu diupayakan sumber energi lain yang aman dari emisi gas-gas ini, misalnya; menggunakan energi matahari, air, angin, dan bioenergy. Di daerah tropis yang kaya akan energi matahari diharapkan muncul teknologi yang mampu menggunakan energi ini, misalnya dengan mobil tenaga surya, listrik tenaga surya. Sekarang ini sedang dikembangkan bioenergy, antara lain biji tanaman jarak (Jathropa. sp) yang menghasilkan minyak. 
3) Daur ulang dan efisiensi energi. Penggunaan minyak tanah untuk menyalakan kompor di rumah, menghasilkan asap dan jelaga yang mengandung karbon. Karena itu sebaiknya diganti dengan gas. Biogas menjadi hal yang baik dan perlu dikembangkan, misalnya dari sampah organik. 
4) Upaya pendidikan kepada masyarakat luas dengan memberikan pemahaman dan penerapan




DAFTAR PUSTAKA



Ammann, Caspar, et al. (2007). "Solar influence on climate during the past millennium: Results from ransient simulations with the NCAR Climate Simulation Model". Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America 104 (10): 3713-3718.

Buesseler, K.O., C.H. Lamborg, P.W. Boyd, P.J. Lam, T.W. Trull, R.R. Bidigare, J.K.B. Bishop, K.L. Casciotti, F. Dehairs, M. Elskens, M. Honda, D.M. Karl, D.A. Siegel, M.W. Silver, D.K. Steinberg, J. Valdes, B. Van Mooy, S. Wilson. (2007) "Revisiting carbon flux through the ocean's twilight zone." Science 316: 567-570.

Gleason, Karen K., Simon Karecki, and Rafael Reif (2007). Climate Classroom; What’s up with global warming?, National Wildlife Federation. URL diakses 6-12-2014

Hegerl, Gabriele C. et al. Understanding and Attributing Climate Change. Climate Change 2007: The Physical Science Basis. Contribution of Working Group I to the Fourth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate 11 Change. Intergovernmental Panel on Climate Change. URL diakses pada 6-12-2014

Marsh, Nigel, Henrik, Svensmark (2000). "Cosmic Rays, Clouds, and Climate" Space Science Reviews 94: 215-230. URL diakses pada 6-12-2014

Scafetta, Nicola, West, Bruce J. (2006). "Phenomenological solar contribution to the 1900-2000 global surface warming". Geophysical Research Letters 33 (5). URL diakses pada 6-12-2014.

Soden, Brian J., Held, Isacc M. (2005). "An Assessment of Climate Feedbacks in Coupled Ocean-Atmosphere Models". Journal of Climate 19(14). URL diakses pada 6-12-2014

Stocker, Thomas F.; et al. Sea Ice. Climate Change 2001: The Scientific Basis. Contribution of Working Group I to the Third Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change. Intergovernmental Panel on Climate Change. URL diakses pada 6-12-2014

Stott, Peter A., et al. (2003). "Do Models Underestimate the Solar Contribution to Recent Climate Change?". Journal of Climate 16 (24): URL diakses pada 6-12-2014

Summary for Policymakers. Climate Change 2007: The Physical Sciences Basis, Contribution of Working Group I to the Fourth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change. Intergovernmental Panel on Climate Change. URL diakses pada 6-12-2014


ANALISIS RESIKO ORGANISME PENGGANGGU TANAMAN (AROPT) BERDASARKAN ISPM NO.11

Analisis resiko OPT adalah suatu pedoman yang dikeluarkan oleh IPPC melalui ISPM No.2 (Guidelines for Pest Risk Analysis) dan No.11 (Pest Risk Analysis for Quarantine Pests). Semua kegiatan yang dilakukan pada kegiatan Analisis Resiko OPT sudah jelas tertulis pada ISPM No.2 dan No.11. 
Analisis Resiko Organisme Pengganggu Tanaman (AROPT) dalam ISPM no. 2 diartikan sebagai suatu proses evaluasi OPTsecara keilmuan ilmiah (ekologi, biologi,ekonomi, sosial budaya, dll.) sehingga dapat ditentukan apakah terhadap suatu OPT perlu dikenakan ketentuan fitosanitari, dan seberapa ketat ketentuan fitosanitari akan diberlakukan.

Tulisan ini akan membahas secara ringkas isi dari peraturan karantina pada ISPM no. 11 tentang analisis resiko organism pengganggu tanaman (AROPT). Pada ISPM no 11 tentang manajemen dan analisis resiko OPT, terdapat tiga tahapan dalam melakukan analisis resiko OPT yaitu :
1. Inisiasi (Initiation)
2. Penilaian Resiko OPT (Pest Risk Assessment)
3. Manajemen Resiko OPT (Pest Risk Management)

A. INISIASI (INITIATION) 

Inisiasi berfungsi untuk mengidentifikasi dan menentukan status suatu OPT yang memiliki kemungkinan terbawa oleh media pembawa dari negara asalnya. Inisiasi terbagi menjadi beberapa tahapan yaitu :
1. Mengidentifikasi media pembawa: 
 Benih (biji, batang, daun, kecambah, culture jaringan, dll)
 Peruntukan (konsumsi, bahan baku industri, benih, dll.);
2. Membuat daftar OPT yang berpotensi terbawa oleh media pembawa
3. Apabila tidak ditemukan OPT yang berpotensi terbawa oleh media pembawa maka AROPT dihentikan;
4. Jika ditemukan OPT berpotensi terbawa media pembawa, maka OPT dievaluasi apakah memenuhi kriteria atau berpotensi sebagai “OPTK/quarantine pest”
5. Setiap OPT yang memenuhi kriteria OPTK dilanjutkan ke tahap penilaian risiko/risk assessment.

Berdasarkan obyeknya, inisiasi dibedakan menjadi dua :
a. Inisiasi berdasarkan media pembawa 
Mengidentifikasi media pembawa apakah berpotensi membawa quarantine pest/OPTK.
Syarat:
· Belum pernah dilakukan AROPT terhadap media pembawa yang akan diimpor (importasi pertama kali) 
· Importasi media pembawa yang sama namun berasal dari negara yang berbeda
· Importasi dari negara yang sama namun media pembawa berbeda;
· Adanya perubahan kebijakan pemerintah
· Ditemukan infestasi atau outbreak/peledakan populasi OPT baru di negara asal atau di Indonesia
· Adanya intersepsi OPT baru pada komoditi impor di tempat pemasukan
b. Inisiasi berdasarkan OPT : 
Mengidentifikasi OPT apakah berpotensi sebagai quarantine pest (OPTK)
· Diketahui adanya resiko OPT baru dari hasil penelitian
· Suatu OPT terintroduksi ke suatu negara lain dari negara pengekspor
· Suatu OPT dilaporkan menjadi lebih merusak di suatu area di luar daerah asalnya;
· OPT tertentu sering ditemukan pada suatu komoditi
· Permintaan impor terhadap suatu organisme, yang berpotensi menjadi OPT
· Suatu organisme teridentifikasi sebagai vektor dari OPT lainnya, yang tidak diketahui sebelumnya
· Organisme Hasil Rekayasa Genetik (OHRG) atau Genetic Modified Organism (GMO) yang berpotensi menjadi OPT. 

B. PENILAIAN RESIKO OPT  (PEST RISK ASSESSMENT)
Penilaian potensi resiko suatu OPT bertujuan untuk menentukan apakah suatu OPT dapat dikategorikan sebagai OPTK dan mengevaluasi potensi terjadinya introduksi. Adapun penilaian resiko OPT terbagi menjadi enam, yaitu :
1. Penggolongan OPT berdasarkan tingkat klasifikasi.
2. Penilaian OPT sebagai OPTK
3. Potensi Menetap (Establish Potential)
Faktor yang dinilai:
· Informasi biologi (siklus hidup, ketersediaan inang, dll)
· Kesesuaian OPT di PRA area dibandingkan dengan daerah 
4. Potensi Menyebar (Spread Potential )
 Faktor yang dinilai:
· Membandingkan proses penyebaran di negara asalnya
· Keseuaian lingkungan (alami atau lingkungan budidaya
· Penyebaran melalui komoditas dan alat angkut
· Tujuan pemasukan (intended use)
· Ketersediaan vektor dan potensi musuh alami di PRA area
5. Potensi Masuk ke PRA Area (Introduction Potential)
Faktor yang dinilai:
· Frekuensi dan jumlah Media pembawa
· Peluang terbawa OPT pada media pembawa dan Alat angkut
· Kemampuan bertahan OPT selama perjalanan
· Kemampuan deteksi di tempat pemasukan
· Kemampuan membebaskan media pembawa dari OPTK
· Kemampuan melakukan eradikasi
· Jumlah dan frekuensi keluar-masuk manusia di tempat pemasukan.
6. Potensi Menimbulkan Kerugian Secara Ekonomi 
      Faktor yang dinilai:
· Potensi menimbulkan kehilangan pasar;
· Potensi menyebabkan biaya tambahan dalam rangka pengendalian;
· Potensi mengganggu program pengendalian OPT yang sedang berjalan
· Potensi menimbulkan kerusakan lingkungan dan vektor bagi OPT lain
· Potensi menimbulkan masalah sosial di masyarakat 

C. MANAJEMEN RESIKO OPT (PEST RISK MANAGEMENT)
Pengelolaan potensi resiko suatu OPT diartikan sebagai upaya untuk memperkecil kemungkinan terjadinya introduksi. Prinsip dalam melakukan manajemen atau pengelolaan resiko OPT meliputi :
1. Pengelolaan risiko OPTK  harus proporsional/tidak berlebih-lebihan
2. Ketentuan fitosanitari sebaiknya diaplikasikan untuk wilayah terbatas sehingga akan dicapai tingkat perlindungan yang efektif
3. Pengelolaan risiko merupakan pilihan dari beberapa opsi yang meliputi
a. Persyaratan Karantina Tumbuhan : 
· Memiliki Sertifikat Kesehatan Tanaman (PC)
· Dimasukkan di tempat-tempat pemasukan yang telah ditetapkan 
· Dilaporkan dan diserahkan kepada Petugas Karantina Tumbuhan untuk keperluan tindakan karantina
b.  Kewajiban Tambahan 
· Diberi perlakuan, ditanam di PFA, pemeriksaan selama musim tanam,  dan sertification scheme
· Pemeriksaan di tempat pemasukan dan tindakan karantina pasca masuk
· Pelarangan bagi komoditas tertentu dari daerah tertentu 
Analisis Risiko OPT melalui tiga tahapan di atas harus didokumentasikan dengan baik agar apabila dikemudian hari terjadi perselisihan akibat adanya ketidaksesuaian, maka alasan kenapa hal tersebut diberlakukan berikut sumber informasinya dapat disampaikan kepada pihak yang memerlukan. Setelah dibahas dan dikomunikasikan (Risk Communication), dokumen AROPT harus disahkan oleh Kepala Badan Karantina Pertanian. Sebelum diimplentasikan, hasil AROPT sebaiknya dikomunikasikan dengan negara calon pengekspor (risk communication). Komunikasi dimaksudkan untuk memperoleh kesepakatan berkaitan dengan ketentuan atau persyaratan yang akan diberlakukan (***)





PERBEDAAN SUB FAMILY MELOLONTHINAE DAN DYNASTINAE

 A. MELOLONTHINAE
 
Melolonthinae adalah salah satu subfamilia dari family Scarabaeidae. Subfamilia ini memiliki banyak sekali bermacam-macam grup dan tersebar di hampir semua belahan bumi. Tidak sama dengan anggota subfamily yang lain, habitat dari melolonthinae selalu tidak aneh. Kumbang ini menyerupai kumbang dai subfamilia Rutelinae dari bentuk fisik luarnya (Plesiomorphi) (www.glaphyridae.com)
 
Sama seperti anggota familia scarabaeidae yang lainnya, Melolonthinae jantan memiliki antenna yang ramping, sedangkan antenna pada Melolonthinae betina lebih kecil dan terkadang menonjol. Pada subfamilia ini, perbedaan jenis kelamin jantan dan betina dapat terlihat dengan jelas dan teliti. Banyak spesies pada subfamilia ini yang terlihat mencolok dengan adanya warna warni corak tubuh dan pola rambut yang tegas (Hurpin, 1962; Britton, 1978).  
 
Melolonthinae adalah salah satu contoh spesies serangga yang memiliki banyak jenis spesies kumbang fitopagus di garis keturunannya. Karakteristik khusus pada subfamilia ini salah satunya didasarkan pada bentuk dan karakter dari larva putih yang mencungkil dan memakan akar tanaman, rumput, palem, dan beberapa jenis tanaman yang lainnya. Banyak spesies yang dapat ditemui di hamparan rumput dan pepohonan (Hurpin, 1962; Britton, 1978).
 
Ciri khusus dari sub family Melolonthinae

1. Cakar/kuku bagian tengah dan belakang membelah atau bergigi (Gambar 2)

2. Dasar antenna dan mandibula tidak terlihat dari atas (Gambar 1)
 
 
B. DYNASTINAE
Anggota kumbang dari subfamilia Dynastinae terdiri dari beberapa kumbang yang sangat menarik dengan sebutan yang mengesankan, seperti kumbang Hercules, kumbang badak, dan kumbang gajah. Subfamilia ini merupakan grup serangga yang terbesar di bumi dengan karakteristik tanduk yang mengesankan (www.insect.about.com)

Beberapa spesies terkenal adalah, misalnya, kumbang atlas (Chalcosoma atlas), Xylotrupes ulysses, kumbang gajah (Elephas Megasoma), kumbang badak eropa (Oryctes nasicornis), kumbang hercules (Dynastes hercules),kumbang badak jepang atau kabutomushi (Allomyrina dichotoma), kumbang lembu (Strategus aloeus) dan kumbang unicorn (Dynastes Tityus)(www.wikipedia.com)Kumbang dari anggota subfamilia dynastinae memiliki bentuk tubuh yang cembung dan bundar (hampir sama dengan kumbang koksi tetapi lebih panjang). Ukuran tubuhnya besar, seperti pada kumbang Hercules Dynastes tityus yang memiliki ukuran panjang tubuh mencapai 2.5 inchi. Identifikasi dari subfamilia ini membutuhkan banyak pengetahuan di bidang morfologi serangga. Pada kumbang badak, labrum tersembunyi di bawah dan antenna biasanya terdiri dari 9-10 segment dengan 3 segment terakhir terkadang membentuk tonjoloan kecil (gambar 3) (www.insect.about.com)

Karakteristik morfologi dari subfamilia dynastinae hampir sama dengan subfamilia melolonthinae, namun terdapat perbedaan pada bentuk cakar/kuku dari tarsi bagian tengah dan belakang yang tidak membalah. Mandibula seringkali dapat terlihat dari atas dan serangga jantan seringkali memiliki tanduk di kepala dan atau di pronotumnya (gambar 4) (www.wikipedia.com)

Rabu, 21 Januari 2015

IDENTIFIKASI HAMA PASCA PANEN JAGUNG : Sitophilus zeamays

Bioekologi

S. zeamays Motsch, dikenal sebagai dengan maize weevil atau kumbang bubuk, mengalami metamorfosis sempurna dan merupakan serangga yang bersifat polifag, selain menyerang jagung, juga beras, gandum, kacang tanah, kacang kapri, kedelai, kelapa, dan jambu mete (Cotton 1963, Kranz et al. 1980). S.zeamais lebih menyukai jagung dan beras (Haines 1991; Kalshoven 1981).

Hama tersebut merusak biji jagung dalam penyimpanan dan juga menyerang tongkol jagung di pertanaman.Kumbang mempunyai spot lebih terang pada permukaan sayap (Vera and Burkholder 1995). Kumbang meletakkan telur satu per satu pada lubang gerekan, kemudian lubang ditutup kembali dengan zat seperti gelatin yang berfungsi sebagai sumbat telur atau egg plug (Haines 1991). Keperidian imago berkisar antara 300-400 butir telur; stadia telur kurang lebih 6 hari pada suhu 250C (Subramanyam and Hagstrum 1995, Granados 2000). Telur menetas menjadi larva, kemudian menggerek biji dan hidup dalam liang gerek yang semakin besar, sesuai dengan perkembangan larvanya. Larva terdiri atas empat instar, dengan umur kurang lebih 20 hari pada suhu 250C dan kelembaban nisbi 70%. Pupa terbentuk di dalam biji dengan cara membentuk ruang pupa dengan mengekskresikan cairan pada dinding liang gerek (Subramanyam and Hagstrum 1995).

Stadium pupa berkisar antara 5-8 hari (Bergvinson 2002). Imago yang terbentuk berada di dalam biji selama beberapa hari sebelum membuat lubang keluar dengan mulut melalui perikarp. Siklus hidupnya berkisar  antara 30-45 hari pada kondisi suhu optimum 290C, kadar air biji 14% dan kelembaban nisbi 70%. Perkembangan populasi sangat cepat bila kadar air bahan pada saat disimpan di atas 15%. Pada populasi yang tinggi, kumbang bubuk cenderung berpencar (Kalshoven 1981). Imago dapat bertahan hidup cukup lama yaitu 3-5 bulan jika tersedia makanan dan sekitar 36 hari 
tanpa makan (Haines 1991). 

Cara Pengendalian

Pengelolaan tanaman. 
Serangan di lapang dapat terjadi jika tongkol terbuka. Pengelola tanaman untuk meminimalkan serangan hama, terutama penggerek batang dan penggerek tongkol, dapat mengurangi serangan kumbang bubuk di lapang. Tanaman yang kekeringan dan dengan pemberian 
pupuk dengan takaran rendah mudah terinfeksi busuk tongkol, sehingga mudah pula terserang hama kumbang bubuk. Panen yang tepat pada saat jagung mencapai masak fisiologis yang ditandai oleh adanya lapisan hitam pada ujung biji bagian dalam dapat mengurangi serangan kumbang bubuk. Panen yang tertunda dapat menyebabkan meningkatnya kerusakan biji di penyimpanan (Tandiabang et al. 1996).

Varietas tanaman. Penggunaan varietas yang mengandung asam fenolat tinggi dan asam amino rendah dapat menekan perkembangan kumbang bubuk. Galur yang relatif tinggi kandungan asam fenolat dan asam aminonya antara lain adalah ACROSS 8762, S99 TL WQ (F/D), S99 TL YQ-A, dan TOMEGIUM (Tenrirawe 2004). Varietas yang mempunyai penutupan kelobot yang baik disukai oleh petani yang menyimpan jagungnya dalam bentuk kelobot, karena dapat memperlambat serangan hama kumbang bubuk.Varietas tahan masih dalam tahap penelitian dan perakitan di CIMMYT,Meksiko. Mekanisme ketahanannya sudah diketahui, yaitu mempunyai kekerasan biji dan tingginya kandungan asam ferulik atau asam fenolat(Bergvinson 2002).

Kebersihan dan pengelolaan gudang. 
Kebanyakan hama gudang cenderung bersembunyi atau melakukan hibernasi pada saat gudang kosong. Oleh karena itu, pengendalian hama di dalam gudang difokuskan pada kebersihan gudang. Higienis adalah aspek penting dalam strategipengendalian terpadu, yang bertujuan untuk mengeliminasi populasi serangga yang dapat terbawa pada penyimpanan berikutnya. Taktik yang digunakan termasuk membersihkan semua struktur gudang dan membakar semua biji yang terkontaminasi dan membuang dari gudang. Karung-karungbekas yang masih berisi sisa biji harus dibuang. Semua struktur gudang harus diperbaiki, termasuk dinding yang retak-retak di mana serangga dapat bersembunyi, dan memberi perlakuan insektisida pada dinding maupun plafon gudang. Semua kegiatan ini harus diselesaikan dua minggu sebelum penyimpanan jagung.

Persiapan biji jagung yang disimpan. Parameter penting yang dapat mempengaruhi kualitas biji, adalah kadar air biji. Kadar air biji <12% dapat menghambat perkembangan kumbang bubuk. Pada kadar air 8%, kumbang bubuk tidak dapat merusak biji (Bergvinson 2002). Populasi kumbang bubuk meningkat pada kadar air biji 15% atau lebih.(Tandiabang et al)

Pengelolaan Hama Pascapanen Jagung. 

Pengendalian secara fisik dan mekanis. Lingkungan perlu dimanipulasi secara fisik agar tidak terjadi pertambahan populasi serangga. Pada suhu lebih rendah dari 50C dan di atas 350C, perkembangan serangga akan berhenti. Penjemuran dapat menghambat perkembangan kumbang bubuk (Paul and Muir 1995).

Sortasi dengan memisahkan biji rusak yang terinfeksi oleh serangga dengan biji sehat (utuh) termasuk cara untuk menekan perkembangan serangga. Bahan nabati. Bahan nabati yang digunakan untuk melindungi biji di penyimpanan bervariasi, bergantung pada daerah dan masyarakatnya serta ketersediaan tanaman dan metode penyediaannya. Bahan nabati yang dapat digunakan yaitu daun Annona sp., Hyptis spricigera, Lantana camara (Bergvinson 2002), daun Ageratum conyzoides, dan Chromolaena odorata (Bouda et al. 2001), akar Khaya senegelensis, Acorus calamus, bunga Pyrethrum sp., Capsicum sp., dan tepung biji Annona sp. dan Melia sp.(Bergvinson 2002).

Pengendalian hayati. 
Pengendalian dengan memanfaatkan musuh alami dimaksudkan untuk menurunkan atau menekan populasi hama. Penggunaan agensi patogen dapat mengendalikan kumbang bubuk. Aplikasi Beauveria bassiana pada konsentrasi 109 konidia/ml dengan takaran 20 ml/kg biji dapat membunuh 50% kumbang bubuk (Hidalgo et al. 1998). Penggunaan parasitoid Anisopteromalus calandrae (Howard) juga mampu menekan perkembangan kumbang bubuk (Brower et al. 1995; Haines 1991).

Fumigasi. 
Fumigan merupakan senyawa kimia, yang dalam suhu dan tekanan tertentu berbentuk gas, dapat membunuh serangga/hama melalui sistem pernafasan. Fumigasi dapat dilakukan pada tumpukan komoditas,kemudian ditutup rapat dengan lembaran plastik. Fumigasi dapat pula dilakukan pada penyimpanan sistem kedap udara, seperti penyimpanan dalam silo dengan menggunakan kaleng yang dibuat kedap udara atau pengemasan dengan menggunakan jerigen plastik, botol yang diisi sampai penuh kemudian mulut botol atau jerigen dilapisi dengan parafin untuk penyimpanan skala kecil. Jenis fumigan yang paling banyak digunakan adalah phospine (PH3) dan methyl bromida (CH3Br) (Anonim 2000, Subramanyam and Hagstrum 1995).

Ikuti Saya ^___^

visitors