Selasa, 12 Januari 2016

MIMIKRI : Jenis dan Mekanisme Kerja pada Beberapa Serangga



Mimikri didefinisikan sebagai pemiripan atau peniruan secara fisik atau perilaku oleh satu spesies terhadap spesies yang lain yang menguntungkan dirinya, atau secara tidak langsung juga keduanya. Organisme yang “meniru” disebut mimik, sedangkan organisme yang “ditiru” disebut model. 9Encarta, 2005)
Pada beberapa kasus, serangga menyamarkan diri dengan lingkungannya untuk menghindari pemangsaan, sedangkan pada kasus lain, penyamaran dilakukan oleh pemangsa untuk mendapatkan mangsa. Kupu-kupu adalah salah satu serangga yang menggunakan penyamaran untuk menghindari pemangsaan, sedangkan beberapa spesies lalat syrphid predator genus Microdon mampu menirukan bentuk maupun bau dari semut Camponotus dan Formica calon mangsanya.
Fenomena mimikri diteliti untuk pertama kalinya oleh Henry Walter Bates, seorang ahli alam dari Inggris pada tahun 1862 pada kupu-kupu di hutan Brasilia. Ada dua alasan kenapa serangga ini menggunakan media disekitarnya. 1. Untuk menipu mangsa, 2.jika pemangsa akan menyerang, setidaknya tubuh mimikri tidak langsung terluka karena akar atau ranting itulah yang melindunginya.
Beberapa hewan, seperti pada spesies ikan sotong, dapat memanipulasi chromatophores mereka untuk merubah warna seluruh kulit mereka. Hewan memiliki sekumpulan chromatophores, setiap chromatophores mengandung satu single pigment. Individual chromatophores dikelilingi oleh otot-otot lingkar yang dapat mengerut (kontraksi) dan meregang. Ketika ikan sotong mengerutkan otot, seluruh pigment akan mengalir ke permukaan chromatophore. Sel-sel di bagian atas akan mengembang membentuk lingkaran besar. Jika otot-otot dalam keadaan rileks, sel kembali ke bentuk semula berupa lingkaran kecil yang sulit di lihat. Dengan melakukan konstraksi pada semua chromatophores dengan pigment tertentu, dan merelaks-kan otot yang lain dengan pigment berbeda, hewan dapat merubah secara keseluruhan warna pada tubuh mereka.
Ikan sotong dengan kemampuan ini dapat membuat warna dangan range yang lebar dan corak ynag menarik. Dengan mengamati pola warna dari latar lingkungan dan meregangkan kombinasi yang tepat dari chromatophore, hewan dapat menyatu menyerupai keadaan warna alam sekitar. Ikan sotong juga menggunakan kemampuan merubah warna tubuh ini untuk berkomunikasi dengan sesamanya.
Perubah warna yang sangat terkenal, chameleon (bunglon), merubah warna kulitnya dengan mekanisme yang sama. Perubahan dimulai ketika mata mengamati lingkungan sekitar. Respon dari mata kemudian disampaikan ke otak, dan otak menggerakkan otot-otot chromatophore sehingga merubah warna kulit tubuh menyerupai sekitarnya.
Sampai saat ini dikenal ada beberapa jenis mimikri pada serangga, dan beberapa jenis yang terkenal adalah (1) mimikri Batesian, yang merujuk pada nama H.W. Bates, sang peneliti pertama fenomena ini, (2) mimikri Mullerian, (3) mimikri Browerian (mirip mimikri Batesian namun terjadi pada individu-individu di dalam satu spesies), dan (4) mimikri Peckhamian (mimikri agresifitas).
  1. Mimikri Batesian
Mekanisme dari mimikri ini adalah peniruan oleh serangga peniru yang tergolong tidak berbahaya pada model-model serangga yang tergolong berbahaya atau beracun. Contoh yang cukup terkenal adalah lalat syrphid genus Eristalis spp. yang morfologi dan perilakunya amat mirip dengan lebah spesies Apis mellifera (Golding dan Edmunds, 2000).
  1. Mimikri Mullerian
Pada mulanya, fenomena mimikri Mullerian dianggap sebagai mimikri Batesian. Namun, kemudian fenomena mimikri Mullerian adalah fenomena yang berbeda sama sekali dengan mimikri Mullerian. Pada mimikri Mullerian, dua spesies yang sebenarnya sama-sama beracun atau berbahaya berbagi sinyal warna tubuh yang biasanya berupa warna-warna cerah (aposematic atau warning coloration, akan dibahas kemudian). Ahli alam Jerman, Fritz Muller menjelaskan bahwa keuntungan dari fenomena mimikri ini adalah, bahwa jika dua spesies berbagi sinyal aposematik, maka hal ini akan membingungkan predator-predator kedua spesies yang melakukan mimikri tersebut. Spesies-spesies yang berbagi tersebut disebut sebagai anggota dari kompleks Mullerian. Contoh dua spesies yang melakukan mimikri Mullerian adalah Kupu-kupu Raja, Danaus plexippus dan Kupu-kupu Viceroy, Limenitis archippus yang sama-sama berasa tidak enak, yang berbagi pola warna tubuh dan perilaku.
  1. Mimikri Browerian
Fenomena ini dianggap mirip dengan mimikri Batesian, namun terjadi di antara individu dalam satu spesies. Fenomena ini ditemukan oleh Lincoln P. Brower dan Jane Van Zandt Brower, dan disebut juga automimicry. Mimikri ini muncul pada spesies-spesies kupu-kupu, misalnya D. plexippus yang makan tumbuhan milkweed yang kadar racunnya bervariasi. Keuntungan dari mimikri ini adalah, jika predator makan pada beberapa individu larva atau imago, dan kemudian menemukan bahwa salah satu individu berasa sangat tidak enak, maka predator tersebut akan segera berhenti menyantapnya, dan meninggalkan koloni kupu-kupu tersebut.
  1. Mimikri Peckhamian
Serangga yang menerapkan mimikri jenis ini (disebut mimikri Peckhamian merujuk pada penemunya, George dan Elizabeth Peckhman) akan meniru ciri-ciri serangga yang tidak berbahaya atau mungkin berguna untuk “menipu” inang atau mangsanya, sehingga memudahkannya memangsa tanpa dicurigai oleh anggota koloni mangsanya.. (Eisner et al., 1997).











DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 1993. Microsoft Encarta Encyclopedia Standard 2005.
Eisner, T., M.A. Goetz, D.E. Hill., S.R. Smedley, & J. Meinwald. 1997. Firefly “femme fatales” acquire defensive steroids (lucibufagins) from their firely prey. Proceeding Natural of Academic Sciences of USA 94: 9723-9728.
Garnett, W.B., R.D. Akre, & G. Sehlke. 1985. Cocoon mimicry and predation by myrmecophilous Diptera (Diptera: Syrphidae). The Florida Entomologist 68: 615-621
Golding, Y.C., & M. Edmunds. 2000. Behavioural mimicry of honeybees (Apis mellifera) by droneflies (Diptera: Syrphidae: Eristalis spp.). Proceedings Biological Sciences, 267: 903-909.
Taniguchi, K., M. Maruyama, T. Ichikawa, & F. Ito. 2005. A case of Batesian mimicry between a myrmecophilous staphylinid beetle, Pella comes, and its host ant, Lasius (Dendrolasius) spathepus: an experiment using the Japanese treefrog, Hyla japonica as a real predator. Insectes Sociaux 52: 320-322Pengertian Mimikri Dan Perbedaan Mimikri Dengan Kamuflase. Menurut ensiklopedia


           

TEKNIK PENGAMATAN HAMA TANAMAN




A.  Pemantauan populasi imago spodoptera dan helicoverpa dengan perangkap seks feromon
Tujuan Pengamatan
Tujuan dari pengamatan ini yaitu untuk mengetahui perbandingan populasi dan penyebaran antara  imago spodoptera litura dan helicoverpa armigera di berbagai sentra pertanaman sayuran (Dua desa dalam setiap dua kecamatan di dalam satu kabupaten)
Unit Sampel
Satuan alat perangkap
Ukuran Sampel
4 perangkap/areal pertanaman
Perangkap seks feromon di setiap tempat dipasang dua ulangan, artinya dalam satu lokasi terdapat dua perangkap untuk imago spodoptera dan dua perangkap untuk helicoverpa armigera
Interval Pengambilan Sampel
Pengamatan dilakukan  setiap minggu dan dilakukan sampai tidak ada imago yang melekat lagi di perangkap
Pola Pengambilan Sampel
Pola pengambilan sampel dilakukan secara sistematik berlapis dan berdasarkan populasi relative.karena adanya dinamika perubahan populasi dan perrbedaan tempat
Teknik Pengambilan Sampel
Teknik pengamatan sampel dengan menggunakan alat bantu perangkap feromon karena tidak dapat diamati langsung tanpa alat bantu.
Alat yang digunakan
Cairan seks feromon, lem, kotak perekat.
Parameter yang diamati
Jumlah indidu imago terpeangkap per satuan perangkap dalam kurun waktu tertentu
Output



B.  Dinamika populasi spodoptera exigua pada pertanaman bawang merah
Tujuan
Tujuan pengamatan ini adalah untuk mengetahui perkembangan populasi ulat grayak di pertanaman bawang merah
Unit Sampel
Populasi telur : telur/20 rumpun
Populasi larva : larva/4 rumpun
Tingkat kerusakan : jumlah rumpun atau jumlah daun terserang (%)
1.    Ukuran Sampel
196 rumpun/bedengan ; 112 bedengan/1600m2 lahan
àPerkembangan populasi telur : 20 rumpun/bedengan. 10 bedengan/lahan 
àPerkembangan populasi larva : 20 rumpun/unit, 2 unit/bedengan, 36 bedengan/lahan
àtigkat kerusakan        :  6 unit sampel/pengamatan
Interval Pengambilan Sampel
Interval tiap poin pengamatan :
àPengamatan telur dan kerusakan daun tiap 3-4 hari sekali. Karena lama stadia telur sekitar 2-3 hari. Pengambilan sampel dilakukan mulai 7 Hst hingga menjelang panen
àPengamatan larva setiap minggu karena stadia larva berkisar 9-14 hari. Dimulai dari 15 hst sampai menjelang panen
Pola Pengambilan Sampel
Pola pengambilan sampel secara lajur tanaman dan dilakukan secara random atau acak.
Teknik Pengambilan Sampel
Teknik pengamatan sampel secara extraction karena hama ini  meletakkan telurnya di tempat tersembunyi dan terkdang larvanya bersembunyi di antara daun-daun. Untuk tingkat kerusakan, daun yang terserang pada setiap rumpu contoh dipetk.
Alat yang digunakan
Tidak penggunakan alat karena hama ini diamati dengan cara melihat langsung telur, larva, atau gejala serangan pada daun bawang
Parameter yang diamati
Parameter yang diamati meliputi jumah telur, jumlah larva, dan jumlah daun yang terserang
2.    Output



PENGAMATAN PENGENDALIAN TIKUS SAWAH PADA PERTANAMAN PADI




A.  Tujuan
Mengetahui teknik pengendalian tikus sawah (Rattus argentiventer) pada pertanaman padi.

B.  Tinjauan Pustaka
          
Padi (bahasa latin: Oryza sativa L.) merupakan salah satu tanaman budidaya terpenting dalam peradaban. Meskipun terutama mengacu pada jenis tanaman budidaya, padi juga digunakan untuk mengacu pada beberapa jenis dari marga (genus) yang sama, yang biasa disebut sebagai padi liar. Padi diduga berasal dari India atau Indocina dan masuk ke Indonesia dibawa oleh nenek moyang yang migrasi dari daratan Asia sekitar 1500 SM. Produksi padi dunia menempati urutan ketiga dari semua serealia, setelah jagung dan gandum. Namun demikian, padi merupakan sumber karbohidrat utama bagi mayoritas penduduk dunia (Priyambodo, 2002).
       
Hama dan penyakit adalah salah satu kendala program peningkatan produksi padi. Kendala peningkatan produksi akan semakin kompleks akibat perubahan iklim global. Hama dan penyakit padi merupakan salah satu cekaman biotik yang menyebabkan senjang hasil antara potensi hasil dan hasil aktual, dan juga menyebabkan produksi tidak stabil. Di Asia Tenggara hasil padi rata-rata 3,3 t/ha, padahal hasil yang bisa dicapai 5,6 t/ha. Senjang hasil tersebut disebabkan oleh penyakit sebesar 12,6% dan hama 15,2%. Di Indonesia, potensi hasil varietas padi yang dilepas berkisar antara 5-9 t/ha, sementara hasil nasional baru mencapai rata-rata 4,32 t/ha (Storer, 1979).
                 
   Dalam teknik budidaya tanaman padi, perlu dilakukan pengendalian terhadap hama yang menyerang tanaman padi, salah satunya adalah teknik pengendalian secara kimiawi. Pengendalian kimiawi yang dimaksudkan di sini adalah penggunaan pestisida untuk mengendalikan hama agar hama tidak menimbulkan kerusakan bagi tanaman yang diusahakan. Pestisida mungkin merupakan bahan kimiawi yang dalam sejarah umat manusia telah memberikan banayak jasanya baik dalam bidang pertanian, kesehatan, pemukiman, dan kesejahteraan masyarakat yang lain. Berkat pesitisida manusia telah dapat dibebaskan dari ancaman berbagai penyakit yang membahayakan seperti malaria, DBD, dll. Berbagai jenis serangga vektor penyakit manusia yang berbahaya telah berhasil dikendalikan dengan pestisida. Pada mulanya produksi pertanian juga berhasil ditingkatkan karena pemakaian pestisida yang dapat menekan populasi hama dan kerusakan tanaman akibat serangan hama. Karena keberhasilan tersebut dunia pertanian pestisida seakan-akan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari budidaya segala jenis tanaman baik tanaman pangan maupun perkebunan. Meskipun pestisida memiliki banyak keuntungan seperti cepat menurunkan populasi hama, mudah penggunaannya dan secara ekonomik menguntungkan namun dampak negatif penggunaannya semakin lama semakin dirasakan oleh masyarakat. Dampak negatif pestisida yang merugikan kesehatan masyarakat dan kelestarian lingkungan hidup semakin lama semakin menonjol dan perlu memperoleh perhatian sungguh-sungguh dari masyarakat dan pemerintah (Mathys, 1975).
                  
    Tikus sawah digolongkan dalam kelas vertebrata (bertulang belakang), ordo rodentia (hewan pengerat), famili muridae, dan genus Rattus. Tubuh bagian dorsal/ punggung berwarna coklat kekuningan dengan bercak-bercak hitam di rambut-rambutnya, sehingga secara keseluruhan tampak berwarna abu-abu. Bagian ventral/perut berwarna putih keperakan atau putih keabu-abuan. Permukaan atas kaki seperti warna badan, sedangkan permukaan bawah dan ekornya berwarna coklat tua. Tikus betina memiliki 12 puting susu (6 pasang), dengan susunan 1 pasang pada pektoral, 2 pasang pada postaxial, 1 pasang pada abdomen, dan 2 pasang pada inguinal. Pada tikus muda/predewasa terdapat rumbai rambut berwarna jingga di bagian depan telinga. Ekor tikus sawah biasanya lebih pendek daripada panjang kepala-badan dan moncongnya berbentuk tumpul (Imam, 2012).

C.  Metodologi
             
     Praktikum Lapangan Vertebrata Hama Acara 3 ‘Pengamatan Pengendalian Tikus Sawah pada Pertanaman Padi’ dilaksanakan pada 3 Desember 2012 di Kecamatan Mlati, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Praktikum kali ini dilaksanakan didampingi oleh asisten melakukan wawancara dengan petani di daerah lahan sawah tersebut. Alat yang digunakan adalah alat tulis dan kamera, serta bahan yaitu berupa pertanyaan yang ingin diajukan.
                
     Praktikan mencari narasumber seorang petani yang sedang melakukan kegiatan tani di skitar areal persawahan tempat tikus sawah menjadi hama penting di daerah tersebut. Hasil wawancara ditulis. Beberapa hal mengenai hasil wawancara didokumentasikaan dengan menggunakan kamera.



D.  Hasil Pengamatan dan Pembahasan

                 
     Tikus sawah merupakan hama prapanen utama penyebab kerusakan terbesar tanaman padi, terutama pada agroekosistem dataran rendah dengan pola tanam intensif. Tikus sawah merusak tanaman padi pada semua stadia pertumbuhan dari semai hingga panen (periode prapanen), bahkan di gudang penyimpanan (periode pascapanen). Kerusakan parah terjadi apabila tikus menyerang padi pada stadium generatif, karena tanaman sudah tidak mampu membentuk anakan baru. Ciri khas serangan tikus sawah adalah kerusakan tanaman dimulai dari tengah petak, kemudian meluas ke arah pinggir, sehingga pada keadaan serangan berat hanya menyisakan 1-2 baris padi di pinggir petakan.Tikus sawah mempunyai kemampuan reproduksi yang tinggi. Periode perkembang-biakan hanya terjadi pada saat tanaman padi periode generatif. Dalam satu musim tanam padi, tikus sawah mampu beranak hingga 3 kali dengan rata-rata 10 ekor anak per kelahiran. Tikus betina relatif cepat matang seksual (±1 bulan) dan lebih cepat daripada jantannya (±2-3 bulan). Cepat/lambatnya kematangan seksual tersebut tergantung dari ketersediaan pakan di lapangan. Masa kebuntingan tikus betina sekitar 21 hari dan mampu kawin kembali 24-48 jam setelah melahirkan (post partum oestrus). Terdapatnya padi yang belum dipanen (selisih hingga 2 minggu atau lebih) dan keberadaan ratun (Jawa : singgang) terbukti memperpanjang periode reproduksi tikus sawah. Dalam kondisi tersebut,anak tikus dari kelahiran pertama sudah mampu bereproduksi sehingga seekor tikus betina dapat menghasilkan total sebanyak 80 ekor tikus baru dalam satu musim tanam padi. Dengan kemampuan reproduksi tersebut, tikus sawah berpotensi meningkatkan populasinya dengan cepat jika daya dukung lingkungan memadai

            Tikus sawah bersarang pada lubang di tanah yang digalinya (terutama untuk reproduksi dan membesarkan anaknya) dan di semak-semak (refuge area/habitat pelarian). Sebagai hewan omnivora (pemakan segala), tikus mengkonsumsi apa saja yang dapat dimakan oleh manusia. Apabila makanan berlimpah, tikus sawah cenderung memilih pakan yang paling disukainya yaitu padi. Tikus menyerang padi pada malam hari. Pada siang harinya, tikus bersembunyi di dalam lubang pada tanggul-tanggul irigasi, jalan sawah, pematang, dan daerah perkampungan dekat sawah. Pada saat lahan bera, tikus sawah menginfestasi pemukiman penduduk dan gudang-gudang penyimpanan padi dan akan kembali lagi ke sawah setelah pertanaman padi menjelang generatif. Kehadiran tikus pada daerah persawahan dapat dideteksi dengan memantau keberadaan jejak kaki (foot print), jalur jalan (run way), kotoran/feses, lubang aktif, dan gejala serangan.

Pengendalian tikus dilakukan dengan pendekatan PHTT (Pengendalian Hama Tikus Terpadu) yaitu pendekatan pengendalian yang didasarkan pada pemahaman biologi dan ekologi tikus, dilakukan secara dini, intensif dan terus menerus dengan memanfaatkan semua teknologi pengendalian yang sesuai dan tepat waktu. Kegiatan pengendalian tikus ditekankan pada awal musim tanam untuk menekan populasi awal tikus sejak awal pertanaman sebelum tikus memasuki masa reproduksi.    Kegiatan pengendalian yang sesuai dengan stadia pertumbuhan padi antara lain sbb. :

a.  TBS (Trap Barrier System) merupakan petak tanaman padi dengan ukuran minimal (20 x 20) m yang ditanam 3 minggu lebih awal dari tanaman di sekitarnya, dipagar dengan plastik setinggi 60 cm yang ditegakkan dengan ajir bambu pada setiap jarak 1 m, bubu perangkap dipasang pada setiap sisi dalam pagar plastik dengan lubang menghadap keluar dan jalan masuk tikus. Petak TBS dikelilingi parit dengan lebar 50 cm yang selalu terisi air untuk mencegah tikus menggali atau melubangi pagar plastik. Prinsip kerja TBS adalah menarik tikus dari lingkungan sawah di sekitarnya (hingga radius 200 m) karena tikus tertarik padi yang ditanam lebih awal dan bunting lebih dahulu, sehingga dapat mengurangi populasi tikus sepanjang pertanaman.

b.  LTBS merupakan bentangan pagar plastik sepanjang minimal 100 m, dilengkapi bubu perangkap pada kedua sisinya secara berselang-seling sehingga mampu menangkap tikus dari dua arah (habitat dan sawah). Pemasangan LTBS dilakukan di dekat habitat tikus seperti tepi kampung, sepanjang tanggul irigasi, dan tanggul jalan/pematang besar. LTBS juga efektif menangkap tikus migran, yaitu dengan memasang LTBS pada jalur migrasi yang dilalui tikus sehingga tikus dapat diarahkan masuk bubu perangkap.








DAFTAR PUSTAKA

Mathys, G. (ed.). 1975. Guide-lines for the Development and Biological Evaluation of  identicides. EPPO Bulletin Vol. 5, No. 1, Special Issue

Priyambodo, Swastiko. 2002. Diktat Kuliah Vertebrata Hama Non Tikus. Institut Pertanian Bogor. Bogor

Storer, T.I. Usinger, R.L. Stebbins, R. C., and Nyabakken, J. W. 1979. General Zoology, Sixth edition. Mc Graw – Hill Book Co.

BIOEKOLOGI DAN PENGENDALIAN TIKUS SAWAH (Rattus argentiventer)




A.    Status
                  Tikus sawah merupakan hama prapanen utama penyebab kerusakan terbesar tanaman padi, terutama pada agroekosistem dataran rendah dengan pola tanam intensif. Tikus sawah merusak tanaman padi pada semua stadia pertumbuhan dari semai hingga panen (periode prapanen), bahkan di gudang penyimpanan (periode pascapanen). Kerusakan parah terjadi apabila tikus menyerang padi pada stadium generatif, karena tanaman sudah tidak mampu membentuk anakan baru. Ciri khas serangan tikus sawah adalah kerusakan tanaman dimulai dari tengah petak, kemudian meluas ke arah pinggir, sehingga pada keadaan serangan berat hanya menyisakan 1-2 baris padi di pinggir petakan.

B.     Biologi dan Ekologi

Tikus sawah digolongkan dalam kelas vertebrata (bertulang belakang), ordo rodentia (hewan pengerat), famili muridae, dan genus Rattus. Tubuh bagian dorsal/ punggung berwarna coklat kekuningan dengan bercak-bercak hitam di rambut-rambutnya, sehingga secara keseluruhan tampak berwarna abu-abu. Bagian ventral/perut berwarna putih keperakan atau putih keabu-abuan. Permukaan atas kaki seperti warna badan, sedangkan permukaan bawah dan ekornya berwarna coklat tua. Tikus betina memiliki 12 puting susu (6 pasang), dengan susunan 1 pasang pada pektoral, 2 pasang pada postaxial, 1 pasang pada abdomen, dan 2 pasang pada inguinal. Pada tikus muda/predewasa terdapat rumbai rambut berwarna jingga di bagian depan telinga. Ekor tikus sawah biasanya lebih pendek daripada panjang kepala-badan dan moncongnya berbentuk tumpul.

                        Tikus sawah mempunyai kemampuan reproduksi yang tinggi. Periode perkembang-biakan hanya terjadi pada saat tanaman padi periode generatif. Dalam satu musim tanam padi, tikus sawah mampu beranak hingga 3 kali dengan rata-rata 10 ekor anak per kelahiran. Tikus betina relatif cepat matang seksual (±1 bulan) dan lebih cepat daripada jantannya (±2-3 bulan). Cepat/lambatnya kematangan seksual tersebut tergantung dari ketersediaan pakan di lapangan. Masa kebuntingan tikus betina sekitar 21 hari dan mampu kawin kembali 24-48 jam setelah melahirkan (post partum oestrus). Terdapatnya padi yang belum dipanen (selisih hingga 2 minggu atau lebih) dan keberadaan ratun (Jawa : singgang) terbukti memperpanjang periode reproduksi tikus sawah. Dalam kondisi tersebut,anak tikus dari kelahiran pertama sudah mampu bereproduksi sehingga seekor tikus betina dapat menghasilkan total sebanyak 80 ekor tikus baru dalam satu musim tanam padi. Dengan kemampuan reproduksi tersebut, tikus sawah berpotensi meningkatkan populasinya dengan cepat jika daya dukung lingkungan memadai.

 Tikus sawah bersarang pada lubang di tanah yang digalinya (terutama untuk reproduksi dan membesarkan anaknya) dan di semak-semak (refuge area/habitat pelarian). Sebagai hewan omnivora (pemakan segala), tikus mengkonsumsi apa saja yang dapat dimakan oleh manusia. Apabila makanan berlimpah, tikus sawah cenderung memilih pakan yang paling disukainya yaitu padi. Tikus menyerang padi pada malam hari. Pada siang harinya, tikus bersembunyi di dalam lubang pada tanggul-tanggul irigasi, jalan sawah, pematang, dan daerah perkampungan dekat sawah. Pada saat lahan bera, tikus sawah menginfestasi pemukiman penduduk dan gudang-gudang penyimpanan padi dan akan kembali lagi ke sawah setelah pertanaman padi menjelang generatif. Kehadiran tikus pada daerah persawahan dapat dideteksi dengan memantau keberadaan jejak kaki (foot print), jalur jalan (run way), kotoran/feses, lubang aktif, dan gejala serangan.

C.     Pengendalian

                  Pengendalian tikus dilakukan dengan pendekatan PHTT (Pengendalian Hama Tikus Terpadu) yaitu pendekatan pengendalian yang didasarkan pada pemahaman biologi dan ekologi tikus, dilakukan secara dini, intensif dan terus menerus dengan memanfaatkan semua teknologi pengendalian yang sesuai dan tepat waktu. Kegiatan pengendalian tikus ditekankan pada awal musim tanam untuk menekan populasi awal tikus sejak awal pertanaman sebelum tikus memasuki masa reproduksi. Kegiatan pengendalian yang sesuai dengan stadia pertumbuhan padi antara lain sbb. :

TBS (Trap Barrier System) merupakan petak tanaman padi dengan ukuran minimal (20 x 20) m yang ditanam 3 minggu lebih awal dari tanaman di sekitarnya, dipagar dengan plastik setinggi 60 cm yang ditegakkan dengan ajir bambu pada setiap jarak 1 m, bubu perangkap dipasang pada setiap sisi dalam pagar plastik dengan lubang menghadap keluar dan jalan masuk tikus. Petak TBS dikelilingi parit dengan lebar 50 cm yang selalu terisi air untuk mencegah tikus menggali atau melubangi pagar plastik. Prinsip kerja TBS adalah menarik tikus dari lingkungan sawah di sekitarnya (hingga radius 200 m) karena tikus tertarik padi yang ditanam lebih awal dan bunting lebih dahulu, sehingga dapat mengurangi populasi tikus sepanjang pertanaman.

                  LTBS merupakan bentangan pagar plastik sepanjang minimal 100 m, dilengkapi bubu perangkap pada kedua sisinya secara berselang-seling sehingga mampu menangkap tikus dari dua arah (habitat dan sawah). Pemasangan LTBS dilakukan di dekat habitat tikus seperti tepi kampung, sepanjang tanggul irigasi, dan tanggul jalan/pematang besar. LTBS juga efektif menangkap tikus migran, yaitu dengan memasang LTBS pada jalur migrasi yang dilalui tikus sehingga tikus dapat diarahkan masuk bubu perangkap.


                  Fumigasi paling efektif dilakukan pada saat tanaman padi stadia generatif. Pada periode tersebut, sebagian besar tikus sawah sedang berada dalam lubang untuk reproduksi. Metode tersebut terbukti efektif membunuh tikus beserta anak-anaknya di dalam lubangnya. Rodentisida hanya digunakan apabila populasi tikus sangat tinggi, dan hanya akan efektif digunkan pada periode bera dan stadium padi awal vegetative

Jumat, 04 Desember 2015

BUDIDAYA LEBAH MADU



A.       SEJARAH BUDIDAYA LEBAH
Lebah merupakan insekta penghasil madu yang telah lama dikenal manusia. Sejak zaman purba manusia berburu sarang lebah di goa-goa, di lubang-lubang pohon dan tempat-tempat lain untuk diambil madunya. Lebah juga menghasilkan produk yang yang sangat dibutuhkan untuk dunia kesehatan yaitu royal jelly, pollen, malam (lilin) dan sebagainya. Selanjutnya manusia mulai membudidayakan dengan memakai gelodog kayu dan pada saat ini dengan sistem stup. Di Indonesia lebah ini mempunyai nama bermacam-macam, di Jawa disebut tawon gung, gambreng, di Sumatera barat disebut labah gadang, gantuang, kabau, jawi dan sebagainya. Di Tapanuli disebut harinuan, di Kalimantan disebut wani dan di tataran Sunda orang menyebutnya tawon Odeng.
Sentra perlebahan di Indonesia masih ada di sekitar Jawa meliputi daerah Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat dengan jumlah produksi sekitar 2000–2500 Ton untuk lebah budidaya. Kalimantan dan Sumbawa merupakan sentra untuk madu dari perburuan lebah di hutan. Sedang untuk sentra perlebahan dunia ada di CIS (Negara Pecahan Soviet), Jerman, Australia, Jepang dan Italia.
Lebah termasuk hewan yang masuk dalam kelas insekta famili Apini dan genus Apis. Spesiesnya bermacam-macam, yang banyak terdapat di Indonesia adalah A. cerana, A. Dorsata A. Florea. Jenis unggul yang sering dibudidayakan adalah jenis A. mellifera. Menurut asal-usulnya lebah dibagi 4 jenis berdasar penyebarannya:
1.      Apis cerana, diduga berasal dari daratan Asia menyebar sampai Afghanistan, Cina maupun Jepang.
2.      Apis mellifera, banyak dijumpai di daratan Eropa dan sekitar Mediterania.
3.     
3
Apis Dorsata, memiliki ukuran tubuh paling besar dengan daerah penyebaran sub tropis dan tropis Asia. Penyebarannya di Indonesia merata mulai dari Sumatera sampai Irian.
4.      Apis Florea merupakan spesies terkecil tersebar mulai dari Timur Tengah, India sampai Indonesia. Di Indonesia orang menyebutnya dengan tawon klanceng.

B.       TATA CARA BUDIDAYA LEBAH DI INDONESIA
Dalam pembudidayaan lebah madu yang perlu dipersiapkan yaitu, lokasi budidaya, kandang lebah modern (stup), pakaian kerja dan peralatan. Syarat yang utama yang harus yang dipenuhi dalam budidaya lebah adalah ada seekor ratu lebah dan ribuan ekor lebah pekerja serta lebah jantan. alam satu koloni tidak boleh lebih dari satu ratu karena antar ratu akan saling bunuh untuk memimpin koloni.
1.      Penyiapan Sarana dan Peralatan
a.      Perkandangan
1)      Suhu
Suhu ideal yang cocok bagi lebah adalah sekitar 26°C, pada suhu ini lebah dapat beraktifitas normal. Suhu di atas 10°C lebah masih beraktifitas. Di lereng pegunungan/dataran tinggi yang bersuhu normal (25°C) seperti Malang dan Bandung lebah madu masih ideal dibudidayakan. Lokasi yang disukai lebah adalah tempat terbuka, jauh dari keramaian dan banyak terdapat bunga sebagai pakannya.
Perubahan suhu dalam stup hendaknya tidak terlalu cepat, oleh karena itu ketebalan dinding perlu diperhatikan untuk menjaga agar suhu dalam stup tetap stabil. Yang umum digunakan adalah kayu empuk setebal 2,5 cm.
2)      Ketahanan terhadap iklim
Bahan yang dipakai harus tahan terhadap pengaruh hujan, panas, cuaca yang selalu berubah, kokoh dan tidak mudah hancur atau rusak.
3)      Konstruksi
Konstruksi kandang tradisional dengan menggunakan gelodok dari bambu, secara modern menggunakan stup kotak yang lengkap dengan framenya.
4
 


b.      Peralatan
Peralatan yang digunakan dalam budidaya lebah terdiri dari : masker, pakaian kerja dan sarung tangan, pengasap, penyekat ratu, sangkar ratu,sapu dan sikat, tempat makan, pondamen sarang, alat-alat kecil, peralatan berternak ratu dan lain-lain.
2.      Pembibitan
a.      Pemilihan Bibit dan Calon Induk
Bibit lebah unggul yang di Indonesia ada dua jenis yaitu A. cerana (lokal) dan A. mellifera (impor). Ratu lebah merupakan inti dari pembentukan koloni lebah, oleh karena itu pemilihan jenis unggul ini bertujuan agar dalam satu koloni lebah dapat produksi maksimal. ratu A. cerana mampu bertelur 500- 900 butir per hari dan ratu A. mellifera mampu bertelur 1500 butir per hari.
b.      Perawatan Bibit dan Calon Induk
Lebah yang baru dibeli dirawat khusus. Satu hari setelah dibeli, ratu dikeluarkan dan dimasukkan ke dalam stup yang telah disiapkan. Selama 6 hari lebah-lebah tersebut tidak dapat diganggu karena masih pada masaadaptasi sehingga lebih peka terhadap lingkungan yang tidak menguntungkan. Setelah itu baru dapat dilaksanakan untuk perawatan dan pemeliharaan rutin.
c.       Sistem Pemuliabiakan
Pemuliabiakan pada lebah adalah menciptakan ratu baru sebagai upaya pengembangan koloni. Cara yang sudah umum dilaksanakan adalah dengan pembuatan mangkokan buatan untuk calon ratu yang diletakkan dalam sisiran. Tetapi sekarang ini sudah dikembangkan inseminasi buatan pada ratu lebah untuk mendapatkan calon ratu dan lebah pekerja unggul.
d.      Reproduksi dan Perkawinan
5
Dalam setiap koloni terdapat tiga jenis lebah masing-masing lebah ratu,lebah pekerja dan lebah jantan. Alat reproduksi lebah pekerja berupa kelamin betina yang tidak berkembang sehingga tidak berfungsi, sedangkan alat reproduksi berkembang lebah ratu sempurna dan berfungsi untuk reproduksi. Proses Perkawinan terjadi diawali musim bunga. Ratu lebah terbang keluar sarang diikuti oleh semua pejantan yang akan mengawininya. Perkawinan terjadi di udara, setelah perkawinan pejantan akan mati dan sperma akan disimpan dalam spermatheca (kantung sperma) yang terdapat pada ratu lebah kemudian ratu kembali ke sarang. Selama perkawinan lebah pekerja menyiapkan sarang untuk ratu bertelur.
e.       Proses Penetasan
Setelah kawin, lebah ratu akan mengelilingi sarang untuk mencari sel-sel yang masih kosong dalam sisiran. Sebutir telur diletakkan di dasar sel.Tabung sel yang telah yang berisi telur akan diisi madu dan tepung sari oleh lebah pekerja dan setelah penuh akan ditutup lapisan tipis yang nantinya dapat ditembus oleh penghuni dewasa. Untuk mengeluarkan sebutir telur diperlukan waktu sekitar 0,5 menit, setelah mengeluarkan 30 butir telur, ratu akan istirahat 6 detik untuk makan. Jenis tabung sel dalam sisiran adalah:
1)      Sel calon ratu, berukuran paling besar, tak teratur dan biasanya terletak di pinggir sarang.
2)      Sel calon pejantan, ditandai dengan tutup menonjol dan terdapat titik hitam di tengahnya.
3)      Sel calon pekerja, berukuran kecil, tutup rata dan paling banyak jumlahnya.
 Lebah madu merupakan serangga dengan 4 tingkatan kehidupan yaitu telur,larva, pupa dan serangga dewasa. Lama dalam setiap tingkatan punya perbedaan waktu yang bervariasi. Rata-rata waktu perkembangan lebah:
1)        Lebah ratu
Menetas 3 hari, larva 5 hari, terbentuk benang penutup 1 hari, iatirahat 2 hari, Perubahan larva jadi pupa 1 hari, Pupa/kepompong 3 hari, total waktu jadi lebah 15 hari.

6
 


2)        Lebah pekerja
Menetas 3 hari, larva 5 hari, terbentuk benang penutup 2 hari, iatirahat 3 hari, Perubahan larva jadi pupa 1 hari, Pupa/kepompong 7 hari, total waktu jadi lebah 21 hari.
3)        Lebah pejantan
Menetas 3 hari, larva 6 hari, terbentuk benang penutup 3 hari, iatirahat 4 hari, Perubahan larva jadi pupa 1 hari, Pupa/kepompong 7 hari, total waktu jadi lebah 24 hari.
  Selama dalam periode larva, larva-larva dalam tabung akan makan madu dan tepung sari sebanyak-banyaknya. Periode ini disebut masa aktif, kemudian larva menjadi kepompong (pupa). Pada masa kepompong lebah tidak makan dan minum, di masa ini terjadi perubahan dalam tubuh pupa untuk menjadi lebah sempurna. Setelah sempurna lebah akan keluar sel menjadi lebah muda sesuai asal selnya.
3.      Pemeliharaan
a.    Sanitasi, Tindakan Preventif dan Perawatan
Pada pengelolaan lebah secara modern lebah ditempatkan pada kandang berupa kotak yang biasa disebut stup. Di dalam stup terdapat ruang untuk beberapa frame atau sisiran. Dengan sistem ini peternak dapat harus rajin memeriksa, menjaga dan membersihkan bagian-bagian stup seperti membersihkan dasar stup dari kotoran yang ada, mencegah semut/serangga masuk dengan memberi tatakan air di kaki stup dan mencegah masuknya binatang pengganggu.
b.   Pengontrolan Penyakit
Pengontrolan ini meliputi menyingkirkan lebah dan sisiran sarang abnormal serta menjaga kebersihan stup.
c.    Pemberian Pakan
Cara pemberian pakan lebah adalah dengan menggembala lebah ke tempat di mana banyak bunga. Jadi disesuaikan dengan musim bunga yang ada. Dalam penggembalaan yang perlu diperhatikan adalah :
1)        Perpindahan lokasi dilakukan malam hari saat lebah tidak aktif.
2)       
7
Bila jarak jauh perlu makanan tambahan (buatan).\
3)        Jarak antar lokasi penggembalaan minimum 3 km.
4)        Luas areal, jenis tanaman yang berbunga dan waktu musim bunga.
Tujuan utama dari penggembalaan ini adalah untuk menjaga kesinambungan produksi agar tidak menurun secara drastis. Pemberian pakan tambahan di luar pakan pokok bertujuan untuk mengatasi kekurangan pakan akibat musim paceklik/saat melakukan pemindahan stup saat penggeembalaan. Pakan tambahan tidak dapat meningkatkan produksi, tetapi hanya berfungsi untuk mempertahankan kehidupan lebah. Pakan tambahan dapat dibuat dari bahan gula dan air dengan perbandingan 1:1 dan adonan tepung dari campuran bahan ragi, tepung kedelai dan susu kering dengan perbandingan 1:3:1 ditambah madu secukupnya.
4.      Pengambilan madu
Panen madu dilaksanakan pada 1-2 minggu setelah musim bunga. Ciri-ciri madu siap dipanen adalah sisiran telah tertutup oleh lapisan lilin tipis. Sisiran yang akan dipanen dibersihkan dulu dari lebah yang masih menempel kemudian lapisan penutup sisiran dikupas. Setelah itu sisiran diekstraksi untuk diambil madunya. Urutan proses panen yaitu :
1)        Mengambil dan mencuci sisiran yang siap panen, lapisan penutup dikupas dengan pisau.
2)        Sisiran yang telah dikupas diekstraksi dalam ekstraktor madu.
3)        Hasil disaring dan dilakukan penyortiran.
4)        Disimpan dalam suhu kamar untuk menghilangkan gelembung udara.
5)        Pengemasan madu dalam botol.

C.       HAMA DAN PENYAKIT LEBAH
1.         Penyakit
8
Di daerah tropis penyakit lebah jarang terjadi dibandingkan dengan daerah sub tropis/daerah beriklim salju. Iklim tropis merupakan penghalang terjalarnya penyakit lebah. Kelalaian kebersihan mendatangkan penyakit. Beberapa penyakit pada lebah dan penyebabnya antara lain:
a.    Foul Brood
Ada dua macam penyakit ini yaitu American Foul Brood disebabkan oleh Bacillus larva dan European Foul Brood. Penyebab: Streptococcus pluton. Penyakit ini menyerang sisiran dan tempayak lebah.
b.    Chalk Brood
Penyebab: jamur Pericustis Apis. Jamur ini tumbuh pada tempayak dan menutupnya hingga mati.
c.    Stone Brood
Penyebab: jamur Aspergillus flavus Link ex Fr dan Aspergillus fumigates Fress. Tempayak yang diserang berubah menjadi seperti batu yang keras.
d.   Addled Brood
Penyebab: telur ratu yang cacat dari dalam dan kesalahan pada ratu.
e.    Acarine
Penyebab: kutu Acarapis woodi Rennie yang hidup dalam batang tenggorokkan lebah hingga lebah mengalami kesulitan terbang.
f.     Nosema dan Amoeba
Penyebab: Nosema Apis Zander yang hidup dalam perut lebah dan parasit Malpighamoeba mellificae Prell yang hidup dalam pembuluh malpighi lebah dan akan menuju usus.
2.         Hama
Hama yang sering mengganggu lebah antara lain:
a.    Burung, sebagai hewan yang juga pemakan serangga menjadikan lebah sebagai salah satu makanannya.
b.    Kadal dan Katak, gangguan yang ditimbulkan sama dengan yang dilakukan oleh burung.
c.    Semut, membangun sarang dalam stup dan merampas makanan lebah.
d.   Kupu-kupu, telur kupu-kupu yang menetas dalam sisiran menjadi ulat yang dapat merusak sisiran.
e.    Tikus, merampas madu dan merusak sisiran.

9
 


3.         Pencegahan Serangan Penyakit dan Hama
Upaya mencegah serangan penyakit dan hama tindakan yang perlu adalah:
a.       Pembersihan stup setiap hari.
b.      Memperhatikan abnormalitas tempayak, sisiran dan kondisi lebah.
c.       Kaki-kaki stup harus diberi air untuk mencegah serangan semut.
d.      Pintu masuk dibuat seukuran lebah.

D.       MANFAAT BUDIDAYA LEBAH
Manfaat yang dapat diperoleh dari budidaya lebah adalah sebagai berikut:
1.      Madu sebagai produk utama berasal dari nektar bunga merupakan makanan yang sangat berguna bagi pemeliharaan kesehatan, kosmetika dan farmasi.
2.      Royal jelly dimanfaatkan untuk stamina dan penyembuhan penyakit, sebagai bahan campuran kosmetika, bahan campuran obat-obatan.
3.      Pollen (tepung sari) dimanfaatkan untuk campuran bahan obat-obatan/kepentingan farmasi.
4.      Lilin lebah (malam) dimanfaatkan untuk industri farmasi dan kosmetika sebagai pelengkap bahan campuran.
5.      Propolis (perekat lebah) untuk penyembuhan luka, penyakit kulit danmembunuh virus influensa.
Keuntungan lain dari beternak lebah madu adalah membantu dalam proses penyerbukan bunga tanaman sehingga didapat hasil yang lebih maksima

E.       KENDALA BUDIDAYA LEBAH DI INDONESIA

Kendala yang ditemukan dalam kegiatan budidaya lebah yang banyak ditemukan adalah kendala biaya bahan bahan dan alat budidaya lebah yang mahal dan tidak diimbangi dengan nilai jual produk hasil budidaya lebah yang tinggi. Selain itu, kondisi iklim yang tidak menentu dan ancaman hama serta penyakit lebah juga menjadi kendala yang sering ditemukan di lapangan.


DAFTAR PUSTAKA

Marhiyanto, B. 1999, Peluang Bisnis beternak Lebah, Gitamedia Press, Surabaya.
Sumoprastowo, RM, Suprapto Agus, R,. 1993, Beternak Lebah Madu Modern, Bhratara, Jakarta
Trubus 4, 1988. Manisnya Rupiah dari Madu Lebah, Penebar Swadaya, Jakarta.
Trubus 4, 1988. Menghasilkan Madu Berkualitas Tinggi, PenebarSwadaya, Jakarta.
Trubus 250, 1990, Petak Madu Uji Coba Untuk Menghasilkan Madu Beraneka Rasa, Penebar Swadaya, Jakarta.
Trubus 273, 1992, Mutu Madu Indonesia Dibanding Impor, Penebar Swadaya, Jakarta.
Trubus 273. Menggembala Lebah Ala Australia, Penebar Swadaya, Jakarta.
Trubus 273. 1992. Pemasaran Madu Indonesia dihambat Kadar Air, Penebar Swadaya, Jakarta.
Trubus 276, 1992, Beternak Lebah di Jerman, Penebar Swadaya, Jakarta.
Yunus, M, Minarti, S. 1995, Aneka Tetnak, Universitas Brawijaya, Malang.

Ikuti Saya ^___^

visitors

Follow by Email

 

My Blog List

Feedjit

PLANT HOSPITAL Copyright © 2009 Flower Garden is Designed by Ipietoon for Tadpole's Notez Flower Image by Dapino