RSS

Rabu, 13 Mei 2015

JENIS-JENIS FORMULASI PESTISIDA

Pestisida (Inggris : pesticide) secara harafiah berarti pembunuh hama (pest:hama; cide:membunuh). Menurut Peraturan Pemerintah No. 7/1973, pestisida adalah semua zat kimia atau bahan lain serta jasad renik dan virus yang dipergunakan untuk (Djojosumarto, 2000) :

  1. mengendalikan atau mencegah hama atau penyakit yang merusak tanaman, bagian tanaman, atau hasil-hasil pertanian;
  2. mengendalikan rerumputan;
  3. mengatur atau merangsang pertumbuhan yang tidak diinginkan;
  4. mengendalikan atau mencegah hama-hama luar pada hewan peliharaan atau ternak;
  5. mengendalikan hama-hama air;
  6. mengendalikan atau mencegah binatang-binatang yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia dan binatang yang perlu dilindungi, dengan penggunaan pada tanaman, tanah, dan air.
Sedangkan definisi menurut The United States Federal Environmental Pesticide Control Act, pestisida adalah semua zat atau campuran zat yang khusus untuk memberantas atau mencegah gangguan serangga, binatang pengerat, nematoda, cendawan, gulma, virus, bakteri, jasad renik yang dianggap hama kecuali virus, bakteri, atau jasad renik yang terdapat pada manusia atau binatang lainnya. Atau semua zat atau campuran zat yang dimaksudkan untuk digunakan sebagai pengatur pertumbuhan tanaman atau pengering tanaman (Sudarmo, 1988).
Pestisida dapat membantu manusia dalam mengatasi gangguan hama tanaman, namun aplikasi pestisida dapat juga menimbulkan akibat-akibat samping yang merugikan manusia maupun lingkungan. Musuh-musuh alami (predator dan parasit) hama yang terkena pestisida bisa ikut mati. Biasanya musuh-musuh alam lebih peka terhadap pestisida dibanding hama sasaran. Pestisida dapat digolongkan menjadi bermacam-macam berdasar fungsi, antara lain : akarisida, algisida, avisida, bakterisida, fungisida, herbisida, insektisida, molluskisida, nematisida, rodentisida, silvisida, termisida dan lain-lain (Sudarmo, 1988).
Pestisida diaplikasikan dengan berbagai cara. Cara-cara mengaplikasikan pestisida di antaranya yaitu : Penyemprotan (spraying), pengasapan (fumigation), penghembusan (dusting), penaburan pestisida butiran, perawatan benih, pencelupan fumigasi, injeksi dan penyiraman (Djojosumarto, 2000).
Pestisida memiliki beberapa formulasi, antara lain (Maspary, 2010):
1.   EC (Emulsifiable Cocentrate atau Emulsible Cocentrate). Berbentuk pekatan (konsentrat) cair dengan konsentrasi bahan aktif yang cukup tinggi. Konsentrasi ini jika dicampur dengan air akan membentuk emulsi. EC umumnya digunakan dengan cara disemprot, meskipun dapat pula digunakan dengan cara lain.
2.      Soluble Concentrate in Water (WSC) atau Water Soluble Concentrate (WSC). Formulasi ini mirip EC, tetapi bila dicampur air tidak membentuk emulsi, melainkan membentuk larutan homogen. Umumnya formulasi ini digunakan dengan cara disemprotkan.
3.      Aeous Solution (AS) atau Aquaous Concentrate (AC). Pekatan ini diarutkan dalam air. Pestisida yang diformulasi dalam bentuk AS dan AC umumnya pestisida berbentuk garam yang mempunyai kelarutan tinggi dalam air. Pestisida ini juga digunakan dengan cara disemprot.
4.      Soluble (SL). Pekatan cair ini jika dicampurkan air akan membentuk larutan. Pestisida ini digunakan dengan cara disemprotkan. SL juga dapat mengacu pada formulasi slurry.
5.      Flowable (F) atau Flowable in Water (FW). Formulasi ini berupa konsentrasi cair yang sangat pekat. Bila dicampur air, F atau FW akan membentuk emulsi seperti halnya WP. Pada dasarnya FW adalah WP yang dibasahkan.
6.      Ultra Low Volume (ULV). Khusus untuk penyemprotan dengan volume ultra rendah, yakni volume semprot antara 1 hingga 5 liter/hektar. ULV umumnya merupakan sediaan siap pakai, tanpa harus dicampur dengan air.
7.      Wettable Powder (WP). Formulasi WP bersama EC merupakan formulasi klasik yang masih banyak digunakan hingga saat ini. WP adalah formulasi bentuk tepung yang bila dicampur air akan membentuk suspensi yang penggunaannya dengan cara disemprot.
8.      Soluble powder (S atau SP). Formulasi bentuk tepung yang bia dicampur air akan menghasilkan larutan homogen. Pestisida ini juga digunakan dengan cara disemprotkan.
9.      Butiran/Granule (G). Butiran yang umumnya merupakan sediaan siap pakai dengan konsentrasi rendah. Pestisida butiran digunakan dengan cara ditaburkan di lahan (baik secara manual dengan tangan atau dengan mesin penabur), setelah penaburan dapat juga diikuti dengan pegolahan tanah. Disamping formulasi G dikenal juga fomulasi SG, yakni sand granular.
10.  Water Dipersible Granule (WG atau WDG). WDG atau WG berbentuk butiran, mirip G, tetapi penggunaanya sangat berbeda. Formulasi WDG harus diencerkan denga air dan digunakan dengan cara disemprotkan.
11.  Seed dreesing (SD) atau Seed Treatment (ST). Sediaan berbentuk tepung yang khusus digunakan untuk perawatan benih.
12.  Tepung Hembus atau Dust (D). Sediaan siap pakai dengan konsentrasi rendah yang digunakan dengan cara dihembuskan.

13.  Umpan atau bait (B) ready Mix Bait (RB atau RMB). umpan merupakan formulasi siap pakai yang umumya digunakan untuk formulasi rodentisida.

PENCEMARAN LINGKUNGAN OLEH PESTISIDA

PENCEMARAN LINGKUNGAN OLEH PESTISIDA

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
            Pencemaran lingkungan yang terjadi saat ini kebanyakan disebabkan oleh penggunaan bahan kimia yang berlebihan. Dari sector pertanian sendiri penggunaan bahan kimia yang dapat merusak lingkungan adalah penggunaan pestisida. Hampir semua pertanian yang ada saat ini menggunakan bahan kimia, baik pestisida maupun pupuk kimia.
            Pestisida sendiri merupakan bahan kimia yang dapat menurunkan OPT (Organisme pengganggu Tumbuhan), namun sayangnya terkadang petani menggunakan pestisida berlebihan yang nantinya akan berdampak pada pencemaran ligkungan. Untuk mengurangi kerusakan lingkungan dan gangguan kesehatan sebaiknya memperhatikan Informasi yang terperinci tentang tingkat keracunan, keberadaan dalam tanah, jalan pengangkutan yang lebih dominan dari berbagai herbisida, insektisida dan fungisida hendaknya diketahui. Kondisi cuaca penting diperhatikan pada saat pengaplikasian.

B. Tinjauan Pustaka
Pestisida secara umum digolongkan kepada jenis organisme yang akan dikendalikan populasinya. Insektisida, herbisida, fungsida dan nematosida digunakan untuk mengendalikan hama, gulma, jamur tanaman yang patogen dan nematoda. Jenis pestisida yang lain digunakan untuk mengendalikan hama dari tikus dan siput (Alexander, 1977).
Dalam bidang pertanian pestisida merupakan sarana untuk membunuh jasad pengganggu tanaman. Dalam konsep Pengendalian Hama Terpadu, pestisida berperan sebagai salah satu komponen pengendalian,yang mana harus sejalan dengan komponen pengendalian hayati, efisien untuk mengendalikan hama tertentu, mudah terurai dan aman bagilingkungan sekitarnya. Penerapan usaha intensifikasi pertanian yang menerapkan berbagai teknologi, seperti penggunaan pupuk, varietas unggul, perbaikan pengairan, pola tanam serta usaha pembukaan lahan baru akan membawa perubahan pada ekosistem yang sering kali diikuti dengan timbulnya masalah serangan jasad penganggu. Cara lain untuk mengatasi jasad penganggu selain menggunakan pestisida kadang-kadang memerlukan waktu, biaya dan tenaga yang besar dan hanya dapat dilakukan pada kondisi tertentu. Sampai saat ini hanya pestisida yang mampu melawan jasad penganggu dan berperan besar dalam menyelamatkan kehilangan hasil (Sudarmo, 1991).
Dalam penerapan di bidang pertanian, ternyata tidak semua pestisida mengenai sasaran. Kurang lebih hanya 20 persen pestisida mengenai sasaran sedangkan 80 persen lainnya jatuh ke tanah. Akumulasi residu pestisida tersebut mengakibatkan pencemaran lahan pertanian. Apabila masuk ke dalam rantai makanan, sifat beracun bahan pestisida dapat menimbulkan berbagai penyakit seperti kanker, mutasi, bayi lahir cacat, CAIDS (Chemically Acquired Deficiency Syndrom) dan sebagainya (Sa’id, 1994).
Setiap kemasan dari bahan-bahan kimia pertanian harus dilengkapi/menggunakan keterangan perlindungan bagi keamanan pengguna. Jenis dan tingkat perlindungan berbeda tergantung pada tingkat keracunan dari masing-masing bahan kimia pertanian. Penyimpanan yang tepat dari bahan-bahan kimia pertanian dan keterangan mengenai pelepasan dari bahan kimia pertanian ke lingkungan termasuk tingkat yang dapat meracuni dan digambarkan pada label dari kemasan tersebut. Dengan memperhatikan keterangan-keterangan ini, keamanan para pengguna, keamanan dari pangan, keamanan dari konsumen pangan dan keamanan lingkungan dapat diwujudkan (Uehara, 1993).
  

II. ISI

            Lingkungan merupakan kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan dan mahluk hidup (organisme ). Lingkungan dapat terceamar, pencemaran lingkungan dapat terjadi secara alami maupun buatan. Contoh pencemaran buatan antara lain limbah baik pabrik maupun rumah tangga, serta bahan kimia berbahaya antara lain pestisida. Besar kecilnya pencemaran lingkungan khusunya oleh pestisida ditentuka berdasarkan faktor toksisitas, lama pemaparan, konsentrasi dan volume.
 Batasan pencemaran menurut UU No. 4 Tahun 1982, menjelaskan bahwa “Pencemaran” adalah masuknya atau dimasukkannya mahluk hidup, zat, energy dan atau komponen lain kedalam lingkungan dan atau merubahnya tatanan lingkungan oleh kegiatan manusia atau proses alam, sehingga kwalitas lingkungan turun sampai tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan menmjadi kurang atau tidak dabat berfungsi lagi sesuai dengan peruntukannya.
Pencemaran suatu lingkungan bisanya melalui tahap-tahap yaitu:
1. Tingkatan Pertama
Bila zat pencemar tersebut baik jumlah dan waktu aktifnya tidak membawa akibat yang merugikan manusia.
2. Tingkatan ke-2
Bila zat pencemar sudah mengakibatkan gangguan pada alat- alat panca indera dan alat perkembangbiakan secara vegetatif serta kerusakan lingkungan hidup yang lebih luas.
3. Tingkatan ke- 3
Bila zat pencemar sudah mengakibatkan gangguan fisiologis yang membawa akibat kesakitan yang menahun.
4. Tingkatan ke- 4
Bila zat pencemar sudah mengakibatkan gangguan-ganguan yang gawat seperti kematian dan lain-lain.
            Peningkatan kegiatan pertanian yang bertujuan untuk meningkatkan produktivitas pertanian juga membawa dampak buruk, salah satunya adalah pencemaran lingkungan yang dtimbulkan akibat penggunaan pestisida. Menurut Sa’id (1994) Pestisida yang paling banyak menyebabkan kerusakan lingkungan dan mengancam kesehatan manusia adalah pestisida sintetik, yaitu golongan organoklorin. Tingkat kerusakan yang disebabkan oleh senyawa organoklorin lebih tinggi dibandingkan senyawa lain, karena senyawa ini peka terhadap sinar matahari dan tidak mudah terurai.
            Pestisida yang digunakan terus menerus dapat mencemari lingkungan dan membahayakan kesehatan manusia, pencemaran pestisida meliputi pencemaran air, tanah, bahkan udara.
1.      Pencemaran air
Residu masuk air sungai, mengalir ke parit-parit sawah, masuk ke saluran tersier ke saluran sekunder dan terbuang ke sungai kita. Sungai mengalir masuk kota, menuju ke hilir dan sebagian rakyat menggunakan air di hilir untuk mandi, cuci dan kakus. Pencemaran bertambah runyam, karena pestisida, sampah rumah tangga dan produk alami.
2.      Pencemaran tanah
Sebagian besar pestisida akan jatuh ketanah, bahkan ada yang memang diaplikasikan kedalam tanah. Sebagian residu ada yang terbawa aliran air tanah, namun tidak sedikit pula yang mengendap dalam partikel tanah. Hal ini dapat membuat mikroorganisme dalam tanah yang tidak berbahaya juga ikut mati. Selain itu tanah menjadi tidak subur, sehingga tanaman tidak akan tumbuh dengan baik.
3.      Pencemaran udara
Penyemprotan pestisida dengan menggunakan helikopter telah menggeser pemakaian tenaga manusia yang dirasakan tidak efektif. Dengan helikopter, dalam waktu sekejap berpuluh-puluh hektar ladang bahan pangan telah tersemprot sekaligus. Tapi daerah-daerah yang bukan sasaran maupun hewan-hewan dan serangga bukan sasaran target pembunuhan ikut menikmati hujan pestisida dari cucuran helikopter.

IV. STUDI KASUS

DDT adalah insektisida organoklorin, mirip dalam struktur ke dicofol dan pestisida methoxychlor. DDT bersifat sangat hidrophobik, yang dihasilkan oleh reaksi dari khloral (CCl3CHO) dengan chlorobenzene (C6H5Cl) dan asam sulfur, yang bertindak sebagai katalisator. DDT (Dichloro-Diphenyl-Trichloroethane) merupakan pestisida sintetis yang merupakan bahan kimia yang panjang, unik, dan mempunyai sejarah yang kontroversial. Pada tahun 1962 Rachel Carson dalam bukunya yang terkenal, Silent Spring, menjuluki DDT sebagai obat yang membawa kematian bagi kehidupan di bumi. Demikian berbahayanya DDT bagi kehidupan di bumi sehingga atas rekomendasi EPA (Environmental Protection Agency) Amerika Serikat pada tahun 1972 DDT dilarang digunakan terhitung 1 Januari 1973. Pengaruh buruk DDT terhadap lingkungan  sudah mulai tampak sejak awal penggunaannya pada tahun 1940-an, dengan menurunnya populasi burung elang sampai hampir punah di Amerika Serikat. Dari pengamatan ternyata elang terkontaminasi DDT dari makanannya (terutama ikan sebagai mangsanya) yang tercemar DDT.  DDT menyebabkan cang­kang telur elang menjadi sangat rapuh sehingga rusak jika dieram. Dari segi bahayanya, oleh EPA DDT digolongkan dalam bahan racun PBT (persistent, bioaccumulative, and toxic) material.
Dua sifat buruk yang menyebabkan DDT sangat berbahaya terhadap lingkungan hidup adalah:
  1. Sifat apolar DDT: DDT tidak larut dalam air tapi sangat larut dalam lemak. Makin larut suatu insektisida dalam lemak (semakin lipofilik) semakin tinggi sifat apolarnya. Hal ini merupakan salah satu faktor penyebab DDT sangat mudah menembus kulit
  2. Sifat DDT yang sangat stabil dan persisten. DDT sukar terurai sehingga cenderung bertahan dalam lingkungan hidup, masuk rantai makanan (foodchain) melalui bahan lemak jaringan mahluk hidup. Itu sebabnya DDT bersifat bioakumulatif dan biomagnifikatif. Karena sifatnya yang stabil dan persisten, DDT bertahan sangat lama di dalam tanah; bahkan DDT dapat terikat dengan bahan organik dalam partikel tanah.
Dalam ilmu lingkungan DDT termasuk dalam urutan ke-3 dari polutan organik yang persisten (Persistent Organic Pollutants, POP), yang memiliki sifat-sifat berikut:
  • tidak terdegradasi melalui fotolisis, biologis maupun secara kimia,
  • berhalogen (biasanya klor),
  • daya larut dalam air sangat rendah,
  • sangat larut dalam lemak,
  • semivolatile,
  • di udara dapat dipindahkan oleh angin melalui jarak jauh,
  • bioakumulatif,
  • biomagnifikatif (toksisitas meningkat sepanjang rantai makanan)
 Di Amerika Serikat, DDT masih terdapat dalam tanah, air dan udara. Kandungan DDT dalam tanah berkisar sekitar 0.18 sampai 5.86 parts per million (ppm), sedangkan sampel udara menunjukkan kandungan DDT  0.00001 sampai 1.56 microgram per meter kubik udara (ug/m3), dan di perairan (danau) kandungan DDT dan DDE pada taraf 0.001 microgram per liter (ug/L). 
Gejala keracunan akut pada manusia adalah paraestesia, tremor, sakit kepala, keletihan dan muntah. Efek keracunan kronis DDT adalah kerusakan sel-sel hati, ginjal, sistem saraf, sistem imunitas dan sistem reproduksi. Efek keracunan kronis pada unggas sangat jelas antara lain terjadinya penipisan cangkang telur dan demaskulinisasi.
Sejak tidak digunakan lagi (1973) kandungan DDT dalam tanaman semakin menurun. Pada tahun 1981 rata-rata DDT dalam bahan makanan yang termakan  oleh manusia adalah 32-6 mg/kg/hari, terbanyak dari umbi-umbian dan dedaunan. DDT ditemukan juga dalam daging, ikan dan unggas.
Walaupun di negara-negara maju (khususnya di Amerika Utara dan Eropah Barat) penggunaan DDT telah dilarang, di negara-negara berkembang terutama India, RRC dan negara-negara Afrika dan Amerika Selatan, DDT masih digunakan. Banyak negara telah mela­rang penggunaan DDT kecuali dalam keadaan darurat terutama jika muncul wabah penyakit seperti malaria, demam berdarah dsb. Departeman Pertanian RI telah melarang penggunaan DDT di bidang pertanian sedangkan larangan penggunaan DDT di bidang kesehatan dilakukan pada tahun 1995.  Komisi Pestisida RI juga sudah tidak memberi perijinan bagi pengunaan pestisida golongan hidrokarbon-berklor (chlorinated hydrocarbons) atau organoklorin (golongan insektisida di mana DDT termasuk).
Walaupun secara undang-undang telah dilarang, disinyalir DDT masih juga secara gelap digunakan karena keefektifannya dalam membunuh hama serangga. Demikian pula, banyaknya DDT yang masih tersimpan yang perlu dibinasakan tanpa membahayakan ekosistem manusia maupun kehidupan pada umumnya merupakan permasalahan bagi kita. Sebenarnya, bukan saja DDT yang memiliki daya racun serta persistensi yang demikian lamanya dapat bertahan di lingkungan hidup. Racun-racun POP lainnya yang juga perlu diwaspadai karena mungkin saja terdapat di tanah, udara maupun perairan di sekitar kita adalah aldrin, chlordane, dieldrin, endrin, heptachlor, mirex, toxaphene, hexachlorobenzene, PCB (polychlorinated biphenyls), dioxins dan furans.
Untuk mengeliminasi bahan racun biasanya berbagai cara dapat digunakan seperti secara termal, biologis atau kimia/fisik. Untuk Indonesia dipertimbangkan untuk mengadopsi cara stabilisasi/fiksasi karena dengan cara termal seperti insinerasi memerlukan biaya sangat tinggi. Prinsip stabilisasi/fiksasi adalah membuat racun tidak aktif/imobilisasi dengan enkapsulasi mikro dan makro sehingga DDT menjadi berkurang daya larutnya. Namun  permasalahan tetap masih ada karena DDT yang telah di-imobilisasi ini masih harus dibuang sebagai landfill di tempat yang aman. Namun dengan cara ini potensi racun DDT masih tetap bertahan untuk waktu yang lama pada abad 21 ini.
Pada bulan Juli 1998, perwakilan dari 120 negara bertemu untuk membahas suatu pakta Persatuan Bangsa Bangsa untuk melarang penggunaan DDT sebagai insektisida dan 11 bahan kimia lainnya secara global pada tahun 2000. Amerika Serikat dan negara-negara industri lain menyetujui pelarangan ini karena bahan-bahan kimia ini adalah senyawa kimia yang persisten dimana senyawa-senyawa ini dapat terakumulasi dan merusak ekosistem alami dan memasuki rantai makanan manusia. Namun banyak negara tidak setuju dengan pelarangan DDT secara global karena DDT digunakan untuk mengkontrol nyamuk penyebab malaria. Malaria timbul di 90 negara di seluruh dunia, termasuk Indonesia, dan merupakan penyebab kematian dalam jumlah besar terutama daerah ekuatorial Afrika.
Organisasi Kesehatan Dunia memperkirakan bahwa 2.5 juta orang tewas setiap tahun akibat malaria dan ini kian terjadi di berbagai belahan dunia. Namun karena DDT begitu efektif dalam mengontrol nyamuk penyebab malaria, banyak ahli berpikir bahwa insektisida menyelamatkan lebih banyak jiwa dibandingkan bahan kimia lainnya.
DDT diproduksi secara massal pada tahun 1939, setelah seorang kimiawan bernama Paul Herman Moller menemukan dengan dosis kecil dari DDT maka hampir semua jenis serangga dapat dibunuh dengan cara mengganggu sistem saraf mereka. Pada waktu itu, DDT dianggap sebagai alternatif murah dan aman sebagai jenis insektisida bila dibandingkan dengan senyawa insektisida lainnya yang berbasis arsenik dan raksa. Sayangnya, tidak seorangpun yang menyadari kerusakan lingkungan yang meluas akibat pemakaian DDT.
Sebagai suatu senyawa kimia yang persisten, DDT tidak mudah terdegradasi menjadi senyawa yang lebih sederhana. Ketika DDT memasuki rantai makanan, ini memiliki waktu paruh hingga delapan tahun, yang berarti setengah dari dosis DDT yang terkonsumsi baru akan terdegradasi setelah delapan tahun. Ketika tercerna oleh hewan, DDT akan terakumulasi dalam jaringan lemak dan dalam hati. Karena konsentrasi DDT meningkat saat ia bergerak ke atas dalam rantai makanan, hewan predator lah yang mengalami ancaman paling berbahaya. Populasi dari bald eagle dan elang peregrine menurun drastis karena DDT menyebabkan mereka menghasilkan telur dengan cangkang yang tipis dimana telur ini tidak akan bertahan pada masa inkubasi. Singa laut di lepas pantai California akan mengalami keguguran janin setelah memakan ikan yang terkontaminasi.
Para peneliti lingkungan dan pakar wabah penyakit mulai mengamati serius dampak unsur pengganggu itu sejak tiga dekade lalu. Mula-mula diketahui, racun pembunuh serangga yang amat ampuh dan digunakan secara luas membasmi nyamuk malaria, yakni DDT (dichloro diphenytrichloroethane) memiliki dampak sampingan amat merugikan. DDT memiliki sifat larut dalam lemak. Karena itu, residunya terus terbawa dalam rantai makanan, dan menumpuk dalam jaringan lemak. Dari situ, sisa DDT mengalir melalui air susu ibu kepada anaknya, baik pada manusia maupun pada binatang. Binatang pemangsa mendapat timbunan sisa DDT dari binatang makanannya. Rantainya seolah tidak bisa diputus.
Pengamatan terhadap burung pemangsa menunjukkan, DDT menyebabkan banyak burung yang memproduksi telur dengan kulit amat tipis, sehingga mudah pecah. Selain itu, terlepas dari tebal tipisnya kulit telur, semakin banyak anak burung pemangsa yang lahir cacat. Penyebaran residu DDT bahkan diamati sampai ke kawasan kutub utara dan selatan. Anjing laut di kutub utara, banyak yang melahirkan anak yang cacat, atau mati pada saat dilahirkan. Penyebabnya pencemaran racun serangga jenis DDT.














DAFTAR PUSTAKA

Abrar. 2010. Dampak DDT terhadap Lingkungan. <lessonabrar.wordpress.com>. Diakses Tanggal 15 Januari 2012.

Alexander, M., 1977. Soil Microbiology, Second Edition. John Wiley & Sons, Ind., New York.

Sa’id, E.G., 1994. Dampak Negatif Pestisida, Sebuah Catatan bagi Kita Semua. Agrotek. Vol. 2(1). IPB, Bogor.

Sudarmo, S., 1991. Pestisida. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.


Uehara, K., 1996. The Present State of Plant Protection in Japan-Safety Countermeasures for Agriculture Chemicals. Japan Pesticide Information. Japan Plant Protection Association, Tokyo. Japan.

Jumat, 13 Maret 2015

Pseudomonas syringae pv. Syringae


Taksonomi
Domain : Bacteria

Family : Pseudomonadaceae

Genus : Pseudomonas

Spesies : Pseudomonas syringae pv. Syringae


Morfologi

Geminivirus dicirikan dengan bentuk partikel kembar berpasangan (geminate) dengan ukuran sekitar 30 x 20 nm. Partikel virus yang rangkap, tidak menyelimuti, partikel berpasangan adalah 18-20 nm diameter dan 30 nm panjang, profil sudut, pengaturan capsomere tidak mudah terlihat. Daun getah mengandung beberapa partikel. Mikroskop elektron: aldehyde diperlukan untuk fiksasi kecuali asam fosfotungstat (PTA) digunakan pada pH 4 (Brunt et al, 1990.).

Media Pembawa

Buah / polong (Fruits/pods), perbungaan (inflorescence), daun (leaves), batang (stems) dan seluruh tanaman (whole plant).

BGMV tidak dilaporkan seedborne.

Biologi

BGMV ditransmisikan secara terus-menerus oleh kutu putih atau kutu kebul (Bemisia tabaci) secara persisten yang berarti selama hidupnya virus terkandung di dalam tubuh kutu tersebut. Dewasa dapat memperoleh virus dalam waktu 6 menit . BGMV dipertahankan selama berhari-hari atau berminggu-minggu , dan melalui mabung . Tidak berkembang biak dalam vektor dan tidak menular secara langsung ke keturunan . Non – vector transmisi adalah dengan inokulasi mekanis ( dengan pengecualian isolat dari Argentina dan Brazil ) , dengan mencangkok, tetapi tidak oleh kontak antara tanaman. Virus tidak ditularkan lewat biji dan juga tidak ditularkan lewat kontak langsung antar tanaman.

Gejala

Gejala penyakit pada tanaman cabai berupa bercak kuning di sekitar tulang daun, kemudian tampak vein clearing yang berkembang menjadi warna kuning sangat jelas, tulang daun menebal dan helai daun menggulung ke atas (cupping). Gejala lanjut penyakit ini menunjukan daun-daun muda menjadi kecil-kecil, helai daun berwarna kuning cerah atau hijau muda yang berseling dengan warna kuning dan cerah yang akhirnya tanaman kerdil (Sulandari et al., 2001).

Tanaman cabai yang terserang virus ini menunjukkan gejala: daun menguning cerah/pucat, daun keriting (curl), daun kecil-kecil, tanaman kerdil, bunga rontok, tanaman tinggal ranting dan batang saja, kemudian mati. Infeksi virus pada awal pertumbuhan tanaman menyebabkan tanaman menjadi kerdil dan tidak menghasilkan bunga dan buah. Gejala kuning dapat dilihat dari kejauhan.

Gejala : Vena menguning , jaring dan kliring , memperluas klorosis interveinal kuning cerah . Daun muncul setelah gejala pertama kali muncul meringkuk turun , gagal untuk memperluas dan menjadi kaku dan kasar (EPPO quarantine pest ) .

Gejala dari bagian tanaman yang terkena
  1. Buah / polong: bentuk abnormal.
  2. Perbungaan: jatuh atau shedding.
  3. Daun: warna tidak normal, bentuk normal.
  4. Batang: pertumbuhan abnormal.
  5. Seluruh tanaman: pengerdilan.





Kamis, 12 Maret 2015

DAMPAK PEMANASAN GLOBAL TERHADAP SERANGGA


Pemanasan global (global warming) adalah suatu bentuk ketidakseimbangan ekosistem di bumi akibat terjadinya proses peningkatan suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan di bumi. Selama kurang lebih seratus tahun terakhir, suhu rata-rata di permukaan bumi telah meningkat 0.74 ± 0.18 °C. Meningkatnya suhu rata-rata permukaan bumi yang terjadi adalah akibat meningkatnya emisi gas rumah kaca, seperti; karbondioksida, metana, dinitro oksida, hidrofluorokarbon, perfluorokarbon, dan sulfur heksafluorida di atmosfer. Emisi ini terutama dihasilkan dari proses pembakaran bahan bakar fosil (minyak bumi dan batu bara) serta akibat penggundulan dan pembakaran hutan.

Pemanasan global diperkirakan telah menyebabkan perubahan-perubahan sistem terhadap ekosistem di bumi, antara lain; perubahan iklim yang ekstrim, mencairnya es sehingga permukaan air laut naik, serta perubahan jumlah dan pola presipitasi. Adanya perubahan sistem dalam ekosistem ini telah memberi dampak pada kehidupan di bumi seperti terpengaruhnya hasil pertanian, hilangnya gletser dan punahnya berbagai jenis hewan.

Efek rumah kaca sebagai suatu sistem di bumi sangat dibutuhkan oleh makhluk hidup di bumi. Suhu atmosfer bumi akan menjadi lebih dingin jika tanpa efek rumah kaca. Tetapi, jika efek rumah kaca berlebihan dibandingkan dengan kondisi normalnya maka sistem tersebut akan bersifat merusak. Melihat sebagian besar emisi gas rumah kaca bersumber dari aktivitas hidup manusia, maka pemanasan global harus ada upaya solusinya dengan merubah pola hidup dan perilaku masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.


A. Pemanasan Global 

Pemanasan global (global warming) menjadi salah satu isu lingkungan utama yang dihadapi dunia saat ini. Pemanasan global berhubungann dengan proses meningkatnya suhu rata-rata permukaan bumi. Peningkatan suhu permukaan bumi ini dihasilkan oleh adanya radiasi sinar matahari menuju ke atmosfer bumi, kemudian sebagian sinar ini berubah menjadi energi panas dalam bentuk sinar infra merah diserap oleh udara dan permukaan bumi. 
Sebagian sinar infra merah dipantulkan kembali ke atmosfer dan ditangkap oleh gas-gas rumah kaca yang kemudian menyebabkan suhu bumi meningkat. Gas-gas rumah kaca terutama berupa karbon dioksida, metana dan nitrogen oksida. Kontribusi besar yang mengakibatkan akumulasi gas-gas kimia ini di atmosfir adalah aktivitas manusia. Temperatur global rata-rata setiap tahun dan lima tahunan tampak meningkat, seperti pada diagram berikut (Anonim, 2004). 

B. Dampak Pemanasan Global
Pemanasan global telah memicu terjadinya sejumlah konsekuensi yang merugikan baik terhadap lingkungan maupun setiap aspek kehidupan manusia. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut: 
1. Mencairnya lapisan es di kutub Utara dan Selatan. Peristiwa ini mengakibatkan naiknya permukaan air laut secara global, hal ini dapat mengakibatkan sejumlah pulau-pulau kecil tenggelam. Kehidupan masyarakat yang hidup di daerah pesisir terancam. Permukiman penduduk dilanda banjir rob akibat air pasang yang tinggi, dan ini berakibat kerusakan fasilitas sosial dan ekonomi. Jika ini terjadi terus menerus maka akibatnya dapat mengancam sendi kehidupan masyarakat. 
2. Meningkatnya intensitas fenomena cuaca yang ekstrim. Perubahan iklim menyebabkan musim sulit diprediksi. Petani tidak dapat memprediksi perkiraan musim tanam akibat musim yang juga tidak menentu. Akibat musim tanam yang sulit diprediksi dan musim penghujan yang tidak menentu maka musim produksi panen juga demikian. Hal ini berdampak pada masalah penyediaan pangan bagi penduduk, kelaparan, lapangan kerja bahkan menimbulkan kriminal akibat tekanan tuntutan hidup. 
3. Punahnya berbagai jenis fauna. Flora dan fauna memiliki batas toleransi terhadap suhu, kelembaban, kadar air dan sumber makanan. Kenaikan suhu global menyebabkan terganggunya siklus air, kelembaban udara dan berdampak pada pertumbuhan tumbuhan sehingga menghambat laju produktivitas primer. Kondisi ini pun memberikan pengaruh habitat dan kehidupan fauna. 
4. Habitat hewan berubah akibat perubahan faktor-faktor suhu, kelembaban dan produktivitas primer sehingga sejumlah hewan melakukan migrasi untuk menemukan habitat baru yang sesuai. Migrasi burung akan berubah disebabkan perubahan musim, arah dan kecepatan angin, arus laut (yang membawa nutrien dan migrasi ikan). 
5. Berubahnya habitat memungkinkan terjadinya perubahan terhadap resistensi kehidupan larva dan masa pertumbuhan organisme tertentu, kondisi ini tidak menutup kemungkinan adanya pertumbuhan dan resistensi organisme penyebab penyakit tropis. Jenis-jenis larva yang berubah resistensinya terhadap perubahan musim dapat meningkatkan penyebaran organisme ini lebih luas. Ini menimbulkan wabah penyakit yang dianggap baru. 

C. Studi Kasus Dampak Pemanasan Globat terhadap Ekosistem Serangga

Penyebaran Hama Tanaman Akibat Pemanasan Global

Sebuah studi terbaru mengungkapkan bahwa pemanasan global mengakibatkan penyebaran hama tanaman menuju arah Utara dan Selatan semakin sering terjadi, penyebaran hama ini terjadi hampir di setiap daerah dengan kecepatan hampir 3 kilometer per tahunnya.

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nature Climate Change dan dilakukan oleh para peneliti di University of Exeter dan Universitas Oxford, menunjukkan sebuah hubungan yang kuat antara suhu global yang meningkat selama 50 tahun terakhir dan ekspansi berbagai hama tanaman.

Pada saat ini sekitar 10-16% dari produksi tanaman (terutama pangan) global terserang hama. Hama tanaman yang menyerang yaitu jamur, bakteri, virus, serangga, nematoda, viroid dan Oomycetes. Keragaman serta strain hama tanaman pun terus berkembang. Kerugian akibat hama tanaman berupa jamur dan mikroorganisme, jumlahnya cukup untuk memberi makan hampir sembilan persen dari populasi dunia saat ini. Studi ini menunjukkan bahwa angka-angka ini akan meningkat terus-menerus jika suhu global terus meningkat seperti yang diperkirakan.

Penyebaran hama pada tanaman disebabkan oleh aktivitas manusia (terutama hasil dari pengangkutan kargo internasional) dan proses alami. Namun dalam studi ini menunjukkan bahwa pemanasan iklim memungkinkan hama semakin mudah untuk beradaptasi di daerah yang sebelumnya tidak cocok.

Sebagai contoh, kenaikan suhu umumnya merangsang serangga herbivora di daerah subtropis, pada daerah ini wabah kumbang pinus (Dendroctonus ponderosae) telah menghancurkan sebagian besar wilayah hutan pinus di Pacific Northwest, Amerika Serikat. Selain itu, rice blast fungus pada padi yang saat ini sudah menyebar di lebih dari 80 negara, dan memiliki efek yang besar, baik pada ekonomi maupun keseimbangan ekosistem, kini telah berpindah ke tanaman pangan lainnya yaitu gandum. Jenis jamur ini dianggap sebagai penyakit baru pada gandum (wheat blast), dimana penyakit ini mengurangi hasil panen gandum di Brasil secara signifikan.

Salah satu serangan hama yang telah terjadi adalah kumbang kentang di Colorado. Kumbang Colorado bergerak ke utara melewati kawasan Eropa dan memasuki wilayah Finlandia dan Norwegia. Padahal biasanya kumbang tidak bisa bertahan melewati musim dingin.

Dr. Dan Bebber dari University of Exeter mengatakan: “Jika penyebaran hama tanaman akibat pemanasan global terus terjadi ditambah efek pertumbuhan jumlah penduduk dunia yang tak bisa ditekan akan menjadi ancaman keamanan pangan global.

Dampak Penyebaran hama tanaman akibat Pemanasan Global bagi Indonesia

Di Indonesia sendiri yang termasuk negara dengan iklim tropis, dipekirakan juga akan mengalami penurunan produktivitas pertanian khususnya tanaman padi, bila kenaikan suhu rata-rata global antara 1-2 oC sehingga meningkatkan resiko bencana kelaparan di Indonesia.


Penurunan produktivitas pangan merupakan dampak nyata yang harus dihadapi Indonesia. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya peningkatan sterilitas serealia, penurunan areal yang dapat diirigasi dan penurunan efektivitas penyerapan hara serta penyebaran hama dan penyakit. Selain itu, pergeseran musim juga ikut berpengaruh pada penurunan produktivitas. Pemanasan global juga akan menimbulkan peningkatan intensitas kejadian iklim ekstrim (El-Nino dan La-Nina) dan ketidakteraturan musim.

Perkembangan hama dan penyakit sangat dipengaruhi oleh dinamika faktor iklim. Fluktuasi suhu dan kelembaban udara yang semakin meningkat yang akan mampu menstimulasi pertumbuhan dan perkembangan organisme pengganggu tanaman, baik hama maupun penyakit. Sehingga tidak jarang kalau pada musim hujan petani banyak disibukkan oleh masalah penyakit tanaman. Hama-hama yang menyerang tanaman padi antara lain; Pengerek batang padi (scirpophaga innotata) atau lebih dikenal masyarakat dengan “sundep”, pengerek batang padi (Scirpophaga incertulas), wereng coklat (Nilaparvata lugens), wereng hijau (Neppotetix impicticeps), ganjur (Pachydiplosis oryzae), lalat bibit (Arterigona exigua), ulat tentara atau grayak (Spodoptera litura), dan tikus sawah (Rattus argentiventer). Sedangkan penyakit-penyakit penting yang menyerang tanaman padi antara lain; blas (Pyricularia oryzae, p. Gricea) dan hawar daun bakteri atau “kresek”(Xanthomonas oryzae pv. Oryzae). Ledakan populasi organisme pengganggu tanaman seperti serangga disebabkan oleh peningkatan konsentrasi CO, yang berakibat pada penurunan perbandingan unsur Nitrogen dalam tumbuhan. Padahal, Nitrogen mutlak untuk hidup serangga. Kompensasinya, serangga akan memakan biomassa tumbuhan yang lebih banyak dan karena siklus hidup serangga yang pendek, sehingga serangga cepat mewariskan genetika paling sesuai dengan kondisi iklim kontemporer pada keturunannya termasuk pada racun.

D. Meminimalisasi Dampak Pemanasan Global 

1) Konservasi lingkungan, dengan melakukan penanaman pohon dan penghijauan di lahan-lahan kritis. Tumbuhan hijau memiliki peran dalam proses fotosintesis, dalam proses ini tumbuhan memerlukan karbondioksida dan menghasilkan oksigen. Akumulasi gas-gas karbon di atmosfer dapat dikurangi. 
2) Menggunakan energi yang bersumber dari energi alternatif guna mengurangi penggunaan energi bahan bakar fosil (minyak bumi dan batu bara). Emisi gas karbon yang terakumulasi ke atmosfer banyak dihasilkan oleh pembakaran bahan bakar fosil. Kita mengenal bahwa paling banyak mesin-mesin kendaraan dan industri digerakkan oleh mesin yang menggunakan bahan bakar ini. Karena itu diupayakan sumber energi lain yang aman dari emisi gas-gas ini, misalnya; menggunakan energi matahari, air, angin, dan bioenergy. Di daerah tropis yang kaya akan energi matahari diharapkan muncul teknologi yang mampu menggunakan energi ini, misalnya dengan mobil tenaga surya, listrik tenaga surya. Sekarang ini sedang dikembangkan bioenergy, antara lain biji tanaman jarak (Jathropa. sp) yang menghasilkan minyak. 
3) Daur ulang dan efisiensi energi. Penggunaan minyak tanah untuk menyalakan kompor di rumah, menghasilkan asap dan jelaga yang mengandung karbon. Karena itu sebaiknya diganti dengan gas. Biogas menjadi hal yang baik dan perlu dikembangkan, misalnya dari sampah organik. 
4) Upaya pendidikan kepada masyarakat luas dengan memberikan pemahaman dan penerapan




DAFTAR PUSTAKA



Ammann, Caspar, et al. (2007). "Solar influence on climate during the past millennium: Results from ransient simulations with the NCAR Climate Simulation Model". Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America 104 (10): 3713-3718.

Buesseler, K.O., C.H. Lamborg, P.W. Boyd, P.J. Lam, T.W. Trull, R.R. Bidigare, J.K.B. Bishop, K.L. Casciotti, F. Dehairs, M. Elskens, M. Honda, D.M. Karl, D.A. Siegel, M.W. Silver, D.K. Steinberg, J. Valdes, B. Van Mooy, S. Wilson. (2007) "Revisiting carbon flux through the ocean's twilight zone." Science 316: 567-570.

Gleason, Karen K., Simon Karecki, and Rafael Reif (2007). Climate Classroom; What’s up with global warming?, National Wildlife Federation. URL diakses 6-12-2014

Hegerl, Gabriele C. et al. Understanding and Attributing Climate Change. Climate Change 2007: The Physical Science Basis. Contribution of Working Group I to the Fourth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate 11 Change. Intergovernmental Panel on Climate Change. URL diakses pada 6-12-2014

Marsh, Nigel, Henrik, Svensmark (2000). "Cosmic Rays, Clouds, and Climate" Space Science Reviews 94: 215-230. URL diakses pada 6-12-2014

Scafetta, Nicola, West, Bruce J. (2006). "Phenomenological solar contribution to the 1900-2000 global surface warming". Geophysical Research Letters 33 (5). URL diakses pada 6-12-2014.

Soden, Brian J., Held, Isacc M. (2005). "An Assessment of Climate Feedbacks in Coupled Ocean-Atmosphere Models". Journal of Climate 19(14). URL diakses pada 6-12-2014

Stocker, Thomas F.; et al. Sea Ice. Climate Change 2001: The Scientific Basis. Contribution of Working Group I to the Third Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change. Intergovernmental Panel on Climate Change. URL diakses pada 6-12-2014

Stott, Peter A., et al. (2003). "Do Models Underestimate the Solar Contribution to Recent Climate Change?". Journal of Climate 16 (24): URL diakses pada 6-12-2014

Summary for Policymakers. Climate Change 2007: The Physical Sciences Basis, Contribution of Working Group I to the Fourth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change. Intergovernmental Panel on Climate Change. URL diakses pada 6-12-2014


ANALISIS RESIKO ORGANISME PENGGANGGU TANAMAN (AROPT) BERDASARKAN ISPM NO.11

Analisis resiko OPT adalah suatu pedoman yang dikeluarkan oleh IPPC melalui ISPM No.2 (Guidelines for Pest Risk Analysis) dan No.11 (Pest Risk Analysis for Quarantine Pests). Semua kegiatan yang dilakukan pada kegiatan Analisis Resiko OPT sudah jelas tertulis pada ISPM No.2 dan No.11. 
Analisis Resiko Organisme Pengganggu Tanaman (AROPT) dalam ISPM no. 2 diartikan sebagai suatu proses evaluasi OPTsecara keilmuan ilmiah (ekologi, biologi,ekonomi, sosial budaya, dll.) sehingga dapat ditentukan apakah terhadap suatu OPT perlu dikenakan ketentuan fitosanitari, dan seberapa ketat ketentuan fitosanitari akan diberlakukan.

Tulisan ini akan membahas secara ringkas isi dari peraturan karantina pada ISPM no. 11 tentang analisis resiko organism pengganggu tanaman (AROPT). Pada ISPM no 11 tentang manajemen dan analisis resiko OPT, terdapat tiga tahapan dalam melakukan analisis resiko OPT yaitu :
1. Inisiasi (Initiation)
2. Penilaian Resiko OPT (Pest Risk Assessment)
3. Manajemen Resiko OPT (Pest Risk Management)

A. INISIASI (INITIATION) 

Inisiasi berfungsi untuk mengidentifikasi dan menentukan status suatu OPT yang memiliki kemungkinan terbawa oleh media pembawa dari negara asalnya. Inisiasi terbagi menjadi beberapa tahapan yaitu :
1. Mengidentifikasi media pembawa: 
 Benih (biji, batang, daun, kecambah, culture jaringan, dll)
 Peruntukan (konsumsi, bahan baku industri, benih, dll.);
2. Membuat daftar OPT yang berpotensi terbawa oleh media pembawa
3. Apabila tidak ditemukan OPT yang berpotensi terbawa oleh media pembawa maka AROPT dihentikan;
4. Jika ditemukan OPT berpotensi terbawa media pembawa, maka OPT dievaluasi apakah memenuhi kriteria atau berpotensi sebagai “OPTK/quarantine pest”
5. Setiap OPT yang memenuhi kriteria OPTK dilanjutkan ke tahap penilaian risiko/risk assessment.

Berdasarkan obyeknya, inisiasi dibedakan menjadi dua :
a. Inisiasi berdasarkan media pembawa 
Mengidentifikasi media pembawa apakah berpotensi membawa quarantine pest/OPTK.
Syarat:
· Belum pernah dilakukan AROPT terhadap media pembawa yang akan diimpor (importasi pertama kali) 
· Importasi media pembawa yang sama namun berasal dari negara yang berbeda
· Importasi dari negara yang sama namun media pembawa berbeda;
· Adanya perubahan kebijakan pemerintah
· Ditemukan infestasi atau outbreak/peledakan populasi OPT baru di negara asal atau di Indonesia
· Adanya intersepsi OPT baru pada komoditi impor di tempat pemasukan
b. Inisiasi berdasarkan OPT : 
Mengidentifikasi OPT apakah berpotensi sebagai quarantine pest (OPTK)
· Diketahui adanya resiko OPT baru dari hasil penelitian
· Suatu OPT terintroduksi ke suatu negara lain dari negara pengekspor
· Suatu OPT dilaporkan menjadi lebih merusak di suatu area di luar daerah asalnya;
· OPT tertentu sering ditemukan pada suatu komoditi
· Permintaan impor terhadap suatu organisme, yang berpotensi menjadi OPT
· Suatu organisme teridentifikasi sebagai vektor dari OPT lainnya, yang tidak diketahui sebelumnya
· Organisme Hasil Rekayasa Genetik (OHRG) atau Genetic Modified Organism (GMO) yang berpotensi menjadi OPT. 

B. PENILAIAN RESIKO OPT  (PEST RISK ASSESSMENT)
Penilaian potensi resiko suatu OPT bertujuan untuk menentukan apakah suatu OPT dapat dikategorikan sebagai OPTK dan mengevaluasi potensi terjadinya introduksi. Adapun penilaian resiko OPT terbagi menjadi enam, yaitu :
1. Penggolongan OPT berdasarkan tingkat klasifikasi.
2. Penilaian OPT sebagai OPTK
3. Potensi Menetap (Establish Potential)
Faktor yang dinilai:
· Informasi biologi (siklus hidup, ketersediaan inang, dll)
· Kesesuaian OPT di PRA area dibandingkan dengan daerah 
4. Potensi Menyebar (Spread Potential )
 Faktor yang dinilai:
· Membandingkan proses penyebaran di negara asalnya
· Keseuaian lingkungan (alami atau lingkungan budidaya
· Penyebaran melalui komoditas dan alat angkut
· Tujuan pemasukan (intended use)
· Ketersediaan vektor dan potensi musuh alami di PRA area
5. Potensi Masuk ke PRA Area (Introduction Potential)
Faktor yang dinilai:
· Frekuensi dan jumlah Media pembawa
· Peluang terbawa OPT pada media pembawa dan Alat angkut
· Kemampuan bertahan OPT selama perjalanan
· Kemampuan deteksi di tempat pemasukan
· Kemampuan membebaskan media pembawa dari OPTK
· Kemampuan melakukan eradikasi
· Jumlah dan frekuensi keluar-masuk manusia di tempat pemasukan.
6. Potensi Menimbulkan Kerugian Secara Ekonomi 
      Faktor yang dinilai:
· Potensi menimbulkan kehilangan pasar;
· Potensi menyebabkan biaya tambahan dalam rangka pengendalian;
· Potensi mengganggu program pengendalian OPT yang sedang berjalan
· Potensi menimbulkan kerusakan lingkungan dan vektor bagi OPT lain
· Potensi menimbulkan masalah sosial di masyarakat 

C. MANAJEMEN RESIKO OPT (PEST RISK MANAGEMENT)
Pengelolaan potensi resiko suatu OPT diartikan sebagai upaya untuk memperkecil kemungkinan terjadinya introduksi. Prinsip dalam melakukan manajemen atau pengelolaan resiko OPT meliputi :
1. Pengelolaan risiko OPTK  harus proporsional/tidak berlebih-lebihan
2. Ketentuan fitosanitari sebaiknya diaplikasikan untuk wilayah terbatas sehingga akan dicapai tingkat perlindungan yang efektif
3. Pengelolaan risiko merupakan pilihan dari beberapa opsi yang meliputi
a. Persyaratan Karantina Tumbuhan : 
· Memiliki Sertifikat Kesehatan Tanaman (PC)
· Dimasukkan di tempat-tempat pemasukan yang telah ditetapkan 
· Dilaporkan dan diserahkan kepada Petugas Karantina Tumbuhan untuk keperluan tindakan karantina
b.  Kewajiban Tambahan 
· Diberi perlakuan, ditanam di PFA, pemeriksaan selama musim tanam,  dan sertification scheme
· Pemeriksaan di tempat pemasukan dan tindakan karantina pasca masuk
· Pelarangan bagi komoditas tertentu dari daerah tertentu 
Analisis Risiko OPT melalui tiga tahapan di atas harus didokumentasikan dengan baik agar apabila dikemudian hari terjadi perselisihan akibat adanya ketidaksesuaian, maka alasan kenapa hal tersebut diberlakukan berikut sumber informasinya dapat disampaikan kepada pihak yang memerlukan. Setelah dibahas dan dikomunikasikan (Risk Communication), dokumen AROPT harus disahkan oleh Kepala Badan Karantina Pertanian. Sebelum diimplentasikan, hasil AROPT sebaiknya dikomunikasikan dengan negara calon pengekspor (risk communication). Komunikasi dimaksudkan untuk memperoleh kesepakatan berkaitan dengan ketentuan atau persyaratan yang akan diberlakukan (***)





Ikuti Saya ^___^

visitors