Senin, 10 Februari 2014

PENGGOLONGAN HAMA DARI BERBAGAI MACAM ASPEK


A.   ASPEK ARTI EKONOMI
a.    Hama uatama/hama kunci
Hama utama atau hama kunci merupakan hama yang selalu menyerang tanaman dengan intensitas berat, dalam kurun waktu yang lama pada daerah yang luas dan dapat menyebabkan kerugian ekonomik sehingga memerlukan usaha pengendalian.
b.    Hama kadangkala/hama minor
Hama minor merupakan spesies hama kurang penting karena kerusakan yang ditimbulkan masih dapat ditoleransi oleh tanaman. Kelompok hama ini responsive terhadap perlakuan yang diberikan pada hama utama, sehingga perlu diperhatikan agar statusnya tidal berubah menjadi hama utama
c.     Hama Potensial
Hama potesial merupakan spesies hama yang dalam kondisi normal dari ekosistem pertanian tidak menimbulkan kerugian ekonomi yang tinggi. Golongan hama ini sebagian besar adalah herbivore yang saling berebut inang dan dapat berpotensi menjadi hama berbahaya apabila salah dalam perlakuan dan pengelolaan ekosistem
d.    Hama mgran
Hama migrant adalah spesies hama yang mempunyai sifat suka berpindah. Hama ini bukan berasal dari ekosisten pertanian setempat namun dapat menimbulkan kerugian berarti dengan jangka waktu yang pendek karena mereka akan segera berpindah kembali.

B.   ASPEK PROSES PRODUKSI
a.    Hama pra panen
Hama pra panen adalah hama yang menyerang tanaman mulai dari periode bibit sampai panen di lahan pertanian
b.    Hama pasca panen
Hama pasca panen adalah hama yang menyerang produk pertanian sejak panen, pengolahan, sampai penyimpanan di gudang.

C.   ASPEK CARA MENYERANG
a.    Hama penggerek
Hama penggerek merupakan spesies hama yang menyerang tanaman dengan cara mengebor atau melubangi tanaman kemudian hama tersebut masuk ke dalamnya
b.    Hama pengorok daun
Hama pengorok merupakan spesies hama yang menyerang dengan melubangi/mengorok bagian tanaman yaitu daun dan kemudian masuk ke dalamnya
c.     Hama pencucuk-penghisap
Hama pencucuk penghisap merupakan spesies hama yang menyerang tanaman dengan cara menusukkan alat mulutnya berupa stilet dan menghisap cairan tanaman
d.    Hama penghisap
Hama Hama penghisap merupakan spesies hama yang meyeranag tanaman dengan cara menusukkan alat mulutnya berupa belalai dan menghisap cairan tanaman
e.     Hama pemakan
Hama pemakan merupakan hama yang menyerang tanaman dengan cara memekan/mengigit bagian tanaman inang.

D.   ASPEK BAGIAN TANAMAN YANG DISERANG
a.    Hama Primer
Hama primer biasa disebut hama langsung, yaitu hama yang menyerang bagian tanaman yang langsung dipanen atau menyerang bagian vital tanaman. Pada hama pasca panen, hama primer menjadi julukan untuk hama yang dapat hidup, menyrang, dan berkembang biak pada bebijian.
b.    Hama sekunder
Hama sekunder adalah hama yang tidak menyerang bagian tanaman vital. Pada hama pasca panen, hama sekunder menjadi julukan untuk hama yang tidak dapat hidup, menyerang, dan berkembang pada bebijian dan hidup pada sisa sisa pakan dari hama primer.

E.   ASPEK KISARAN INANG
a.    Hama polifag
Hama polifag merupakan hama yang mempunnyai banyak jenis tanaman inang
b.    Hama oligofag
Hama oligofag merupakan spesies hama yang memliki beberapa jenis tanaman inang
c.     Hama monofag
Hama monofag merupakan hama yang hanya mempunyai satu jenis tanaman inang

F.   ASPEK PRIORITAS
a.    Hama pertama
Hama pertama merupakan spesies hama sasaran dari suatu program pengendalian dan merupakan hama utama/hama kunci
b.    Hama kedua
Hama kedua merupakan hama yang semula adalah hama minor atau hama potensial yang kemudian berubah menjadi hama berbahaya dan hama utama

G.  ASPEK TATA NAMA
a.    Nama umum
Nama umum hama bersifat lokal, nasional, atau regional. Pemberian nama umum didasarkan pada beberapa hal yaitu :
·       Berdasarkan ciri-ciri hama bersangkutan
·       Berdasarkan bagian tanaman yang diserang
·       Berdasarkan habitat dan binatang perusak
·       Berdasarkan gejala serangan
b.    Nama sistematika
Nama sistematika bersifat internasional dan dikelompokkan mulai dari golongan filum, kelas, ordo, family, genus, sampai spesies.


Minggu, 09 Februari 2014

IDENTIFIKASI HAMA : TIKUS SAWAH


TIKUS SAWAH (Rattus argentiventer Rob & Kloss)

A.    Status
                  Tikus sawah merupakan hama prapanen utama penyebab kerusakan terbesar tanaman padi, terutama pada agroekosistem dataran rendah dengan pola tanam intensif. Tikus sawah merusak tanaman padi pada semua stadia pertumbuhan dari semai hingga panen (periode prapanen), bahkan di gudang penyimpanan (periode pascapanen). Kerusakan parah terjadi apabila tikus menyerang padi pada stadium generatif, karena tanaman sudah tidak mampu membentuk anakan baru. Ciri khas serangan tikus sawah adalah kerusakan tanaman dimulai dari tengah petak, kemudian meluas ke arah pinggir, sehingga pada keadaan serangan berat hanya menyisakan 1-2 baris padi di pinggir petakan.

B.    Biologi dan Ekologi

Tikus sawah digolongkan dalam kelas vertebrata (bertulang belakang), ordo rodentia (hewan pengerat), famili muridae, dan genus Rattus. Tubuh bagian dorsal/ punggung berwarna coklat kekuningan dengan bercak-bercak hitam di rambut-rambutnya, sehingga secara keseluruhan tampak berwarna abu-abu. Bagian ventral/perut berwarna putih keperakan atau putih keabu-abuan. Permukaan atas kaki seperti warna badan, sedangkan permukaan bawah dan ekornya berwarna coklat tua. Tikus betina memiliki 12 puting susu (6 pasang), dengan susunan 1 pasang pada pektoral, 2 pasang pada postaxial, 1 pasang pada abdomen, dan 2 pasang pada inguinal. Pada tikus muda/predewasa terdapat rumbai rambut berwarna jingga di bagian depan telinga. Ekor tikus sawah biasanya lebih pendek daripada panjang kepala-badan dan moncongnya berbentuk tumpul.
                        Tikus sawah mempunyai kemampuan reproduksi yang tinggi. Periode perkembang-biakan hanya terjadi pada saat tanaman padi periode generatif. Dalam satu musim tanam padi, tikus sawah mampu beranak hingga 3 kali dengan rata-rata 10 ekor anak per kelahiran. Tikus betina relatif cepat matang seksual (±1 bulan) dan lebih cepat daripada jantannya (±2-3 bulan). Cepat/lambatnya kematangan seksual tersebut tergantung dari ketersediaan pakan di lapangan. Masa kebuntingan tikus betina sekitar 21 hari dan mampu kawin kembali 24-48 jam setelah melahirkan (post partum oestrus). Terdapatnya padi yang belum dipanen (selisih hingga 2 minggu atau lebih) dan keberadaan ratun (Jawa : singgang) terbukti memperpanjang periode reproduksi tikus sawah. Dalam kondisi tersebut,anak tikus dari kelahiran pertama sudah mampu bereproduksi sehingga seekor tikus betina dapat menghasilkan total sebanyak 80 ekor tikus baru dalam satu musim tanam padi. Dengan kemampuan reproduksi tersebut, tikus sawah berpotensi meningkatkan populasinya dengan cepat jika daya dukung lingkungan memadai.
 Tikus sawah bersarang pada lubang di tanah yang digalinya (terutama untuk reproduksi dan membesarkan anaknya) dan di semak-semak (refuge area/habitat pelarian). Sebagai hewan omnivora (pemakan segala), tikus mengkonsumsi apa saja yang dapat dimakan oleh manusia. Apabila makanan berlimpah, tikus sawah cenderung memilih pakan yang paling disukainya yaitu padi. Tikus menyerang padi pada malam hari. Pada siang harinya, tikus bersembunyi di dalam lubang pada tanggul-tanggul irigasi, jalan sawah, pematang, dan daerah perkampungan dekat sawah. Pada saat lahan bera, tikus sawah menginfestasi pemukiman penduduk dan gudang-gudang penyimpanan padi dan akan kembali lagi ke sawah setelah pertanaman padi menjelang generatif. Kehadiran tikus pada daerah persawahan dapat dideteksi dengan memantau keberadaan jejak kaki (foot print), jalur jalan (run way), kotoran/feses, lubang aktif, dan gejala serangan.

C.    Pengendalian

                  Pengendalian tikus dilakukan dengan pendekatan PHTT (Pengendalian Hama Tikus Terpadu) yaitu pendekatan pengendalian yang didasarkan pada pemahaman biologi dan ekologi tikus, dilakukan secara dini, intensif dan terus menerus dengan memanfaatkan semua teknologi pengendalian yang sesuai dan tepat waktu. Kegiatan pengendalian tikus ditekankan pada awal musim tanam untuk menekan populasi awal tikus sejak awal pertanaman sebelum tikus memasuki masa reproduksi.                Kegiatan pengendalian yang sesuai dengan stadia pertumbuhan padi antara lain sbb. :
TBS (Trap Barrier System) merupakan petak tanaman padi dengan ukuran minimal (20 x 20) m yang ditanam 3 minggu lebih awal dari tanaman di sekitarnya, dipagar dengan plastik setinggi 60 cm yang ditegakkan dengan ajir bambu pada setiap jarak 1 m, bubu perangkap dipasang pada setiap sisi dalam pagar plastik dengan lubang menghadap keluar dan jalan masuk tikus. Petak TBS dikelilingi parit dengan lebar 50 cm yang selalu terisi air untuk mencegah tikus menggali atau melubangi pagar plastik. Prinsip kerja TBS adalah menarik tikus dari lingkungan sawah di sekitarnya (hingga radius 200 m) karena tikus tertarik padi yang ditanam lebih awal dan bunting lebih dahulu, sehingga dapat mengurangi populasi tikus sepanjang pertanaman.
                  LTBS merupakan bentangan pagar plastik sepanjang minimal 100 m, dilengkapi bubu perangkap pada kedua sisinya secara berselang-seling sehingga mampu menangkap tikus dari dua arah (habitat dan sawah). Pemasangan LTBS dilakukan di dekat habitat tikus seperti tepi kampung, sepanjang tanggul irigasi, dan tanggul jalan/pematang besar. LTBS juga efektif menangkap tikus migran, yaitu dengan memasang LTBS pada jalur migrasi yang dilalui tikus sehingga tikus dapat diarahkan masuk bubu perangkap.

                  Fumigasi paling efektif dilakukan pada saat tanaman padi stadia generatif. Pada periode tersebut, sebagian besar tikus sawah sedang berada dalam lubang untuk reproduksi. Metode tersebut terbukti efektif membunuh tikus beserta anak-anaknya di dalam lubangnya. Rodentisida hanya digunakan apabila populasi tikus sangat tinggi, dan hanya akan efektif digunkan pada periode bera dan stadium padi awal vegetative

IDENTIFIKASI HAMA : TIKUS POHON


Tikus Pohon (Rattus tiomanicus)

A.    Klasifikasi dan Morfologi

Klasifikasi tikus pohon adalah:
Kelas                     : Mammalia
Subkelas                : Theria
Infra Kelas             : Eutheria
Ordo                      : Rodentia
Subordo                 : Myomorpha
Famili                    : Muridae
Subfamili               : Murinae
Genus                   : Rattus
Spesies                  : tiomanicus
                    
                  Tikus pohon memiliki tubuh berbentuk silindris, memiliki ciri-ciri panjang  ekor 180–250 cm lebih panjang dibandingkan dengan kepala dan badan (130-200 cm), tubuh bagian dorsal beruban halus berwarna kehijauan,  dan bagian ventralnya berwarna abu-abu pucat dengan ujung putih (Priyambodo, 2003). Menurut Aplin et al (2003) tubuh bagian dorsal berwarna coklat kekuningan dan bagian ventralnya berwarna krem. Hewan betina memiliki puting susu lima pasang yaitu dua pasang pektoral dan tiga pasang inguinal, tekstur rambut agak kasar, bentuk hidung kerucut,  serta warna  ekor bagian atas dan bawah coklat hitam (Priyambodo, 2003).

B.    Biologi dan Ekologi
            Tikus pohon termasuk golongan omnivora (pemakan segala) tetapi cenderung untuk memakan biji-bijian atau serealia (Sipayung, Sudharto, dan Lubis 1987). Kebutuhan pakan dalam bentuk kering bagi seekor tikus pohon setiap hari kurang lebih sekitar 10% dari bobot tubuhnya, sedangkan untuk pakan dalam bentuk pakan basah sekitar 20% dari bobot tubuhnya (Priyambodo, 2003). Tikus pohon memiliki kemampuan fisik yang baik seperti memanjat, meloncat, mengerat, dan berenang. Tikus pohon memiliki kemampuan untuk memanjat pohon. Kemampuan memanjat ini ditunjang oleh adanya tonjolan pada telapak kaki yang disebut dengan footpad yang besar dan permukaan yang kasar (Priyambodo, 2003). Tikus dapat merusak bahan-bahan yang keras sampai dengan nilai 5,5 pada skala  kerusakan geologi.  Kerusakan yang disebabkan oleh tikus pohon disebabkan  tikus memiliki kemampuan mengerat yang tinggi sebagai aktivitas untuk mengurangi panjang gigi seri yang tumbuh terus menerus (Meehan, 1984).
            Tikus pohon tidak dapat membuat sarang dengan cara menggali tanah, tetapi membuat sarang di antara pelepah-pelepah daun kelapa sawit atau celah-celah yang ada di antara pohon pohon (Priyambodo, 2003). Tikus merupakan hewan poliestrus yaitu dapat melahirkan anak sepanjang tahun tanpa mengenal musim, memiliki masa bunting singkat antara 2 sampai 3 bulan, dan rata-rata enam ekor per kelahiran. Faktor abiotik yang mempengaruhi dinamika populasi tikus adalah cuaca dan air, sedangkan faktor biotik yaitu tumbuhan, patogen, predator, tikus lain, dan manusia (Priyambodo, 2003). Habitat tiap spesies tikus berbeda-beda, tetapi hal tersebut tidak membatasi wilayah penyebarannya.  Tikus pohon selain ditemukan di sekitar perkebunan kelapa dan kelapa sawit juga sering ditemukan di perkebunan kakao, lahan persawahan, areal pertanian, lapangan terbuka, dan pekarangan rumah (Meehan 1984). Daerah penyebaran utama dari tikus pohon adalah di Indonesia (Pulau Jawa, Kalimantan, dan Sumatera), Malaysia, Singapura, dan Thailand).

C.    Pengendalian
                  Tikus pohon (Rattus tiomanicus) adalah hama penting pada perkebunan kelapa sawit. Pengendalian serangan tikus pohon pada perkebunan kelapa sawit dilakukan dengan memberikan perlakuan pada tanaman kelapa sawit dan perlakuan untuk mengendalikan populasi tikus pohon. Pengendalian serangan tikus pohon dengan memberi perlakuan pada tanaman kelapa sawit, yaitu dengan menggunakan membuat pagar individu, member ipolybag, dan pemberian klerat/ramotal. Pemberian pagar individu memiliki kelebihan mudah dilakukan dan ramah terhadap lingkungan. Namun, kekurangannya adalah biaya mahal, hanya untuk TBM (tanaman belum menghasilkan), mengganggu pertumbuhan kelapa sawit, keberhasilan perlakuan tergantung kedisiplinan petugas pemasang pagar di lapangan, populasi tukus tetap tinggi karena tikus tidak mati dan itu mmbahayakan TM (tanaman menghasilkan), dan pengendalian bersifat sementara. Penggunaan polybag memiliki kelebihan seperti, murah, mudah dilakukan, dan ramah lingkungan. Kekurangannya adalah sama dengan perlakuan pemberian pagar individu. Penggunaan perlakuan kleret/ramotal memiliki kelebihan seperti bahan mudah didapat, dapat digunakan pada TBM dan TM, dan mudah dilakukan. Kekurangannya, antara lain mahal, tidak ramah lingkungan, tergantung produsen rodentisida, dan dapat terjadi kekebalan/ kejeraan tikus.
                  Beberapa pengendalian kerap dilakukan, tetapi belum mampu memberikan hasil yang maksimal dalam mengendalikan tikus pohon (R. tiomanicus) yang menjadi hama tanaman kelapa sawit. Pengendalian yang lain, yaitu pengendalian untuk mengendalikan populasi tikus pohon (R. tiomanicus), yaitu dengan menggunakan musuh alami. Musuh alami yang biasa digunakan untuk mengendalikan populasi tukus pohon (R. tiomanicus) sehingga serangan tikus pohon (R. tiomanicus) pada tanaman kelapa sawit dapat diminimalisir, yaitu barn owl (Tyto alba). Beberapa kelebihan penggunaan Tyto alba dalam mengendalikan populasi tikus pohon (R. tiomanicus) di perkebunan kelapa sawit adalah ramah lingkungan (tidak ad bangkai tikus atau pencemaran rodentisida), mudah dilakukan, 60% lebih murah daripada menggunakan rodentisida, tidak perlu pengawasan ketat karena secara alami Tyto alba akan berburu tikus untuk kebutuhan makanannya, populasi tikus dapat dikendaikan di bawah ambang ekonomi sepanjang tahun, serta mudah dilaksanakan dan tidak tergantung produsen lain (missal seperti rodentisida). Namun, kekurangannya adalah penggunaan Tyto alba ini hanya pada TM.
                  Burung hantu T. alba merupakan predator hama tikus yang sangat potensial karena 90% makanannya berupa tikus. Seekor T. alba dapat memangsa 300 ekor tikus per tahun atau 4 ekor tikus dalam satu malam. Perkembangan cepat dan daya jelajah tinggi sejauh 3-12 km. Oleh karena itu, penggunaan T. alba efektif dan efisien dalam mengendalikan serangan tikus pohon (R. tiomanicus) pada perkebunan kelapa sawit.




DAFTAR PUSTAKA

A., Dhamayanti. 2009. Kajian Sosial Ekonomi Pengendalian Hama Tikus Pohon, Rattus timanicus Miller, dengan Burung Hantu Tyto alba pada Perkebunan Kelapa Sawit. Seminar Nasional Perlindungan Tanaman 5-6 Agustus 2009. (http : http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/54330/Kajian%20sosial%20ekonomi.pdf?sequence=1). Diakses tanggal 8 Oktober 2012.

Kamis, 06 Februari 2014

MINYAK ATSIRI


Minyak atsiri adalah zat berbau atau biasa disebut dengan minyak esential, minyak eteris karena pada suhu kamar mudah menguap di udara terbuka tanpa mengalami penguraian. Istilah esential atau minyak yang berbau wangi dipakai karena minyak atsiri mewakili bau dari tanaman penghasilnya. Dalam keadaan murni dan segar biasanya minyak atsiri umumnya tidak berwarna atau kekuning-kuningan dengan rasa dan bau yang khas. Namun dalam penyimpanan lama minyak atsiri dapat teroksidasi dan membentuk resi serta warnanya berubah menjadi lebih gelap.

Sumber minyak atsiri dapat diperoleh dari setiap bagian tanaman seperti daun, bunga, buah, biji, batang, akar, ataupun rimpang. Selain itu dapat larut baik dalam etanol dan pelarut organik, namun sukar larut dalam air dan kurang larut dalam etanol yang kadarnya kurang dari 70 %. Umumnya zat organik pada minyak atsiri tersusun dari unsur C, H, dan O, berupa senyawa alifatis atau aromatis meliputi kelompok hidrokarbon, ester, eter, aldehid, keton, alkohol dan asam.

Secara kimia minyak atsiri bukan merupakan senyawa tunggal, tetapi tersusun dari berbagai macam komponen yang secara garis besar terdiri dari kelompok terpenoid dan fenil propan. Pengelompokkan tersebut berdasarkan pada awal terjadinya minyak atsiri di dalam tanaman.

Terpenoid berasal dari suatu unit sederhana yang disebut sebagai isoprena. Sehingga dapat dikatakan komponen minyak atsiri termasuk senyawa isoprenoid, karena molekul- molekulnya tersusun dari unit-unit isopren. Sementara fenil propan terdiri dari gabungan inti benzen dan propana. Penyusun minyak atsiri dari kelompok terpenoid dapat berupa monoterpen dan seskuiterpen yang merupakan komponen utama minyak atsiri. Minyak atsiri dapat digunakan sebagai:

1. Menarik serangga (penyerbukan)
2. Untuk kosmetik / parfum
3. Penolak serangga
4. Sebagai bumbu masak
5. Antiseptik (obat)
6. Karminativum

Adapun sifat-sifat minyak atsiri adalah sebagai berikut:

1. Tersusun oleh bermacam-macam komponen senyawa
2. Bau khas
3. Rasa getir, tajam, menggigit, memberi kesan hangat sampai panas atau dingin bila terasa di kulit
4. Dalam keadaan murni mudah menguap pada suhu kamar
5. Tidak bisa disabunkan dengan alkali dan tidak menjadi tengik
6. Tidak stabil terhadap pengaruh lingkungan, baik oleh oksigen, matahari atau panas
7. Indeks bias umumnya tinggi dan bersifat optis aktif (memiliki atom C asimetrik)
8. Kelarutannya sangat kecil di dalam air
9. Mudah larut dalam pelarut organik

Keberadaan Minyak Atsiri dalam Tanaman

Minyak atsiri terkandung dalam bernagai organ, seperti di dalam rambut kelenjar, dalam sel-sel parenkim, di dalam saluran minyak, di dalam rongga-rongga skizogen dan lisigen ataupun terkandung dalam semua jaringan.

Minyak atsiri dapat terbentuk langsung oleh protoplasma akibat adanya peruraian lapisan resin dari dinding sel atau hidrolisis dari glikosida tertentu. Peranan utama minyak atsiri pada tumbuhan itu sendiri adalah sebagai pengusir serangga (mencegah bunga dan daun rusak), serta sebagai pengusir hewan pemakan daun lainnya. Namun sebaliknya minyak atsiri juga berfungsi sebagai penarik serangga guna membantu penyerbukan silang dari bunga

A. Biosintesis Komponen Minyak Atsiri

Kerangka dasar komponen minyak atsiri adalah terpen yang terdiri dari satuan isoprena. Satuan isoprena yang berperan aktif secara biosintetik adalah isopentenil pirofosfat, dimetil alil pirofosfat serta senyawa yang terbentuk dari asam asetat lewat jalur biosintesis asam mevalonat. Geranil piropsfat adlah prekursor C10dari terpen dan berperan penting dalam pembentukan monoterpen siklik serta dibentuk melalui kondensasi dari masing-masing satuan isopentenil.

Prekursor pertama untuk komponen fenil propanoid dalam minyak atsiri adalah asam siamat dan asam p-hidroksi sinamatyang juga dikenal sebagai asam p-kumarat. Dalam tanaman, senyawa ini dibentuk dari asam amino aromatik fenilalanin dan tirosin yang akhirnya disintesis lewat jalur asam sikimat yang dapat dibantu oleh Escherichia coli yang membutuhkan asam amino aromatik untuk pertumbuhannnya. Asam sikimat selanjutnya akan menghasilkan asam korismat yang bisa menghasilkan triptofan lewat jalur asam antranilat dan asam prefenat . asam prefanat mengalami dehidrasi dan dekarboksilasi sehingga menghasilkan asam fenilpiruvat (prekursor fenilalanin), atau justru mengalami dehidrogenasi dab dekarboksilasi menghasilkan asam p-hidroksifenil piruvat (prekursor tirosin).

B.  Metode Isolasi Minyak Atsiri

Metode isolasi minyak atsiri dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu:

1. Penyulingan (destilasi)

Penyulingan adalah proses pemisahan komponen berdasarkan perbedaan titik didihnya. Prinsip dasar penyulingan adalah cairan dirubah menjadi uap pada titik didihnya, kemudian uap tersebut dikondensasikan lagi ke dalam bentuk cairan dengan proses pendinginan
Penyulingan dapat dilakukan dengan bebagai cara, yaitu :
a. Penyulingan dengan air
b. Penyulingan dengan air dan uap
c. Penyulingan dengan uap

2. Ekstraksi/ penyarian dengan pelarut organik (mudah menguap) yang sesuai

Prinsipnya adalah melarutkan minyak atsiri yang terdapat dalam simplisia dengan pelarut organik yang mudah menguap yang sesuai. Metode penyarian digunakan untuk minyak-minyak atsiri yang tidak tahan dengan pemanasan. Metode ini banyak digunakan karena rendahnya kadar minyak dalam tanaman, selain itu cara ini dianggap paling efektif karena sifat minyak atsiri yang larut sempurna di dalam bahan pelarut organik nonpolar.

3. Enflurage

Prinsipnya adalah metode perlekatan bau dengan menggunakan media lilin dan memanfaatkan aktivitas enzim yang diyakini masih aktif selama sekitar 15 hari sejak bahan minyak atsiri dipanen. Metode ini digunakan karena ada beberapa jenis bunga yang setelah dipetik enzimnya masih menunjukkan kegiatan dalam menghasilkan minyak atsiri sampai beberapa minggu, misalnya bunga melati. Diperlukan perlakuan khusus secara langsung agar tidak mengubah aktivitas enzim.

4. Penyarian dengan lemak padat

Biasanya untuk memperoleh minyak atsiri dari bunga-bungaan
a. tanpa pemanasan (enfleurage)
b. dengan lemak panas (maserasi)

5. Pemerasan

Umumnya dilakukan terhadap bahan berupa buah atau kulit buah dari tanaman yang termasuk keluarga Citrus karena minyak atsirinya rusak oleh penyulingan (tidak stabil dan idak tahan pemanasan). Karena tekanan pada pemerasan, sel-sel yang mengandung minyak lemak pecah dan minyak atsiri keluar dan mengalir ke permukaan. Metode ini hanya cocok untuk minyak atsiri yang rendamannya relatif besar.

6. Penyarian dengan gas CO2

Metode berdasarkan pada kelarutan minyak atsiri yang baik dalam CO2.
Cara Pengujian
Kimia :
a. 2 mg serbuk simplisia ditambah 5 tetes asam sulfat pekat → coklat hitam
b. 2 mg serbuk simplisia ditambah 5 tetes asam encer → kuning
c. 2 mg serbuk simplisia ditambah 5 tetes larutan NaOH 5 % → coklat tua
d. 2 mg serbuk simplisia ditambah 5 tetes kalium iodida 6 % → kuning

Pengujian Mutu

Setiap minyak atsiri mempunyai sifat khas dari senyawa kimia yang menyusunnya. Sifat ini dapat berubah karena proses pengolahan dan penyimpanan → perlu dilakukan.
Pengujian mutu yang dilakukan adalah :
1. Uji organoleptik
2. Uji sifat fisika dan kimia
- warna, kejernihan dan bau - persentase alkohol
- bobot jenis - kadar aldehid dan keton
- putaran optik - kadar fenol
- indek bias - kadar sineol
- bil. Asam - logam berat
- bil. Ester dan bil. Penyabunan

Penentuan Minyak Atsiri

a. KLT
b. KGC
c. SM
Pereaksi Warna / Penampak bercak :
- Anisaldehid – H2SO4
- Vanilin – H2SO4
- H2SO4 pekat
- SbCl3 dalam CHCl3
- Larutan KMnO4 0,2 % dalam air

Tanaman Penghasil Minyak Atsiri

a. Minyak kapulaga
b. Minyak kenanga
c. Minyak kayu manis
d. Minyak ketumbar
e. Minyak sereh
f. Minyak melati
g. Minyak lavender
h. Minyak pala
i. Minyak lada
j. Minyak mawar
k. Minyak nilam
l. Minyak cendana
m. Minyak akar wangi
n. Minyak jahe


PEMANFAATAN FEROMON ALAMI UNTUK SERANGGA


Penggunaan pestisida kimia dalam pengendalian hama tanaman saat ini banyak menimbulkan dampak negatif. Masalah pencemaran lingkungan merupakan akibat yang jelas terlihat, selain itu penggunaan pestisida secara terus menerus juga dapat menyebabkan resistensi hama dan bahkan meninggalkan residu pestisida pada produk hasil pertanian yang bisa berbahaya apabila dikonsumsi manusia. Oleh karena itu diperlukan upaya pengendalian hama secara ramah lingkungan, seperti penggunan pestisida nabati atau biopestisida.
Selain dengan pestisida nabati ada salah satu cara pengendalian hama tanaman secara ramah lingkungan yaitu dengan memanfaatkan senyawa-senyawa kimia yang terdapat dalam tumbuhan dan serangga (hama). Serangga menggunakan senyawa kimia untuk berkomunikasi dengan serangga lain, demikian juga dengan tumbuhan memiliki senyawa kimia yang dikeluarkan untuk menarik serangga penyerbuk (attractant), ataupun untuk mempertahankan diri (protectant). Dengan memanipulasi senyawa-senyawa yang dihasilkan oleh serangga ataupun tanaman diharapkan akan dapat menurunkan populasi hama dengan cara menghambat kehadiran hama tersebut dalam suatu areal pertanaman budidaya.
Sebelum dijelaskan tentang cara memanipulasi senyawa kimia yang disekresikan oleh serangga dan tumbuhan untuk pengendalian hama, perlu diketahui terlebih dahulu mengenai jenis-jenis senyawa kimia tersebut. Senyawa-senyawa kimia yang digunakan oleh serangga untuk berkomunikasi dengan serangga lain ataupun dengan tumbuhan diantaranya adalah:
1.  Feromon, merupakan bahan yang disekresikan oleh organisme, dan berguna untuk berkomunikasi secara kimia dengan sesamanya dalam spesies yang sama. Berdasarkan fungsinya ada dua kelompok feromon yaitu:
a. Feromon “releaser”, yang memberikan pengaruh langsung terhadap sistem syaraf pusat individu penerima untuk menghasilkan respon tingkah laku dengan segera. Feromon ini terdiri atas tiga jenis, yaitu feromon seks, feromon jejak, dan feromon alarm.
b. Feromon primer, yang berpengaruh terhadap system syaraf endokrin dan reproduksi individu penerima sehingga menyebabkan perubahan-perubahan fisiologis.
2.  Allomon, adalah suatu senyawa kimia atau campuran senyawa kimia yang dilepas oleh suatu organisme dan menimbulkan respon pada individu spesies lain. Organisme pelepas memperoleh keuntungan, sedang penerimanya dirugikan. Bagi tumbuhan, allomon ini dapat dipakai sebagai sifat pertahanan dari serangan serangga herbivora. Allomon dapat juga dilepaskan oleh serangga untuk menolak predator.
3.  Kairomon, adalah suatu senyawa kimia atau campuran senyawa kimia yang dilepas oleh suatu organisme dan menimbulkan respon fisiologis dan perilaku pada individu spesies lain. Senyawa kimia tersebut menimbulkan keuntungan adaptif bagi serangga, individu penerima. Sebagai contoh adalah kairomon yang dihasilkan tanaman jagung, yaitu tricosan, yang dapat menarik Trichogramma evanescens agar dapat menemukan inangnya, yaitu telur Helicoverpa zea.
4.  Apneumon, adalah senyawa kimia yang menjadi penghubung antara serangga dengan benda mati. Serangga tersebut terus berkembang biak dengan suburnya dan menjadi makanan beberapa spesies predator.
5. Sinomon, adalah senyawa kimia yang dihasilkan oleh organisme yang dapat menimbulkan respon fisiologis atau perilaku yang memberikan keuntungan adaptif pada kedua belah pihak.
Teknik pemanfaatan senyawa-senyawa kimia tersebut sebagai salah satu alternatif pengendalian hama tanaman adalah sebagai berikut.
A. Pemanfaatan senyawa feromon sintesis (feromoid)
Senyawa feromon seks beberapa spesies serangga telah diidentifikasi, dan telah pula dibuat sintesisnya antara lain Spodoptera litura. Serangga hama yang lain adalah Helicoverpa armigeradengan bentuk senyawa (z,z)-13, 15-oktadekadiena-1-ol asetat dan (z,z)-11, 13-oktadekadiena-1-ol asetat. Senyawa kimia feromon seks Lasioderma serricorne (F.) telah pula diidentifikasi dan dikarakterisasi dengan bentuk senyawa 4,6-dimetil-7-hidroksinonan-3-one. Pemanfaatan feromoid (feromon sintesis) selain untuk memantau populasi juga dapat untuk mengacaukan perkawinan (mating disruption). Dengan kacaunya perkawinan maka tidak banyak telur yang bisa menetas sehingga populasi tertekan. Teknologi ini telah digunakan untuk mengendalikan Plutella xylostella pada kubis, Pectinophora gossypiella (Saund.) pada kapas, serta Grapholita funebrana (F.) dan G. prumifora (F.) pada apel.
B. Pola tanam tumpangsari dan tanaman perangkap
Sistem tumpangsari sering menyebabkan penurunan kepadatan populasi hama dibanding system monokultur, hal ini disebabkan karena peran senyawa kimia mudah menguap (atsiri) yang dilepas dan gangguan visual oleh tanaman bukan inang akan mempengaruhi tingkah laku dan kecepatan kolonisasi serangga pada tanaman inang. Sebagai contoh, tanaman bawang putih yang ditanam diantara tanaman kubis dapat menurunkan populasi Plutella xylostella yang menyerang tanaman kubis tersebut. Hal ini karena senyawa yang dilepas oleh bawang putih tidak sama dengan senyawa yang dilepas tanaman kubis sehingga P. xylostella kurang menyukai habitat tanaman tumpangsari tersebut. Tanaman bawang putih melepas senyawa alil sulfida yang diduga dapat mengurangi daya rangsang senyawa atsiri yang dilepas kubis atau bahkan dapat mengusir hama tersebut.
Penanaman tanaman perangkap di antara tanaman utama juga mulai diterapkan untuk mengendalikan populasi hama. Mekanisme yang terjadi adalah adanya daya tarik yang lebih kuat dari tanaman perangkap dibanding tanaman utama sehingga hama lebih menyukai berada pada tanaman perangkap tersebut. Salah satu tanaman yang mampu menarik serangga hama dan musuh alaminya adalah jagung. Tanaman jagung sebagai perangkap telah berhasil diterapkan untuk mengendalikan Helicoverpa armigera pada kapas.
C. Pemasangan Senyawa / Minyak Atsiri
Prinsip dasar teknik ini sama dengan pola tanam tumpangsari. Perbedaannya, pada teknik ini tidak perlu menanam tanaman sela di antara tanaman utama, melainkan hanya memasang senyawa atsiri, baik sintetis maupun hasil ekstraksi alami (minyak atsiri), di tempat-tempat tertentu pada areal tanaman budidaya. Sampai saat ini senyawa atsiri yang paling banyak digunakan adalah metil eugenol sebagai perangkap hama lalat buah jantan. Senyawa 1,8-cineole yang merupakan senyawa penarik bagi hama pisang, yaitu kumbang Cosmopolites sordidus. Selain untuk mengendalikan hama yang menyerang pertanaman, senyawa atsiri juga telah diuji untuk mengendalikan hama gudang. Senyawa phenol thymol dan carvacrol yang berasal dari tanaman Thymus serpyllum serta terpinen-4-ol yang berasal dari Origanum majorama dapat digunakan sebagai fumigan uintuk hama kumbang kedelai Acanthoscelides obtectus. Eugenol yang berasal dari bunga cengkeh efektif terhadap hama Tribolium castaneumSitophilus zeamais, danProstephanus truncatus. Dengan demikian senyawa-senyawa atsiri ini nantinya diharapkan dapat digunakan untuk menggantikan bahan fumigasi kimia yang telah diaplikasikan selama ini di gudang-gudang penyimpanan. Penelitian dalam skala komersial perlu dilakukan untuk membuktikan efektifitas teknologi ini.
D. Pemanfaatan sampah/ bahan organik
Teknik ini memanfaatkan senyawa apneumon sebagai senyawa kimia penghubung antara serangga dengan benda mati. Sampah sebagai sarang musuh alami, khususnya predator, tampaknya belum terpikirkan untuk sarana pengendalian hama. Sampah (bekas gulma yang disiang) merupakan media hidup yang baik bagi musuh alami. Sampah yang lapuk tersebut sebenarnya merupakan media hidup mikroorganisme yang menjadi makanan predator. Akibatnya populasi hama tanaman dapat ditekan dengan meningkatnya predator tersebut. Contoh yang lain adalah kumbang kelapa Oryctes rhinoceros L. yang meletakkan telurnya pada kotoran sapi yang sudah lapuk atau tumpukan batang kelapa yang lapuk. Dengan demikian akan terjadi akumulasi larva pada satu tempat, khususnya apabila disediakan perangkap, sehingga pengendalian mekanis mudah, murah dan cepat dilakukan.
Dengan menerapkan teknik-teknik tersebut pada lahan pertanian diharapkan dapat mengurangi penggunaan pestisida kimia yang kita tahu banyak minimbulkan dampak negatif. Selain itu juga menghemat biaya untuk pengendalian hama tanaman.
REFERENSI
Istianto, Mizu. 2007. Pemanfaatan Minyak/Senyawa Atsiri Dalam Pengendalian Populasi Hama Tanaman, (Online)  http://horticlinic.blogspot.com
Mudjiono, G. 1998. Hubungan Timbal Balik Serangga Tumbuhan. Evolusi Serangga-Tumbuhan. LPFP. Unibraw. 96p
Soebandrijo. 1999. Pemanfaatan Hubungan Timbal Balik Antara Serangga Fitofagus dan Tumbuhan Sebagai Alternatif Pengelolaan Serangga Hama Tembakau. Prosiding Semiloka Teknologi Tembakau. Balai Penelitian Tembakau dan Tanaman Serat. Malang
Soebandrijo dan G. Kartono. 1982. Sarang dan Populasi Pra-Dewasa Penggerek Pucuk Kelapa. Pemberitaan Penelitian Tanaman Industri VII (41):17-20

BIOEKOLOGI DAN FAKTOR PENYEBARAN HAMA PASCA PANEN


Ekologi serangga mempelajari faktor-faktor yang mempengaruhi distribusi dan kelimpahan serangga. Pengetahuan tentang ekologi serangga hama pascapanen merupakan dasar penerapan pengendalian hama terpadu (PHT). Saat ini, pemodelan dengan komputer untuk pengendalian hama pascapanen telah banyak dikembangkan. Kesemuanya berbasis pada pengetahuan ekologi serangga. 

Sifat struktur penyimpanan secara umum adalah kondisinya yang stabil dibandingkan lingkungan alami dan ketersediaan pangan yang melimpah. Karakter penyimpanan ini menguntungkan hama gudang, walaupun adakalanya terjadi kelangkaan sumber makanan. Serangga hama di penyimpanan, terutama hama-hama penting adalah serangga yang telah teradaptasi pada lingkungan penyimpanan dengan baik, karena: 

· Habitat penyimpanan merupakan reservoir alaminya               
· Toleransinya yang tinggi terhadap faktor fisik di penyimpanan
· Keragaman perilaku makan pada berbagai bahan simpan
· Laju reproduksi yang tinggi
· Kemampuan yang tinggi dalam menemukan lokasi sumber makanan 
· Kemampuan bertahan hidup dalam kondisi tanpa pangan
· Adaptasi morfologi (ukuran kecil, bentuk pipih, gerakan cepat dll.)

Studi ekologi yang dilakukan pada kondisi yang mirip dengan tempat penyimpanan lebih berguna untuk mengembangkan program pengendalian. Dengan demikian dapat diperoleh lebih banyak gambaran tentang faktor-faktor yang mempengaruhi distribusi dan kelimpahan hama pada kondisi nyata. 


FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENYEBARAN DAN KELIMPAHAN HAMA GUDANG

1. SUHU, KADAR AIR BIJI DAN SUMBER MAKANAN

Masa perkembangan, ketahanan hidup dan produksi telur serangga hama pascapanen tergantung pada kesesuaian lingkungan dan makanan. Laju populasi serangga dapat meningkat sebagai hasil dari masa perkembangan yang singkat, ketahanan hidup yang meningkat atau produksi telur yang lebih banyak. Dalam kondisi normal, gudang adalah sumber makanan sehingga permasalahan utama bagi serangga adalah suhu dan kadar air/kelembaban. Walaupun demikian, sebagian besar serangga hama pascapanen dapat hidup pada berbagai bahan simpan dan terdapat variasi kelimpahan serangga pada tiap-tiap bahan simpan

Masa perkembangan

Suhu lingkungan dan kadar air bahan simpan merupakan faktor utama yang mempengaruhi masa perkembangan. Pada coleoptera, kadar air lebih dominan pengaruhnya dibanding suhu dan makanan, demikian pula pada lepidoptera. 

Lepidoptera pascapanen menghabiskan sebagian besar masa perkembangannya sebagai larva. Stadium larva lepidoptera pascapanen lebih lama daripada larva coleoptera karena nutrisinya digunakan untuk produksi telur. Imago lepidoptera sendiri berumur pendek dan tidak makan. Coleoptera berumur panjang (Cryptolestes, Oryzaephilus, Sitophilus, Tribolium, Rhyzopertha) makan selama periode imago, karena itu dapat memproduksi telur selama hidupnya. Seperti lepidoptera, stadium larva coleoptera berumur pendek (Callosobruchus, Lasioderma, Stegobium) cenderung lebih lama (walaupun tidak selama lepidoptera), akibatnya produksi telurnya pun tidak sebanyak lepidoptera.

Hingga batas tertentu, kenaikan suhu lingkungan meningkatkan aktivitas makan. Hal ini menjelaskan sebagian pengaruh suhu terhadap pemendekan masa perkembangan serangga pascapanen. Fluktuasi suhu harian juga berpengaruh. Serangga yang hidup pada suhu konstan tinggi masa perkembangannya lebih singkat daripada suhu fluktuatif (walaupun dengan rata-rata suhu yang sama tinggi). Sementara itu pada suhu konstan rendah, masa perkembangannya lebih lama dibandingkan suhu fuktuatif dengan rata-rata sama rendah. 

Kadar air bahan simpan/kelembaban udara mempengaruhi lama stadium larva,. Kadar air bahan simpan yang rendah memperlama stadium larva, tetapi stadium telur dan pupa tidak terpengaruh sehingga hal ini mengubah keseimbangan struktur umur dalam populasi yang sudah stabil. 

Seperti dijelaskan sebelumnya, suhu lingkungan dan kelembaban di penyimpanan bisa saja sebagai sebab atau akibat dari keberadaan hama. Serangga membutuhkan kisaran suhu dan kelembaban optimum untuk perkembangannya. Sementara itu metabolisme serangga juga menghasilkan kalor dan uap air ke lingkungannya. Terakhir, misalnya pada Sitophilus dan Tribolium terdapat variasi masa perkembangan antarindividu yang cukup besar. Keragaman intrinsik seperti ini biasanya menguntungkan secara ekologis. 

Ketahanan hidup/survival

Serangga biasanya memiliki kisaran suhu optimum. Sedikit saja di luar kisaran suhu tersebut, terjadi penurunan populasi yang sangat besar Contohnya pada Tribolium,suhu optimum pertumbuhan adalah 25-37.5˚C. Ketahanan hidup akan turun drastis di luar kisaran tersebut. Kematian terbesar terjadi pada larva instar awal. Pola serupa tampaknya terjadi pada spesies Rhyzopertha, Oryzaephilus, Cryptolestes danTribolium (coleoptera berumur panjang) . 

Kadar air biji berkorelasi positif dengan ketahanan hidup. Kadar air meningkat, kondisi lingkungan makin baik untuk serangga sehingga ketahanan hidupnya pun meningkat. Sebaliknya, ketahanan hidup hama pascapanen menurun bila kadar air biji rendah. Implikasinya, kalaupun pengendalian hama tidak bisa dilakukan dengan menurunkan suhu (pendinginan), pengeringan dan pemanasan dapat pula bermanfaat. 

Kematian hama pascapanen pada suhu rendah merupakan fungsi dari laju pendinginan, lama waktu pendinginan, suhu dan spesies. Serangga akan punya
kesempatan menyesuaikan diri (aklimasi) bila laju pendinginan lambat.

Produksi telur

Serangga memerlukan nutrisi yang cukup untuk memproduksi telur. Lepidoptera biasanya mengakumulasi nutrisi pada saat larva, dan memproduksi telur dalam jumlah banyak hanya pada hari-hari pertama menjadi imago. Coleoptera biasanya hidup lebih lama dan memproduksi telur sepanjang hidupnya dalam proporsi yang lebih merata. Dengan demikian, coleoptera berumur panjang membutuhkan nutrisi sepanjang hidupnya.
Peningkatan suhu dan kadar air bahan simpan meningkatkan produksi telur, hanya saja produksi telur tertinggi dan ketahanan hidup tertinggi tidak terjadi pada satu titik suhu atau kadar air yang sama. Pada Tribolium, kombinasi ketahanan hidup dan produksi telur yang menghasilkan tingkat reproduksi maksimum terjadi pada suhu 27 0C dan kadar air 16%.
Sejumlah ngengat diketahui meningkat produksi telurnya bila menemukan sumber air, demikian pula kumbang Dermestes. Callosobruchus juga meningkat produksi telurnya karena nutrisi.
 
2. INTERAKSI ANTARINDIVIDU DAN ANTARSPESIES

Intraspesifik (antarindividu)

Interaksi antarindividu dalam satu spesies menentukan distribusi dan kelimpahan serangga. Pada kepadatan populasi rendah, laju pertumbuhan biasanya kecil karena kesulitan untuk menemukan pasangan seksual misalnya. Ketika populasi bertambah, laju pertumbuhan meningkat secara eksponensial karena kelimpahan sumber makanan dan kesesuaian lingkungan. Sejalan dengan pertambahan populasi yang tinggi, terjadi kompetisi/persaingan untuk makan dan perkawinan sehingga menimbulkan efek negatif bagi populasi. Pada spesies tertentu bahkan terjadi kanibalisme terhadap serangga dalam stadium inaktif (telur dan pupa). Walaupun demikian, tekanan populasi seperti ini jarang terjadi karena kecenderungan migrasi bila populasi meningkat. Kompetisi umumnya terjadi pada populasi di penyimpanan yang kosong, sarana transportasi maupun peralatan pengolahan di mana jumlah makanan relatif sedikit.

Interspesifik (antarspesies)

Interaksi antarspesies juga mempengaruhi laju pertumbuhan suatu spesies serangga. Berbagai pola interaksi ditemukan di penyimpanan, yaitu:

Suksesi, yaitu pergantian dominansi spesies pada pernyimpanan kerena perubahan lingkungan dan sumber makanan. Pada saat awal yang dominan adalah hama primer, kemudian digantikan hama sekunder, selanjutnya mungkin serangga pemakan cendawan atau sisa-sisa.

Kompetisi, terjadi bila dua spesies hama memiliki relung ekologis yang sama (bandingkan dengan suksesi dimana masing-masing spesies memiliki peran berbeda.)

Predasi, bisa oleh spesies predator (misal kepik Xylocoris sp.) atau spesies hama yang menjadi karnivor fakultatif pada kondisi ekstrim.

Parasitisme, kebanyakan Hymenoptera famili Trichogrammatidae, Bethylidae, dan Pteromalidae menjadi parasitoid hama gudang. Termasuk parasitisme adalah serangan mikroorganisme seperti protozoa, bakteri dan cendawan entomophaga penyakit terhadap hama pascapanen

Faktor Iklim

Unsur-unsur iklim mikro yang sangat berpengaruh pada perkembangan hama gudang, yaitu : temperatur, kelembapan, kadar air dan aerasi. Unsur-unsur ini dapat mengembangkan, melumpuhkan, menghambat perkembangbiakan atau memusnahkan populasi hama pascapanen. Suhu lingkungan dan kadar air bahan simpan merupakan faktor utama yang mempengaruhi masa perkembangan. Pada Ordo Coleoptera dan Lepidoptera, kadar air lebih dominan pengaruhnya dibanding suhu dan makanan. Kenaikan suhu lingkungan meningkatkan aktivitas makan hama pascapanen pada batas tertentu. Hal ini menjelaskan bahwa suhu berpengaruh terhadap pemendekan masa perkembangan serangga pascapanen. Fluktuasi suhu yang terjadi setiap harinya juga mempengaruhi perkembangan hama pascapanen. Serangga yang hidup pada suhu tinggi masa perkembangannya lebih singkat daripada suhu fluktuatif walaupun dengan rata-rata suhu yang sama tinggi. Sementara itu pada suhu rendah, masa perkembangannya lebih lama dibandingkan suhu fluktuatif dengan rata-rata sama rendah. Kadar air bahan simpan mempengaruhi lama stadium larva. Kadar air bahan simpan yang rendah memperlama stadium larva, tetapi stadium telur dan pupa tidak terpengaruh.

Serangga mempunyai kisaran suhu optimum untuk perkembangannya. Apabila suhu optimum tersebut tidak terpenuhi, maka akan terjadi penurunan populasi hama pascapanen, contohnya pada Tribolium(Coleoptera berumur panjang), suhu optimum pertumbuhannya adalah 25-37,5°C. Ketahanan hidup hama tersebut akan turun apabila hidup pada lingkungan diluar kisaran suhu tersebut dan kematian terbanyak terjadi pada larva instar awal. Hal serupa terjadi juga pada hama pascapanen Rhyzopertha, Oryzaephilus dan Cryptolestes. Peranan temperatur juga mempengaruhi perkembangan hidup hama pascapanen, apalagi pada perlakuan fumigasi. Dilaporkan hama pascapanen yang hidup pada temperatur tinggi akan lebih peka terhadap perlakuan fumigasi. Kadar air pada biji berhubungan dengan ketahanan hidup hama pascapanen. Apabila kadar air tinggi akan membuat kondisi lingkungan sesuai untuk perkembangan hama pascapanen, sehingga ketahanan hidupnya pun meningkat. Sebaliknya, ketahanan hidup hama pascapanen menurun bila kadar air pada biji rendah. Implikasinya, kalaupun pengendalian hama tidak bisa dilakukan dengan menurunkan suhu (pendinginan), perlakuan pengeringan dan pemanasan juga dapat dilakukan untuk pengendalian.

Faktor Makanan

Ketahanan hidup dan produksi telur serangga hama pascapanen tergantung pada kesesuaian lingkungan dan makanan. Dalam kondisi normal, gudang adalah sumbermakanan sehingga permasalahan utama bagi serangga adalah suhu dan kadar air/kelembapan. Walaupun demikian, sebagian besar serangga hama pascapanen dapat hidup pada berbagai bahan simpan dan terdapat variasi kelimpahan serangga pada tiap-tiap bahan simpan. Makanan yang cukup dan sesuai dengan yang dibutuhkan hama pascapanen akan mendukung perkembangan populasi hama, sebaliknya makanan yang cukup tetapi tidak sesuai dengan yang dibutuhkan akan menyebabkan hama tidak menyukai bahan simpan/makanan tersebut atau akan dapat menekan populasi hama tersebut. 

Ketidakcocokan makanan dapat timbul karena : 
1. Kurangnya kandungan unsur yang diperlukannya; 
2. Rendahnya kadar air dalam kandungan makanan; 
3. Permukaan material (bahan pangan) terlalu keras; 
4. Bentuk material (bahan pangannya). 

Serangga memerlukan nutrisi yang cukup untuk memproduksi telur. Ordo Lepidoptera biasanya mengakumulasi nutrisi pada saat larva, dan memproduksi telur dalam jumlah banyak hanya pada hari-hari pertama menjadi imago. Imago dari Ordo Coleoptera biasanya hidup lebih lama dan memproduksi telur sepanjang hidupnya dalam proporsi yang lebih merata. Dengan demikian, imago Coleoptera berumur panjang dan membutuhkan nutrisi sepanjang hidupnya. Peningkatan suhu dan kadar air dari bahan simpan akan meningkatkan produksi telur, hanya saja produksi telur tertinggi dan ketahanan hidup tertinggi tidak terjadi pada satu titik suhu atau kadar air yang sama. Seperti yang terjadi padaTribolium, ketahanan hidup dan produksi telur yang dihasilkan pada tingkat reproduksi maksimum terjadi pada suhu 270C dan kadar air 16%. Sejumlah ngengat diketahui meningkat produksi telurnya bila menemukan sumber air, demikian pula kumbang Dermestes, Callosobruchus juga meningkat produksi telurnya karena nutrisi. Dengan mengetahui ekologi hama pascapanen dapat mempermudah tindakan yang harus dilakukan untuk mengendalikan distribusi dan kelimpahan hama pascapanen di penyimpanan/gudang. Tindakan pengendalian dilakukan dengan memanipulasi ekologi hama pascapanen yaitu seperti : 

Sortasi, yaitu memilih dan memisahkan produk yang akan disimpan dalam gudang, mana yang terserang hama dan mana pula yang keadaan atau kualitasnya benar-benar baik; Pengolahan, dimana produk-produk yang telah terserang hama pascapanen dipisahkan, terutama jika kadar air masih tinggi, dilakukan pengeringan yang dapat dilakukan dengan cara penjemuran; Penataan, yang dimaksud disini ialah penempatan produk di dalam gudang secara teratur dalam keadaan ruangannya yang bersih. 

Munculnya suatu teknologi pascapanen dan adaptabilitasnya disuatu tempat didasarkan pada pertimbangan fisiologis, fisik-morfologis, patologis serta pertimbangan ekonomis. Teknologi pascapanen sangat spesifik produk dan spesifik lokasi, untuk itu perlu dilakukan pengkajian mengenai pengembangan teknologi pascapanen karena banyaknya hasil pascapanen di Indonesia yang khas.

Pertimbangan fisiologis

Pertimbangan fisiologis yang dicirikan dengan laju respirasi/laju metabolisme dilakukan untuk memperlambat kemunduran mutu dan kesegaran produk pascapanen. Salah satu cara untuk menurunkan laju metabolisme adalah dengan pendinginan, sehingga teknologi pendinginan sedang dikembangkan untuk mengawetkan produk pertanian sesaat setelah dilakukan pemanenan (pre-cooling) sebelum penyimpanan, transportasi dan sampai ke konsumen. Macam teknologi pre-cooling yang ada antara lain : forced-air cooling, vacuum cooling, hydro-cooling dan package icing.

Pertimbangan fisik-morfologis

Jaringan dermal atau kulit pada produk pascapanen pertanian sangat beragam, sehingga kerentanannya terhadap kerusakan mekanisnya juga beragam pula. Selain itu juga terjadinya proses layu akibat laju transpirasi yang tinggi, yang dapat menurunkan nilai jual.

Pertimbangan patologis

Produk pascapanen akan diserang oleh berbagai mecam jenis mikroorganisme baik penyebab pembusukan maupun bukan penyebab pembusukan serta penyebab penyakit pada manusia. Usaha pencegahan dan pengendalian mikroorganisme yang menyerang produk pascapanen sekarang lebih diarahkan pada Good Agricultural Practices (GAP) dan Good Postharvest Handling Practices (GPHP). Bahan kimia yang diijinkan untuk tindakan pengendalian hama pada produk pascapanen seperti larutan klorin, penggunaannya masih memerlukan pertimbangan seperti karakteristik fisik-morfologis kulit produk pascapanen. Terkadang mikroorganisme masih dapat bersembunyi pada stomata, lentisel dan hidatoda yang tidak dapat dijangkau oleh larutan klorin karena adanya tegangan permukaan air yang tinggi. Efektivitas klorin menurun apabila pH larutan tidak pada pH optimum (pH = 7,0) dan adanya cemaran organik yang cenderung mengikat bahan aktif klorin. Untuk itu penerapan GAP dan GPHP penting dilakukan guna mencegah kontaminasi mikroorganisme patogenik pada produk pascapanen.

Pertimbangan ekonomis

Teknologi yang digunakan untuk penanganan produk pascapanen haruslah mempertimbangkan nilai ekonomi. Banyak teknologi pascapanen yang dikembangkan di negara-negara maju tidak dapat diterapkan di negara berkembang seperti Indonesia. Kelemahan financial dan kurangnya akses pasar, sehingga penerapan teknologi tersebut tidak dapat dilakukan.seperti contohnya teknologi forced-air cooling dan vacuum cooling yang diterapkan di negara maju, tetapi belum dapat diterapkan dinegara kita. Teknologi penanganan pascapanen untuk negara berkembang seperti Indonesia ini hendaknya dengan mempertimbangkan aspek ekonomis. Hasil pertanian berupa biji-bijian kering disimpan dengan tujuan untuk keperluan konsumsi manusia atau hewan ternak dan untuk keperluan menyediakan benih tanaman. Biji yang kering seperti kering kebun/kering sawah dan kering karena dijemur (dikeringkan). Pada keadaan kering kebun, biji umumnya mengandung kadar air yang cukup tinggi, sehingga keadaannya masih tergolong lembap. Sebelum disimpan, kadar air ini harus diturunkan lagi sampai tingkat rendah. Persentase kandungan air terendah yang dapat dicapai sangat tergantung pada ukuran biji, keadaan kulit luar biji dan umur fisiologis biji.

Biji untuk konsumsi

Tujuan utama menyimpan biji-bijian untuk keperluan konsumsi manusia atau hewan ternak adalah mendapatkan mutu bahan yang keadaannya tetap prima dan terhindar dari berbagai kerusakan meskipun telah disimpan cukup lama. Agar tujuan yang dimaksud dapat terlaksana maka diperlukan persiapan dan penanganan bahan secara baik dan benar. Untuk itu sebaiknya bahan dikeringkan dan diupayakan agar kadar air bahan rendah. Untuk melakukan uji secara sederhana, yaitu cukup menggigit biji kering. Jika mudah retak atau pecah berarti tingkat kekeringan bahan tercukupi. Contoh dari menyimpan biji untuk konsumsi berupa biji kakao yang aman untuk disimpan adalah biji kakao yang mempunyai kadar air 6-7% dan keadaannya bersih. Agar biji dalam penyimpanan kondisinya tetap baik, sebaiknya disimpan dengan menggunakan kemasan dan disimpan pada tempat yang bersuhu 300C serta kelembapan relatif 74%. Sedangkan suhu minimal yang diijinkan sekitar 250C pada kelembapan yang sama. Biji kakao kering mudah sekali menyerap uap air. Oleh karena itu, kemasan karung yang dipergunakan untuk menyimpan biji dipilih yang anyamannya lebih rapat dan mempunyai permukaan halus atau licin. Dalam jumlah yang tidak banyak biji dapat dikemas dengan kaleng.

Biji untuk benih

Biji-bijian yang dipergunakan sebagai benih umumnya jumlahnya terbatas, sehingga cara penanganannya lebih mudah dibandingkan dengan biji untuk keperluan konsumsi. Prinsip penyimpanannya sama dengan biji-bijian untuk dikonsumsi yaitu biji disimpan dalam keadaan sama dengan biji-bijian kering. Biji kering yang sudah dipisahkan dari daging buah atau kotoran lain, kemudian dikemas untuk disimpan. Cara lain untuk menyimpan biji sebagai benih adalah dengan mencampurkan biji dengan pasir kering dengan perbandingan 3:1 atau 1:5. Selain itu kita dapat mengemas dengan botol yang bagian dasar dan atasnya ditutup dengan abu, pasir halus, atau sekam. Dengan cara seperti ini serangga hama diharapkan tidak dapat masuk ke dalam botol dan kadar air produk pascapanen tetap dapat dipertahankan. Agar kondisi biji tidak banyak terpengaruh oleh perubahan temperatur atau kelembapan lingkungan benih, sebaiknya dikemas dengan kemasan kedap udara seperti aluminium foil atau kantong plastik dan selanjutnya disimpan dalam kaleng atau kemasan kaca tertutup, kemudian disimpan ditempat yang kering dan sejuk.

Dengan mengetahui ekologi hama pascapanen tersebut diatas, diharapkan para petani dan pengepul produk pascapanen dapat menerapkannya. Salah satunya dengan membuat tempat penyimpanan seperti suhu, kelembapan dan lainnya agar tidak mendukung untuk perkembangan hama pascapanen. Penanganan produk pascapanen dilakukan guna menjaga nilai jualnya agar tidak menurun diperlukan berbagai teknologi untuk mendukungnya. Namun untuk menerapkan teknologi tersebut juga harus mempertimbangkan berbagai faktor-faktor diatas. Untuk itu, perlu dukungan pemerintah agar petani dan para pengusaha skala kecil dapat menerapkannya.






Referensi


Agrios, G.N. 1997. Plant Pathology 4th ed. Academic Press, New York.


Sri S. D., Danik D. A., Nurhayati, Mira S., Sandi F. A. R. Y., Ida B. K. W. Y., 2008. Teknologi Pangan. Depdiknas.

Ikuti Saya ^___^

visitors

 

AQILAH's PLANT HOSPITAL Copyright © 2009 Flower Garden is Designed by Ipietoon blogger template for web hosting Flower Image by Dapino