Kamis, 06 Desember 2012

PHT : Langkah Strategis untuk Mewujudkan Kedaulatan Pangan sebagai Jalan Menuju Swasembada Berkelanjutan Indonesia 2014




Annisa Ratu Aqilah*

Pemerintah dalam Program Prioritas Pembangunan di sektor pertanian telah menargetkan pada tahun 2014 Indonesia mencapai swasembada berkelanjutan terhadap lima komoditas pangan Indonesia meliputi komoditas beras, jagung, kedelai, gula pasir, dan daging sapi. Target ini tidak muncul secara tiba-tiba, namun dilatarbelakangi oleh produksi pangan domestik yang belum optimal. Menyikapi target ini, pemerintah merasa yakin akan mencapai keberhasilan. Hal ini mengingat sektor pertanian merupakan sektor dengan sumber daya yang dapat diperbaharui dan menjanjikan, selain itu, latar belakang Indonesia sebagai Negara Agraris pun menjadi alasan keyakinan pemerintah akan keberhasilan kebijakan ini. Dalam mencapai target ini, pemerintah akan memfokuskan pembangunan di sektor pertanian pada perbaikan infrastruktur dan peningkatan teknologi pertanian, pembukaan dan intensifikasi lahan pertanian, serta pelaksanaan politik anggaran untuk sektor pertanian yang terencana.
Kebijakan baru pemerintah di atas seperti bertolak belakang dengan kebijakan pemerintah pada tahun 2011 dalam sebuah pertemuan tingkat internasional KTT Asean dan World Economic Forum di mana pada saat itu pemerintah Indonesia memberi kesempatan besar kepada para investor asing dan pengusaha untuk membuka bisnis dan industri mereka di Indonesia dengan tujuan untuk meningkatkan produktivitas dalam rangka memenuhi ketahanan pangan nasional. Faktanya, kebijakan tersebut justru berdampak negatif terhadap perkembangan industri di Indonesia, khususnya di sini adalah agroindustri. Adanya industri-industri besar dan asing di Indonesia semakin menekan industri kecil menengah yang ada hampir di seluruh wilayah Indonesia yang sebagian besar dari mereka adalah masyarakat lokal.
Pengembangan sumber daya manusia
Secara teoritis, Indonesia yang memiliki luas lahan pertanian tidak kurang dari 7,75 juta hektar dan letaknya yang strategis di daerah tropis seharusnya memang mampu memproduksi bahan pangan secara mandiri dan bahkan mampu untuk mengekspornya ke luar negeri.
Teori tersebut menunjuk pada kesimpulan bahwa kemajuan dan perkembangan pengendalian hama terpadu di Indonesia sejalan dengan kemajuan dan perkembangan sektor pertanian. Dalam hal ini kemajuan dan perkembangan PHT dapat menjadi indikator keberhasilan dari kebijakan swasembada berkelanjutan yang dicanangkan oleh pemerintah.  Namun faktanya, sektor pertanian kita masih rapuh dan terombang-ambing. Berbagai kasus yang mencuat seputar sektor pertanian akhir-akhir ini menjadi gambaran bahwa sektor pertanian Indonesia masih belum stabil. Apabila sektor pertanian di Indonesia masih belum dapat dikendalikan dengan baik, maka keinginan untuk menerapkan agroindustri yang baik dan berkualitas dalam usaha untuk mencapai swasembada berkelanjutan di Indonesia masih merupakan sebuah perjalanan panjang.
Pemahaman prinsip ketahanan pangan yang salah dan hanya menuntut pada pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat tanpa memperhatikan aspek-aspek ekonomi, sosial, dan budaya dari masyarakat Indonesia menjadi salah satu akar masalah yang menyebabkan masih belum maksimalnya pengembangan agroindustri di Indonesia. Oleh sebab itu, perlu adanya sebuah prinsip dasar baru yang dikembangkan dan menjadi pedoman serta fokus tujuan dari pemerintah dalam rangka mengembangkan agroindustri di Indonesia yang berkelanjutan. Prinsip tersebut dapat diperoleh dari prinsip kedaulatan pangan yang tidak hanya menuntut pada pemenuhan hasil pangan untuk kebutuhan rakyat tapi juga kemampuan rakyat untuk memenuhi kebutuhan pangannya secara mandiri.
Beberapa karakteristik kelebihan dari prinsip kedaulatan pangan adalah dalam mengambil kebijakan pemerintah juga dituntut untuk memperhatikan kearifan lokal dan keanekaragaman hayati serta mengutamakan kepentingan rakyat Indonesia. Hal ini penting sebagai salah satu cara untuk meningkatkan peran dan kinerja dari industri-industri menengah ke bawah yang saat ini masih kalah dalam bersaing dengan industri besar dan asing. Selain itu, dengan prinsip kedaulatan pangan, pemerintah diharapkan dapat fokus untuk memperhatikan industri lokal Indonesia. Hal ini berhubungan dengan tingginya kebutuhan dari industri lokal kita yang masih minim dan terkendala oleh buruknya infrastruktur dan teknologi yang digunakan. Dengan penerapan konsep kedaulatan pangan dalam menjalankan kegiatan agroindustri di Indonesia diharapkan kebijakan mikro maupun makro yang dikeluarkan oleh pemerintah dapat lebih pro rakyat.
Satu hal yang juga sangat penting adalah sektor pertanian itu sendiri. Sektor pertanian yang baik dan mandiri akan dapat mengantarkan Indonesia menuju negara agroindustri yang baik dan mandiri pula. Namun dalam kenyataannya di lapangan sektor pertanian kita masih jauh dari kemandirian. Hal ini dapat dilihat dari masih rendahnya tingkat kesejahteraan masyarakat petani sebagai pelaku kegiatan pertanian dan belum optimalnya hasil produksi pertanian Indonesia yang berbuntut pada tingginya tingkat impor bahan pangan di Indonesia.
Selain itu, berbagai masalah umum yang terkait dengan agroindustri juga perlu diperhatikan. Sifat dari bahan baku agroindustri yang tidak tahan lama dan musiman dapat mempengaruhi keberlanjutan dari kegiatan industri. Padahal, sebagaimana kita ketahui agroindustri adalah kegiatan yang arus keberlanjutannya sangat penting. Di sinilah diperlukan adanya pengolahan sektor pertanian yang baik dari pra sampai pasca panennya. Selain itu, pemilihan komoditas yang akan digunakan sebagai bahan utama dari agroindustri juga harus diperhatikan dengan seksama. Dalam hal ini, lima komoditas yang telah direncanakan oleh pemerintah di atas harus memenuhi kriteria sebagai komoditas yang strategis dan berkelanjutan untuk dikembangkan.
Pada akhirnya, dengan penerapan prinsip kedaulatan pangan dalam kegiatan agroindustri, kita dapat mengembalikan prinsip dasar dari konsep Hak Menguasai Negara pada UUPA sebagaimana tercantum pada pasal 33 Undang- Undang Dasar 1945 yang berbunyi “Air, tanah dan udara adalah milik negara dan dimanfaatkan seluas-luasnya oleh negara bagi kepentingan rakyat banyak”.
Konsep dan target agroindustri dengan menerapkan prinsip kedaulatan pangan ini diharapkan mampu mewujudkan kebijakan swasembada berkelanjutan yang direncanakan oleh pemerintah sehingga dapat benar-benar terealisasikan pada tahun 2014 dan menjadi sebuah awal baru dari kebangkitan agroindustri di Indonesia.
Tentunya dalam pelaksanaan kebijakan ini diperlukan kerja sama dari semua komponen masyarakat Indonesia. Selain itu, dalam mencapai target ini juga dibutuhkan semangat nasioalisme tinggi mengingat bahwa agroindustri bukanlah sesuatu yang dapat dicapai secara instan, namun perlu usaha sungguh-sungguh dan maksimal secara bertahap dan berkelanjutan. Di sinilah, kita sebagai sebuah negara yang berdaulat harus mampu membuktikan etos kerja yang tinggi dalam menghadapi segala rintangan dalam usaha mencapai kedaulatan pangan Indonesia yang masih merupakan sebuah perjalanan panjang.
Mari, bersama-sama kita sukseskan program swasembada berkelanjutan Indonesia melalui kegiatan agroindustri mandiri!

*Mahasiswa Fakultas Pertanian UGM

Jumat, 27 Juli 2012

INSEKTISIDA DAN AKARISIDA NABATI


PENGERTIAN INSEKTISIDA DAN AKARISIDA ALAMI

  • semua bahan aktif insektisida dan akarisida yang diambil dari alam, bukan berasal dari sintesa laboratorium
  • fungsi penelitian dan laboratorium hanya terbatas pada riset, pengembangan, pemurnian dan formulasi agar mydah penggunaannya dalam lapangan

JENIS INSEKTISIDA DAN AKARISIDA  ALAMI

1. INSEKTISIDA NABATI (BOTANI)

bahan aktif insektisida yang diekstrak dari tumbuhan. CONTOH : nikotin, rotenon, azadiraktin
2. INSEKTISIDA MIKROBIOLOGI (BIOLOGI
bahan aktif insektisida yang diekstrak dari nematoda, virus, dan jamur yang biasa menjadi hama/penyaki untuk tumbuhan. CONTOH : 
3. INSEKTISIDA FERMENTASI MIKROORGANISM
bahan aktif insektisida yang diekstrak dari fermentasi mikrobiologi. CONTOH : antibioika dan makrolida
4. INSEKTISIDA SELAIN GOLONGAN 1,2, DAN 3
bahan aktif insektisida yang dieksrak dari selain tiga bahan di atas, CONTOH : bubuk karbon dan tanah diatomae

Beberapa jenis tumbuhan yang telah diteliti manfaatnya sebagai Pestisida botani



No

Nama Umum

Nama Ilmiah

Bagian tanaman

Penggunaan
1
Aglaia
(i) Aglaia odorata
Kulit, batang, daun
Insektisida
2
Babandotan
Ageratum conyzoides
Daun, batang, akar
Insektisida Nematisida
3
Balakama
Ocimum basilicum
Daun, biji
Insektisida
4
Bawang
Allium spp.
Umbi
Insektisida Fungisida Nematisida
5
Bengkuang
Pacchiryzus erosus
Daun, biji
Insektisida
6
Bitung
Barringtonia sp.
Biji
Insektisida Piscisida
7
Brotowali
Tinospora sp.
Batang
Insektisida
8
Cengkih
Syzigium aromaticum
Daun, bunga
Bakterisida Fungisida Insektisida
9
Daun wangi
Malaleuca bracteata
Daun
Atraktan
10
Duku
Lansium domesticum
Kulit buah, biji
Insektisida
11
Gadung
Dioscore composite
Umbi
Rodentisida
12
Jarak
Ricinus communis
Biji, daun
Insektisida
Rodentisida Insektisida Nematisida
13
Jarak pagar
Jathropa curcas
Biji
Insektisida
14
Jeringau
Acarus calamus
Rimpang
Insektisida Fungisida
15
Kecubung
Datura sp.
Biji, daun
Insektisida
16
Kembang sungsang
Gloriosa superba
Akar
Insektisida
17
Kipahit
Tithonia sp.
Daun
Repelen
18
Kunyit
Curcuma domestica
Rimpang
Nematisida Rodentisida
19
Lada
Piper nigrum
Buah, biji
Insektisida Nematisida Fungisida
20
Legundi
Vitex trifolia
Daun
Insektisida
21
Lempuyang emprit
Zingiber Americans
Rimpang
Insektisida
22
Lempuyang gajah
Zingiber zerumbet
Rimpang
Insektisida
23
Lerak
Sapindus rarak
Buah, biji
Piscisida Insektisida
24
Mahoni
Swietenia macroplylla
Biji
Insektisida
25
Jambu mete
Anacardium occidentale
Kulit biji
Insektisida Nematisida Fungisida Bakterisida
26
Mimba
Azadirachta indica
Biji
Insektisida Nematisida
27
Nangka
Artocarpus heterophylus
Daun
Nematisida
28
Nilam
Pogostemon cablin
Daun
Insektisida Repelen
29
Patah tulang
Euphorbia turricalli
Daun
Molluskisida
30
Pepaya
Carica papaya
Akar, daun
Nematisida
31
Picung
Pangium edule
Buah
Insektisida
32
Piretrum
Chrysantemum spp.
Bunga
Insektisida
33
Saga
Abrus pecatorius
Biji
Insektisida
34
Secang
Caesalpinia sappan
Daun, bunga, biji
Insektisida
35
Selasih
Ocimum sp.
Daun
Atraktan
36
Sembung
Blumea balsamifera
Daun
Molluskisida
37
Senggugu
Clerodendron seratum
Daun
Rodentisida
38
Sereh dapur
Andropogon nardus
Daun
Insektisida Fungisida
39
Sirih
Piper bettle
Daun
Bakterisida Fungisida
40
Sirsak
Annona reticulate
Daun, biji
Insektisida
41
Srikaya
Annona squamosa
Biji
Insektisida Nematisida
42
Tefrosia
Tephrosia vogelii
Daun
Molluskisida
43
Tembakau
Nicotiana tabacum
Daun
Insektisida Fungisida Nematisida
44
Tembelekan
Lantana camara
Bunga, daun
Insektisida
45
Akar tuba
Derris elliptica
Akar
Piscisida Insektisida

Novizan (2002): Membuat dan Memanfaatkan Pestisida Ramah Lingkungan

Berikut adalah beberapa insektisida nabati yang telah dapat dimurnikan bahan aktifnya, dan diproduksi secara komersial, meskipun banyak di antaranya yang belum dipasarkan di Indonesia.

Asam sitrat (citric acid)

Asam sitrat diekstraksi dari buah jeruk, digunakan sebagai insektisida untuk mengendalikan berbagai jenis serangga, seperti semut, aphids, kumbang, ulat, wereng daun, kutu dompolan, tungau dan kutu kebul, pada tanaman buah-buahan, sayuran dan tanaman hias.

Azadiraktin (azadirachtin)

Ekstrak biji mimba (Azadirachta indica) sejak lama diketahui mempunyai efek insektisida. Azadiraktin (AZA) adalah senyawa kimia utama dari ekstraksi atas biji-biji mimba (neem). Disamping azadiraktin, ekstrak biji mimba juga mengandung senyawa limonoid lainnya, seperti nimbolid, nimbin dan salanin. Ekstrak biji mimba, atau “neememulsion” mengandung 25% (berat/berat) azadiraktin, 30-50% senyawa limonoid lainnya, 25% asam lemak dan 7% ester gliserol.
Azadiraktin bekerja sebagai antagonis ecdyson (ecdyson adalah hormon yang bertanggung-jawab atas proses pergantian kulit serangga), sehingga ecdyson tidak bekerja dengan baik dan serangga hama yang terpapar akan tergganggu proses ganti kulitnya, sehinnga mati. Oleh karena itu azadiraktin dapat diklasifikasikan sebagai penghambat pertumbuhan serangga (insect growth regulator : IGR)
Azadiraktin digunakan untuk mengendalikan berbagai jenis hama dari genus-genus yang berbeda. Efektif untuk mengendalikan kutu kebul (Bemisia spp.), thrips, pengorok daun, aphids, larva Lepidoptera (ulat), kutu sisik, kumbang dan kutu dompolan, pada sayuran (tomat, kubis, kentang), kapas, teh, tembakau, kopi, dan tanaman hias.

LD50 (tikus) >5000 mg/kg, dermal (kelinci) >2000 mg/kg bb. Tidak menyebabkan iritasi pada kulit, tapi sedikit pada mata (kelinci). Klasifikasi toksisitas EPA (formulasi) kelas IV.
Azadiraktin dipasarkan di Indonesia dengan nama-nama dagang Natural 9 WSC, Nimbo 0,6 AS dan Nospoil 8 EC, dan didaftarkan (dalam hal ini Nimbo) untuk mengendalikan kutu daun Myzus persicae dan ulat grayak Spodoptera litura pada tanaman cabai (Anonim, 2006).
 
Azadiraktin-dihidro (dihydroazadirachtin)

Insektisida dihidroazadiraktin (DAZA) adalah bentuk terreduksi dari azadiraktin alami. Sifat-sifatnya mirip dengan azadiraktin, demikian halnya dengan cara kerja (mode of action) dan hama sasarannya.
LD50 (tikus) >5000 mg/kg, dermal (kelinci) >2000 mg/kg bb.

Ekstrak bawang putih 

Digunakan sebagai pengusir serangga (insect repellent) dan harus digunakan sebelum ada serangan serangga hama. Mungkin senyawa mengandung sulfur yang terdapat dalam ekstrak bawang putihlah yang bertanggung-jawab atas efek repellent-nya. Beberapa produk berisi ekstrak bawang putih telah diproduksi secara komersial. Dalam penggunaannya dicampur dengan horticultural oil atau minyak ikan, diencerkan sesuai dengan rekomendasi produsennya, dan disemprotkan dengan volume tinggi pada tanaman yang dilindungi. Waktu aplikasikan sebaiknya menjelang sore, dan diulangi setiap 10 hari.
 
Ekstrak bawang putih mungkin juga mengusir serangga penyerbuk. Karena itu jangan digunakan saat tanaman berbunga, apabila kehadiran serangga penyerbuk penting bagi produksi tanamannya. Ekstrak bawang putih praktis tidak berbahaya (dalam takaran normal). Ekstrak bawang putih juga dimanfaatkan sebagai suplemen makanan dan dalam masak-memasak.

Eugenol (4-allyl-2-methoxyphenol)

Eugenol (minyak cengkih) diekstrak dari berbagai jenis tanaman, termasuk cengkih, bersifat sebagai insektisida. Cengkih mengandung antara 14-20% minyak cengkih.
Digunakan untuk mengendalikan berbagai jenis serangga hama, termasuk kutu tanaman (aphids), ulat grayak, kumbang, ulat tanah, belalang, tungau, dsb., pada tanaman sayuran dan buah-buahan.

Kapsaisin (Capsaicin)

Kapsaisin adalah senyawa kimia yang terdapat pada tanaman Solanaceae dari genus Capsicum (berbagai macam cabai), dan merupakan senyawa kimia yang bertanggung-jawab atas rasa pedas pada cabai. Senyawa ini merupakan pengusir serangga dan tungau, serta mempunyai efek sebagai insektisida. Juga dikatakan dapat mengurangi transpirasi tumbuhan.
Produk komersial dengan nama dagang Armorex mengandung campuran ekstrak cabai (kapsaisin) dengan mustard oil (allyl isothiocyanate) digunakan dengan cara dikocorkan (soil drench) sebelum tanam, dan dapat mengendalikan berbagai jenis cendawan tular tanah (termasuk Pythium, Rhizoctonia, Phytophthora, Pyrenochaeta, Sclerotium, Armillaria dan Plasmodiophora), serangga tanah seperti ulat potong (Agrotis), lundi (uret, larva kumbang), molluska, nematoda (Tylenchus, Pratylenchus, Xiphinema, dsb.), serta sejumlah gulma.

Kapsaisin dikatakan dapat mengganggu metabolisme serangga dan bekerja pada susunan syaraf sentral serangga.
 
Karanjin

Insektisida dan akarisida karanjin diekstrak dari biji tumbuhan Derris indica (Pongamia pinnata). Bentuk WP didapat dengan menggiling biji hingga menjadi tepung. Digunakan untuk mengendalikan tungau, kutu sisik, serangga pengunyah dan penusuk-pengisap, serta beberapa jenis jamur. Terutama efektif untuk mengendalikan kutu kebul (whiteefly) thrips, pengorok daun, aphids, ulat, kutu sisik dan kutu dompolan pada berbagai jenis tanaman termasuk sayuran, kapas, teh, tembakau, dan tanaman hias.

Karanjin bekerja dengan berbagai macam cara. Karanjin adalah penghalau serangga (insect repellent), antifeedant (menghilangkan nafsu makan serangga), menekan kegiatan hormon ecdyson (hormon yang mengatur pergantian kulit serangga), karenanya bertindak sebagai insect growth regulator (IGR). Dikatakan pula bahwa karanjin mampu menghambat sitokrom P450 pada serangga dan tungau yang peka. Digunakan dengan cara disemprotkan.
Tidak ada bukti adanya efek alergi dan efek negatif lainnya, baik pada produsen, formulator maupun pengguna.
 
Minyak kanola (canola oil)

Minyak kanola diekstrak dari biji kanola (iolseed rape plants, Brassica napus dan Brassica campestris). Efektif untuk mengendalikan, dengan cara mengusir (insect repellent) berbagai jenis serangga hama pada berbagai jenis tanaman, termasuk sayuran, tanaman hias, buah-buahan, jagung, bit gula, kedelai, dan sebagainya. Digunakan dengan cara disemprotkan atau dialirkan lewat saluran irigasi.

Nikotin 

Nikotin adalah senyawa bioaktif kimia utama dari tanaman tembakau (Nicotiana tabacum, N. glauca dan N. rustica) serta beberapa tumbuhan dari familia Lycopodiaceae, Crassulaceae, Leguminosae, Chenopodiaceae dan Compositae. Nikotin sejak lama digunakan sebagai insektisida. Rata-rata kandungan nikotin pada N. tabacum dan N. rustica adalah 2% hingga 6% berat kering. Dahulu nikotin diproduksi dalam bentuk ekstrak dari daun tembakau, tetapi kini dibuat dan dijual dalam bentuk nikotin teknis atau nikotin sulfat.

Nikotin adalag racun non-sistemik, terutama aktif dalam fase uapnya, tetapi juga memiliki sedikit efek sebagai racun kontak dan racun perut. Bekerja pada syaraf serangga dengan memblok reseptor (penerima) kholinergik asetilkholin. Merupakan insektisida yang sangat toksik, berspektrum sangat luas, digunakan untuk mengendalikan berbagai jenis serangga hama, termasuk aphids, thrips dan kutu kebul; pada berbagai tanaman.

LD50 oral pada tikus antara 50-60 mg/kg, LD50 dermal (kelinci) 50 mg/kg. Mudah diabsorbsi oleh kulit, beracun bagi manusia bila berkontak dengan kulit. Merupakan racun inhalasi yang sangat toksik. Klasifikasi toksisitas WHO (bahan aktif) kelas Ib, dan EPA (formulasi) kelas I.

Piretrum

Bubuk piretrum, yakni tepung yang diperoleh dari bunga semacam krisan, telah digunakan sebagai insektisida di berbagai belahan bumi sejak jaman purba. Tanaman ini mungkin berasal dari Cina, yang selanjutnya menyebar ke barat lewat jalur sutera ke Persia pada abad pertengahan. Bubuk piretrum kemudian dikenal pula sebagai Persian Insect Powder. Selanjutnya tanaman ini menyebar ke pesisir laut Adriatik di Dalmatia (bagian dari Kroasia).
Piretrum diperoleh dari bunga tumbuhan semacam krisan, yakni Chrysantemum cinerariaefolium (Pyrethrum cinerariaefolium, Tanacetum cinereriaefolium). Ekstrak ini selanjutnya dimurnikan menggunakan metanol.
Ekstrak piretrum terdiri atas 3 kelompok senyawa, yang keseluruhannya terdiri atas 6 senyawa bioaktif yakni piretrin (piretrin I dan II), jasmolin (jasmolin I dan II) dan sinerin (sinerin I dan II).
Rotenon 

Rotenon merupakan senyawa kimia bersifat insektisida yang diekstrak dari tanaman akar tuba (Derris eliptica & Derris maccensis), Lonchocarpus sp., dan Tephrosia sp. Sejak lama perasan akar tuba digunakan untuk meracuni ikan.

Rotenon efektif untuk mengendalikan berbagai serangga hama, termasuk aphids, thrips, tungau, semut merah, dan sebagainya. Bila diaplikasikan ke air mampu mengendalikan larva nyamuk. Juga digunakan untuk mengendalikan ekto-parasit ternak (bidang peternakan) dan di bidang perikanan digunakan untuk mengendalikan ikan buas. Di bidang pertanian digunakan pada tanaman hias dan sayuran.

Rotenon bekerja sebagai penghambat transport elektron pada respirasi serangga sasaran (pada lokasi I). Bersifat non-sistemik, racun kontak dan racun lambung.

LD50 oral (tikus putih) 132-1500 mg/kg, mencit putih 350 mg/kg. LD50 dermal (kelinci) >5000 mg/kg bb. Kelas toksisitas WHO (bahan aktif) kelas II, EPA (formulasi) kelas I dan III. Perkiraan dosis mematikan untuk manusia antara 300-500 mg/kg. Sangat beracun bila terhisap dibandingkan dengan bila termakan. Rotenon beracun bagi ikan, dan sangat beracun bagi babi.

Ryania

Ryania diekstrak dari tumbuhan Ryania speciosa, dan digunakan sebagai insektisida untuk mengendalikan serangga Cydia pomonella, penggerek batang jagung Ostrinia nubilalis serta thrips pada jeruk. LD50 oral (tikus) 1200 mg/kg bb.
Sabadila 

Sabadila diekstrak dari biji Schoenocaulon officinale dan mengandung bahan aktif veratrin yang merupakan campuran 2 : 1 dari sevadin, veratridin dan komponen minor lainnya. Sabadila merupakan insektisida kontak dan selektif untuk untuk mengendalikan thrips pada jeruk dan advokat.

Sitronela

Sitronela diakstrak dari tanaman sereh wangi, dan telah digunakan sebagai pengusir (insect repellent) nyamuk, dsb., sejak 1901. Kecuyali mengandung sitronela, ektrak tanaman ini juga mengandung senyawa-senyawa minor lainnya, seperti alpha-sitronela, sitronelol dan alpha-sitronelol.

Daftar Pustaka

  • Anonim (2006): Pestisida untuk Pertanian dan Kehutanan. Depatemen Pertanian Republik Indonesia.
  • Anonim: Bacillus thuringiensis. Wilkipedia http;//www.wilkimediafoundation. org/
  • Baehaki, Dr. Ir. SE (1993): Insektisida Pengendalian Hama Tanaman. Angkasa, Bandung.
  • Beattle, GAC; O. Nicetic, AS. Kalianpur dan Z. Hossain (2004): Managing Resistance with Horticultural Mineral Oils. Some Example from Different Crop. Makalah disampaikan dalam Seminar Nasional Management Resistensi Pestisida dalam Penerapan Pengelolaan Hama Terpadu. UGM, Yogyakarta, 24-25 Februari 2004.
  • Copping, LG (editor, 2004): The Manual of Biocontrol Agents. BCPC
  • Extoxnet (1996): Abamectin. Extesion Toxicology Network. http://npic.orst.edu/
  • Fisher, Hans-Peter, et al (1922): New Agrochemicals Based on Microbial Metabolites: New Biopesticides. Proceeding of the ’92 Agricultural Biotechnology Symposium on Biopesticides, Korea, September 1992
  • Flint, Mary Louis dan Robert Bosch (1991): Pengendalian Hama Terpadu, Sebuah Pengantar. Edisi terjemahan Indonesia, Kanisius, Yogyakarta.
  • Habazar, Prof. Dr. Ir. Trimurti, dan Dr. Ir. Yaherwandi Msi (2006): Pengendalian Hayati Hama dan Penyakit Tumbuhan. Andalas University Press, Padang.
  • Luthy, P (1993): Tailor-Made Insect Control with Bacillus thuringiensis. Insect Control No. 20, May 1993.    
  • Novizan, Ir. (2002): Membuat dan Memanfaatkan Pestisida Ramah Lingkungan. AgroMedia Pustaka, Jakarta.
  • NPTN: Bacillus thuringiensis, General Fact Sheet. National Pesticide Telecommunications Network.http://nptn.orst.edu/
  • NPTN: Pyrethrin & Pyrethroid. National Pesticide Telecommunications Network. http://nptn.orst.edu/
  • Pitterna, Thomas (1997): Macrolides as Pest Control Agents: Avermectin and Milbemycins. Insecticide Newsletter No. 3, December 1997
  • Shepard, B.M.; dkk (1987): Friends of Rice Farmer. Helpful Insects, Spiders, and Pathogen. International Rice Research Institute. Los Banos, Laguna, the Philippines.
  • Singleton, Paul; dan Diana Sainsbury (19981): Dictionary of Microbiology. John Wiley & Sons.
  • Tomlin, CDS (editor, 2001): The Pesticide Manual. BCPC
  • Wood, Alan (1995-2007): Compendium of Pesticide Common Name: Insecticides.http://www.alanwood.net/.
  • http://informasi-budidaya.blogspot.com/2011/11/insektisida-dan-akarisida-alami-i.html

Ikuti Saya ^___^

visitors

 

My Blog List

Feedjit

PLANT HOSPITAL Copyright © 2009 Flower Garden is Designed by Ipietoon for Tadpole's Notez Flower Image by Dapino