Senin, 07 Oktober 2013

identifikasi hama : MACAM MACAM JENIS TIKUS DAN CIRI-CIRINYA


Tikus termasuk dalam binatang pengerat (Ordo Rodentia, rodere : mengerat). Subordo Myomorpha (tikus) merupakan kelompok terbesar dalam ordo Rodentia. Para ahli hewan sepakat menggolongkan tikus ke dalam kingdom Animalia, filum Chordata, subfilum Vertebrata, kelas Mammalia, ordo Rodentia, subordo Myomorpha, famili Muridae, subfamili Murinae, genus Bandicota, Rattus dan Mus.

Ciri paling utama semua Rodentia adalah kemampuannya mengerat benda-benda dengan sepasang gigi seri yang besar, tidak memiliki gigi taring (canina) dan gigi geraham depan (premolar), sehingga diantara gigi seri dan geraham belakang (molar) terdapat celah yang disebut diastema, Celah ini berfungsi untuk membuang kotoran yang ikut terbawa bersama dengan pakannya masuk kedalam mulut. Misalnya benda asing atau serpihan kayu yang terlapau besar yang mampu membuatnya tersedak akan keluar melalui rongga yang terdapat antara gigi seri dan gigi gerahamnya. Pada lapisan luar gigi seri terdapat email yang amat keras, sedangkan bagian dalamnya tanpa lapisan email sehingga mudah aus. Selisih kecepatan ausnya ini membuat gigi itu selalu tajam. Gigi seri tersebut tumbuh terus menerus dan untuk mengurangi pertumbuhan gigi seri yang dapat membahayakan dirinya sendiri, maka tikus selalu mengerat benda apapun yang ia jumpai. Kekhasan lain pada mulut Rodentia adalah cara penyaringan makanan yang tidak layak dimakan.
Tikus dapat menjadi inang dari vektor beberapa penyakit. Tikus juga dapat merugikan manusia karena menghabiskan dan merusak makanan, tanaman, barang-barang dan lain-lain. Kehidupan tikus disebut juga commensal yaitu makan dan tinggal di dekat kehidupan manusia.
Dilihat dari sudut estetika dan pelayanan umum, tikus dapat menimbulkan citra kurang baik karena mengganggu ketenangan dan kenyamanan, terutama, bila dihubungkan dengan bidang pariwisata.
Hal-hal yang perlu di perhatikan untuk menentukan jenis/spesies tikus adalah sebagai berikut :
a. Warna dan jenis rambut
b. Warna ekor
c. Panjang ekor dari pangkal sampai ujung yaitu dari anus sampai ujung ekor tapi tidak termasuk rambut yang ada di ujung ekor
d. Bentuk dan ukuran tengkorak
e. Panjang total dari ujung hidung sampai ujung ekor
f. Panjang kepala dan badan. Luruskan badan (tulang punggung terbentang lurus) dan ukur dari ujung hidung sampai anus
g. Panjang telapak kaki belakang dari tumit sampai ujung kuku, letakkan kaki belakang di penggaris. Ukur dari tumit sampai ujung jari kaki yang paling panjang, tapi tidak termasuk kuku jari kaki
h. Panjang telinga. Biarkan telinga tegak secara alamiah, ukur dari pangkal daun telinga sampai ujung dan pengukuran dilakukan pada bagian yang paling panjang
i. Berat badan (gram)
j. Jumlah puting susu pada tikus betina yaitu jumlah puting susu bagian dada dan perut (dada + perut). Contoh 2 + 3 = 10 artinya 2 pasang di bagian dada dan 3 pasang di bagian perut sama dengan 10 buah.
Jenis Tikus Ordo Rodentia terdiri dari 2000 spesies, dari subordo Myomorpha (tikus), ada sekitar 15 spesies genus Mus dan lebih dari 500 spesies genus Rattus tersebar di seluruh dunia, kurang lebih 150 spesies tikus yang ada di Indonesia dan hanya beberapa spesies yang paling berperan sebagai hama tanaman, permukiman dan penyebar penyakit pada manusia, yaitu Bandicota indica, Bandicota bengalensis, Rattus norvegicus, Rattus tanezumi, Rattus tiomanicus, Rattus argentiventer, Rattus exulans, Mus musculus, Mus caroli. Dari semua jenis tikus tersebut hanya empat yang menjadi hama penting di bidang permukiman yaitu Bandicota indica, Rattus norvegicus, Rattus tanezumi, Mus musculus. Rodentia komensal (Rodentia yang aktivitas hidupnya di lingkungan permukiman manusia) yang umum dan luas penyebarannya di dunia adalah Rattus norvegicus, Rattus tanezumi, Mus musculus, selain itu jenis tikus yang banyak ditemukan di kapal yang didapat dari pelaksanaan fumigasi yaitu Rattus tanezumi.(7) Berikut ini beberapa spesies tikus dengan ciri-cirinya :
Rattus tanezumi (tikus rumah)
 Spesies ini sangat dominan, terdapat hampir di seluruh dunia, disebut juga tikus rumah (tikus atap), dengan ciri-ciri :
1)      Warna badan atas dan bawah coklat tua kelabu, tinggal dalam rumah dan gudang
2)      Warna ekor semuanya berwarna gelap
3)      Panjang mulai dari kepala sampai ujung ekor (TL = Total Length) 220 – 370 mm
4)      Panjang ekor (T = Tail)  berkisar antara 95 – 115 % dari TL
5)      Panjang telapak kaki belakang (HF = Hind Foot) 33 – 38 mm
6)      Panjang telinga (E = Ear)  19 – 23 mm dan besar
7)      Mammae (M) betina sebanyak 10 buah (2 pasang di bagian dada dan 3 pasang di bagian perut)
8)      Berat (W = Weight) keseluruhan berkisar antara 80 – 300 gram
9)      Kotoran berbentuk kumparan , ± 1, 25 cm.

 Rattus norvegicus (tikus riol)
Spesies ini membuat sarang dengan menggali pada saluran air kotor, di bawah pondasi bangunan dan tempat-tempat yang lembek, banyak terdapat di kota-kota pelabuhan, dengan ciri-ciri :
1)      Bentuk badan besar, moncong tumpul2)      Warna badan coklat kelabu, warna ekor bagian atas agak coklat kegelapan dan bagian bawah berwarna keputih-putihan.3)      TL = 300 – 400 mm4)      T = 80 – 100 %5)      HF = 42 – 47 mm6)      E = 18 – 22 mm, berukuran kecil7)      M = 12 buah (3 pasang + 3 pasang)8)      W = 150 – 600 gram9)      Kotoran besar-besar berbentuk sosis, ± 2 cm.

Mus musculus (mencit rumah)

Warna badan atas dan bawah coklat kelabu, ada juga warna badan bawah agak lebih putih dan ekornya polos seperti badannya, banyak terdapat di dalam rumah dan juga di lapangan rumput di luar rumah, dengan ciri-ciri :
1)      Badannya kecil sekali dengan W = 10 – 21 gram2)      TL = 175 mm3)      T = 95 – 115 %4)      HF = 12 – 18 mm5)      E = 8 – 12 mm6)      M = 10 buah (3 pasang + 2 pasang).

D. Rattus exulans (tikus ladang)
tikus4
 Gambar Rattus exulans
 Warna badan atas coklat kelabu, badan putih kelabu dan terdapat di belukar, kadang-kadang masuk rumah, dengan ciri-ciri :
1)      FL = 220 – 285 mm
2)      T = 95 – 120 %
3)      HF = 24 – 28 mm
4)      E = 17 – 20 mm
5)      M = 8 buah (2 pasang + 2 pasang)
6)      W = 25 – 75 gram.

E. Rattus tiomanicus (tikus belukar, tikus pohon)
tikus5
 Gambar Rattus tiomanicus
 Tikus ini biasanya terdapat pada semak dan kebun, dengan ciri-ciri sebagai berikut :
1)      TL = 245 – 397 mm
2)      T = 123 – 225 mm
3)      HF = 24 – 42 mm
4)      E = 12 – 29 mm
5)      M = 10 buah (2 pasang + 3 pasang)
6)      Warna bulu atas coklat kelabu dan warna bulu bawah putih kelabu.

F.Ratttus argentiventer ( tikus sawah)
tikus6Gambar Ratttus argentiventer
Tikus ini terdapat di sawah dan padang alang-alang, dengan ciri-ciri sebagai berikut :
1)      TL = 270 – 370 mm
2)      T = 130 – 192 mm
3)      HF = 32 – 39 mm
4)      E = 18 – 21 mm
5)      M = 12 buah (3 pasang + 3 pasang)
6)      Warna bulu atas coklat berbintik bintik putih dan warna bulu dibagian tubuh bawah kelabu kelabu.

G. Bandicota indica (wirok besar)
tikus7
Gambar Bandicota indica
 Tikus ini banyak terdapat di daerah berrawa, padang alang-alang dan kadang-kadang di kebun sekitar rumah, dengan ciri-ciri sebagai berikut :
1)      TL = 400 – 580 mm
2)      T = 160 – 315 mm
3)      HF = 47 – 53 mm
4)      E = 29 – 32 mm
5)      M = 12 buah (3 pasang + 3 pasang)
6)      Warna bulu atas coklat hitam dan warna bulu pada bagian bawah berwarna coklat hitam.

H. Bandicota bengalenses(wirok kecil)
tikus8
Gambar Bandicota bengalenses
 Tikus ini terdapat di gudang, permukiman manusia, saluran buangan air di perumahan (got), dengan ciri-ciri sebagai berikut:
1)      TL  = 360 – 510 mm
2)      T = 150 – 250 mm
3)      HF = 45 – 55 mm
4)      E = 29 – 33 mm
5)      M =12 buah ( 3 pasang + 3 pasang)
6)      Warna bulu atas coklat hitam kelabu dan warna bulu bagian bawah coklat hitam kelabu. (Diolah dari berbagai sumber).


Oleh : Mukhammad Pujianto (staf Seksi Pengendalian Risiko Lingkungan (PRL) KKP Kelas II Semarang) (www.kespelsemarang.com)


Kamis, 03 Oktober 2013

entomologi serangga : MORFOLOGI INTERNAL SERANGGA


A. Sistem Pencernaan serangga
Serangga mempunyai pakan yang sangat bervariasi mulai dari pemakan tumbuh-tumbuhan, serangga lain, bangkai binatang, seresah, kayu, kertas, sampai dengan pemakan darah manusia. Dalam mencerna pakannya serangga mempunyai saluran pencernaan yang dimulai dari mulut - faringesophagus -  crop - proventriculus –ventriculus - pyloric ampulla - rectum - sampai ke anus sebagai tempat pembuangan.
Pakan serangga didalam mulut di hancurkan oleh mandibula yang berfungsi sebagai gigi serangga, kemudian pakan yang telah hancur diteruskan ke faringkemudian ke esophagus, pakan untuk sementara disimpan di dalam crop. Setelah dari crop diteruskan lagi ke dalamproventriculus yang berfungsi sebagai penggerinda pakan, pakan yang telah halus kemudian masuk ke dalam ventriculus yang merupakan daerah penyerapan sari-sari makanan oleh tubuh serangga. Pakan yang sudah diserap sari makanannya diteruskan ke pyloric ampulla kemudian diteruskan kerectum dan dibuang melalui anus.
Saluran pencernaan serangga dibagi tiga bagian utama yaitu foregutmidgut, danhindgut yang oleh beberapa ahli juga disebut sebagai stomodeummesenteron, dan proctodeum.
Foregut terdiri dari faring yang terletak di setelah mulut serangga; esophagus berbentuk seperti tabung; crop berbentuk seperti tabung yang membesar berfungsi sebagai tembolok; dan proventriculus berupa bagian seperti pipa pendek yang dinding bagian dalamnya dilengkapi dengan gerigi yang digunakan untuk menggerinda pakan.

Midgut terdiri dari katup stomodeal yang berfungsi sebagai pintu keluarnya pakan dari proventriculus ke ventriculus dan menghambat masuknya cairan pakan kearah yang berlawanan; Ventriculus berupa seperti tabung yang membesar hampir sama dengan crop tetapi fungsinya berbeda. Ventriculus merupakan daerah penyerapan sari-sari makanan.

Hindgut terdiri dari katup pyloric yang berfungsi sebagai pintu masuknya pakan dari ventriculus ke pyloric ampulla dan menghambat masuknya pakan dari arah sebaliknya; malpighian tubule berbentuk seperti usus memanjang; pyloric ampulla yang berupa daerah pertemuan antara malpighian tubule dan ventriculus; rectum berbentuk seperti pipa yang menggelembung berisi sisa-sisa makanan yang akan dibuang: anus tempat pembuangan sisa-sisa makanan yang tidak diperlukan lagi dalam tubuh serangga.

Bentuk morfologi sistem pencernaan serangga sangat bervariasi berdasarkan stadia dan jenis pakannnya. Pada gambar tersebut menunjukkan bahwa terjadi perbedaan morfologi sistem pencernaan pada setiap fase pertumbuhan seranggaMalacosoma americanum.

Pada serangga yang bertipe alat mulut penusuk-pengisap terdapat bagian yang disebut salivary gland dan salivary canal. Salivary gland merupakan kelenjar ludah yang menghasilkan enzim pencernaan yang disekresikan oleh serangga melalui salivary canal sesaat sebelum serangga tersebut menghisap pakannya. Serangga-serangga yang mempunyai kelenjar ludah ini umumnya adalah ordo Hemiptera dan Diptera. Pada bidang pertanian serangga jenis ini bisa jadi sangat merugikan karena berpotensi besar sebagai vektor patogen (virus, bakteri, dan mikoplasma).
B. Sistem Pernafasan
Serangga bernafas mengambil O2 dari udara dan mengeluarkan CO2 melalui sederetan lubang pada bagian lateral tubuhnya. Lubang –lubang tempat keluar-masuknya udara tersebut disebut spirakel, dari spirakel udara diteruskan menuju trachea yaitu merupakan tabung tidak bercabang yang berisi udara kemudian udara diteruskan menuju tracheolus yang merupakan tabung yang lebih kecil dari trachea dan bercabang-cabang. Tracheolus ini berujung pada jaringan tubuh serangga.
Keluar masuknya udara melalui spirakel dibantu oleh gerakan-gerakan otot yang berhubungan dengan sistem syaraf pusat. Di dalam sistem pernafasan serangga dikenal juga adanya kantung udara yang berupa kantung yang bisa mengembang dan mengempis yang berfungsi untuk menurunkan berat badan, mendistribusikan udara, mendinginkan suhu tubuh serangga ketika serangga terbang, dan untuk meningkatkan tekanan tubuh selama masa pergantian kulit.
Pada serangga terdapat dua sistem pernafasan yaitu sistem pernafasan terbuka dan sistem pernafasan tertutup. Sistem pernafasan terbuka umumnya terdapat pada serangga-serangga terrestrial, contoh serangganya adalah serangga ordo Orthoptera, Hemiptera, dan Strepsiptera. Sistem pernafasan tertutup terdapat pada serangga-serangga aquatik (yang hidup di dalam air), contoh serangganya adalah serangga ordo Odonata, Ephemeroptera, Trichoptera, sebagian kecil ordo Coleoptera, Diptera, dan Lepidoptera. Sistem pernafasan tertutup pada prinsipnya sama dengan sistem pernafasan terbuka hanya pada bagian spirakelnya tidak berupa sebuah lubang tetapi berupa sebuah lembaran atau berupa benang yang berfungsi sebagai insang (trachea berada di dalam lembaran insang) dan Omasuk ke dalam insang dengan cara difusi.

C. Sistem Peredaran Darah
Sistem peredaran darah pada serangga dikenal dengan sistem peredaran darah terbuka yaitu darah serangga bersirkulasi di dalam tubuh tanpa melalui pembuluh darah atau vena secara lengkap. Peredaran darah pada serangga dibantu oleh gerakan-gerakan otot yang mampu memompa darah bersirkulasi secara baik. Serangga hanya mempunyai pembuluh darah dorsal yang berada di sepanjang tubuh serangga bagian dorsal dan terbuka pada daerah caput.
Darah serangga mengalir dari bagian anterior melalui hemocoel (merupakan ruang dalam tubuh serangga yang dilalui darah) kemudian darah masuk ke dalam lubang-lubang ostia pada pembuluh dorsal, di dalam ostia darah kembali ke bagian anterior melalui aorta hingga ke daerah caput lagi. Pembuluh darah dorsal yang terdapat lubang ostianya seringkali juga dikenal sebagai jantung serangga. Jantung serangga ini berupa tabung berotot yang bisa berkontraksi dan merupakan pembuluh yang sempit yang pada kedua sisi lateralnya berlubang vertikal yang disebut dengan ostia. Ostia mempunyai katup yang menghalangi aliran darah keluar dari jantung.
Aorta berupa tabung kecil yang berfungsi sebagai tempat mengalirnya darah serangga ke bagian caput, daerah tersebut bermuara di belakang dan di bawah otak. Selain darah serangga bersirkulasi di dalam tubuh serangga, darah juga bersirkulasi di dalam venasi sayap. Salah satu contohnya adalah sirkulasi darah yang terjadi pada sayap lalat rumah (Diptera: Muscidae).
Darah serangga disebut dengan haemolymph yang terdiri dari cairan plasma yang merupakan suspensi sel darah atau disebut haemocytes. Ada beberapa tipe sel darah serangga (haemocytes) tetapi klasifikasi yang secara komprehensif sangat sulit dilakukan karena setiap individu mempunyai kekhasan sel darah dan kenampakan yang berbeda-beda pada kondisi yang berbeda dan penggunaan teknik pengamatan yang berbeda. Tetapi secara umum sel darah serangga dapat dikategorikan ke dalam empat tipe utama yaitu prohaemocytes, plasmatocytes, granular haemocytes, cystocytes (coagulocytes).
Prohaemocytes merupakan sel yang berbentuk bulat kecil dengan nuclei yang relatif besar dan terdapat basophilic citoplasma yang mengandung ribosom yang sangat banyak tetapi sedikit mengandung reticulum endoplasma.

Plasmatocytes yang merupakan tipe sel darah yang banyak dijumpai pada sebagian besar serangga bentuknya sangat bervariasi dengan sebuah basophilic citoplasma yang mengandung beberapa ribosom, mitokondria, dan beberapa bentuk vakuola. Sel darah ini bersifat phagositic.

Granular haemocytes juga bersifat phagositic seperti plasmatocytes perbedaannya adalah terletak pada granular haemocytes terdapat  butiran-butiran acidophilic yang tampak sebagai membran yang bulat bila dilihat dengan menggunakan mikroskop electron. Sel-sel darah ini juga mengandung reticulum endoplasmic yang kasar dan melimpah.

Cystocytes (coagulocytes) jika dilihat dengan phase contras microscope terdapat butiran-butiran hitam kecil dengan ujung meruncing yang bertebaran.


Selain keempat tipe sel darah tersebut masih ada tipe sel darah yang hanya terdapat pada serangga-serangga tertentu, yaitu oenocytoids yang terdapat pada Coleoptera, Lepidoptera, dan beberapa Diptera dan Hemiptera subordo Heteroptera.
D. Sistem Syaraf
Berbagai aktivitas serangga dan beberapa sistem yang bervariasi di dalam tubuh serangga selalu berhubungan dengan sistem syaraf.   Sistem syaraf ini terdiri dari sel yang memanjang disebut neuron yang merupakan pembawa informasi dalam bentuk impuls elektrik dari sel-sel sensor eksternal dan internal ke effector yang cocok. Sel-sel tersebut juga disebut sebagai gliar cells yang melindungi, mendukung, dan menyediakan nutrien untuk neurons.
Berdasarkan pada anatomi internal sistem syaraf serangga dibagi tiga bagian utama yang merupakan bagian-bagian yang saling berhubungan. Tiga bagian utama tersebut adalah Central Nervous System (CNS),Visceral Nervous System (VNS), danPheriveral Nervous System (PNS). Central Nervous System (sistem syaraf pusat) pada serangga tersusun atas sebuah rantai ganda ganglia yang tersambung secara lateral dan longitudinal.
Otak serangga mempunyai struktur yang sangat kompleks dan terletak dibagian dorsal foregut di dalam caput. Otak serangga terbentuk dari tiga bagian yang menyatu yaitu protocerebrum, deuterocerebrum, dan tritocerebrum.
Protocerebrum berhubungan dengan sensor pada mata majemuk dan oceli, deuterocerebrum berhubungan dengan sensor antena, dan tritocerebrum berhubungan dengan sensor labrum dan usus depan. Sel-sel syaraf serangga disebut juga neuron yang terbagi atas tiga tipe yaitu neuron indra yang membawa impuls syaraf indra; neuron perantara yang menghubungkan antara neuron indra dengan neuron motor; dan neuron motor yang membawa impuls dari pusat integrasi ke otot.

Sistem pengontrol aktivitas foregut dan pembuluh bagian dorsal serangga adalah sistem syaraf stomodeal. Sistem syaraf stomodeal ini merupakan komponen utama yang mengawali terbentuknya pasangan syaraf yang mencakup sistem pencernaan dan dua pasang kelenjar endokrin (corpora cardiaca dan corpora alata). Kedua kelenjar ini berperan penting dalam pertumbuhan dan perkembangbiakan serangga.
E. Sistem Reproduksi
Serangga berkembangbiak dengan cara yang sangat bervariasi, umumnya serangga mempunyai satu jenis kelamin pada satu individu tetapi beberapa serangga tertentu memiliki dua jenis kelamin dalam satu individu (hermaprodit).
Serangga betina memiliki sepasang ovari (indung telur) dan setiap indung telur terdiri atas sejumlah ovariole yang berbentuk seperti tabung yang di dalamnya terdapat sejumlah ovum. Ovari berbentuk oval dengan ujung yang meruncing yang disebut terminal filament. Pada bagian pangkal ovari terdapat calyx yang merupakan pertemuan antar cabang pada bagian pangkal ovariole. Bagian yang merupakan tangkai dari ovari yang bercabang dua disebut lateral oviduct, lateral oviduct ini bertemu pada satu titik menjadi sebuah tangkai yang menghubungkan dengan vagina yang disebut common oviduct. Didalam sistem reproduksi serangga betina terdapat spermatecha (kantung sperma) dan spermatechal gland (kelenjar spermatecha). Kantung sperma ini berfungsi sebagai penyimpan sperma setelah terjadi perkawinan dengan jantan yang digunakan untuk vertilisasi telur. Selain spermatecha juga terdapat sepasang atau dua pasangaccessory gland atau kelenjar tambahan. Kelenjar tambahan ini struktur dan fungsinya sangat bervariasi, misalnya pada kecoa sekresi yang dikeluarkan dari kelenjar tambahan ini berbentuk sebuah kapsul atau ootheca yang mengelilingi telur dan terjadi akumulasi di dalam bursa capulatrix.
Sistem reproduksi serangga jantan terletak di bagian posterior abdomen dan terdiri dari sepasang gonad (testes) yang terhubung oleh beberapa  saluran yang membuka dan berhubungan dengan organ seksual (aedeagus=penis). Sepasang testes berbentuk membulat yang didalamnya terdapat beberapa testicular folikel yang berpangkal pada vas efferens yang tersambung pada sebuah tangkai yang disebut vas defferens. Vas defferens tersebut berpangkal pada sebuah bagian yang disebut seminal vesicle. Pada sistem reproduksi jantan terdapat ejaculatory ductyang merupakan saluran terakhir dari alat reproduksi yang berujung pada aedeagus.

entomologi serangga : MORFOLOGI EKSTERNAL SERANGGA


Serangga adalah invertebrata beruas yang memiliki kerangka luar (eksoskeleton). Eksoskeleton selain berfungsi sebagai kulit serangga juga berfungsi sebagai penyangga tubuh, alat proteksi diri, dan tempat melekatnya otot. Kulit serangga disebut integumen yang terdiri dari kutikula dan lapisan epidermis. Kutikula merupakan lapisan tipis yang strukturnya sangat kompleks yang terdiri dari epikutikula dan prokutikula. Epikutikula merupakan lapisan terluar integumen dan merupakan lapisan yang tipis, sedangkan prokutikula merupakan lapisan tebal yang terdiri atas eksokutikula dan endokutikula.
Epikutikula mempunyai ketebalan antara 0,1 sampai dengan 3 µm yang tersusun dari tiga lapisan yaitu lapisan superficial, epikutikula bagian luar, dan epikutikula bagian dalam. Epikutikula merupakan lapisan yang sangat vital dalam mencegah terjadinya dehidrasi dan bersifat hidrofobik.
Prokutikula mempunyai ketebalan 0, 5 sampai dengan 10 µm yang tersusun dari dua lapisan yaitu lapisan eksokutikula dan endokutikula. Bahan utama pembentuk prokutikula adalah kitin kompleks dengan protein. Kitin berperan sebagai elemen penyangga dan merupakan bahan khusus yang sangat penting dalam struktur ekstraseluler serangga. Kitin ini tersusun atas polimer tidak bercabang yaitu sebuah polisakarida yang tersusun dari β(1-4) yang merupakan unit yang tersambung pada N-asetil-D-glukosamin.
Bagian kulit yang mengeras atau mengalami sklerotisasi disebut sklerit. Sklerit ini bisa berupa bidang, garis, galur, kerutan, atau lipatan; galur dan garis biasa juga disebut suture. Pada permukaan integumen terdapat beberapa proses eksternal yang membentuk kerutan, taji, sisik, duri, dan rambut. Selain proses eksternal juga terdapat proses internal yang membentuk apodem. Apodem merupakan area internal tempat melekatnya otot serangga.
Serangga dewasa tubuhnya terbagi atas tiga bagian, yaitu caputtorak, danabdomen. Caput merupakan sebuah konstruksi yang padat dan keras dan terdapat beberapa suture yang menurut teori evolusi caput tersebut terdiri dari empat ruas yang mengalami penyatuan. Torak terdiri dari tiga ruas yang jelas terlihat, sedangkan abdomen terdiri dari + 9 ruas.
Caput merupakan kepala serangga yang berfungsi sebagai tempat melekatnya antena, mata majemuk, mata oseli, dan alat mulut. Berdasarkan posisinya kepala serangga dibagi menjadi tiga, yaituhypognathousprognathous, danephistognathous. Hypognathous apabila alat mulutnya menghadap ke bawah, contoh serangganya adalah belalang Acrididae; prognathous apabila alat mulutnya menghadap ke depan, contoh serangganya adalah kumbang Carabidae; dan ephistognathous apabila alat mulutnya menghadap ke belakang, contoh serangga adalah semua serangga ordo Hemiptera.
Antena serangga berjumlah dua atau sepasang, berupa alat tambahan yang beruas-ruas dan berpori yang berfungsi sebagai alat sensor. Bagian-bagian antena adalah antenifer, soket, scape, pedicel, meriston, dan flagelum. Bentuk antena serangga sangat bervariasi berdasarkan jenis dan stadiumnya.
Mata serangga terdiri dari dua macam yaitu mata majemuk dan mata oseli. Mata majemuk berfungsi sebagai pendeteksi warna dan bentuk, sedangkan mata oseli atau biasa disebut mata tunggal berfungsi sebagai pendeteksi intensitas cahaya. Mata majemuk terdiri dari beberapa ommatidia dan mata tunggal terdiri dari satu. Sebagai contoh, mata majemuk capung terdiri dari 28.000 ommatidia dan satu ommatidiumnya berukuran + 10 µm.
Serangga makan dengan menggunakan mulutnya. Ada beberapa tipe alat mulutserangga, yaitu: penggigit-pengunyah, penggigit-pengisap, penusuk-pengisap, pemarut-pengisap, pengait-pengisap, pencecap-pengisap, dan pengisap.
Leher serangga merupakan daerah bermembran yang disebut cervix. Pada bagian cervix terdapat sepasang cervicalsklerit. Sepasang cervical sklerit ini berfungsi sebagai engsel yang menghubungkan antara caput dengan torak. Pada beberapa serangga cervix sklerit ini menyatu dengan pleura pada protoraks.
Toraks adalah bagian yang menghubungkan antara caput dan abdomen. Torak serangga terdiri dari tiga ruas yaitu protorak, mesotorak, dan metatorak [Gambar 6].  Torak juga merupakan daerah lokomotor pada serangga dewasa karena pada torak terdapat tiga pasang kaki dan dua atau satu pasang sayap (kecuali ordo Thysanura tidak bersayap). Torak bagian dorsal disebut notum.
Kaki serangga dewasa berjumlah tiga pasang, sedangkan pada fase pradewasa jumlah kakinya sangat bervariasi tergantung spesiesnya. Secara umum kaki serangga terdiri dari beberapa ruas yaitu trochantin,coxatrochanterfemurtibiatarsus,pretarsus, dan claw. Bentuk kaki serangga dewasa juga sangat bervariasi berdasarkan pada fungsinya. Kaki yang digunakan untuk meloncat disebut saltatorial, menggali disebut fosorial, berlari disebut kursorial, berjalan disebut gresorial, menangkap mangsa disebut raptorial, dan berenang disebut natatorial.
Sayap serangga terdiri dari dua atau satu pasang. Serangga bersayap pada fase dewasa dan pradewasa khusus pada Ephemeroptera yang biasa disebut fase subimago/preimago. Sayap serangga secara umum berupa lembaran yang bervena berfungsi untuk terbang. Venasi sayap ini penting untuk diketahui sebagai dasar untuk menentukan spesies serangga tertentu, khususnya bangsa lalat dan tawon. Sayap serangga bentuknya sangat bervariasi, oleh karena itu entomologist memilahkan bentuk-bentuk sayap ini sebagai dasar untuk menentukan ordo. Sayap depan kumbang sangat tebal dan kuat yang digunakan sebagai pelindung tubuhnya disebut elytra; sayap depan kepik yang separuh bagian basal tebal disebut corium dan selebihnya membran, sayap depan kepik ini disebut hemelytra; sayap depan kecoa disebut tegmina; dan sayap belakang lalat yang disebut halter berukuran sangat kecil berujung membulat berfungsi sebagai alat penyeimbang ketika terbang.
Abdomen serangga merupakan bagian tubuh yang memuat alat pencernaan, ekskresi, dan reproduksi. Abdomen serangga terdiri dari beberapa ruas, rata-rata 9-10 ruas. Bagian dorsal dan ventral mengalami sklerotisasi sedangkan bagian yang menghubungkannya berupa membran. Bagian dorsal yang mengalami sklerotisasi disebut tergit, bagian ventral disebut sternit, dan bagian ventral berupa membran disebutpleura.

entomologi serangga : CARA KOLEKSI SERANGGA


A. Metode Koleksi

Serangga merupakan organisme yang sangat melimpah keberadaannya dan mampu hidup dimana saja, baik di darat maupun di air. Habitat serangga sangat bervariasi, masing-masing spesies mempunyai kekhasan tempat hidup oleh karena itu perlu dipikirkan metode penangkapan dan koleksi yang tepat untuk mendapatkan spesies serangga yang diinginkan. Masing-masing metode dikembangkan untuk menangkap serangga yang khas yang didasarkan pada perilaku dan habitatnya.

Koleksi serangga memerlukan peralatan tertentu yang telah disiapkan di dalam tas cangklong yang sewaktu-waktu siap untuk dikeluarkan. Peralatan tersebut adalah:

- Aspirator
- Jaring serangga
- Pinset
- Botol pembunuh
- Vial yang berisi alkohol 80%
- Kertas HVS dibentuk segitiga
- Kantong plastik
- Kantong kertas
- Kuas kecil
- Pisau kecil/pisau lipat
- Buku catatan
- Pensil
- Kertas label

1. Penangkapan serangga dengan menggunakan aspirator

Aspirator digunakan untuk menangkap serangga yang kecil dan pergerakannya sangat cepat, seperti: parasitoid ordo Hymenoptera, lalat Agromyzidae, trip, dan afid. Aspirator ini bisa digunakan langsung untuk menyedot serangga pada tanaman atau serangga-serangga kecil yang berada di dalam jaring serangga [kombinasi]. Semua serangga yang telah ditangkap kemudian dibunuh dengan cara dimasukkan kedalam botol pembunuh.

2. Penangkapan serangga dengan menggunakan tangan/pinset/kuas

Cara penangkapan ini efektif untuk serangga yang relatif besar dan pergerakannya relatif tidak begitu gesit, seperti: ulat daun, belalang sembah, kumbang, dan semut. Penangkapan dengan menggunakan tangan perlu suatu pengalaman dan keterampilan khusus. Hal yang perlu diperhatikan adalah ketika hendak menangkap serangga-serangga yang beracun atau bersengat, seperti ulat api famili Limacodidae dan semut subfamili Ponerine maka perlu alat bantu berupa pinset. Sedangkan kuas juga dapat digunakan sebagai alat bantu untuk menangkap serangga-serangga kecil yang lunak, seperti: nimfa Ephemeroptera dan Plecoptera.

3. Penangkapan serangga dengan menggunakan jaring serangga

Ada tiga jenis jaring yang umum dipakai untuk menangkap serangga, yaitu:

(1) Aerial nets adalah jaring yang digunakan dengan bantuan tangan untuk menangkap serangga yang aktif terbang, seperti: kupu-kupu, capung, lebah, dan tawon. Sebaiknya gagang jaring dibuat dari bahan yang sangat ringan dan jaringnya terbuat dari kain kasa yang lembut. Biasanya kain kasa yang dipakai berwarna putih, tetapi beberapa ahli lebih suka menggunakan kain kasa yang berwarna hitam untuk menghindari terjadinya pantulan cahaya yang membuat takut serangga sebelum terjaring. Semua serangga yang telah ditangkap kemudian dibunuh dengan cara dimasukkan kedalam botol pembunuh.

 (2) Sweep nets adalah jaring yang digunakan dengan bantuan tangan untuk menangkap serangga-serangga kecil yang gesit dan berada di rerumputan atau pada pucuk-pucuk tanaman, seperti: kumbang Coccinellidae, wereng Cicadellidae dan Delphacidae. Semua serangga yang telah ditangkap kemudian dibunuh dengan cara dimasukkan kedalam botol pembunuh.

(3) Aquatic nets adalah jaring yang digunakan dengan bantuan tangan untuk menangkap serangga-serangga yang hidup didalam air [serangga air], seperti: larva Trichoptera dan Lepidotera.

4. Penangkapan serangga dengan menggunakan beating sheets

Metode ini dilakukan dengan cara penggoyangan tumbuhan dengan keras yang dibawahnya telah dipasang beating sheets. Penangkapan dengan cara ini sangat sesuai untuk serangga-serangga yang tidak bersayap terutama efektif untuk serangga yang berklamufase dengan tumbuhan atau tersembunyi dan juga untuk serangga-serangga yang pergerakannya lamban, seperti: serangga ordo Phasmatodea, beberapa serangga ordo Coleoptera, Hemiptera, dan Hymenoptera. Semua serangga yang telah ditangkap kemudian dibunuh dengan cara dimasukkan kedalam botol pembunuh.

5. Penangkapan serangga dengan menggunakan kain/wadah bentuk kerucut sebagai tadah

Metode ini dilakukan dengan cara penyemprotan zat beracun atau insektisida pyrethroid pada tumbuhan yang dibawahnya telah dipasang kain sebagai wadah serangga-serangga yang mati dan jatuh. Cara ini sangat efektif untuk serangga-serangga yang hidup pada kanopi pohon, seperti beberapa serangga ordo Hymenoptera, Hemiptera, dan Phasmatodea yang tidak bisa dijangkau oleh tangan atau jaring serangga.

6. Penangkapan serangga dengan menggunakan corong Berlese

Metode ini dilakukan dengan cara mengambil seresah tumbuhan yang kemudian diletakkan di dalam corong Berlese. Cara ini efektif untuk menangkap serangga-serangga sangat kecil yang hidup di dalam seresah umumnya berperan sebagai pengurai bahan organik, seperti: beberapa jenis semut, kumbang Tenebrionidae, Thysanura, dan beberapa Hexapoda bukan serangga seperti Collembola, Protura, dan Diplura.

7. Penangkapan serangga dengan menggunakan perangkap

Macam-macam perangkap yang biasa digunakan untuk koleksi serangga adalah:

a. Pitfall, digunakan untuk memerangkap serangga yang aktif berjalan diatas tanah, seperti semut, kumbang Carabidae dan Tenebrionidae.
b. Lampu, digunakan untuk menangkap serangga yang aktif pada malam hari, seperti Noctuidae, Saturniidae, dan Sphingidae.
c. Feromon Seks atau Seks Feromoid, digunakan untuk menarik serangga jantan yang terpikat, seperti Plutella xyllostela
d. Aroma pakan sebagai zat pemikat [Methyl Eugenol dan Cue Lure] digunakan untuk menangkap serangga yang membutuhkan pakan tertentu yang beraroma dan mutlak diperlukan untuk kepentingan seksualnya, seperti Bactroceraspp. dan Dacus spp.

B. Metode Pengawetan Serangga
Pengawetan serangga yang benar membutuhkan suatu pengetahuan dan keterampilan yang cukup. Serangga awetan [Spesimen] sangat penting untuk keperluan penelitian terutama yang berkaitan dengan biodiversitas serangga. Pengawetan serangga yang salah dapat berakibat fatal bagi spesimen yang disimpan. Pengawetan serangga diperlukan peralatan-peralatan khusus seperti:
- Relaxing dish
- Pinset
- Span block
- Pinning block
- Jarum serangga
- Jarum penthol
- Lem PVAC
- Kertas karding
- Botol koleksi
- Alkohol 80%
- Kertas label
- Pensil atau tinta tahan luntur

Pengawetan serangga dan artropoda lain dilakukan dengan cara yang berbeda-beda pada setiap spesies dan fase tumbuhnya. Ada dua cara pengawetan yang umum dilakukan, yaitu pengawetan kering dan pengawetan basah.

Pengawetan kering dilakukan untuk serangga-serangga yang bertubuh keras [umumya fase imago] dengan cara di pin [ditusuk dengan jarum preparat atau di karding]. Jarum yang digunakan untuk menusuk spesimen serangga harus jarum anti karat atau stainless steel (bukan dari baja hitam atau dari kuningan) sebab jarum non-stainless akan cepat berkarat apabila terkena cairan tubuh serangga. Ukuran diameter dan panjang jarum bervariasi mulai dari nomor 00 sampai 9. Apabila jarum ditusukkan secara tidak langsung ke tubuh serangga, seperti halnya karding, jarum stainless steel tidak perlu dipergunakan, cukup dengan jarum dari baja. Beberapa serangga besar akan berubah warna atau kotor apabila diawetkan kering, oleh sebab itu perlu dilakukan proses pengeluaran isi perut atau ‘gutting’ sebelum serangga di pin. Buat belahan sedikit di salah satu sisi pleural membrane diantara sternal dan tergal plates. Pergunakan pinset untuk mengeluarkan alimentary canal, alat pencernaan makanan perlu hati-hati jangan sampai sambungan anterior dan posterior patah. Bagian perut kemudian dibersihkan dengan cermat dengan kapas dan tissue. Perutnya kemudian dibentuk kembali dengan diisi kapas agar bentuk abdomen kembali seperti sebelumnya. Belahan pada ujung pleural membrane kemudian dirapatkan kembali dan harus tertutup kembali sebelum serangga kering.

Pengawetan basah dilakukan untuk serangga-serangga yang bertubuh lunak [umumnya fase larva] dilakukan dengan cara menyimpan serangga didalam botol yang telah diisi dengan alkohol 80%, dengan ketentuan bahwa spesimen yang diawetkan dalam alkohol harus disimpan dalam botol gelas dengan tutup yang rapat. Menggunakan botol plastik tidak baik untuk tempat spesimen karena mudah retak apabila diisi dengan alkohol. Pilih botol yang cukup besarnya agar spesimen tidak tertekuk dan hancur, selain itu juga akan memudahkan pengambilan pada saat akan diteliti/diamati.

Setiap spesies serangga dan artropoda lain mempunyai kekhasan cara pengawetan, secara umum dapat dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut:

LABA-LABA
Matikan dan awetkan dalam 80% ethanol. Sedikit ditambah glycerol pada ethanol akan membuat spesimen lemas (fleksibel).

COLLEMBOLA
Matikan dalam 80% ethanol. Jernihkan dalam KOH dan slide mount di euparal dengan spesimen diletakkan pada sisi kanan. Peletakan gelas obyektif dan de glass dengan menggunakan kutek tak berwarna.

PROTURA
Matikan dalam 80% ethanol. Jernihkan dalam KOH dan slide mount di euparal dengan spesimen diletakkan pada sisi ventral. Peletakan gelas obyektif dan de glass dengan menggunakan kutek tak berwarna.

DIPLURA
Matikan dalam 80% ethanol, jernihkan dalam KOH dan slide mount dalam euparal. Peletakan gelas obyektif dan de glass dengan menggunakan kutek tak berwarna.

THYSANURA
Matikan dan awetkan dalam 80% ethanol.

ODONATA
Matikan dalam botol pembunuh, sebaiknya capung dewasa dibiarkan hidup selama satu atau dua hari di dalam kertas amplop agar isi perutnya terserap tubuh. Serangga yang mati akan mengalami pembusukan isi perutnya sehingga akan mempengaruhi warna kulit perutnya atau bahkan putus karena busuk. Setelah capung dewasa mati, tusuklah dengan jarum serangga pada bagian tengah mesothorax (jarum harus keluar dari bagian bawah tubuh diantara pasangan kaki pertama dan kaki kedua). Kembangkan kedua pasang sayapnya dengan ketentuan letak anterior pinggir sayap belakang tegak lurus dengan tubuh dan letak sayap depan simetris.

ORTHOPTERA
Matikan belalang dewasa dalam botol pembunuh. Tusuklah dengan jarum serangga pada bagian kanan mesothorax (biasanya pada dasar sayap depan bagian kanan) belalang dewasa; bentangkan sayap bagian kiri dengan pinggir anterior sayap belakang membentuk garis tegak lurus  dengan tubuh; atur kaki dengan sempurna dan antena yang panjang diatur menjulur ke belakang di atas tubuh.

MANTODEA
Matikan dalam botol pembunuh, untuk nimfa awetkan dalam 80% ethanol. Belalang sembah dewasa diawetkan dengan cara ditusuk dengan jarum serangga pada garis tengah mesothorax bagian kanan dan kembangkan sayap depan dan belakang sebelah kiri dengan pinggir anterior sayap belakang membentuk garis tegak lurus dengan tubuh. Isi perut belalang sembah betina yang besar harus dibersihkan dan diisi dengan kapas.

HEMIPTERA
Matikan dalam botol pembunuh. Tusuklah dengan menggunakan jarum pada bagian skutelum bagian kanan. Serangga yang kecil harus dikarding dengan cara menempelkan bagian tengah thorax (antara sepasang kaki depan dengan  sepasang kaki tengah) pada ujung kertas segitiga; posisi kepala berada disebelah kiri.

THYSANOPTERA
Matikan dalam 80% ethanol. Awetkan dalam lembaran kertas persegi panjang dengan bagian ventral menghadap ke atas, bentangkan sayap-sayapnya, kaki-kaki dan luruskan antenanya.

NEUROPTERA
Matikan dalam botol pembunuh. Awetkan dalam lembaran kertas karding dengan cara menempelkan bagian tengah thorax (antara sepasang kaki depan dengan  sepasang kaki tengah) pada ujung kertas segitiga; posisi kepala berada disebelah kiri. Larvanya awetkan dalam 80% ethanol.

COLEOPTERA
Tusuklah serangga dewasa tepat pada anterior elytron sebelah kanan sehingga jarum keluar diantara coxa tengah dan belakang; atur kaki-kakinya sehingga ruas-ruas tarsi dapat terlihat dengan jelas. Spesies dengan ukuran sangat kecil dikarding dengan cara menempelkan bagian tengah thorax (antara sepasang kaki depan dengan  sepasang kaki tengah) pada ujung kertas segitiga; posisi kepala berada disebelah kiri. Larva diawetkan dalam 80% ethanol.

DIPTERA
Tusuklah serangga dewasa pada bagian tengah mesothorax sebelah kanan. Atur sayap-sayapnya untuk spesies yang besar sehingga sayap mengembang pada sisi anterior membentuk posisi tegak lurus. Serangga yang ukuran tubuhnya kecil dikarding dengan cara menempelkan bagian tengah thorax (antara sepasang kaki depan dengan  sepasang kaki tengah) pada ujung kertas segitiga; posisi kepala berada disebelah kiri, sayapnya dinaikkan ke atas dan kaki-kakinya diatur ke arah bawah. Serangga dewasa famili Tipulidae diawetkan dalam 80% ethanol atau dilem dibagian thorax pada kartu segiempat sehingga kaki-kakinya menempel pada kartu dengan setetes lem pada setiap tibia. Larva diawetkan dalam 80% ethanol.

LEPIDOPTERA
Tusuklah dengan jarum pada bagian garis tengah mosthorax untuk serangga dewasa; atur kedua sayapnya dengan ketentuan sayap depan bagian posterior tegak lurus dengan badan, sayap kedua menyesuaikan. Pengaturan posisi sayap dilakukan pada span block. Larvanya diawetkan dalam 80% ethanol.

HYMENOPTERA
Tusuklah serangga dewasa pada bagian kanan garis tengah mesothorax; atur sayapnya agar terlihat jelas venasinya. Spesies yang kecil dan atau semua jenis semut perlu dikarding dengan cara menempelkan bagian tengah thorax (antara sepasang kaki depan dengan  sepasang kaki tengah) pada ujung kertas segitiga; posisi kepala berada disebelah kiri. Larvanya diawetkan dalam 80% ethanol.


C. Informasi label untuk spesimen

Serangga-serangga yang telah diawetkan harus diberi label agar mempunyai arti ilmiah. Label berisi informasi dasar mengenai tempat serangga ditemukan, tanggal serangga ditemukan, dan nama kolektornya. Selain itu juga perlu dituliskan nama spesies dan pendeterminasinya (dalam hal ini hanya sampai Ordo).

Lokasi:
Nama lokasi serangga itu ditemukan perlu dicatat sedemikian rupa sehingga tempat itu dapat ditemukan pada peta dengan baik. Nama kota atau desa tidak boleh disingkat untuk mencegah diartikan keliru dengan tempat lain oleh seseorang yang kurang mengenal daerah tersebut. Dengan meningkatnya penggunaan koleksi data-base dan kebutuhan yang berkaitan dengan standarisasi data secara internasional maka label-label di museum spesimen perlu mencantumkan pula garis lintang utara dan selatan seperti contoh sebagai berikut: 36002’S 142038’E.

Tanggal koleksi:
Tanggal koleksi akan memberi data tentang musim saat koleksi. Tulis hari/tanggal, bulan, dan tahun. Pergunakan sesuai perjanjian internasional dalam menulis hari dan tahun merujuk angka Arab dan bulan dengan angka Roman; sebagai alternative bulan dapat disingkat seperti 03.viii.1993 atau 03 Aug. 1993. jangan ditulis seperti ini: 03.08.1993 sebab dapat diartikan di beberapa Negara sebagai bulan Maret tanggal 8, 1993. Jangan menyingkat tahun 1993 dengan ’93. apabila beberapa hari berturut-turut dipergunakan untuk koleksi di sebuah lokasi, maka hari-hari tersebut dapat ditulis sebagai berikut: 03-06.xi.1994.

Kolektor:
Nama kolektor memungkinkan untuk berhubungannya kolektor dari suatu tempat (dalam/luar negeri) untuk saling bekerjasama dalam mencari informasi lebih lanjut atau menimbang kebenaran dari label yang tercantum. Tulis ejaan nama akhir kolektor atau nama depan disingkat.
Data lain: banyak informasi yang penting, tetapi tidak ada relevansinya atau tidak tersedia untuk semua serangga. Biasanya ditulis dalam label tersendiri sebagai tambahan data-data primer.
Misalnya:
• Catatan tentang inang serangga parasitik dan tanaman inang dari serangga fitopagus (apabila informasi tersebut dapat diketahui).
• Macam habitat secara rinci yang meliputi ketinggian tempat, tipe ekologi, dan kondisi cuaca saat koleksi.
Label untuk spesimen yang dipin dan atau dikarding harus dicetak rapi dengan tinta hitam yang tidak luntur dan berkualitas baik. Ukuran label tidak boleh lebih besar dari 18 mm x 8 mm dan apabila label pertama terlalu kecil untuk data, beberapa data harus ditulis lagi pada label kedua yang dideretkan di bawah label pertama di bawah pin spesimen tersebut. Label harus berjarak dari spesimen agar mudah dibaca dari atas. Label untuk spesimen di dalam alkohol harus ditulis dengan tinta hitam yang tidak luntur dengan kertas yang baik. Ukuran label tidak boleh lebih dari 5 x 2 cm; klasifikasi spesimen dan data koleksi harus ditulis pada label tersebut. Label harus dimasukkan ke dalam botol bersama-sama dengan spesimen tidak ditempel dengan lem diluar botol.

referensi :Suputa, Elisa UGM (Entomologi Serangga) www.elisa.ugm.ac.id

entomologi serangga :ARTI PENTING SERANGGA


Mengapa perlu belajar serangga?

A. Serangga berbeda dibanding hewan lain

1. Jumlah spesiesnya banyak
Serangga merupakan organisme yang mendominasi kehidupan di bumi, yaitu terdiri dari 1 – 4 juta spesies. Berbagai penelitian menyatakan bahwa makhluk hidup di dunia ini terdiri dari 80% artropoda dan 20% hewan selain artropoda dan manusia.  Dari 80% artropoda, 75%nya adalah serangga dan 25% adalah artropoda lain selain serangga. Ordo Coleoptera merupakan serangga dengan jumlah spesies terbanyak dari seluruh kelompok serangga yang ada. Serangga merupakan hewan purba, telah ada di bumi sejak 400 juta tahun yang lalu (jt th yl) dan diketahui sebagai hewan daratan pertama di bumi, kelompok mamalia berada di bumi ± 230 jt th yl, sedangkan keberadaan manusia modern baru muncul  ± 1 jt th yl.

2. Serangga adalah hewan purba
Pengetahuan mengenai keberadaan serangga pada masa lampau tidaklah lengkap, kebanyakan hanya merupakan dugaan dan berdasarkan pada bukti-bukti secara tidak langsung. Ada 4 sumber informasi utama yang bisa dijadikan dasar tentang keberadaan serangga di masa lampau, yaitu:

Fakta sejarah
Terdapat beberapa batuan permata berbentuk serangga di Mesir kuno, puisi dan lukisan kuno tentang serangga di Cina, lempengan emas yang bergambarkan serangga pada masa Alexander Agung, dan juga lukisan di dinding goa yang dibuat oleh Indian Fremont, serta mahkota yang berhiaskan elytra serangga Coleoptera di Kuil Horyuji, Nara, Jepang. Hal ini membuktikan bahwa serangga telah ada dan telah dikenal oleh manusia sejak jaman dahulu {ribuan tahun sebelum masehi}.

Fosil
Fosil merupakan fakta akurat yang menunjukkan bahwa serangga merupakan hewan purba. Serangga umumnya bertubuh lunak, oleh karena itu pada dasarnya serangga bukanlah hewan yang mudah memfosil. Meskipun demikian masih bisa ditemukan fosil serangga di batuan, baik pada batubara maupun batuan sedimen. Selain pada batuan, fosil serangga juga ditemukan pada amber {getah pohon}. Fosil artropoda yang dianggap memiliki hubungan erat dengan serangga adalah Oncopoda, yaitu spesies Aysheaia pedunculata yang ditemukan di Yoho National Park, Columbia pada jaman Precambian dan dianggap sebagai nenek moyang serangga modern. Fosil lain yang sangat terkenal adalah fosil serangga Palaeoptera yaitu Meganeura (ditemukan 350 jt th yl) yang saat ini telah punah berbentuk seperti capung dengan bentangan sayap sepanjang 69 cm. Ini merupakan serangga terbesar yang pernah ada di bumi. Beberapa fosil juga banyak ditemukan baik pada batuan sedimen maupun pada amber. Fosil Coleoptera telah ditemukan pada batuan sedimen di sungai Eocene Green, Colorado Barat, dan fosil Orthoptera ditemukan pada amber di daerah pepohonan Columbia. Kedua fosil ini diperkirakan berumur 40 jt th yl.

Terdapat dugaan telah terjadi evolusi pada serangga. Teori evolusi menyatakan bahwa serangga berasal dari hewan seperti cacing yang tubuhnya beruas-ruas. Dari Ruas-ruas yang ada muncul alat-alat tubuh, pada kepala muncul antena dan mata sederhana, pada ruas-ruas berikutnya muncul sepasang kaki sederhana. Pada perkembangan selanjutnya antena berkembang dengan baik dan mata sederhana berkembang menjadi mata majemuk. Ruas tubuh ke 1,2,3,4 mereduksi menjadi satu pada bagian kepala, ruas tubuh ke 5,6,7, menjadi toraks dengan 3 pasang kaki, sedangkan ruas ke 8 dan seterusnya. menjadi abdomen tanpa kaki. Hewan yang masih ada hingga saat ini dan dianggap serupa dengan nenek moyang serangga modern adalah velvet worm, karena memiliki beberapa persamaan dengan serangga yaitu peredaran darahnya terbuka, bernafas dengan sistem trachea, dan tipe alat mulutnya adalah pengunyah.

Hubungan filogenetik
Para ahli entomologi menghubungkan fosil serangga yang ditemukan pada masing-masing jaman purba dengan serangga yang ada pada saat ini, kemudian dibuatlah sebuah bagan alur perubahan serangga purba menjadi serangga modern berdasarkan habitat, ciri-ciri morfologi, serta berdasarkan DNA-nya. Hubungan filogenetik ini merupakan sumber informasi yang tidak langsung tetapi penting karena dapat digunakan sebagai pengidentifikasi serangga-serangga primitif berdasarkan pada kemiripan bentuk tubuh dengan serangga yang ada saat ini.

Distribusi geografi
Distribusi geografi serangga dapat juga dijadikan sebagai dasar prediksi tentang keberadaan serangga pada masa lampau yaitu dengan cara menginterpretasikan penyebaran serangga secara geografis dan hubungan inter-spesies, yang terjadi karena perubahan komposisi di bumi (terpisahnya pulau-pulau besar yang dulunya menyatu) pada jaman Cretaceous.


***

Ke 4 informasi tersebut menunjukkan sebuah gambaran yang mengagumkan tentang sejarah serangga. Berdasarkan hal tersebut dapat dijelaskan prediksi kemunculan serangga di bumi, sebagai berikut:
Serangga primitif {serangga tak bersayap} muncul setelah tumbuhan perintis tercipta di daratan. Pada saat itu {akhir jaman Silurian: kira-kira 410 jt th yl} semua filum utama tumbuhan perintis dan hewan termasuk artropoda telah berkembang dengan baik. Pada saat pertengahan jaman Devonian {375 jt th yl} kondisi udara dingin, basah, dan lembab sehingga terjadi kemunculan tumbuhan paku yang sangat melimpah di darat. Setelah itu iklim menjadi hangat dan lembap serta tercipta suatu kondisi lingkungan yang semakin kompleks sehingga muncullah serangga yang bisa terbang.

Pada jaman Pennsylvanian {kira-kira 300 jt th yl} telah terdapat 12 ordo serangga, beberapa ordo saat ini telah punah. Kebanyakan serangga berbentuk seperti kecoa, oleh karena itu jaman Pennsylvanian juga disebut sebagai “jaman kecoa”. Pada jaman ini juga ditandai dengan ekspansi serangga secara besar-besaran pada daerah utara dan selatan yang berasal dari daerah katulistiwa.

Pada jaman Permian, lebih dari 10 ordo serangga telah hidup mapan di bumi termasuk beberapa serangga modern. Pada jaman ini reptile dan tumbuhan juga berkembang dengan cepat, dan terjadi kenaikan kompetisi pada serangga predator {karnivora} dan herbivora. Hal ini menyebabkan peningkatan kompleksitas lingkungan yang memacu terjadinya peningkatan keanekaragaman.

Akhir jaman Permian ditandai dengan kepunahan spesies-spesies hewan dan tumbuhan secara masal termasuk delapan ordo serangga punah saat itu. Pada jaman Triassic dan Jurassic spesies-spesies yang tersisa mengalami perkembangan yang sangat pesat, disinilah terjadi perubahan besar-besaran sejarah kehidupan di bumi (150-200 jt th yl). Pada masa ini, iklim menjadi lebih hangat dan kering serta diikuti dengan kemunculan mamalia dan burung termasuk ektoparasitnya, sedangkan serangga-serangga pemakan tumbuhan semakin mapan.

Selama jaman Cretaceous terjadi perubahan iklim dan pergeseran komposisi bumi {terpisahnya pulau-pulau besar yang dulunya menyatu}. Pada jaman ini muncullah tumbuhan angiospermae dan dengan cepat mendominasi komunitas tumbuhan di bumi. Pada saat itu mulai terdapat serangga yang memanfaatkan bunga sebagai sumber pakan, baik pemakan nektar maupun polen.

Pada akhir jaman Cretaceous terjadi lagi kepunahan organisme secara masal, yaitu kira-kira 70% dari keseluruhan organisme yang hidup pada saat itu mengalami kepunahan, termasuk Dinosaurus serta beberapa famili dan spesies serangga. Dugaan ini dikuatkan dengan penelitian-penelitian yang dilakukan oleh ahli geologi dan paleontologi yang menyatakan bahwa pada waktu itu terjadi peningkatan jumlah debu di atmosfer sehingga sinar matahari terhalang dan suhu mengalami penurunan, keadaan semacam ini terjadi selama beberapa bulan. Menurut penelitian para ahli tersebut menyatakan bahwa terjadinya kepunahan masal itu adalah dampak dari pergerakan matahari melalui gerakan spiral galaksi Bimasakti. Kepunahan masal tersebut terjadi secara periodik, yaitu setiap 26 juta tahun sekali.

Jaman Tertiary dan Quarternary terjadi pergolakan iklim hingga terbentuklah jaman es yang kini berada di daerah-daerah kutub. Hal ini juga menyebabkan terjadinya pemencaran organisme pada daerah yang sesuai termasuk serangga. Kebanyakan genus serangga modern telah mapan sejak 30 jt th yl dan masih ada hingga saat ini. Hal ini membuktikan bahwa serangga benar-benar binatang purba yang masih ada hingga saat ini.

3. Serangga sangat hebat adaptasinya
Serangga hidup di semua habitat dan nice dibumi ini, baik di darat maupun diperairan. Hal ini menunjukkan bahwa serangga memiliki kemampuan adaptasi yang sangat hebat terhadap lingkungan. Keberadaan serangga hingga saat ini menunjukkan bahwa serangga adalah hewan yang sukses hidup dengan adaptasi yang sangat hebat. Adaptasi serangga ini didukung oleh: ukuran tubuh serangga yang kecil, mempunyai eksosekeleton, kecepatan reproduksi yang tinggi, bermetamorfosis, mempunya kemampuan terbang, serta memiliki kemampuan mempertahankan diri baik terhadap cekaman lingkungan maupun terhadap musuhnya.

B. Mempunyai peranan penting bagi manusia

1. Serangga bermanfaat dan serangga netral
Serangga bermanfaat dan serangga netral terdiri dari 90% dari keseluruhan serangga yang ada dimuka bumi ini. Berbagai peran serangga bermanfaat adalah sebagai rantai makanan dalam ekosistem, pengurai bahan organik, pembantu aerasi dalam tanah, pembantu keseimbangan ekosistem dan konservasi hutan, penyerbuk tanaman, model dalam ilmu pengetahuan, indikator lingkungan dan iklim, bahan baku industri, makanan, dan bahan inspirasi seni.

2. Serangga yang merugikan / sebagai hama
            Serangga yang bersifat sebagai hama hanya 10% dari serangga yang ada di muka bumi meskipun demikian peranan serangga ini menjadi sangat penting bagi manusia karena  telah mampu menyebabkan kerugian yang sangat besar baik pada  manusia secara langsung maupun pada tanaman serta pemukiman. Serangga yang merugikan ini umumnya bersifat sebagai hama pada daerah pemukiman, tanaman budidaya (hama tanaman maupun hama gudang), manusia (mengganggu secara langsung), maupun sebagai vektor penyakit manusia, hewan, tumbuhan.

C. Sejarah entomologi

Ilmu tentang serangga dimulai pada jaman Fir’aun, yaitu masa Ramses II pada tahun 400 SM yang dibuktikan dengan laporan seorang penulis Mesir tentang belalang yang menjadi hama pada pertanaman gandum. Pasca periode Renaisance (biologi modern) pada tahun 1667, Fransisco Redi mampu membantah teori Generatio spontanea dengan memanfaatkan seekor lalat. Pada tahun 1668 dipublikasikannya morfologi malphigi ulat sutera. Penamaan biologi yang dikenal dengan Systema natural oleh Linnaeus yang dipublikasikan pada tahun 1758 merupakan sistem penamaan binomial pertama kali yang diperkenalkan di dunia. Systema natural oleh Linnaeus ini digunakan untuk menamai tumbuhan dan hewan tingkat tinggi yang ada di muka bumi, sedangkan sistem penamaan binomial pada serangga dilakukan oleh muridnya yaitu Fabricius pada tahun 1775 yang disebut dengan systema entomology.

Entomologi adalah salah satu cabang ilmu zoology yang mempelajari segala sesuatu mengenai serangga (Entomon adalah serangga; logos adalah ilmu) dan orang yang mempelajarinya disebut entomologist atau entomologiwan. Orang yang mempelajari serangga bisa jadi berprofesi sebagai peneliti, guru, dosen, petani, dan bahkan para penghobi. Charles Darwin merupakan orang pertama yang dengan antusias mengoleksi kumbang sebagai hobi yang akhirnya ia teliti evolusinya dan menceritakannya kepada seluruh entomologiwan di seluruh dunia. Dewasa ini terdapat beberapa penghobi koleksi serangga dan bahkan menjualnya sebagai mata pencaharian; terutama serangga-serangga yang secara estetika menarik seperti kupu-kupu dari Bantimurung-Indonesia, kupu-kupu, kumbang, dan serangga lain dari Kuala Lumpur-Malaysia.


referensi :Suputa, Elisa UGM (Entomologi Serangga) www.elisa.ugm.ac.id

Senin, 05 Agustus 2013

Penerapan Agroindustri dalam Bingkai Kedaulatan Pangan sebagai Jalan Menuju Swasembada Berkelanjutan Indonesia 2014


Pemerintah dalam Program Prioritas Pembangunan di sektor pertanian telah menargetkan pada tahun 2014 Indonesia mencapai swasembada berkelanjutan terhadap lima komoditas pangan Indonesia meliputi komoditas beras, jagung, kedelai, gula pasir, dan daging sapi. Target ini tidak muncul secara tiba-tiba, namun dilatarbelakangi oleh produksi pangan domestik yang belum optimal. Menyikapi target ini, pemerintah merasa yakin akan mencapai keberhasilan. Hal ini mengingat sektor pertanian merupakan sektor dengan sumber daya yang dapat diperbaharui dan menjanjikan, selain itu, latar belakang Indonesia sebagai Negara Agraris pun menjadi alasan keyakinan pemerintah akan keberhasilan kebijakan ini. Dalam mencapai target ini, pemerintah akan memfokuskan pembangunan di sektor pertanian pada perbaikan infrastruktur dan peningkatan teknologi pertanian, pembukaan dan intensifikasi lahan pertanian, serta pelaksanaan politik anggaran untuk sektor pertanian yang terencana.
Kebijakan baru pemerintah di atas seperti bertolak belakang dengan kebijakan pemerintah pada tahun 2011 dalam sebuah pertemuan tingkat internasional KTT Asean dan World Economic Forum di mana pada saat itu pemerintah Indonesia memberi kesempatan besar kepada para investor asing dan pengusaha untuk membuka bisnis dan industri mereka di Indonesia dengan tujuan untuk meningkatkan produktivitas dalam rangka memenuhi ketahanan pangan nasional. Faktanya, kebijakan tersebut justru berdampak negatif terhadap perkembangan industri di Indonesia, khususnya di sini adalah agroindustri. Adanya industri-industri besar dan asing di Indonesia semakin menekan industri kecil menengah yang ada hampir di seluruh wilayah Indonesia yang sebagian besar dari mereka adalah masyarakat lokal.
Secara teoritis, Indonesia yang memiliki luas lahan pertanian tidak kurang dari 7,75 juta hektar dan letaknya yang strategis di daerah tropis seharusnya memang mampu memproduksi bahan pangan secara mandiri dan bahkan mampu untuk mengekspornya ke luar negeri. Jika kita berbicara tentang agroindustri tentu tidak akan pernah terlepas dari kegiatan di sektor pertanian itu sendiri. Hal ini disebabkan karena jalur transformasi dari sebuah agroindustri berakar dari adanya suatu mayoritas penduduk yang mengolah dan menghasilkan hasil pertanian yang merupakan bahan baku dari agroindustri. Selain itu, konsep agroindustri memiliki cakupan yang luas, mulai dari agroindustri hulu yang meliputi ketersediaan infrastruktur pertanian sampai hilir yang merupakan agroindustri dalam pengolahan hasil pertanian.
Teori tersebut menunjuk pada kesimpulan bahwa kemajuan dan perkembangan agroindustri di Indonesia sejalan dengan kemajuan dan perkembangan sektor pertanian. Dalam hal ini kemajuan dan perkembangan agroindustri dapat menjadi indikator keberhasilan dari kebijakan swasembada berkelanjutan yang dicanangkan oleh pemerintah.  Namun faktanya, sektor pertanian kita masih rapuh dan terombang-ambing. Berbagai kasus yang mencuat seputar sektor pertanian akhir-akhir ini menjadi gambaran bahwa sektor pertanian Indonesia masih belum stabil. Apabila sektor pertanian di Indonesia masih belum dapat dikendalikan dengan baik, maka keinginan untuk menerapkan agroindustri yang baik dan berkualitas dalam usaha untuk mencapai swasembada berkelanjutan di Indonesia masih merupakan sebuah perjalanan panjang.
Pemahaman prinsip ketahanan pangan yang salah dan hanya menuntut pada pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat tanpa memperhatikan aspek-aspek ekonomi, sosial, dan budaya dari masyarakat Indonesia menjadi salah satu akar masalah yang menyebabkan masih belum maksimalnya pengembangan agroindustri di Indonesia. Oleh sebab itu, perlu adanya sebuah prinsip dasar baru yang dikembangkan dan menjadi pedoman serta fokus tujuan dari pemerintah dalam rangka mengembangkan agroindustri di Indonesia yang berkelanjutan. Prinsip tersebut dapat diperoleh dari prinsip kedaulatan pangan yang tidak hanya menuntut pada pemenuhan hasil pangan untuk kebutuhan rakyat tapi juga kemampuan rakyat untuk memenuhi kebutuhan pangannya secara mandiri.
Beberapa karakteristik kelebihan dari prinsip kedaulatan pangan adalah dalam mengambil kebijakan pemerintah juga dituntut untuk memperhatikan kearifan lokal dan keanekaragaman hayati serta mengutamakan kepentingan rakyat Indonesia. Hal ini penting sebagai salah satu cara untuk meningkatkan peran dan kinerja dari industri-industri menengah ke bawah yang saat ini masih kalah dalam bersaing dengan industri besar dan asing. Selain itu, dengan prinsip kedaulatan pangan, pemerintah diharapkan dapat fokus untuk memperhatikan industri lokal Indonesia. Hal ini berhubungan dengan tingginya kebutuhan dari industri lokal kita yang masih minim dan terkendala oleh buruknya infrastruktur dan teknologi yang digunakan. Dengan penerapan konsep kedaulatan pangan dalam menjalankan kegiatan agroindustri di Indonesia diharapkan kebijakan mikro maupun makro yang dikeluarkan oleh pemerintah dapat lebih pro rakyat.
Satu hal yang juga sangat penting adalah sektor pertanian itu sendiri. Sektor pertanian yang baik dan mandiri akan dapat mengantarkan Indonesia menuju negara agroindustri yang baik dan mandiri pula. Namun dalam kenyataannya di lapangan sektor pertanian kita masih jauh dari kemandirian. Hal ini dapat dilihat dari masih rendahnya tingkat kesejahteraan masyarakat petani sebagai pelaku kegiatan pertanian dan belum optimalnya hasil produksi pertanian Indonesia yang berbuntut pada tingginya tingkat impor bahan pangan di Indonesia.
Selain itu, berbagai masalah umum yang terkait dengan agroindustri juga perlu diperhatikan. Sifat dari bahan baku agroindustri yang tidak tahan lama dan musiman dapat mempengaruhi keberlanjutan dari kegiatan industri. Padahal, sebagaimana kita ketahui agroindustri adalah kegiatan yang arus keberlanjutannya sangat penting. Di sinilah diperlukan adanya pengolahan sektor pertanian yang baik dari pra sampai pasca panennya. Selain itu, pemilihan komoditas yang akan digunakan sebagai bahan utama dari agroindustri juga harus diperhatikan dengan seksama. Dalam hal ini, lima komoditas yang telah direncanakan oleh pemerintah di atas harus memenuhi kriteria sebagai komoditas yang strategis dan berkelanjutan untuk dikembangkan.
Pada akhirnya, dengan penerapan prinsip kedaulatan pangan dalam kegiatan agroindustri, kita dapat mengembalikan prinsip dasar dari konsep Hak Menguasai Negara pada UUPA sebagaimana tercantum pada pasal 33 Undang- Undang Dasar 1945 yang berbunyi “Air, tanah dan udara adalah milik negara dan dimanfaatkan seluas-luasnya oleh negara bagi kepentingan rakyat banyak”.
Konsep dan target agroindustri dengan menerapkan prinsip kedaulatan pangan ini diharapkan mampu mewujudkan kebijakan swasembada berkelanjutan yang direncanakan oleh pemerintah sehingga dapat benar-benar terealisasikan pada tahun 2014 dan menjadi sebuah awal baru dari kebangkitan agroindustri di Indonesia.
Tentunya dalam pelaksanaan kebijakan ini diperlukan kerja sama dari semua komponen masyarakat Indonesia. Selain itu, dalam mencapai target ini juga dibutuhkan semangat nasioalisme tinggi mengingat bahwa agroindustri bukanlah sesuatu yang dapat dicapai secara instan, namun perlu usaha sungguh-sungguh dan maksimal secara bertahap dan berkelanjutan. Di sinilah, kita sebagai sebuah negara yang berdaulat harus mampu membuktikan etos kerja yang tinggi dalam menghadapi segala rintangan dalam usaha mencapai kedaulatan pangan Indonesia yang masih merupakan sebuah perjalanan panjang.
Mari, bersama-sama kita sukseskan program swasembada berkelanjutan Indonesia melalui kegiatan agroindustri mandiri!

Ikuti Saya ^___^

visitors

 

My Blog List

Feedjit

PLANT HOSPITAL Copyright © 2009 Flower Garden is Designed by Ipietoon for Tadpole's Notez Flower Image by Dapino