Tampilkan postingan dengan label penyakit. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label penyakit. Tampilkan semua postingan

Jumat, 29 Juni 2012

MACAM-MACAM HAMA, PENYAKIT, DAN GULMA TANAMAN TEBU



a. Penggerek pucuk

Hama ini berupa ulat yang menyerang pucuk tanaman sehingga mematikan titik tumbuh. Usaha pemberantasannya menggunakan insektisida carbofulan yang dapat diberikan dengan suntikan atau taburan.
b. Penggerek batang

Hama berupa ulat ini merusak ruas-ruas batang tebu sehingga pada serangan yang parah dapat merobohkan tanaman. Usaha pengendaliannya dapat dilakukan secara hayati dengan menggunakan parasit karawai Trichograma spp., dan parasit lalat Diatraeophaga striatalis.
c. Kutu bulu putih

Pada daun-daun yang mulai Nampak ada kutu bulu putih segera dipangkas, dimasukkan ke dalam kantong plastik untuk dimusnahkan atau dibakar. Pada serangan yang sudah luas, pemberantasannya dapat menggunakan parasit Encarsia flavosculetan atau menggunakan insektisida sistemik misalnya fornation 825 gr/ha atau dimetroat 1000 gr/ha.
d. Uret

Hama ini menyerang akar dan pangkal tanaman tebu. Tanaman yang terserang menampakkan gejala kelayuan daun. Pemberantasan uret dengan insektisida disarankan menggunakan carbofuran 3% sebanyak 50 kg/ha. Penggunaan insektisida yang mengandung senyawa BHC hanya diperbolehkan pada lahan yang tidak ditanami tanaman pangan. Disamping secara kimiawi, pengendalian hama uret dapat dilakukan secara mekanis dengan cara mengumpulkan uret dan imagonya. Penangkapan imago harus dilakukan sebelum imago sempat kawin. Berdasarkan siklus kehidupan uret, penangkapan imago dapat dilaksanakan pada bulan Oktober hingga Desember. Di daerah dengan serangan hama uret kuat, dianjurkan penggunaan insektisida yang berformulasi "slow release", antara lain dursban 14 S sebanyak 28 kg/ha yang diberikan di dasar juringan sebelum tebu ditanam. Insektisida ini dapat mengendalikan uret selama tiga tahun tanpa merusak perakaran tebunya. 

e. Tikus

Serangan tikus di daerah-daerah tertentu terjadi hanpir setiap tahun, sehingga kemungkinan kerugian sangat besar. Pada daerah-daerah yang berbatasan dengan sawah perlu adanya kerjasama dengan petani padi untuk mengamati adanya serangan tikus pada tanaman padi. Segera setelah panen, dilakukan gropyokan dan pengasapan pada lubang-lubang persembunyian maupun pemasangan umpan beracun.


PENYAKIT

a. Penyakit mosaik

Penyebab adalah virus mosaik. Tanda-tanda penyakit ini yaitu pada daun terdapat gambaran mosaic berupa garis-garis dan noda-noda berwarna hijau muda sampai kuning. Cara pencegahan yang dilakukan selama ini adalah dengan menggunakan bibit terseleksi yang berasal dari tanaman sehat dan varietas tebu yang tahan terhadap penyakit mosaic seperti Ps 56, F 154, F 156, atau M 442-51.
b. Penyakit pembuluh

Penyebab adalah bakteri Clavibacter xylisubsp xvli. Tanaman yang terserang menampakkan gejala pertumbuhan yang kurang sempurna terutama tanaman keprasan tampak kerdil. Gejala yang khas yaitu terlihat warna jingga kemerah-merahan pada berkas-berkas pembuluh batang tebu menjelang masaknya tebu. Cara pencegahan penyakit ini antara lain dengan melakukan desinfeksi alat pemotong tebu dengan lisol 20%, penanaman dengan menggunakan bibit sehat yang diperoleh dengan perawatan air panas terhadap bibit tebu pada suhu 50°C selama 2-3 jam.
c. Penyakit luka api (smut)

Penyebabnya adalah Ustilago scitamiea Syd. Gejala penyakit ini timbulnya cambuk hitam pada pucuk tebu. Pencegahannya dengan menanamkan bibit yang sehat dan varietas yang resisten, bibit didesinfeksi dengan 0,5 gr b.a/tridiamefon.

d. Penyakit blendok

Tanda-tanda serangan penyakit yang disebabkan oleh sejenis bakteri ini yaitu apabila batang dibelah tampak pembuluh-pembuluh berwarna kuning tua sampai merah tua. Usaha pencegahannya dengan desinfeksi pisau pemotong menggunakan lisol.
e. Penyakit pokahbung

Penyakit ini disebabkan oleh sejenis jamur dan terutama timbul di musim hujan. Tanda-tanda penyakit ini adalah pada daun muda terlihat memutih (chlorosis). Pada serangan yang parah, pucuk tanaman menjadi busuk, pembuluh tanaman menjadi busuk, pembuluh tanaman menjadi tidak normal bentuknya (bengkok dan luka). Pemberantasan untuk tanaman yang telah terserang dengan cara disemprot bubur Bordo 1% seminggu sekali.

3. Gangguan Gulma dan Penanggulangannya. 

Gangguan gulma dapat menimbulkan kerugian yang cukup besar karena bisa menyebabkan penurunan bobot tebu. Pengendalian gulma disamping dengan cara menual ataupun kimiawi menggunakan herbisida, dapat pula dilakukan secara kultur teknis dengan menciptakan kondisi lingkungan yang dapat menekan pertumbuhan gulma atau dengan cara mekanis dengan pembajakan dan penggaruan. Keempat cara tersebut dalam pelaksanaannya dapat dilakukan secara terpadu. Usaha pengendalian gulma akan dapat memberikan hasil yang baik apabila pelaksanaannya tepat waktu, cara, alat, maupun dosis dan jenis herbisida yang digunakan. Ir. Amirudin Aidin Beng, MM., Penyuluh Pertanian



Sumber: 

Pedoman Budidaya Tanaman Tebu Lahan Sawah, Direktorat Budidaya Tanaman Semusim, Direktorat Jenderal Perkebunan, Departemen Pertanian, 2006.

MACAM-MACAM PENYAKIT TANAMAN MANGGA



Penyakit Gleosporium

Penyebab: jamur Gloeosporium mangifera. Jamur ini menyebabkan bunga menjadi layu, buah busuk, daun berbintik-bintik hitam dan menggulung.
Pengendalian: fungisida Bubur Bordeaux.2. Penyakit diplodia


Penyebab: jamur Diplodia sp. Tumbuh di luka tanaman muda hasil okulasi.
Pengendalian: dengan bubur bordeaux. Luka diolesi/ditutup parafin-carbolineum.3. Cendawan jelaga

Penyebab: jamur Meliola mangifera atau jamur Capmodium mangiferum. Daun mangga yang diserang berwarna hitam seperti beledu. Warna hitam disebabkan oleh jamur yang hidup di cairan manis.
Pengendalian: dengan memberantas serangga yang menghasilkan cairan manis dengan insektisida atau tepung belerang.4. Bercak karat merah

Penyebab: ganggang Cephaleuros sp. Menyerang daun, ranting, bunga dan tunas sehingga terbentuk bercak yang berwarna merah. Penyakit ini sangat mempengaruhi proses pembuahan.
Pengendalian: pemangkasan dahan, cabang, ranting, menyemprotkan fungisida bubuk bordeaux atau sulfat tembaga.5. Kudis buah

Penyebab: Elsinoe mangiferae
Menyerang tangkai bunga, bunga, ranting dan daun.
Gejala: adanya bercak kuning yang akan berubah menjadi abu-abu. Pembuahan tidak terjadi, bunga berjatuhan.
Pengendalian: fungisida Dithane M-45, Manzate atau Pigone tiga kali seminggu dan memangkas tangkai bunga yang terserang.
6. Penyakit Antraknose (Colletotrichum sp.)

Terjadi bintik-bintik hitam pada flush, daun, malai dan buah. Serangan menghebat jika terlalu lembab, banyak awan, hujan waktu masa berbunga dan waktu malam hari timbul embun yang banyak. Apabila bunganya terserang maka seluruh panenan akan gagal karena bunga menjadi rontok.
Pengendalian : pemangkasan, penanaman jangan terlalu rapat, bagian tanaman terserang dikumpulkan dan dibakar.7. Penyakit Blendok

Penyebab: jamur Diplodia recifensis yang hidup di dalam lubang yang dibuat oleh kumbang Xyleborus affinis). Lubang mengeluarkan blendok (getah) yang akan berubah warna menjadi coklat atau hitam.
Pengendalian: memotong bagian yang sakit, lubang ditutupi dengan kapas yang telah dicelupkan ke dalam insektisida dan menyemprot pohon dengan bubur bordeaux.
Sumber:

http://teknis-budidaya.blogspot.com/2007/10/budidaya-mangga.html
Sentra IPTEK & Sistim Informasi Manajemen Pembangunan di Perdesaan, BAPPENAS
http://www.tamanmundu.com/budidaya-tanaman/28-budidaya/9-budidaya-mangga.html

Kamis, 16 Februari 2012

HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN PEPAYA



HAMA

  • Kutu tanaman (Aphid).
    • Ciri: badan halus panjang 2-3 mm berwarna hijau, kuning atau hitam. Memiliki sepasang tonjolan tabung pada bagian belakang perut, bersungut dan kaki panjang. Kutu dewasa, ada yang bersayap dan tidak. Merusak tanaman dengan cara menghisap cairan dengan pencucuk penghisap yang panjang di bagian mulut.
    • Pemberantasan: tungau tungau daun diberantas dengan penyemprotan tepung derris atau tepung belerang.
  • Lalat Buah
    • Hama tanaman pepaya Lalat buah biasanya menusuk  dengan alat mulut moncongnya menembus kulit buah kemudian meletakkan telurnya.Masa/ periode telur sekitar,1-20 hari . Lalat buah pepaya cepat berkembang biaknya dan bergerombol. Efek dari sengatan buahnya rontok, jika tidak rotok buahnya menjadi benjol benjol.
    • cara mengatasinya : Buat perangkap dengan botol plastik di rangsang menggunakan petrogenol, atau menaruh kapur barus di gantung di sekitar pepaya, fungsinya sebagai pengusir lalat buah membuat lalat buah tidak bernafsu makan.
  • Tungau merah / coklat/ ijo
    • Bentuk hama tungau  mirip laba-laba berukuran kecil kurang dari 1mm
    • Cara merusak :Hama tanaman pepaya ini menghisap daun pucuk tanaman dan tunas muda. Bagian yang diserang berubah warna bekas luka menjadi bintik titik kuning lalu menghitam dan tumbuh mengkerut tidak sehat. .
    • Cara mengatasi  : Jika terkena tungau merah pengendaliannya dengan tepung belerang dengan cara di hembuskan ke permukaan daun pepaya yang terserang. atau penyemprotan menggunakan akarisida (seperti kelthane  atau morestan). (baca aturan pakai dalam kemasan dan jangan memakai lebih dari dosis yang di anjurkan)


Minggu, 29 Januari 2012

PENGGOLONGAN PENYAKIT TUMBUHAN DAN PATOGENNYA


PENDAHULUAN
  • Patogen tumbuhan adalah organisme yang dapat menyebabkan tumbuhan "sakit dan menderita". Sakit dan menderita diartikan sebagai adanya perubahan fisiologis dan struktural dari suatu tumbuhan.
  • Pemberian penyakit pada tumbuhan dapat dilakukan dengan melihat tiga hal, yaitu :
    • Nama patogen
      • Penyakit layu bakteri (Penyakit yang menyebabkan tumbuhan layu dan disebabkan oleh sejens bakteri)
    • Nama gejala
      • Penyakit Busuk kaki hitam (Penyakt yang menyebabkan tumbuhan membusuk pada bagian di antara batang dan akar/kaki)
    • Nama bagian tumbuhan yang terkena gejala
      • Penyakit bercak daun (penyakit yang menimbulkan gejala berupa bercak-bercak pada daun)
  • Penyakit tumbuhan digolongkan menjadi dua golongan :
    • Penyakit Abiotik
    • Penyakit Biotik

Jumat, 11 November 2011

EPIDEMIOLOGI


PENGERTIAN EPIDEMIOLOGI

Kata epidemi berasal dari bahasa Yunani, tersusun atas dua kata dasar yaitu :
“epos” yang artinya diantara, pada, atau mengenai dan “demos” yang artinya rakyat, banyak, atau populasi. Dengan menggunakan pengertian analogi maka, epidemiologi penyakit tanaman berarti ilmu yang mempelajari penyakit yang banyak berkembang pada populasi tanaman atau mempelajari penyakit tanaman yang (mungkin) berkembang menjadi mewabah. Petani mengusahakan tanaman sebagai pertanaman, atau kelompok (populasi) tanaman, sehingga kerugian yang diderita oleh petani terjadi pada aras (level) populasi. Oleh karena itu, epidemiologi selalu mempertimbangkan penyakit dalam populasi tanaman.

Kamis, 03 November 2011

MACAM-MACAM PENYAKIT PISANG






Tanaman pisang mempunyai potensi yang sangat besar sebagai penopang ekonomi keluarga tani, alternatif makanan pokok dan tanaman pioner. Akhir-akhir ini tanaman pisang di pulau Lombok dihadapkan pada ancaman yang sangat serius dari beberapa penyakit sistemik yang mematikan, antara lain penyakit layu fusarium, penyakit darah, dan penyakit kerdil pisang. Mengenal penyebab dan gejala serangannya sangat penting agar petani dapat melakukan pengendalian secara tepat dan benar. Penyakit yang sering menyerang tanaman pisang adalah: LayuFusarium, layu bakteri dan kerdil (Bunchy Top).


===========================================================






A. PENYAKIT LAYU FUSARIUM

Gejala penyakit layu fusarium ditemukan pada pisang Susu (Rajasere). Tanaman yang terserang menjadi layu dan mati. Seluruh tanaman dalam satu rumpun mati, termasuk anakan yang ada.

Infeksi penyakit layu fusarium terjadi bila patogen melakukan penetrasi pada akar tanaman pisang. Jamur kemudian menyerang xylem sehingga menyebabkan penutupan pembuluh. Gejala internal diawali dengan penguningan jaringan pembuluh di akar dan bonggol yang selanjutnya berubah warna menjadi merah atau coklat pada pembuluh vaskular pada pseudostem dan kadang-kadang pada tangkai tandan. Pada saat tanaman mati, jamur akan tumbuh menyebar dari xylem ke jaringan sekitarnya, membentuk klamidospore (spora istirahat) yang mampu bertahan dalam perakaran tanaman inang alternatif sampai 30 tahun. Kerusakan terutama terjadi pada kelompok pisang Cavendish (Ambon Hijau), Rajasere (pisang Susu), dan Ambon Kuning.

Penyakit ini sering disebut penyakit Panama, disebabkan oleh Fusarium oxysporum. Penularan penyakit ini melalui bibit, tanah air, pupuk kandang atau alat-alat pertanian. Gejala awal adalah menguningnya daun tua yang diikuti diskolorisasi pembuluh pada pelepah daun terluar. Perubahan warna semakin hebat terjadi pada stadium lanjut dan bila pseudostem terinfeksi dipotong akan terlihat jaringan sakit lebih keras dibanding jaringan sehat. Gejala lain adalah
perubahan bentuk dan ukuran ruas daun yang baru muncul lebih pendek serta perubahan warna pada bonggol. Penularan terutama terjadi melalui luka pada akar.

Pencegahan penularan dapat dilakukan dengan:

1.Membongkar dan membakar tanaman yang terserang dan siram tanah bekas tanaman pisang tersebut dengan fungisida.

2.Lakukan penggenangan dan pergiliran tanaman.

3.Menanam varietas tahan terhadap penyakit layuFusarium.

4.Jangan menanam bonggol, anakan atau bibit dan membawa tanah dari daerah yang sudah terinfeksi penyakit layuFusarium.

5.Gunakan bibit bebas penyakit (hasil kultur jaringan).

6.Alat-alat pertanian yang digunakan selalu disucihamakan dengan fungisida.

7.Pemanfaatan musuh alami seperti Trichoderma atau Glicocladium.


================================================================





B. PENY

AKIT LAYU BAKTERI / PENYAKIT DARAH


Penyakit darah ditemukan pada pisang Kepok. Tanaman yang terserang memperlihatkan gejala penguningan daun dan layu. Gejala luar juga diperlihatkan dengan terjadinya pengeringan pada bunga jantan. Pada serangan yang parah, batang semu mencoklat dan membusuk.

Kerusakan disebabkan oleh bakteri ‘blood disease bacterium’ (BDB), terutama terjadi pada pisang Kepok yang ditandai oleh pembusukan daging buah, sehingga daging buah busuk coklat kemerahan menyerupai darah.

Penularan penyakit dapat terjadi melalui bibit, tanah, air irigasi, alat-alat pertanian dan serangga. Bakteri ini dapat bertahan paling singkat 1 tahun dalam tanah tanpa kehilangan virulensinya. Perkembangan penyakit di lapang terutama dipengaruhi oleh adanya sumber inokulum, persen tanaman yang memasuki fase generatif dan populasi serangga penggerek bonggol dan batang. Selain faktor-faktor tersebut, penyebaran penyakit darah pada suatu wilayah juga sangat ditentukan oleh aktivitas petani dalam memelihara tanaman, serta aktivitas pedagang ketika melakukan panen buah dan bunga pisang. Penggunaan alat yang sama untuk pemeliharaan tanaman atau panen dari satu kebun ke kebun yang lain tanpa disadari merupakan satu cara penularan dan penyebaran penyakit yang sangat efektif dan cepat dari satu tempat ke tempat lain.

Penyakit layu ini disebabkan oleh bakteri Pseudomonas Solaracearum. Penularan penyakit melalui bibit, tanah, air irigasi, alat-alat pertanian atau serangga penular (vector).Gejalanya biasanya tampak setelah timbulnya tandan. Mula-mula daun muda mengalami perubahan warna dan pada ibu tulang daun terlihat garis coklat kekuningan kearah tepi daun hingga buah menjelang masak. Daun kemudian
menguning/coklat, dan layu. Gejala spesifik adalah terdapatnya lendir bakteri yang berbau, berwarna putih abu-abu sampai coklat kemerahan keluar dari potongan buah atau bonggol, tangkai buah, tangkai tandan dan batang.

Pengendalian atau pencegahanyang dianjurkan adalah:

1.Melarang perpindahan bibit/tanaman beserta tanahnya dari daerah endemik.

2.Penanaman bibit pisang sehat/bebas penyakit.

3.Pembungkusan buah beberapa saat setelah jantung keluar.

4.Sterilkan alat-alat yang dipakai dengan menggunakan formalin 30%.

5.Perbaikan drainase kebun.

6.Fumigasi tanah bekas tanaman yang terserang dengan Methyl Bromide (secara injeksi).

7.Pemusnahan tanaman sakit dengan menggunakan 5 – 20 ml larutan herbisida glyphosate 5% atau 2,4-D 2,25%.

8.Melakukan rotasi tanaman misalnya dengan menggunakan family graminae sepertisorgum, padi, jagung, rumput gajah dan lain sebagainya untuk memotong siklus patogen di dalam tanah selama sekitar satu tahun.


=========================================================


C. BERCAK DAUN SIGATOKA

Penyakit ini disebabkan oleh cendawan Mycosphaerella musicola Mulder. Gejalanya mula-mula timbul bintik-bintik kuning pada tepi daun, kemudian bintik melebar menjadi noda kuning tua kemerahan sampai kehitaman, sehingga seluruh helaian daun menjadi kuning, daun menjadi lebih cepat kering dan buah matang sebelum waktunya. Pengendalian penyakit ini dianjurkan dengan pemupukan berimbang, sesuai anjuran setempat dan sanitasi sumber infeksi dengan memotong dan membakar daun-daun mati/sakit.


==========================================================


D. PENYAKIT KERDIL PISANG / BUNCHY TOP VIRUS


Penyakit kerdil pisang disebabkan oleh ‘Banana Bunchy Top Virus’ (BBTV). Gejala awal ditandai oleh adanya gejala hijau gelap bergaris pada tangkai dan tulang daun menyerupai sandi morse. Pada lembaran daun di dekat ibu tulang daun terdapat bercak/garis bengkok hijau gelap. Ketika tanaman semakin tua, pertumbuhan daun menjadi terhambat, berukuran kecil, kaku dan mengarah ke atas, tanaman menjadi kerdil.

Penyakit ini disebabkan oleh virus. Penularannya melalui vektor Pentalonia negronervosaCoq. Gejalanya adalah daun muda tampak lebih tegak, pendek, lebih sempit dan tangkainya lebih pendek dari yang normal, daun menguning sepanjang tepi lalu mengering, daun menjadi rapuh dan mudah patah, Tanaman terlambat pertumbuhannya dan daun-daun membentuk roset pada ujung batang palsunya. Pengendalian dilakukan dengan menanam bibit yang sehat dan sanitasi kebun dengan membersihkan tanaman inang seperti abaca (Musa textiles),Heliconia spp danCanna spp, pembongkaran rumpun sakit, lalu dipotong kecil-kecil agar tidak ada tunas yang hidup. Cara lain adalah dengan menggunakan insektisida sistemik untuk mengendalikan vektor terutama di pesemaian.






REFERENSI

http://ntb.litbang.deptan.go.id/ind/index.php/artikel/271-pengendalian-hama-pisang

Kamis, 22 September 2011

PENGANTAR PENYAKIT TUMBUHAN


A. GEJALA PENYAKIT TUMBUHAN

Gejala penyakit tumbuhan sangat perlu diketahui untuk membedakan dengan gejala yang disebabkan oleh hama tumbuhan. Gejala penyakit tumbuhan timbul sebagai akibat masuknya pathogen ke dalam jaringan tumbuhan dan menyebabkan terjadinya infeksi sehingga menyebabkan terjadinya perubahan pada sel atau jaringan tumbuhan.

Berdasarkan perubahan yang terjadi pada sel tumbuhan, gejala penyakit tumbuhan dibagi menjadi 3 tipe, yaitu :

1. NEKROTIK

Gejalannya disebut nekrosis yang meliputi gejala yang terjadi sebagai akibat rusak atau matinya sel sel tumbuhan

2. HIPOPLASTIS

Gejalanya disebut hipoplasia sebagai gejala yang terjadi sebagai akibat terhambatnya atau terhentinya perkembangan sel

3. HIPERPLASTIS

Gejalanya disebut hierplasia meliputi gejala akibat terjadinya perkembangan sel luar biasa.
Bila bertambah ukuran individu disebut HIPERTROFI dan bila bertambah jumlah sel disebut HIPERPLASIA.

• NEKROSIS

1. Hidrosis
Bagian tanaman nampak kebasah-basahan karena sebelum sel-sel mati, air keluar dari ruang sel masuk ke dalam ruang antar sel

2. Klorosis

Menguningnya bagian tanaman yag semula bewarna hijau karena rusaknya klorofil.

3. Nekrosis

Bercak dengan warna dan bentuk yang bermacam-macam sesuai dengan jenis penyakitnya karena matinya sekumpulan sel yang terbatas pada jaringan tertentu.

a. Blight

Gejalanya meluas dengan cepat

b. Spot

Gejala yang muncul kecil-kecil dan cenderung tidak meluas tapi bertambah banyak

c. Target-board spot

Bila yang terjadi pada daun terdiri dari alur-alur konsentris yang bewarna gelap dan terang.

d. Nekrosis

4. Perforasi

Terbentuknya lubang-lubang karena sel-sel yang telah mati runtuh.

5. Busuk

Gejalanya sama dengan gejala nekrosis tapi lebih sering terjadi pada jaringan tebal seperti akar, umbi, dan daun yang tebal.

a. Busuk Basah

Bila jaringan yang membususk menjadi berair dan mengandung cairan

b. Busuk Kering

Bila jaringan yang membususk tidak berair

6. Eksudasi

Terjadinya pengeluaran cairan dari suatu tumbuhan karena penyakit.

a. Gumosis

Pengeluaran gom (bledhok) dari tumbuhan
Ex : batang jeruk yg diserang Diplodia natalensis

b. Latekosis

Pengeluaran latek dari dalam tumbuhan
Ex : batang karet yang diserang jamur upas (Upasia salmonicolor)

c. Resinosis

Pengeluaran dammar (resin) dari dalam tumbuhan

7. Kanker

Kematian jaringan kulit tumbuhan berkayu. Jaringan kulit yang mati menjadi kering, berbatas tegas, mengendap, dan pecah-pecah kemudian runtuh hingga terlihat bagian kayunya.
Ex : bidang sadapan karet yang diserang jamur Phytopthora palmivora.

8. Layu

Gejala terjadi karena hilangnya turgor pada daun dan tunas karena gangguan pada jaringan pengangkutan atau akar, sehingga proses penguapan lebih besar dari ada pengangkutan air.
Ex : tanaman tomat yang diserang jamur Fusarium oxysporum

9. Mati ujung

Nekrosis yang disebabkan oleh matinya ranting atau cabang yang dimulai dari ujung meluas ke pangkal.
Ex : Tanaman jeruk yang diserang jamur Colletothricum sp

10. Terbakar

Nekrosisi yang disebabkan oleh mati atau mengeringnya bagian tumbuhan tertentu, lazimnya daun, yang disebabkan oleh factor abiotik.

• HIPOPLASTIS

1. Etiolasi

Disebabkan karena tanaman kekurangan cahaya sehingga menjadi pucat, tumbuh memanjang, dan memunyai daun-daun yang sempit.

2. Kerdil

Ukuran tanaman menjadi lebih kecil dari biasanya yang disebabkan terjadinya hambatan pertumbuhan tanaman.
Ex : tanaman padi terserang tungro

3. Klorosis

Terjadi karena penghambatan pembentukan klorofil sehingga tanaman yang bewarna hijau menjadi bewarna kuning atau pucat dengan berbagai pola, yaitu :

a. Mozaik

Bagian yang bewarna kuning hanya setempat-setempat
Ex :Daun tembakau yang diserang Tobacco Mozaik Virus

b. Vein Banding

Bagian yang bewarna hijau hanya pada bagian sekitar tulang daun
Ex : penyakit CVPD pada jeruk

c. Vein Clearing

Bagian yang kuning hanya pada bagian sekitar tulang daun
Ex : Penyakit triteza pada jeruk

4. Perubahan simetri

Hambatan pertumbuhan pada bagian tertentu yang yidak disertai hambatan pertumbuhan pada bagian di depannya sehingga menyebabakan terjadinya penyimpangan bentuk.
Ex : Batang tebu yang diserang Fusarium moniliforme var. subglutinans

5. Roset

Gejala daun yang berdesakan membentuk suatu karangan karea hambatan pertumbuhan ruas-ruas batang tetapi pertumbuhan daunnya tidak terhambat.

• HIPERPLASTIS

1. Erinose

Gejala penyakit yang terjadi karena terbentuknay banyak trikoma sehingga bagian tanaman tersebut menyerupai beledu.
Ex : daun krotalaria yang diserang tungau

2. Fasiasi

Suatu organ yang harusnya tmbuh silindris dan lurus berubah menjadi pipih, lebar, dan membelok bahkan spiral.
Ex : ranting apel, batang karet muda

3. Intumesensia

Pembengkakan organ pada suatu tanaman yang disebabkan oleh sekumpulan sel pada daerah yang agak luas pada organ tersebut memanjang.
Ex: daun Cassia tomentosa

4. Kudis

Tumbuhan yang terserang mempunyai bercak kasar, berbatas dan agak menonjol, kadang pecah-pecah serta sel-sel di bagian tersebut berubah menjadi sel-sel gabus.
Ex : dijumpai pada buah, umbi, batang dan daun. Kentang yang terserang bakteri Streptomyces scabies

5. Menggulung

Disebabkan oleh pertumbuhan yang tidak seimbang pada bagian daun
Ex : daun tembakau yang diserang virus kerupuk

6. Pembentukan alat yang luar biasa

a. Antolisis

Perubahan bunga menjadi daun-daun yang kecil
Ex : tanaman jagung yang diserang virus kerupuk

b. Enasi

Pembentukan anak daun yang kecil pada sisi bawah tulang daun
Ex : daun tembakau yang diserang virus kerupuk

7. Prolepsis

Berkembangnya tunas-tunas tidur yang berada dekat di sisi bagian yang sakit menjadi tunas air,, yaitu tunas yang tumbuh mnjadi ranting-ranting segar yang tumbuh vertical dengan cepat.

8. Sapu

Berkembangnya tunas ketiak yang biasanya tidur menjadi seberkas ranting yang rapat. Biasanya disertai dengan terjadinya hambatan perkembangan ruas-ruas batang dan daun sehingga ranting yang rapat itu mempunyai ruas-ruas yang pendek dan daun yang kecil.
Ex : tanaman kacang yang diserang mikoplasma

9. Sesidium

Pembengkakan setempat pada jaringan tumbuhan sehingga terbentuk bintil-bintil. Bintil dapat berupa jaringan tumbuhan dan patogennya atau jaringan tumbuhan saja.

a. Fitosesidium

Bila penyebabnya tergolong dalam dunia tumbuhan
Ex : Damar yang diserang Aecidium sp

b. Zoosesidium

Bila penyebabnya tergolong dalam dunia binatang
Ex : tanaman tomat yang diserang Meloidogyne sp


Referensi :
Wibowo, Arif. 2002. Petunjuk Praktikum Dasar-Dasar Perlindungan Tanaman. Yogyakarta : Gadjah Mada University

Rabu, 24 Agustus 2011

MACAM-MACAM PENYAKIT PADA KUBIS




Nama kubis diduga berasal dari bahasa Inggris yaitu cabbage. Di Indonesia, kubis sering uaga disebut sebagai kol. Tanaman kubis (Brassicae oleraceae) termasuk family Cruciferae, Klas Dicotyledoneae, Subdivisi Angiospermae dan Divisi Embriophyta (Pracaya, 2001). Kubis sebagai sayuran mempunyai peran penting untuk kesehatan. Kubis banyak mengandung vitamin dan mineral yang sangat dibutuhkan oleh manusia. Sebagai sayuran, kubis dapat membantu pencernaan, menetralkan zat-zat asam dan memperlancar buang air besar.

Tanaman kubis merupakan tanaman semusim yang di Indonesia banyak ditanam di daerah pegunungan, dengan ketinggian ±800 m di atas permukaan laut (dpl) dan mempunyai penyebaran hujan yang cukup setiap tahunnya. Sebagian kubis tumbuh baik pada ketinggian 100-200 m dpl, tetapi jumlah varietasnya tidak banyak dan tidak dapat menghasilkan biji. Pada daerah yang ketinggiannya di bawah 100 m, tanaman kubis tumbuh kurang baik. (Permadi dan Sastrosiswojo, 1993).

Pada umumnya kubis ditanam dengan pola tanam secara monokultur atau tumpangsari. Waktu tanam kubis yang paling baik adalah pada awal musim hujan atau awal musim kemarau. Meskipun demikian, kubis dapat ditanam sepanjang musim atau tahun asalkan kebutuhan airnya terpenuhi. Cara budidaya tanaman kubis adalah pengolahan tanah atau pembersihan gulma, penyulaman, pemupukan, pemanenan, dan pergiliran tanaman (Rukmana, 1994).

Secara umum, semua jenis kubis dapat tumbuh dan berkembang pada berbagai jenis tanah. namun demikian, kubis akan tumbuh optimum bila ditanam pada tanah yang kaya akan bahan organik. Kecuali itu, dalam hidupnya kubis memerlukan air yang cukup, tetapi tidak boleh berlebihan. Artinya tanaman kubis akan mati bila kekurangan atau kelebihan air.

Realita yang ada, tidak semua petani di sentra pertanaman kubis menanam kubis. Keengganan petani menanam kubis dipicu leh alasan klasik, takut terserang hama dan penyakit. Tanaman kubis yang akan tumbuh baik pada kelembaban yang cukup tinggi (60-69%) dan suhu cukup rendah memang dapat memunculkan berbagai penyakit, terutama bakteri dan cendawan. Kedua patogen inilah yang merupakan patogen utama pada kubis (Pracaya, 2001).

Kerugian yang dapat ditimbulakan oleh penyakit kubis sangat besar nilainya. Terkadang serangannya sangat hebat sehingga terjadi gagal panen. Oleh sebab itu pengetahuan mengenali penyakit-penyakit pada kubis, gejala, dan cara pengendaliannya sangat penting. Pengetahuan ini khususnya penting diketahui oleh petani kubis atau petani yang tinggal di daerah yang cocok untuk pertumbuhan kubis agar mereka tetap mau menanam kubis dan paham cara pengendalian penyakitnya.

MACAM-MACAM PENYAKIT KENTANG



Tanaman ini berasal dari daerah subtropis di Eropa yang masuk ke Indonesia pada saat bangsa Eropa memasuki Indonesia di sekitar abad ke 17 atau 18. Sentra tanaman yang utama adalah Lembang dan Pangalengan (Jawa Barat), Magelang (Jawa Timur), Bali. Produksi kentang pada tahun 1998 mencapai 1.011.316 ton. Kentang (Solanum tuberosum L) termasuk jenis tanaman sayuran semusim, berumur pendek dan berbentuk perdu/semak. Kentang termasuk tanaman semusim karena hanya satu kali berproduksi, setelah itu mati. Umur tanaman kentang antara 90-180 hari. Dalam dunia tumbuhan, kentang diklasifikasikan sebagai berikut:

  • Divisi : Spermatophyta
  • Subdivisi : Angiospermae
  • Kelas : Dicotyledonae
  • Famili : Solanaceae
  • Genus : Solanum
  • Species : Solanun tuberosum L.

Dari tanaman ini dikenal pula spesies-spesies lain yang merupakan spesies liar, di antaranya Solanum andigenum L, Solanum anglgenum L, Solanum demissum L dan lain-lain. Varitas kentang yang banyak ditanam di Indonesia adalah kentang kuning varitas Granola, Atlantis, Cipanas dan Segunung

Melihat kandungan gizinya, kentang merupakan sumber utama karbohidrat. Kentang menjadi makanan pokok di banyak negara barat. Zat-zat gizi yang terkandung dalam 100 gram bahan adalah kalori 347 kal, protein 0,3 gram, lemak 0,1 gram, karbohidrat 85,6 gram, kalsium (Ca) 20 gram, fosfor (P) 30 mg, besi (Fe) 0,5 mg dan vitamin B 0,04 mg.





Penyakit busuk daun (jamur Phytopthora infestans).

Gejala:
timbul bercak-bercak kecil berwarna hijau kelabu dan agak basah, lalu bercak-bercak ini akan berkembang dan warnanya berubah menjadi coklat sampai hitam dengan bagian tepi berwarna putih yang merupakan sporangium. Selanjutnya daun akan membusuk dan mati.

Pengendalian:
menggunakan Antracol 70 WP, Dithane M-45, Brestan 60, Polyram 80 WP, Velimek 80 WP dan lain-lain.




Penyakit layu bakteri Pseudomonas solanacearum.


Gejala:
beberapa daun muda pada pucuk tanaman layu dan daun tua, daun bagian bawah menguning.

Pengendalian:
dengan cara menjaga sanitasi kebun, pergiliran tanaman. Pemberantasan secara kimia dapat menggunkan bakterisida, Agrimycin atu Agrept 25 WP.



Penyakit busuk umbi (Jamur Colleotrichum coccodes)


Gejala:
daun menguning dan menggulung, lalu layu dan kering. Pada bagian tanaman yang berada dalam tanah terdapat bercak-bercak berwarna coklat. Infeksi akan menyebabkan akar dan umbi muda busuk.

Pengendalian:
dengan cara pergiliran tanaman , sanitasi kebun dan penggunaan bibit yang baik.


Penyakit fusarium (jamur Fusarium sp.)

Gejala:
infeksi pada umbi menyebabkan busuk umbi yang menyebabkan tanaman layu. Penyakit ini juga menyerang kentang di gudang penyimpanan. Infeksi masuk melalui luka-luka yang disebabkan nematoda/faktor mekanis.

Pengendalian:
dengan menghindari terjadinya luka pada saat penyiangan dan pendangiran.
Pengendalian kimia dengan Benlate.


Penyakit bercak kering (Early Blight) atau 
jamur Alternaria solani.

Jamur hidup disisa tanaman sakit dan berkembang biak di daerah kering.

Gejala:
daun terinfeksi berbercak kecil yang tersebar tidak teratur, berwarna coklat tua, lalu meluas ke daun muda. Permukaan kulit umbi berbercak gelap tidak beraturan, kering, berkerut dan keras.

Pengendalian:
dengan pergiliran tanaman.

Penyakit karena virus

Virus yang menyerang adalah:


  • Potato Leaf Roll Virus (PLRV) menyebabkan daun menggulung;
  • Potato Virus X (PVX) menyebabkan mosaik laten pada daun;
  • Potato Virus Y (PVY) menyebabkan mosaik atau nekrosis lokal;
  • Potato Virus A (PVA) menyebabkan mosaik lunak; (5) Potato Virus M (PVM) menyebabkan mosaik menggulung;
  • Potato Virus S (PVS) menyebabkan mosaik lemas .


Gejala:
akibat serangan, tanaman tumbuh kerdil, lurus dan pucat dengan umbi kecil-kecil/tidak menghasilkan sama sekali; daun menguning dan jaringan mati. Penyebaran virus dilakukan oleh peralatan pertanian, kutu daun Aphis spiraecola, A. gossypii dan Myzus persicae, kumbang Epilachna dan Coccinella dan nematoda.

Pengendalian:
tidak ada pestisida untuk mengendalikan virus, pencegahan dan pengendalian dilakukan dengan menanam bibit bebas virus, membersihkan peralatan, memangkas dan membakar tanaman sakit, memberantas vektor dan pergiliran tanaman.

Selasa, 23 Agustus 2011

MACAM-MACAM PENYAKIT KEDELAI





Penyakit Karat (Phakopsora pachyrhizi)

Gejala Serangan


Pada daun pertama berupa bercak-bercak berisi uredia (badan buah yang memproduksi spora). Bercak ini berkembang ke daun-daun di atasnya dengan bertambahnya umur tanaman. Bercak terutama terdapat pada permukaan bawah daun. Warna bercak coklat kemerahan seperti warna karat. Bentuk bercak umumnya bersudut banyak berukuran sampai 1 mm. Bercak juga terlihat pada bagian batang dan tangkai daun.

Siklus Penyakit dan Epidemiologi

Epidemi didorong oleh panjangnya waktu daun dalam kondisi basah dengan terperatur kurang dari 28 °C. Perkembangan spora dan penetrasi spora membutuhkan air bebas dan terjadi pada suhu 8-28 °C. Uredia muncul 9-10 hari setelah infeksi dan urediniospora diproduksi setelah 3 minggu. Kondisi lembab yang panjang dan periode dingin dibutuhkan untuk menginfeksi daun-daun dan sporulasi. Penyebaran urediniospora dibantu oleh hembusan angin pada waktu hujan. Patogen ini tidak ditularkan melalui benih.

Pengendalian

Menanam varietas tahan.
Aplikasi fungisida mankoseb, triadimefon, bitertanol dan difenokonazol



===============================================================================================================================






Penyakit Pustul Bakteri (Xanthomonas axonopodis pv glycines)

Gejala Serangan


Gejala awal berupa bercak kecil berwarna hijau pucat, tampak pada kedua permukaan daun, menonjol pada bagian tengah lalu menjadi bisul warna coklat muda atau putih pada permukaan bawah daun. Gejala ini sering dikacaukan dengan penyakit karat kedelai. Tetapi bercak karat lebih kecil dan sporanya kelihatan jelas. Bercak bervariasi dari bintik kecil sampai besar tak beraturan, berwarna kecoklatan. Bercak kecil bersatu membentuk daerah nekrotik yang mudah robek oleh angin sehingga daun berlubang-lubang. Pada infeksi berat menyebabkan daun gugur.

Siklus Penyakit dan Epidemiologi

Bakteri bertahan pada biji, sisa-sisa tanaman dan di daerah perakaran. Beberapa gulma, Dolichos biflorus, buncis subspesies tertentu dan kacang tunggak bisa menjadi inang. Bakteri menyebar melalui air hujan atau hembusan angin pada waktu hujan. Bakteri masuk ke tanaman melalui lubang-lubang alami dan luka pada tanaman.

Pengendalian

Menanam benih bebas patogen.
Membenamkan sisa tanaman terinfeksi.
Hindari rotasi dengan buncis dan kacang tunggak.




===========================================================================================







Penyakit Antraknose (Colletotrichum dematium var truncatum dan C. destructivum)


Gejala Serangan


Penyakit Antraknose menyerang batang, polong dan tangkai daun. Akibat serangan adalah perkecambahan biji terganggu, kadang-kadang bagian-bagian yang terserang tidak menunjukkan gejala. Gejala hanya timbul bila kondisi menguntungkan perkembangan jamur. Tulang daun pada permukaan bawah tanaman terserang biasanya menebal dengan warna kecoklatan. Pada batang akan timbul bintik-bintik hitam berupa duri-duri jamur yang menjadi ciri khasnya.

Siklus Penyakit dan Epidemiologi

Patogen bertahan dalam bentuk miselium pada residu tanaman atau pada biji terinfeksi. Miselium menjadi penyebab tanaman terinfeksi tanpa menimbulkan perkembangan gejala sampai tanaman menjelang masak. Infeksi batang dan polong terjadi selama fase reproduksi apabila cuaca lembab dan hangat.

Pengendalian

Menanam benih kualitas tinggi dan bebas patogen.
Perawatan benih terutama pada benih terinfeksi.
Membenamkan sisa tanaman terinfeksi.
Aplikasi fungisida benomil, klorotalonil, captan pada fase berbunga sampai pengisian polong.
Rotasi dengan tanaman selain kacang-kacangan.


======================================================================================================================





Downy Mildew (Peronospora manshurica)

Gejala Serangan


Pada permukaan bawah daun timbul bercak warna putih kekuningan, umumnya bulat dengan batas yang jelas, berukuran 1-2 mm. Kadang-kadang bercak menyatu membentuk bercak lebih lebar yang selanjutnya dapat menyebabkan bentuk daun abnormal, kaku dan mirip penyakit yang disebabkan oleh virus. Pada permukaan bawah daun terutama di pagi hari yang dingin timbul miselium dan konidium.

Siklus Penyakit dan Epidemiologi

Peronospora manshurica mampu bertahan sampai beberapa musim dalam bentuk oospora pada daun atau biji, menginfeksi tanaman dalam kondisi dingin dengan gejala klorotik pada daun. Apabila terjadi embun maka sporangium akan terbentuk dan selanjutnya tersebar pada daun baru dengan perantara udara. Perkembangan penyakit didukung oleh kelembaban tinggi dan suhu 20-22 °C. Sporulasi terjadi pada suhu 10-25 °C. Pada suhu di atas 30 °C atau di bawah 10 °C sporulasi tidak terjadi. Daun-daun lebih tahan terhadap infeksi dengan bertambahnya umur tanaman dan pada suhu tinggi. Apabila jumlah bercak kuning bertambah maka ukuran daun makin menyusut.

Pengendalian

Perawatan benih dengan fungisida.
Membenamkan sisa tanaman terinfeksi.
Rotasi tanam selama 1 tahun atau lebih.



====================================================================================





Penyakit Target Spot (Corynespora cassiicola)

Gejala Serangan



Bercak coklat kemerahan timbul pada daun, batang, polong, biji, hipokotil dan akar dengan diameter 10-15 mm. Kadang-kadang mengalami sonasi, yaitu membentuk lingkaran seperti pada papan tembak (target).

Siklus Penyakit dan Epidemiologi

Patogen bertahan pada batang, akar, biji dan mampu bertahan di dalam tanah yang tidak diusahakan selama lebih dari 2 tahun. Infeksi hanya terjadi bila kelembaban udara relatif 80% atau lebih atau terjadi air bebas di atas daun. Cuaca kering menghambat pertumbuhan jamur pada daun dan akar. Infeksi pada batang dan akar terjadi pada awal fase pertumbuhan tanaman. Gejala terlihat pada 3 minggu setelah tanaman tumbuh. Suhu tanah optimal untuk menginfeksi dan perkembangan penyakit selanjutnya adalah 15-18 °C. Pada suhu 20 °C gejala penyakit tidak terlalu parah dan akar terbentuk normal. Patogen dapat hidup dan menyerang bermacam-macam tumbuhan (kosmopolitan) dan di negara tropis keberadaannya sangat melimpah.

Pengendalian

Perawatan benih terutama pada biji terinfeksi.
Membenamkan sisa tanaman terinfeksi.
Aplikasi fungisida benomil, klorotalonil dan kaptan.



===============================================================================================






Rebah Kecambah, Busuk Daun, Batang dan Polong (Rhizoctonia solani)

Gejala Serangan

Penyakit-penyakit yang disebabkan R. solani mencakup rebah kecambah, busuk atau hawar daun, polong dan batang. Pada tanaman yang baru tumbuh terjadi busuk (hawar) di dekat akar, kemudian menyebabkan tanaman mati karena rebah. Pada daun, batang dan polong timbul hawar dengan arah serangan dari bawah ke atas. Bagian tanaman yang terserang berat akan kering. Pada kondisi yang sangat lembab timbul miselium yang menyebabkan daun-daun akan lengket satu sama lain menyerupai sarang laba-laba (web blight).

Siklus Penyakit dan Epidemiologi

Jamur R. solani membentuk sklerotia warna coklat hingga hitam dengan bentuk tidak beraturan dengan ukuran sampai 0,5 mm. Jamur ini mempunyai banyak tanaman inang dari tanaman pangan, sayuran, buah dan tanaman hias sehingga sulit dikendalikan. R. solani tinggal di tanah yang mempunyai kemampuan saprofit tinggi, mampu hidup 3 bulan pada kultur kering dan 4 bulan pada kultur cair. R. solani bertahan hidup tanpa tanaman inang serta hidup saprofit pada semua jenis sisa tanaman. R. solani dapat menimbulkan epidermi pada daerah dengan kelembaban tinggi dan cuaca hangat. Jamur dapat hidup bertahan lama di dalam tanah yang merupakan sumber inokulum yang penting.

Pengendalian

Perawatan benih dengan fungisida dan aplikasi fungisida sistemik.
Mempertahankan drainase tetap baik.



==========================================================================================================



Penyakit Hawar Batang (Sclerotium rolfsii)


Gejala Serangan


Infeksi terjadi pada pangkal batang atau sedikit di bawah permukaan tanah berupa bercak coklat tua/warna gelap dan meluas sampai ke hipokotil. Gejala layu mendadak merupakan gejala pertama yang timbul. Daun-daun yang terinfeksi mula-mula berupa bercak bulat berwarna merah sampai coklat dengan pinggir berwarna coklat tua, kemudian mengering dan sering menempel pada batang mati. Gejala khas patogen ini adalah miselium putih yang terbentuk pada pangkal batang, sisa daun dan pada tanah di sekeliling tanaman sakit. Miselium tersebut menjalar ke atas batang sampai beberapa centimeter.

Siklus Penyakit dan Epidemiologi

Tanaman kedelai peka terhadap jamur ini sejak mulai tumbuh sampai pengisian polong. Kondisi lembab dan panas memacu perkembangan miselium yang kemudian hilang bila keadaan berubah menjadi kering. Pada keadaan lembab sekali akan terbentuk sklerotia yang berbentuk bulat seperti biji sawi dengan diameter 1-1,5 mm. Karena mempunyai lapisan dinding yang keras, sklerotium dapat dipakai untuk mempertahankan diri terhadap kekeringan, suhu tinggi dan hal lain yang merugikan. Penyakit banyak terjadi tetapi jarang berakibat serius, namun pernah mengakibatkan penurunan hasil yang cukup tinggi pada kedelai yang ditanam secara monokultur atau rotasi pendek dengan tanaman yang peka.

Pengendalian

Memperbaiki pengolahan tanah dan drainase.
Perawatan benih dengan fungisida.



=============================================================================================================

Penyakit Hawar, Bercak Daun dan Bercak Biji Ungu (Cercospora kikuchii)

Gejala Serangan

Gejala pada daun, batang dan polong sulit dikenali sehingga pada polong yang normal mungkin bijinya sudah terinfeksi. Gejala awal pada daun timbul saat pengisian biji dengan kenampakan warna ungu muda yang selanjutnya menjadi kasar, kaku dan berwarna ungu kemerahan. Bercak berbentuk menyudut sampai tidak beraturan dengan ukuran yang beragam dari sebuah titik sebesar jarum sampai 10 mm dan menyatu menjadi bercak yang lebih besar. Gejala mudah diamati pada biji yang terserang yaitu timbul bercak berwarna ungu. Biji mengalami diskolorasi dengan warna yang bervariasi dari merah muda atau ungu pucat sampai ungu tua dan berbentuk titik sampai tidak beraturan dan membesar.

Siklus Penyakit dan Epidemiologi

C. kikuchii bersporulasi melimpah pada suhu 23-27 °C dalam waktu 3-5 hari pada jaringan terinfeksi termasuk biji. Penyakit ini tidak menurunkan hasil secara langsung tetapi mampu menurunkan kualitas biji dengan adanya bercak ungu yang kadang-kadang mencapai 50% permukaan biji. Inokulum pertama dari biji atau jaringan tanaman terinfeksi yang berasal dari pertanaman sebelumnya. Di lapangan dengan temperatur 28-30 °C disertai kelembaban tinggi cukup lama akan memacu perkembangan penyakit bercak dan hawar daun. Di ruang dengan kelembaban tinggi, infeksi penyakit maksimum terjadi dalam kondisi bergantian antara 12 jam terang dan gelap pada suhu 20-24 °C. Infeksi penyakit meningkat dengan bertambah panjangnya periode embun dan pada varietas yang berumur pendek penyakit akan lebih parah.

Pengendalian

Menanam benih yang sehat/bersih.
Perawatan benih dengan fungisida.
Aplikasi fungisida sistemik.




=================================================================================================

Penyakit Virus Mosaik (SMV)

Gejala Serangan


Tulang daun pada daun yang masih muda menjadi kurang jernih. Selanjutnya daun berkerut dan mempunyai gambaran mosaik dengan warna hijau gelap di sepanjang tulang daun. Tepi daun sering mengalami klorosis. Tanaman yang terinfeksi SMV ukuran bijinya mengecil dan jumlah biji berkurang sehingga hasil biji turun. Bila penularan virus terjadi pada tanaman muda, penurunan hasil berkisar antara 50-90%. Penurunan hasil sampai 93% telah dilaporkan pada lahan percobaan yang dilakukan inokulasi virus mosaik kedelai.

Siklus Penyakit dan Epidemiologi

SMV dapat menginfeksi tanaman kacang-kacangan: kedelai, buncis, kacang panjang, kapri (Pisum sativum), orok-orok (Crotalaria sp.) dan berbagai jenis kara (Dolichos lablab, Canavalia encitormis dan Mucana sp.). Virus SMV tidak aktif pada suhu 55-70 °C dan tetap infektif pada daun kedelai kering selama 7 hari pada suhu 25-33 °C. Partikel SMV sukar dimurnikan kerena cepat mengalami egregasi.

Pengendalian

Mengurangi sumber penularan virus.
Menekan populasi serangga vektor.
Menanam varietas toleran.






Daftar Pustaka

Departemen Pertanian. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. 2006. Hama, Penyakit dan Masalah Hara pada Tanaman Kedelai. Identifikasi dan Pengendaliannya. Bogor

MACAM-MACAM PENYAKIT PADA JAGUNG




Penyakit Bulai (Downy Mildew)

Disebabkan oleh cendawan Sclerospora maydis. Penyakit bulai meyebabkan kerugian paling besar dalam budidaya jagung. Akibat serangan penyakit bulai, tanaman tidak dapat tumbuh dan berproduksi lagi. Penyakit bulai berbahaya pada tanaman jagung yang berumur <3 minggu. Faktor-faktor yang mendukung berkembangnya penyakit bulai adalah: 1. Kondisi lingkungan yang lembab (musim hujan) 2. Tanah yang lembab atau basah (irigasi jelek) mendukung perkecambahan jamur Sclerospora maidis. 3. Pemupukan N yang berlebihan dan sifat fisik tanah yang liat mempermudah perkembangan penyakit bulai. Gejala tanaman jagung yang terserang penyakit bulai tergantung dari umur tanaman. Bagaimana gejala-gejalanya? Berikut adalah gejala-gejala yang sering muncul: 1. Tanaman jagung yang berumur 2-3 minggu mempunyai daun menguning, kaku dan meruncing. Tanaman jagung yang terserang pada umur ini tidak dapat lagi diharapkan hasinya. 2. Tanaman jagung yang berumur 3-5 minggu menunjukkan tanda-tanda daun yang baru muncul menguning, pertumbuhan lambat, tongkol hanya berbiji sedikit, produksi turun hingga 50%. 3.Tanaman jagung berumur 5 minggu, daunnya terdapat garis-garis kuning. Pada tahap ini tanaman jagung akan tetap berproduksi turun 30%. Pengendalian


Pengedalian yang utama adalah mengatur waktu tanam, sehingga pada awal musim hujan tanaman jagung telah berumur lebih dari 5 minggu. Dengan kondisi cuaca sekarang yang tidak menentu, saluran irigasi harus lancar.Perlakuan benih dengan fungisida yang mengandung belerang atau tembaga, agar konidia yang terbawa benih tidak berkembang.


===================================================================================





Penyakit karat

Disebabkan oleh cendawan Puccinia sorghi. Tanaman jagung yang terserang menunjukkan tanda bercak-bercak kuning kemerahan seperti warna karat besi. Akibat dari serangan penyakit karat, produksi tanaman jagung akan menurun.

Gejala yang ditimbulkan:

1. Penyakit karat daun muncul ketika tanaman akan berbunga
2. Bercak-bercak kuning kemerahan pada daun, dan kelobot jagung.

Faktor pendukung perkembangan penyakit bulai adalah kelembapan udara dan curah hujan yang tinggi. Pengendalian tanaman yang dapat dilakukan adalah membuang bagian tanaman yang terserang.


====================================================================================







Penyakit Gosong (smut)

Disebabkan oleh cendawan Ustilago maydis. Gejala tanaman yang terseramg penyakit gosong adalah warna hitam pada tongkol, batang atau daun jagung.

Faktor-faktor pendukung berkembangnya penyakit gosong adalah:

1. Curah hujan tinggi dan angin yang kencang
2. Pupuk Nitrogen yang berlebihan meningkatkan keparahan penyakit.

Pengendalian

Pengendalian yang dapat dilakukan adalah dengan memusnahkan bagian tanaman yang terserang, perlakuan benih dengan fungisida dan menanam varietas tanaman jagung yang resisten.


=================================================================================


Penyakit busuk tongkol


Disebabkan cendawan Fusarium verticillioides. Gejala yang terlihat tongkol jagung berwarna merah atau merah kecoklatan dan busuk. Pengendalian dilakukan dengan pergiliran tanaman, membakar bagian tanaman yang terserang dan menanam varietas yang tahan.

Minggu, 21 Agustus 2011

PENYAKIT PENTING PADA TEH


Cacar daun
Exobasidium vexans, Famili Exobasidiaceae, Ordo Exobasidiales


BLISTER BLIGHT




Penyakit cacar daun teh yang disebabkan oleh jamur E. vexans dapat menurunkan produksi pucuk basah sampai 50 persen karena menyerang daun atau ranting yang masih muda.

Umumnya serangan terjadi pada pucukpeko, daun pertama, kedua dan ketiga. Gejala awal terlihat bintik-bintik kecil tembus cahaya, kemudian bercak melebar dengan pusat tidak berwarna dibatasi oleh cincin berwarna hijau, lebih hijau dari sekelilingnya dan menonjol ke bawah. Pusat bercak menjadi coklat tua akhirnya mati sehingga terjadi lubang.

Penyakit tersebar melalui spora yang terbawa angin, serangga atau manusia.Perkembangan penyakit dipengaruhi oleh kelembaban udara yang tinggi, angin,ketinggian lokasi kebun dan sifat tanaman.Banyaknya bulu daun pada peko dapat mempertinggi ketahanan terhadap penyakit cacar. Kedatangan cacar daun dapat diramalkan apabila dalam 7-10 hari berturut-turut turun hujan.

Pengendalian penyakit dilakukan dengan pengaturan naungan agar sinar matahari dapat masuk ke kebun. Pemangkasan teh di musim kemarau agar tanaman yang baru dipangkas dapat berkembang karena pada saat ini cacar teh sulit berkembang.

Pengaturan daur petik kurang dari 9 hari dapat mengurangi sumber penularan baru karena pucuk terserang sudah terpetik. Untuk pencegahan, sebaiknya ditanam klon
teh yang tahan seperti PS 1 dan RB 1.





=======================================================================================

Penyakit akar

1) Ganoderma philippii
2) Poria hypolateritia
3) Rosellinia arcuata dan R.bunodes
4) Ustulina deusta
5) Armillaria mellea

ROOT FUNGUS



GGanoderma philippii lanjut pada tanah





Penyakit akar yang penting pada tanaman teh yaitu:

(1) Penyakit akar merah anggur;
(2) Penyakit akar merah bata;
(3) Penyakit akar hitam;
(4) Penyakit leher akar;
(5) Penyakit kanker belah.

Kelima penyakit ini menular melalui kontak akar sakit dengan akar sehat atau melalui benang jamur yang menjalar bebas dalam tanah atau pada sampah-sampah diatas permukaan tanah (jamur kanker belah).

Gejala pada tanaman terserang adalah daun menguning, layu, gugur dan akhirnya
tanaman mati. Untuk mengetahui penyebabnya, harus melalui pemeriksaan akar. Batang tanaman teh terbelah dari bagian bawah ke atas, kayu menjadi busuk kering dan lunak sehingga mudah hancur (penyakit kanker belah). Unsur yang mempengaruhi penyebaran penyakit adalah ketinggian tempat, jenis/ kondisi tanah dan jenis pohon pelindung.

Pengendalian dilakukan dengan penanaman pohon pelindung yang tahan,membongkar tanaman teh yang terserang,dan menjaga kebersihan kebun. Juga pemberian Trichoderma sp. 200 gram per pohon pada lubang bekas tanaman yang dibongkar dan tanaman disekitarnya pada awal musim hujan, di ulang setiap 6 bulan sekali sampai tidak ditemukan gejala penyakit akar di daerah tersebut. Tanaman teh disekitarnya diberi pupuk kandang atau pupuk organik.


=====================================================================================


Penyakit busuk daun

Calonectria kyotensis (= Cylindrocladium scoparium),Famili Hypocreaceae, Ordo Hypocreales dan
Glomerella cingulata, Famili Phyllacoraceae, Ordo Phyllachorales


Penyakit busuk daun disebabkan oleh C. scoparium dan G. cingulata yang menyerang tanaman teh di pesemaian,dapat mengakibatkan matinya setek teh.Pada bibit terserang, timbul bercakbercak coklat pada daun induknya,dimulai dari bagian ujung atau dari ketiak daun.Pada serangan lanjut, daun induk terlepas dari tangkai, akhirnya setek mengering /mati. Serangan dimulai dari ujung tunas, kemudian meluas ke bawah akhirnya seluruh tunas mengering.

Penyebaran penyakit melalui konidia yang dapat bertahan lama di dalam tanah. Pencegahan penyakit dilakukan dengan mengatur kelembaban di pesemaian dan membuat parit penyalur air untuk mencegah penggenangan (drainase).Apabila ditemukan gejala, langsung dilakukan penyemprotan fungisida kontak yang telah direkomendasikan
(misal yang berbahan aktif Mankozeb 80%).



DAFTAR PUSTAKA

Anonim (1992). Pengendalian hama, penyakit dan gulma di perkebunan teh: Pengendalian Hama. Pusat Penelitian Perkebunan Gambung, Bandung,Indonesia.

Widayat, Wahyu (1989). Hama-Hama Penting pada Tanaman Teh dan Cara Pengendaliannya. Balai Penelitian Teh dan Kina, Gambung, Bandung,Indonesia.

Sabtu, 20 Agustus 2011

DEFINISI DAN MACAM HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN (umum)


Tumbuhan tidak selamanya bisa hidup tanpa gangguan. Kadang tumbuhan mengalami gangguan oleh binatang atau organisme kecil (virus, bakteri, atau jamur). Hewan dapat disebut hama karena mereka mengganggu tumbuhan dengan memakannya. Belalang, kumbang, ulat, wereng, tikus, walang sangit merupakan beberapa contoh binatang yang sering menjadi hama tanaman.

Gangguan terhadap tumbuhan yang disebabkan oleh virus, bakteri, dan jamur disebut penyakit. Tidak seperti hama, penyakit tidak memakan tumbuhan, tetapi mereka merusak tumbuhan dengan mengganggu proses – proses dalam tubuh tumbuhan sehingga mematikan tumbuhan. Oleh karena itu, tumbuhan yang terserang penyakit, umumnya, bagian tubuhnya utuh. Akan tetapi, aktivitas hidupnya terganggu dan dapat menyebabkan kematian. Untuk membasmi hama dan penyakit, sering kali manusia menggunakan oat – obatan anti hama. Pestisida yang digunakan untuk membasmi serangga disebut insektisida. Adapun pestisida yang digunakan untuk membasmi jamur disebut fungsida.

Pembasmi hama dan penyakit menggunakan pestisida dan obat harus secara hati – hati dan tepat guna. Pengunaan pertisida yang berlebihan dan tidak tepat justru dapat menimbulkan bahaya yang lebih besat. Hal itu disebabkan karena pestisida dapat menimbulkan kekebalan pada hama dan penyakit. Oleh karena itu pengguna obat – obatan anti hama dan penyakit hendaknya diusahakan seminimal dan sebijak mungkin.

Secara alamiah, sesungguhnya hama mempunyai musuh yang dapat mengendalikannya. Namun, karena ulah manusia, sering kali musuh alamiah hama hilang. Akibat hama tersebut merajalela. Salah satu contoh kasus yang sering terjadi adalah hama tikus. Sesungguhnya, secara ilmiah, tikus mempunyai musuh yang memamngsanya. Musuh alami tikus ini dapat mengendalikan jumlah populasi tikus. Musuhnya tikus itu ialah Ular, Burung hantu, dan elang. Sayangnya binatang – binatang tersebut ditangkapi oleh manusia sehingga tikus tidak lagi memiliki pemangsa alami. Akibatnya, jumlah tikus menjadi sangat banyak dan menjadi hama pertanian.


===============================================================================


A. Hama

Hama tumbuhan adalah organisme yang menyerang tumbuhan sehingga pertumbuhan dan perkemabanganya terganggu. Hama yang menyerang tumbuhan antara lain tikus, walang sangit, wereng, tungau, dan ulat.


1. Tikus


Tikus merupakan hama yang sering kali membuat pusing para petani. Hal ini diesbabkan tikus sulit dikendalikan karena memiliki daya adaptasi, mobilitas, dan kemampuan untuk berkembang biak yang sangat tinggi. Masa reproduksi yang relative singkat menyebabkan tikus cepat bertambah banyak. Potensi perkembangbiakan tikus sangat tergantung dari makanan yang tersedia. Tikus sangat aktif di malam hari.

Tikus menyerang berbagai tumbuhan. Bagian tumbuhan yang disarang tidak hanya biji – bijian tetapi juga batang tumbuhan muda. Yang membuat para tikus kuat memakan biji – bijian sehingga merugikan para petani adalah gigi serinya yang kuat dan tajam, sehingga tikus mudah untuk memakan biji – bijian. Tikus membuat lubang – lubang pada pematang sawah dan sering berlindung di semak – semak. Apabila keadaan sawah itu rusak maka berarti sawah tersebut diserang tikus.

Untuk mengatasi serangan hama tikus, dapat dilakukan cara – cara sebagai berikut :

a. Membongkar dan menutup lubang tempat bersembunyi para tikus dan menangkap tikusnya.

b. Menggunakan musuh alami tikus, yaitu ular.

c. Menanam tanaman secara bersamaan agar dapat menuai dalam waktu yang bersamaan pula sehingga tidak ada kesempatan bigi tikus untuk mendapatkan makanan setelah tanaman dipanen.

d. Menggunakan rodentisida (pembasmi tikus) atau dengan memasang umpan beracun, yaitu irisan ubi jalar atau singkong yang telah direndam sebelumnya dengan fosforus. Peracunan ini sebaiknya dilakukna sebelum tanaman padi berbunga dan berbiji. Selain itu penggunaan racun harus hati – hati karena juga berbahaya bagi hewan ternak dan manusia.

===================================================================================

2. Wereng


Wereng adalah sejenis kepik yang menyebabkan daun dan batang tumbuhan berlubang – lubang, kemudian kering, dan pada akhirnya mati. Hama wereng ini dapat dikendalikan dengan cara – cara sebagai betikut :

a. Pengaturan pola tanam, yaitu dengan melakukan penanaman secara serentak maupun dengan pergiliran tanaman. Pergiliran tanaman dilakukan untuk memutus siklus hidup wereng dengan cara menanam tanaman palawija atau tanah dibiarkan selama 1 – 2 bulan.

b. Pengandalian hayati, yaitu dengan menggunakan musuh alami wereng, misalnya laba – laba predator Lycosa Pseudoannulata, kepik Microvelia douglasi dan Cyrtorhinuss lividipenis, kumbang Paederuss fuscipes, Ophinea nigrofasciata, dan Synarmonia octomaculata.

c. Pengandalian kimia, yaitu dengan menggunakan insektisida, dilakukan apabila cara lain tidak mungkin untuk dilakukan. Penggunaan insektisida diusahakan sedemikan rupa sehingga efektif, efisien, dan aman bagi lingkungan.


===================================================================================

3. Walang Sangit


Walang sangit (Leptocorisa acuta) merupakansalah satu hama yang juga meresahkan petani. Hewan ini jika diganggu, akan meloncat dan terbang sambil mengeluarkan bau. Serangga ini berwarnahijau kemerah- merahan.

Walang sangit menghisab butir – butir padi yang masih cair. Biji yang sudah diisap akan menjadi hampa, agak hampa, atau liat. Kulit biji iu akan berwarna kehitam – hitaman. Faktor – faktor yang mendukung yang mendukung populasi walang sangit antara lain sebagai berikut.

a. Sawah sangat dekat dengat perhutanan.

b. Populasi gulma di sekitar sawah cukup tinggi.

c. Penanaman tidak serentak

Pengendalian terhadap hama walang sangit dapat dilakukan sebagai berikut.

a. Menanam tanaman secara serentak.

b. Membersihkan sawah dari segala macam rumput yang tumbuh di sekitar sawah agar tidak menjadi tempat berkembang biak bagi walang sangit.

c. Menangkap walang sangit pada pagi hari dengan menggunakan jala penangkap.

d. Penangkapan menggunakan unmpan bangkai kodok, ketam sawah, atau dengan alga.

e. Melakukan pengendalian hayati dengan cara melepaskan predator alami beruba laba – laba dan menanam jamur yang dapat menginfeksi walang sangit.

f. Melakukan pengendalian kimia, yaitu dengan menggunakan insektisida.

Walang sangit muda (nimfa) lebih aktif dibandingkan dewasanya (imago), tetapi hewan dewasa dapat merusak lebih hebat karenya hidupnya lebih lama. Walang sangit dewasa juga dapat memakan biji – biji yang sudah mengeras, yaitu dengan mengeluarkan enzim yang dapat mencerna karbohidrat.


=================================================================================


4. Ulat

Kupu – kupu merupakan serangga yang memiliki sayap yang indah dan benareka ragam. Kupu – kupu meletakkan telurnya dibawah daun dan jika menetas menjadi larva. Kita bisa sebut larva kupu – kupu sebagai ulat. Pada fase ini, ulat aktif memakan dedaunan bahkan pangkal batang, terutama pada malam hari. Daun yang dimakan oleh ulat hanya tersisa rangka atau tulang daunya saja.

Upaya pemberantasan dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut.

a. Membuang telur – telur kupu – kupu yang melekat pada bagian bawah daun.

b. Menggenangi tempat persemaian dengan air dalam jumlah banyak sehingga ulat akan bergerak ke atas sehingga mudah untuk dikumpulkan dan dibasmi.

c. Apabila kedua cara diatas tidak berhasil, maka dapat dilakukan penyemprotan dengan menggunakan pertisida.


===================================================================================


5. Tungau

Tungau (kutu kecil) bisaanya terdapat di sebuah bawah daun untuk mengisap daun tersebut. Hama ini banyak terdapat pada musim kemarau. Pada daun yang terserang kutu akan timbul bercak – bercak kecil kemudian daun akan menjadi kuning lalu gugur. Hama ini dapat diatasi dengan cara mengumpulkan daun – daun yang terserang hama pada suatu tempat dan dibakar.


================================================================================================================================================================================


B. Penyakit Tumbuhan

Jenis – jenis penyakit yang menyerang tumbuhan sangat banyak jumlahnya. Penyakit yang menyerang tumbuhan banyak disebabkan oleh mikroorganisme, misalnya jamur, bakteri, dan alga. Penyakit tumbuhan juga dapat disebabkan oleh virus.


1. Jamur


Jamur adalah salah satu organisme penyebab penyakit yang menyerang hampir semua bagian tumbuhan, mulai dari akar, batang, ranting, daun, bunga, hingga buahnya. Penyebaran jenis penyakit ini dapat disebabkan oleh angin, air, serangga, atau sentuhan tangan.

Penyakit ini menyebabkan bagian tumbuhan yang terserang, misalnya buah, akan menjadi busuk. Jika menyerang bagian ranting dan permukaan daun, akan menyebabkan bercak – bercak kecokelatan. Dari bercak – bercak tersebut akan keluar jamur berwarna putih atau oranye yang dapat meluas ke seluruh permukaan ranting atau daun sehingga pada akhirnya kering dan rontok.

Jika jamur ini mengganggu proses fotosintesis karena menutupi permukaan daun. Batang yang terserang umumnya akan membusuk, mula – mula dari arah kulit kemudian menjalar ke dalam, dan kemudian membusukkan jaringan kayu. Jaringan yang terserang akan mengeluarkan getah atau cairan. Jika kondisi ini dibiarkan, jaringan kayu akan membusuk, kemudian seluruh dahan yang ada di atasnya akan layu dan mati.

Contoh penyakit yang disebabkan oleh jamur adalah sebagai berikut.

a) Penyakit pada padi.

Penyakit pada ruas batang dan butir padi disebabkan oleh jamur Pyricularia oryzea. Ruas – ruas batang menjadi mudah patah dan tanaman padi akhirnya mati. Selain itu, terdapat pula penyakit yang menyebabkan daun pedi menguning. Penyakit ini disebabkan oleh jamur Magnaporthegrisea.

b) Penyakit embun tepung.

Penyakit ini disebabkan oleh jamur Peronospora parasitica. Jamur ini kadang – kadang menyerang biji yang sedang berkecambah sehingga biji menjadi keropos dan akhirnya mati. Jamur ini kadang – kadang menyerang daun pertama pada kecambah sehingga tumbuhan menjadi kerdil. Tumbuhan kerdil dapat tumbuh terus tapi pada daun – daunnya terdapat kercak – bercak hitam.
Untuk memberantas jamur ini dilakukan pengendalian secara kimia, yaitu dengan pemberian fungsida pada tanaman yang terserang jamur.


=======================================================================================


2. Bakteri

Bakteri dapat membusukkan daun, batang, dan akar tumbuhan. Bagian tumbuh tumbuhan yang diserang bakteri akan mengeluarkan lendir keruh, baunya sangat menusuk, dan lengket jika disentuh. Setelah membusuk, lama – kelamaan tumbuhan akan mati. Tumbuhan yang diserang bakteri dapat diatasi dengan menggunakan bakterisida.

Contoh penyakit yang disebabkan oleh bakteri adalah penyakit yang menyerang pembuluh tapis batang jeruk (citrus vein phloem degeneration atau CVPD). CVPD disebabken oleh bakteri Serratia marcescens. Gejalanya adalah kuncup daun menjadi kecil dan berwarna kuning, buah menjadi kuning, sehingga lama – kelamaan akan mati. Penyakit CVPD yang belum parang dapat disembuhkan dengan terramycin, yang merupakan sejenis antibiotik.


===================================================================================


3. Virus

Selain bakteri dan jamur, dalam kondisi yang sehat, tumbuhan dapat terserang oleh virus. Penyakit yang disebabkan oleh virus cukup berbahaya karena dapat menular dan menyebar ke seluruh tumbuhan dengan cepat. Tumbuhan yang sudah terlanjur diserang sulit untuk disembuhkan. Contoh penyakit yang disebabkan oleh virus antara lain penyakit daun tembakau yang berbercak – bercak putis. Penyakit ini disebabkan oleh virus TMV (tabacco mosaic virus) yang menyerang permukaan atas daun tembakau. Virus juga dapat menyerang jeruk. Penularan melalui perantara serangga.


==================================================================================


4. Alga (Ganggang)

Keberadaan alga juga perlu diaspadai karena dapat menyebabkan bercak karat merah pada daun tumbuhan. Tumbuhan yang biasanya diserang antara lain jeruk, jambu biji, dan rambutan. Bagian tumbuhan yang diserang oleh alga biasanya bagian daun, ditandai adanya bercak berwarna kelabu kehijauan pada daun, kemudian pada permukaannya tumbuh rambut berwarnya cokelat kemerahan. Meskipun ukurannya kecil, bercak yang timbul sangat banyak sehingga cukup merugikan

Langkah – langkah yang harus dilakukan agar tumbuhan tidak tersenang penyakit antara lain sebagai berikut.

a) Usahakan tumbuhan selalu dalam kondisi prima atau sehat dengan cara tercukupi segala kebutuhan zat haranya.

b) Jangan membiarkan tumbuhan terlalu rimbun, pangkaslah sehingga selaruh bagian tumbuhan mendapatkan sinar matahari yang cukup.

c) Jangan biarkan tumbuhan terserang kutu, tungau, atau hewan yang lain yang serung membawa bakteri atau jamur.

d) Usahakan lingkungan selalu bersih.

e) Perhatikan tumbuhan sesering mungkun sehingga penyakit dapat terdeteksi sedini mungkin.

f) Jika terdapat gejala – gejala yang tampak, pangkaslah bagian tumbuhan (daun, buah, ranting) yang terserang, kemudian dibakar agar tidak menular ke bagian atau tumbuhan yang lainnya.

g) Penggunaan pertisida sebagai alternative terakhir untuk pengobatan hama dan penyakit pada tumbuhan.

PENYAKIT KUNING PADA TANAMAN CABAI


pnyakit virus kuning pada cabai telah mengakibatkan kerugian di berbagai sentra produksi cabai di Indonesia. Di DIY, Jawa Tengah, Sumatera Barat dan Lampung, epidemi penyakit ini telah menyebabkan kerugian bagi petani hingga mencapai milyaran rupiah. Samapai sekarang belum ditemukan varietas cabai yang tahan terhadap penyakit ini. Virus mempunyai kisaran inang yang luas dan mampu menginfeksi beberapa jenis tanaman, diantaranya tomat dan gulma wedusan/babadotan (Ageratum conyzoides).









Tanaman cabai yang terserang virus ini menunjukkan gejala: daun menguning cerah/pucat, daun keriting (curl), daun kecil-kecil, tanaman kerdil, bunga rontok, tanaman tinggal ranting dan batang saja, kemudian mati (Gambar 1-2). Infeksi virus pada awal pertumbuhan tanaman menyebabkan tanaman menjadi kerdil dan tidak menghasilkan bunga dan buah. Gejala kuning dapat dilihat dari kejauhan. Sedangkan gejala pada tanaman tomat adalah berupa tepi daun menguning atau pucat dan melekuk ke atas seperti mangkok (cupping),daun mengeras, daun mengecil dan tumbuh tegak, tanaman menjadi kerdil apabila terinfeksi virus sejak awal pertumbuhan (Gambar 3).



Penyakit kuning cabai di Indonesia disebabkan oleh virus dari kelompok/Genus Begomovirus (singkatan dari: Bean golden mosaic virus), Famili Geminiviridae. Geminivirus dicirikan dengan bentuk partikel kembar berpasangan (geminate) dengan ukuran sekitar 30 x 20 nm. Di Cuba, penyakit kuning pada cabai disebakan oleh Tomato yellow leaf curl virus (TYLCV).

Virus ditularkan oleh kutu putih atau kutu kebul (Bemisia tabaci) secara persisten yang berarti selama hidupnya virus terkandung di dalam tubuh kutu tersebut (Gambar 4). Virus tidak ditularkan lewat biji dan juga tidak ditularkan lewat kontak langsung antar tanaman.




Pengendalian penyakit yang dianjurkan adalah dengan menerapkan Manajemen Kesehatan Tanaman, artinya tanaman harus dikelola agar selalu tetap sehat, karena tanaman yang sehat akan lebih tahan terhadap infeksi virus. Pengendalian penyakit meliputi:

(1) Pengolahan tanah dan pemupukan berimbang,

(2) Penggunaan bibit sehat, yaitu:
(a) pengerudungan persemaian menggunakan kain kasa/kelambu;
(b) tempat persemaian yang terisolasi jauh dari lahan yang terserang penyakit;
(c) semai dilindungi dengan pestisida nabati seperti nimba, ekstrak tembakau, dsb;
(d) perlindungan dengan pestisida kimiawi dapat dilakukan secara bijaksana,

(3) Sanitasi lingkungan di sekitar pertanaman cabai termasuk menghilangkan gulma dan eradikasi tanaman sakit sejak awal pertumbuhan,

(4) Mengatur waktu tanam agar tidak bersamaan dengan tingginya populasi serangga penular, jarak tanam yang tidak terlalu rapat, dan pergiliran tanaman dengan tanaman yang bukan inang dari virus maupun serangga,

(5) Pengendalian dengan insektisida kimiawi secara bijaksana, misalnya yang berbahan aktif imidacloprid, penyemprotan kutu putih sebaiknya dilakukan pada pagi hari antara jam 06:00-10.00

(6) Tanaman tahan atau toleran terhadap virus maupun serangga penular.

Jumat, 19 Agustus 2011

KLASIFIKASI PENYAKIT TUMBUHAN



Pada waktu sekarang telah dikenal banyak macam patogen tumbuhan dan tidak sedikit diantaranya yang mempunyai arti ekonomi penting. Setiap macam tanaman dapat diserang oleh banyak macam patogen tumbuhan, begitu pula satu macam patogen ada kemungkinan dapat menyerang sampai berpuluh-puluh tanaman. Sering pula terjadi, bahwa patogen tumbuhan tertentu dapat menyerang satu macam organ tanaman atau ada pula yang menyerang berbagai macam organ tanaman. Kenyataan ini akan menyulitkan dalam mempelajari penyakit pada tanaman. Untuk mengatasi kesulitan tersebut, maka diadakan klasifikasi penyakit tumbuhan sehingga memudahkan kita untuk mempelajari penyakit tumbuhan menurut kepentingannya masing-masing. sampai sekarang kita telah mengenal berbagai kretaria yang digunakan untuk maksud tersebut. Dengan demikian klasifikasinya dapat digolongkan berdasarkan antara lain:

Bagian-bagian tanaman yang terserang seperti penyakit akar penyakit buah penyakit batang, penyakit daun dan sebagainya

Macamnya tanaman yang terserang seperti penyakit tanaman pangan, penyakit tanaman sayuran, penyakit tanaman bunga bungaan, penyakit tanaman hutan dan sebagainya.

Tanda penyakit dan gejala penyakit yang disebabkannya seperti penyakit karat, gosong, luka api tepung, layu, bercak coklat, busuk buah dan sebagainya.

Penyebaran patogen tumbuhan sebelum mengadakan infeksi di lapangan seperti penyakit yang ditularkan oleh tanah, air, serangga, biji dan sebagainya.

Macamnya penyebab penyakit.
Yang akan dipakai dalam diktat ini ialah klasifikasi yang ke-4. Jika diadakan penggolongan berdasarkan penyebab penyakit, maka penggolongan selanjutnya adalah sebagai berikut:

Penyakit yang menular yang disebabkan oleh cendawan, bakteri, virus, mikoplasma dan sebagainya.

Penyakit yang tidak menular yang disebabkan oleh kekurangan atau kelebihan zat hara tertentu, keracunan unsur kimia tertentu, kekurangan atau kelebihan air dalam tanah, kekurangan 02, C02 , cahaya, polusi udara atau air, pH tanah dan sebagainya.

Ikuti Saya ^___^

visitors

 

My Blog List

Feedjit

PLANT HOSPITAL Copyright © 2009 Flower Garden is Designed by Ipietoon for Tadpole's Notez Flower Image by Dapino