Tampilkan postingan dengan label nematologi pertanian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label nematologi pertanian. Tampilkan semua postingan

Rabu, 18 Desember 2013

IDENTIFIKASI NEMATODA : Globodera spp


KLASIFIKASI

Kingdom         : Animalia
Filum              : Nematoda
Kelas              : Secernentea
Subclass          : Diplogasteria
Ordo               : Tylenchida
Famili             : Heteroderidae
Subfamili        : Heteroderinae
Genus             : Globodera
Spesies            : Globodera spp

             Nematoda ini termasuk famili Heteroderidae. Ada 2 (dua) genus yang terkenal yaitu Heterodera dan Globodera. Beberapa spesies yang termasuk genus Heterodera yaitu : Heterodera avanae (nematoda sista serealia), H. glycines (nematoda sista kedelai) dan H. schachtii (nematoda sista gula bit), sedangkan spesies yang termasuk genus Globodera diketahui ada 14 spesies masing-masing memiliki inang spesifik. Nematoda sista kentang ada dua spesies yang hampir sama yaitu Globodera rostochiensis (Wolienweber) Mulvey & Stone dan G. pallida Stone yang pada awalnya diidentifikasi sama. Spesies Globodera rostochiensis atau yang dikenal sebagai Nematoda Sista Kuning (NSK, Golden Cyst Nematoda) dan G. pallida (nematoda sista kuning berwarna putih).

Morfologi. Nematoda sista kuning termasuk genus Globodera, yang mempunyai spesialisasi dan sukses menjadi nematoda parasit tanaman sebagai hama pada tanaman pertanian. Jenis/spesies ini ditemukan dalam jaringan akar dalam keadaan sudah berubah bentuk dari cacing menjadi membulat (seperti bentuk botol)
Sebagian besar spesies Globodera sudah membentuk sista menempel dengan bagian anterior tubuhnya menyusup dalam korteks, sedangkan bagian posteriornya di luar jaringan akar (semi endoparasit). Bentuk sista membulat (globular atau spheroid), warnanya sebagian besar kuning emas, sebagian lagi putih dan kuning tua sampai coklat. Nematoda sista kuning berukuran kecil, secara alami berada didalam dan bercampur dengan masa tanah yang luas, dan mempunyai keahlian yang ekstrim untuk berkumpul dan menemukan inangnya. Dia juga dapat bertahan hidup untuk waktu yang lama dalam tanah tanpa inang yang cocok.     
Telur berbentuk oval, massa telur berada di dalam tubuh betina yang telah dibuahi menjadi sista. (gambar 2 B.). Ukuran panjang telur antara 98-109 µm dengan rata-rata 105 µm. sedangkan lebar antara 50-59 µm dengan rata-rata 54,6 µm 
            Larva stadia dua ketika masih di dalam telur pada umumnya tubuh larva melipat menjadi empat lipatan. Larva berbentuk cacing, bentuk ekor makin ke ujung makin mengecil (Gambar 3 b dan 4 b.). Kepala sedikit offset (bagian kepala dengan bagian tubuh dibelakang kepala dipisahkan suatu lekukan pada kutikula). Stinlet tipe stomatosilet dan berkembang dengan baik. Knob stilet (pangkal stilet) berbentuk membulat. Panjang tubuh total antara 531-563 µm dengan rata-rata 548,4 µm, sedang lebar tubuh maksimum antara 22-26 µm dengan rata-rata 23,6  µm. Panjang kepala antara 4-6 µm dengan rata-rata 5,2 µm sedang lebar tubuh pada pangkal kepala antara 11-12 µm dengan rata-rata 11,6 µm. Panjamh stinlet antara 21-33 µm dengan rata-rata 25,2 µm. 
Biologi. Berdasarkan Tuner, S.J. dan K. Evan (1998) dan daftar dari EPPO (1994) kedua spesies NSK ini telah menyebar di beberapa negara di Eropa (Austria, Balarus, Belgia, Bulgaria, Cekoslowakia, Denmark, Estonia, Finlandia, Prancis, Jerman, Swiss, Hungaria, Iceland, Italia, Latvia, Lituania, Luxemburg, Malta, Belanda, Norwegia, Polandia, Portugal, Rusia, Spanyol, Swedia, Switzelan, Ukraina dan Inggris), Asia (Cyprus, India, Jepang, Libanon, Malaysia, Pakistan, Filipina, Sri Lanka, dan Tajekistan), Afrika (Algeria, Mesir, Libia, Maroko, Siera Leona, Afrika Selatan, dan Tunisia), Amerika Utara (Kanada, Meksiko, dan USA), Amerika Tengah (Kostarika dan Panama), Amerika Selatan (Agentina, Bolivia, Chili, Kolumbia, Ekuador, Peru, dan Venezuela) dan Ocionea (Australia, New Zealand dan Norfolk Island).
Serangan NSK pertama kali ditemukan di Indonesia berdasarkan pemantauan Direktorat Perlindungan Hortikultura dan Direktorat Perbenihan Hortikultura pada bulan Maret 2003. Awalnya dilaporkan menyerang tanaman kentang (varietas Granola) di dusun Sumber Brantas, Desa Tulung Rejo, Kecamatan Bumi Aji, Kota Batu, Propinsi Jawa Timur. Luas tanaman terserang diperkirakan mencapai 25% dari luas tanaman kentang yang seluruhnya seluas 800 hektar. Gejala tersebut telah dirasakan sejak tahun sebelumnya. Benih kentang yang ditanam tahun 2002 dilaporkan berasal dari Jerman, tetapi para petani sudah menanam benih impor sejak tahun 1986 (Ditlinhor, 2003)
         Tanaman komersial yang diserang dan menjadi inang utama adalah kentang (Solanum tuberosum), tomat (Lycopersicon esculentum), dan terung(S.melongena). Di samping itu, dilaporkan terdapat tanaman inang lainnya, yaitu S. dulcamara (bitter nightshade), S. rostratum (buffalo bur), S. triflorum (cutleaf nightshade), S. elaeagnifolium (silverleaf nightshade), S. blodgettii, S. xanti (purple nightshade), dan S. integrifolium (tomato eggplant). Pemulia tanaman juga menemukan 90 spesies Solanum di Amerika Selatan yang menjadi inang NSK.
Beberapa spesies gulma juga dapat menjadi inang NSK. Hasil pemantauan di Malang, Jawa Timur, beberapa spesies gulma dari famili solanaceae yaituDatura stramonium, Nicandra physaloides, dan spesies-spesies lain yang berasosiasi dengan tanaman kentang, perlu diwaspadai sebagai inang alternatifnya (Widjaya, 2003).
Siklus Hidup. Siklus hidupnya melalui tahapan stadium telur, larva, dan dewasa berlangsung selama 38 - 48 hari. Daur hidup antara 5-7 minggu tergantung kondisi lingkungan (Gambar 3 A). Produksi telur 200-500 butir. Kemampuan hidup di dalam tanah pada kondisi lingkungan kurang menguntungkan (tidak ada inang, suhu sangat rendah atau sangat tinggi dan kekeringan) dapat membentuk sista yang dapat bertahan hidup sampai 10 tahun (Taylor, 1953dalam Hamzah, A., 2003). Sista berisi telur yang belum menetas dengan kisaran jumlah telur dalam sista 326 – 493 dari 10 sista yang dipecahkan (Soeganda, A.W.W., 2003).
Nematoda aktif kembali setelah kondisi lingkungan sesuai, terutama adanya eksudat akar tanaman inang. Larva stadium dua aktif pada suhu 10C. Kisaran suhu optimum untuk pertumbuhan dan perkembang biakannya antara 15 - 21C.oo Kisaran pH yang dapat ditoleransi sesuai dengan yang dibutuhkan tanaman kentang. Sejak introduksi sampai ”establish” pada tingkat yang dapat dideteksi di areal yang sudah terinfeksi keberadaannya secara permanen diperlukan waktu 7-8 tahun. Pada awal infeksi gejala serangan pada tanaman belum terlihat, setelah mencapai populasi “tertentu” akan tampak. Berdasarkan hasil penelitian di Jepang, jumlah populasi awal G. rostochiensis yang dapat menimbulkan kerugian adalah 31 sista hidup per 100 gram tanah (Inagaki et.al., 1973, Vide Barker and Olthof, 1976 dalam Soeganda, A.W.W., 2003).
Sejak introduksi sampai ”establish” pada tingkat yang dapat dideteksi di areal yang sudah terinfeksi keberadaannya secara permanen diperlukan waktu 7-8 tahun. Pada awal infeksi gejala serangan pada tanaman belum terlihat, setelah mencapai populasi “tertentu” akan tampak. Berdasarkan hasil penelitian di Jepang, jumlah populasi awal G. rostochiensis yang dapat menimbulkan kerugian adalah 31 sista hidup per 100 gram tanah (Inagaki et.al., 1973, Vide Barker and Olthof, 1976 dalam Soeganda, A.W.W., 2003).
Gejala. Tanaman kentang yang terserang NSK ( Nematoda Sista Kuning) daun-daunnya menguning lebih awal, lalu kering dan akhirnya mati karena perakaran terganggu. Jika tanaman tersebut masih dapat bertahan hidup dan dapat menghasilkan umbi maka umbinya berukuran kecil dan jumlahnya sedikit. Gejala serangan NSK dalam areal pertanaman kentang akan terlihat tanaman menguning tidak merata. Penurunan produksi akibat serangan NSK dapat mencapai 70% (Ditlinhor, 2003).
Gejala pertama dari infestasi miskin biasanya pertumbuhan tanaman,klorosis , dan layu. infestasi berat dapat menyebabkan sistem akar berkurang, stres air, dan kekurangan gizi, sedangkan efek tidak langsung dari suatu infestasi termasuk dini penuaan dan peningkatan kerentanan terhadap infeksi jamur. (Wiki, 2011)
G. rostochiensis mempengaruhi pertumbuhan kentang (Akar tanaman menunjukkan menit terinfeksi, badan putih, yang merupakan perempuan dewasa yang telah meletus melalui epidermis akar. Pada kepadatan nematoda sangat tinggi, umbi-umbian dapat menjadi terinfeksi, mengakibatkan munculnya kista pada permukaannya. (Wiki, 2011)
Pada tingkat rendah, kentang nematoda kista melakukan kerusakan kecil, tapi setelah bertahun-tahun berulang kentang budaya, kista nematoda ini dapat meningkat dalam jumlah seperti untuk membatasi produksi. Dalam beberapa kasus yang ekstrim, hasil mungkin kurang dari buah bibit yang ditanam. Lapangan gejala infestasi berat sama antara-membentuk kista nematoda; pertama mereka mendorong pertumbuhan miskin di tempat, diikuti oleh kenaikan dalam ukuran dan jumlah titik. Kerusakan dengan sistem akar biasanya dikaitkan dengan layu tanaman dan pendek. Tomato Tomat tanaman ini gejala yang mirip dengan kentang mengharapkan bahwa akar mungkin memiliki sedikit bengkak. (Tarte, R. 1979)
Kerugian Ekonomi. Keberadaan G. rostochiensis ini sangat merugikan budidaya tanaman kentang, karena merupakan parasit penting pada tanaman kentang yang mempunyai daya merusaknya sangat tinggi sehingga dapat menurunkan produksi sampai 70 %. Kerugian yang diderita bervariasi bergantung kepada populasi larva yang terdapat dalam tanah sekitar perakaran. Hasil penelitian di luar negeri menyatakan bahwa pada tingkat populasi 20 telur NSK/g tanah dapat mengurangi hasil umbi sekitar 2,75 ton/ha, pada populasi telur yang cukup tinggi kerugian bisa mencapai 22ton/ha. Di Indonesia berdasarkan hasil survey dibeberapa lokasi pertanaman kentang di 4 provinsi yang terserang, kerugian yang dialami petani dapat mencapai 32-71% (Mulyadi, 2003)
Pengelolaan. Berdasarkan hasil penelitian yang dirangkum oleh Sethi dan Gaur (1990), lahan pertanaman kentang yang sudah terserang oleh G. rostochiensis yang dirotasi dengan tanaman kentang varietas tahan atau tanaman lain yang bukan inang NSK di US selama dua tahun dapat menurunkan populasi sista sangat rendah. Di USRR rotasi tanaman salama 3-4 tahun dapat menekan NSK sampai 98%, di India dapat menekan sampai 80% (Soeganda, A.W.W., 2003).
Pengendalian dengan Pengaturan. Bila NSK memasuki suatu area pertanaman kentang, akan relatif sulit untuk mengatasinya, oleh karena itu pengendalian dengan peraturan perlu ditempuh. Pengendalian dengan peraturan dilakukan dalam rangka mencegah OPT masuk, menyebar dan berkembang. Kegiatan yang dilaksanakan meliputi surveillance, dan menentukan tindakan karantina serta eradikasi.Beberapa tindakan pengaturan yang dapat disarankan :
a.      Membatasi ijin impor benih kentang dari negara tertular dalam jumlah kecil untuk tujuan pengembangan varietas baru dengan ketentuan karantina yang ketat.
b.     Impor hanya benih kentang yang dijamin sertifikasi kesehatannya (phytosanitary) dari negara asal benih dengan pernyataan bebas dari OPTK dan area asal benih di tanaman bebas dari infestasi NSK dan bersih dari kontaminasi tanah, dan bekas tumbuhan lain.
c.      Impor umbi kentang untuk konsumsi dari negara tertular harus dicuci, diberi perlakuan benih (seed treatment) seperti perlakuan benih dengan 1% Sodium hypochlorite dan pencucian dengan air panas dan pengeringan
d.     Pelarangan peredaran benih tanpa sertifikat bebas nematoda dari daerah terserang ke daerah bebas terserang
e.      Keharusan perlakuan benih (fumigasi, perendaman desinfektan, dsb) dan kentang konsumsi di daerah terserang

f.      Pelarangan membawa tanah, bahan tanaman dan media pembawa lain dari daerah terserang ke daerah belum terserang

IDENTIFIKASI NEMATODA : Radopholus spp


1.    Radopholus similis ; Famili Pratylenchidae
KLASIFIKASI
Kingdom         : Animalia
Phylum           : Aschelminthes
Class               : Nematoda
Ordo                : Tylenchida
Family            : Pratylenchidae
Genus              : Radopholus
Radhopolus similis terdapat secara luas di daerah tropik dan sub tropik , merupakan patogen penting pada pisang pada daerah penanaman pisang. Nematoda ini berbentuk seperti cacing, panjang 0,65 mm dan lebar 25μm. Nematoda ini hidup dan bereproduksi di dalam rongga korteks akar . semua larva dan dewasa dapat menginfeksi akar (Sugiharto, 1983).
Apabila diperlakukan dengan panas secara hati-hati, maka nematoda yang mati tubuhnya akan lurus atau sedikit melengkung pada bagian ventral. Tedapat adanya tanda sexual dimorfisme pada bagian anterior (Luc et al., 1995).
https://encrypted-tbn3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTKZeFmTk57u1c28z9YIZ_RJ_TI6OLfHEjE9DQY0PI3rU7vfwS-Betina : Kerangka kepala mengeras dan nampak jelas. Kedua jenis kelamin aktif, tubuhnya memanjang. Kepada pada dua jenis kelamin rendah, lebar dan membulat atau bagian anterior mendatar, (kecuali pada Radopholus), lebar kira-kira setengah sampai tiga perlima panjang stilet. Stilet kekar dengan basal knob besar. Tiga kelenjar esofagus pada lobus bertindihan dengan usus. mempunyai satu atau dua ovarium. Panjang ekor betina dua kali atau lebih lebar dari bagian anus. Panjang nematoda jantan rata-rata 0,58 mm dan mengalami degenerasi, esofagus dan styletnya tidak berkembang sempurna.
Kepala nematoda jantan berbentuk membulat dan berlekuk yang sangat berbeda dengan betina. Mempunyai testis tunggal dan bursa meluas sampai dua per tiga ekor (Dropkin,1992). Panjang spikula 18-22 μm berbentuk slindris dan melengkung. Ekor memanjang berbentuk krucut dan melengkung ke arah ventral dan pembungkus bursa antara 2-3 atau lebih. Jantan : Panjang nematoda jantan rata-rata 0,58 mm dan mengalami degenerasi, esofagus dan styletnya tidak berkembang sempurna. Kepala nematoda jantan berbentuk membulat dan berlekuk yang sangat berbeda dengan betina. Mempunyai testis tunggal dan bursa meluas sampai dua per tiga ekor (Dropkin,1992). Panjang spikula 18-22 μm berbentuk slindris dan melengkung. Ekor memanjang berbentuk krucut dan melengkung ke arah ventral dan pembungkus bursa antara 2-3 atau lebih (Shurtleff and Averre III, 2000).
Menurut Dropkin (1991) infeksi yang disebabkan oleh Radopholus sp dapat menyebabkan batang tanaman pisang mudah roboh, hal tersebut juga dapat disebabkan oleh Pratylenchus sp. dan Helicotylenchus sp. pada infeksi yang tinggi (Luc et al. 1995). R. similis atau nematoda pelubang akar diketahui sebagai endoparasit migratori pada berbagai jenis tanaman.  Nematoda ini merusak atau makan bagian korteks akar sehingga terjadi lubang-lubang pada akar tersebut. Semua stadia dapat dijumpai pada di dalam akar dan tanah. Jantan bersifat nonparasit, sedangkan stadia lainnya bersifat parasit pada tanaman (Mustika, 2003).
Selain temperatur tanah, kehidupan nematoda juga dipengaruhi oleh keberadaan filum air baik di dalam tanah atau dalam tanaman. Filum air berperan bagi mobilitas nematoda, menentukan inaktif dan tidaknya nematoda, bahkan berpengaruh terhadap mortalitasnya (Williams dan Bridge, 1983). Porositas, kelembaban, dan aerasi tanah juga berperan dalam keberlangsungan hidup nematoda (Sastrahidayat, 1992). Pada umumnya nematoda berada di lapisan tanah antara 15-30 cm, namun dapat berkembang baik jika tanah mempunyai banyak pori dan mempunyai cukup udara.
Pengendalian serangan nematoda Radopholus sp dapat dilakukan dengan cara :
1.     Rotasi Tanaman
Rotasi tanaman dimasudkan untuk mengurangi kepadatan populasi nematoda di dalam tanah yang sudah terinfestasi. Rotasi tanaman dilakukan dengan menanam jenis tanaman yang bukan termasuk inang dari patogen tersebut. Penanaman dengan tanaman bukan inang diharapkan akan memutus atau setidaknya mengganggu siklus hidup  nematoda. Peningkatan populasi nematoda dalam tanah banyak dipengaruhi oleh penanaman tanaman inang yang sama secara terus menerus (Munif, 2003).
2.     Tanaman perangkap (Trap cropping)
Penanaman tanaman perangkap pada lahan yang sudah terinfestasi nematoda akan sangat bermanfaat untuk mengurangi kepadatan populasinya. Metode pengendalian ini telah berhasil digunakan untuk  mengurangi populasi nematoda sista pada kentang.
3.     Solarisasi tanah
Solarisasi dengan menggunakan plastik gelap maupun terang adalah upaya untuk meningkatkan temperatur tanah pada level tertentu sehingga dapat menekan populasi nematoda maupun patogen tanah. Mekanisme penekanannya dapat secara langsung dengan terbunuhnya propagul patogen atau nematoda akibat peningkatan suhu akibat peningkatan suhu karena proses penutupan tanah dengan plastik dalam jangka waktu tertentu, maupun secara tidak langsung dengan aktifnya berbagai mikroorganisme antagonis dalam tanah karena proses solarisasi tersebut (Munif, 2003).
4.     Penggenangan
Penggenangan tanah yang terinfestasi selama beberapa bulan dapat mengurangi populasi nematoda. Penggenangan telah terbukti populasiMeloidogyne pada pertanaman secara signifikan.  Cara ini juga telah digunakan untuk mengurangi serangan nematoda Radopholus similis  yang menyerang tanaman pisang di Amerika Tengah dan Selatan (Munif, 2003).
5.     Bahan Organik

Berbagai jenis bahan organik seperti kompos, pupuk kandang dari kotoran ayam dan bahan organik lainnya telah dilaporkan dapat mengurangi serangan nematoda parasit. Penambahan bahan organik ke dalam tanah selain dapat meningkatkan kualitas kesehatan tanah dan kesuburan tanaman, juga dapat merangsang perkembangan mikroorganisme antagonis. Beberapa senyawa yang diproduksi oleh  berbagai bahan organik di dalam tanah juga dilaporkan dapat meningkatkan populasi nematoda predator (Munif, 2003).

IDENTIFIKASI NEMATODA : Pratylenchus spp



Kingdom         : Animalia
Phylum           : Nematoda
Classis            : Secernentea
Subclassis       : Tylenchia
Ordo              : Tylenchida
Familia           : Pratylenchidae
Genus            : Pratylenchus

Pratylenchus  merupakan nematoda yang berukuran sangat kecil diantara nematoda parasit tumbuhan lain. Lebar tubuh nematoda ini antara 40 µm hingga 160 µm, dengan panjang tubuh antara 0,4-0,7 mm, sedangkan diameter tubuh 20-25µm. Pada beberapa jenis kedua kelamin terpisah, tetapi beberapa jenis yang lain jenis kelamin jantan tidak ada.

Bentuk nematoda ini pada umumnya memanjang, bagian ujungan terior kepala mendatar pada gambar 1, dengan kerangka kepala yang kuat,mempunyai stilet pendek dan kuat, panjangnya 14-20 µm dengan basal knop yang jelas. Kelenjer esofagusnya tumpang tindih dengan usus pada bagian ventral. Muara lubang ekskresi berada di dekat daerah pertemuan esophagus dan usus. Vulva terdapat di daerah posterior. Betina mempunyai gonad tunggal dan mempunyai kantong pasca vulva yang pendek. Anulasinya halus dan mempunyai empat garis lateral, tetapi ada juga jenis yang mempunyai hingga delapan. Ekornya lebar, ujunya membulat dan runcing, panjang 3,5-9% dari panjang tubuh. Nematoda jantan biasanya lebih kecil dari pada yang betina.
 Pratylenchus merupakan nematoda endoparasit yang tersebar luas di daerah pertanaman nilam di Indonesia. Serangan nematoda P. brachyurus pada tanaman nilam menyebabkan pertumbuhan tanaman terhambat, warna daun merah atau kekuning-kuningan dan menyebabkan luka nekrosis pada akar rambut dan kadang-kadang akar membusuk (Mustika et al. 1995; Harni & Mustika 2000). Selain menghambat pertumbuhan tanaman, infeksi P. brachyurusjuga mampu menurunkan kandungan klorofil dan kadar minyak,baik pada kultivar rentan maupun agak tahan (Sriwati 1999). Kerusakan akibat serangan nematoda tersebut pada tanaman nilam dapat menurunkan hasil sampai 85% (Mustika et al. 1995).
Kerangka kepala mengeras dan nampak jelas. Kedua jenis kelamin aktif, tubuhnya memanjang. Kepada pada dua jenis kelamin rendah, lebar dan membulat atau bagian anterior mendatar, (kecuali pada Radopholus), lebar kira-kira setengah sampai tiga perlima panjang  stilet. Stilet kekar dengan basal knob besar. Tiga kelenjar esofagus pada lobus bertindihan dengan usus. mempunyai satu atau dua ovarium. Panjang ekor betina dua kali atau lebih lebar dari bagian anus. Sayap ekor mencapai ujung ekor. Pratylenchus, Radopholus, Hirschmaniella, dan Nacobbu. Termasuk dalam endoparasit , yaitu menyerang dari dalam jaringan tanaman. Ada yang bersifat sedentary (menetap) dan ada yang bersifat migratory (berpindah). Bertubuh kecil, esofagus seperti Criconematidae. Anulasi halus, tidak memiliki hiasan atau tumpang tindih. Mempunyai satu ovarium, vulva terletak pada tubuh bagian belakang. Stilet betina berkembang baik, sedang pada jantan mereduksi.
Siklus Hidup. Pratylenchus sp. bertelur di dalam jaringan akar, pergantian kulit pertama terjadi dalam telur dan tiga kali pergantian kulit, berikutnya terjadi luar (setelah menetas). Masa telur 15-17 hari, 3 kali ganti kulit. Masa pro oviposisi 15 hari, sehingga masa satu generasi 45-48 hari Proses ganti kulit (molting) pada Pratylenchus brachyurus.Telur yang apabila menetas akan muncul larva stadia kedua,diletakan secara berkelompok tetapi terpencar di dalam akar dan tanah.Semua stadia bergerak di antara akar dan tanah.  baik.
Cara nematoda menyerang akar dan pengaruhnya terhadap tanaman. Nematoda menyerang akar tanaman hingga dapat menimbulkan  kerusakan mekanis. Nematoda yang menyebabkan kerusakan pada tanaman hampir semuanya hidup didalam tanah, baik yang hidup bebas didalam tanah bagian luar akar dan batang didalam tanah bahkan ada beberapa parasit yang hidupnya bersifat menetap didalam akar dan batang.
Gejala serangan nematoda secara umum yaitu tanaman nilam menunjukan gejala kerdil, daun-daun kekuningan, selanjutnya kemerahan dan gugur sehingga tanaman menjadi merana kemudian mati. Selain daun nilam berwarna kuning kemerahan, akar membusuk serta terdapat benjolan- benjolan akar.  Gejala kuning pada daun nilam yang terserang nematoda nampak seperti gejala kekurangan unsur N, P, dan K .Konsentrasi hidup nematoda lebih besar terdapat didalam perakaran tumbuhan inang terutama disebabkan oleh laju reproduksinya yang lebih cepat karena tersedianya makanan yang cukup dan tertariknya nematoda oleh zat yang dilepaskan dalam rizosfir awalnya, telur-telur nematoda diletakan pada akar - akar tumbuhan di dalam tanah yang kemudian telur akan berkembang menjadi larva dan nematoda dewasa. Berkumpulnya populasi nematoda disekitar perakaran ini mendorong nematoda menyerang akar dengan jalan menusuk dinding sel. Nematoda dewasa terus-menerus bergerak tiap detik, tiap jam, tiap hari dan menetap di sekitar akar, dalam gerakan - gerakan tersebut nematoda menggigit dan menginjeksikan air ludah pada bagian akar tumbuhan, menyebabkan sel tumbuhan menjadi rusak. Gejala kerusakan pada akar akibat gigitan nematoda ditandai dengan adanya puru akar (gall). Luka akar, ujung akar rusak dan akar akan membusuk apabila infeksi nematoda tersebut disertai oleh bakteri dan jamur pathogen.
Pengendalian. Umumnya serangan nematoda pada tanaman dapat menyebabkan penyakit kompleks, karena patogen lain seperti jamur, virus, dan bakteri dapat masuk ke jaringan akar melalui luka yang disebabkan oleh nematoda. Pengendalian nematoda dapat dilakukan dengan berbagai cara yaitu :
a.     Pemanfaatan Agens Hayati
Penggunaaan bakteri endofit yaitu Bacillus spp. (B. megaterium, B. subtilis). Bakteri endofit mempunyai keunggulan yaitu mampu meningkatkan ketersediaan nutrisi, menghasilkan hormon pertumbuhan, mengendalikan penyakit tumbuhan (Kloeper et al. 1992 dalam Harni et al. 2007), serta dapat menginduksi ketahanan tanaman (Hallman, 2001 dalam Harni et al. 2007).
b.     Penggunaan varietas toleran
Nilam jawa lebih tahan terhadap P. brachyurus , hal tersebut disebabkan karena tingginya kandungan fenol dan lignin dalam akar (Nuryani, et al. 2001 dalam Mustika, 2010).
c.      Pergiliran tanaman dan Penggunaan tanaman perangkapv
d.     Penanaman Tegetes (Tagetes patula), jarak (Ricinus communis), wijen (Sesamum indicum) dapat mengurangi infeksi P. brachyurus, karena tanaman ini dapat mengeluarkan eksudat akar yang toksik terhadap nematoda (Mustika et al., 2001 dalam Mustika, 2010).
e.     Teknik Budidaya
Penambahan bahan organik (takaran pupuk yang tepat) ke dalam tanah akan eningkatkan daya tahan menahan air dan kesuburan tanah, sehingga pertumbuhan tanaman meningkat dan tanaman lebih tahan terhadap nematoda.
f.      Penggunaan Pestisida Nabati

Tanaman mimba (Azadirachta indica), srikaya (Annona squamosa), jarak (R. communis), serai wangi (Cymbopogon nardus), lempuyang pahit (Zingiber americans), lempuyang wangi (Z. aromaticum) dapat mengurangi infektifitas serangan nematoda. Mimba dan jarak sangat efektif untuk mengurangi populasi nematoda (Mustika dan Harni, 2001 dalam Mustika, 2010).

NEMATODA (PENDAHULUAN)


Nematoda merupakan mikroorganisme yang digolongkan ke dalam filum dunia hewan. Nematoda ketika dilihat di bawah mikroskop terlihat berupa cacing-cacing mikroskopis dengan ukuran tubuh yang sangat kecil dan berwarnah bening. Secara umum karena ukuran tubuh nemtoda sangat kecil, para petani sangat sulit membedakan nematoda dan penyakit (Anaf, 2010).
Nematoda termasuk dalam Filum nemata, terdiri atas dua kelas yaitu Secernenta (Phasmidia) dan Adenophorea (Aphasmidia). Kelas Secernenta terdiri atas tiga subkelas yaitu Rhabditia, Spiruria, dan Diplogasteria. Semua nematoda parasitik tanaman termasuk dalam ordo Thylenchida dan Dorylaimida. Kalasifikasi dari nematoda Meloidogyne spp. adalah Phylum nematoda, klas secernenta, ordo tylenchida, subordo tylenchina, dan famili heteroderidae (Tjahjadi, 2005).
Heteroderidae dapat dibagi ke dalam 2 kelompok yaitu : nematoda sista yang terdiri dari genus Heterodera dan Globodera dan nematoda puru akar (genus Meloidogyne). Nematoda sista kedelai (H. glycines) adalah patogen kedelai yang penting secara ekonomi di Amerika. Nematoda sista kentang (Globodera pallida dan Globodera rostochiensis) menyebabkan kehancuran tanaman kentang yang tersebar di seluruh dunia (Lisnawita, 2003).
Nematoda endoparasit migratory menghabiskan banyak waktunya untuk berpindah atau bermigrasi dari akar tanaman satu ke akar tanaman lain dengan cara merusak pembuluh akar tanaman. Nematoda ini menyebabkan nekrosis parah  pada tanaman yang disebabkan oleh migrasi dan pola makan mereka. Ketika nematode ini memakan makanan, mereka dengan mudah dapat masuk ke jaringan sitoplasma sel tanaman dengan menggunakan stilet mereka, membunuh sel tanaman, dan kemudian berpindah melalui luka yang ditimbulkan.

Nematoda ini tidak makan di sel yang tetap. Tipe siklus hidup nematode ini adalah mereka mulai menyerang dari fase juvenile dua dan mulai mamakan tanaman. Nematoda makan dan bereproduksi secara primer di dalam pembuluh tanaman. Semua fase nematode mempunyai kemampuan untuk memakan tanaman dan berpindah ke dalam tanah kemudian memulai mencari akar lain untuk dijadikan inang.   Contoh dari nematode yang termasuk dari nematode endoparasit migratory atau nematode parasit berpindah adalah Pratylenchus (lesion nematode), Radopholus(burrowing nematodes) and Hirschmanniella (rice root nematode).
Nematoda Endoparasit sedentary adalah nematoda parasit paling berbahaya di dunia. Dua grup dari nematoda endoprasit sedentary ini adalah Nematoda sista kentang (Globodera dan Heterodera) dan Nematoda puru akar (Meloidogyne sp). Nematoda ini pada larva instar kedua menginvasi tanaman melalui akar dan bermigrasi melalui pembuluh akar menuju sel vascular perkembangan. Nematoda completely embedded di dalam akar selama masa perkembangan inisisasi, tetapi kemudian sista nematoda protrude dari akar. Larva stadia dua mengeluarkan sekresi ke dalam dan ke sekeliling sel tanaman untuk menstimulasi formasisel membesar.  Nematoda fase juvenile kedua mensekresikan cairan ke dalam tanaman dan menyelebungi sel tanaman dengan cairan tersebt untuk mestimulasi pembentukan sel yang lebih besar.

Sastrosuwignyo (1990) menyatakan bahwa tidak semua anggota Nematoda berperan sebagai hama tanaman atau bersifat parasitik, namun ada juga yang bersifat saprofag yang tidak merugikan tanaman. Nematoda sering ditemukan pada tempat-tempat atau habitat yang basah, misalnya dalam air, tanah, tanaman, binatang, dan manusia.
Nematoda saprophagus lebih banyak dijumpai pada tanah sampel daripada nematoda lainnya. Nematoda saprophagus (non-parasit) memiliki moroflogi yang hampir sama dengan nematoda parasit. Perbedaan pokok antara keduanya terletak pada bentuk dan susunan alat mulut. Alat mulut pada nematoda non parasit berbentuk seperti corong yang terbuka lebar dan tidak memiliki alat penusuk (stylet) seperti halnya pada nematoda parasit. Nematoda parasit kebanyakan hidup dengan memakan bahan-bahan organik (sebagai nematoda saprofag).
Nematoda bertubuh kecil (panjangnya kurang dari 1mm). Apabila mati karena diperlakukan dengan panas secara berhati-hati, maka tubuhnya sedikit bengkok pada bagian ventral. Tidak terdapat adanya tanda-tanda seksual dimorfisme pada bagian anterior tubuhnya. Bagian kepalanya rendah dan datar, apabila diamati di bawah mikroskop stereoskopis tampak ujung anterior tersebut seperti topi hitam yang datar. Bagian bibirnya terbagi atas 2, 3 atau 4 anulus dan lurus dengan garis tubuh, serta mengalami sklerotinisasi yang kuat. Panjang stiletnya 20 mm atau kurang (± dua kali lebar kepala), mengalami sklerotinisasi sedang, dengan basal knob berbentuk bulat dan bagian anteriornya konkaf (Luc et. al., 1995).
Umumnya perkembangan nematoda parasit tanaman terdiri dari tiga fase yaitu fase larva I sampai larva IV dan nematoda dewasa. Siklus hidup nematoda puru akar sekitar 18–21 hari atau 3–4 minggu dan menjadi lama pada suhu yang dingin. Jumlah telur yang dihasilkan seekor betina tergantung pada kondisi lingkungannya. Pada kondisi biasa betina dapat menghasilkan 300-800 telur dan kadang-kadang dapat menghasilkan lebih dari 2800 telur. Larva tingkat II menetas dari telur yang kemudian bergerak menuju tanaman inang untuk mencari makanan, terutama bagian ujung akar di daerah meristem, larva kemudian menembus korteks akibatnya pada tanaman yang rentan terjadi infeksi dan menyebabkan pembesaran sel-sel. Di dalam akar larva menetap dan menyebabkan perubahan sel-sel yang menjadi makanannya, larva menggelembung dan melakukan pergantian kulit dengan cepat untuk kedua dan ketiga kalinya, selanjutnya menjadi jantan atau betina dewasa yeng berbentuk memanjang di dalam kutikula, stadium ke empat muncul dari jaringan akar dan menghasilkan telur secara terus menerus selama hidupnya. Nutrisi yang tersedia serta jumlah larva per unit area jaringan inang. Larva jantan lebih banyak jika akar terserang berat dan zat makanan kurang, jika sedikit larva pada jaringan inang maka hampir semua menjadi betina, tetapi reproduksinya kebanyakan partenogenesis, walaupun exudat akar mampu memacu penetasan telur, tetapi senyawa tersebut tidak diperlukan untuk keberhasilan siklus hidupnya (Anafzhu, 2009).
Nematoda parasit mengalami perkembangan hingga terjadi variasi yang besar. Variasi ini terletak pada inang sekunder dan jumlah waktu yang dihabiskan dalam satu atau dua inang. Variasi yang besar terletak juga pada cara nematoda parasit berpindah dari satu spesies inang ke inang yang lain. Sehingga banyak spesies nematoda yang meletakkan telur yang pada inang utama dimana kotorannya akan dimakan oleh inang sekunder kemudian oleh inang utama setelah nematoda berkembang. Karena tidak selalu dapat diandalkan bahwa inang sekunder akan dimakan seperti halnya pada larva nematoda yang telah berkembang menjadi tahap infektif, banyak spesies yang memiliki kemampuan untuk encyst diri ke dalam otot atau kutikula inang sekunder (Ramel, 2008).

Kebanyakan fitonematoda adalah parasit obligat, yang tidak dapat hidup atau membiak tanpa adanya tumbuhan inang yang hidup. Nematoda mencucukkan stiletnya yang berlubang ke dalam sel tumbuhan dan dengan kekuatan mengisap esofagus menarik cairan tumbuhan. Pada umumnya nematoda mengeluarkan cairan dari kelenjar pencernaan yang disekresikan melalui stilet ke dalam sel tanaman, yang menyebabkan prapencernaan dan pencairan sebelum diisap masuk ke dalam saluran pencernaan. Bahkan sekresi tersebut ada yang mengandung hormon yang mengandung berbagai hormon yang menyebabkan sel-sel di sekitarnya berkembang secara luar biasa, sehingga terjadi hipertrofi atau hiperplasia (Semangun, 1996).

Minggu, 13 Mei 2012

TAKSONOMI NEMATODA



ORDO ASCARIDIDA

GENUS : ASCARIS

Ascaris adalah jenis cacing gilig yang besar. Bibirnya mempunyai peninggian bergigi, tetapi tidak ada interlabia atau sayap servikal. Ekor cacing jantan berbentuk kerucut, tanpa sayap kaudal tetapi terdapat sejumlah papila.

MORPOLOGI, 
cacing Ascaris suum berbentuk bulat panjang, memiliki kutikula yang tebal serta memiliki tiga buah bibir pada bagian mulutnya. Dua buah bibirnya terletak pada bagian dorsal. Masing-masing bibir dilengkapi dengan papillae dibagian lateral dan subventral dan dilengkapi pula dengan sederetan gigi pada permukaan sebelah dalam. Ukuran panjang tubuh cacing jantanberkisar antara 15-25 cm dengan diameter penampang lintang 3 mm. Sedangkan cacing betina dapat mencapai panjang 41 cm dengan diameter penampang lintangnya 5 mm.

SIKLUS HIDUP
Dalam perkembangannya, cacing A. suum melalui dua fase perkembangan yakni fase eksternal (diluar tubuh ternak) dan fase internal ( di dalam tubuh ternak)

Fase eksternal : dimulai sejak telur cacing Ascaris dikeluarkan bersama dengan faeses dari dalam tubuh ternak penderita saat defikasi. Di alam luar, pada kondisi lingkungan yang menunjang, telur akan berkembang sehingga didalam telur terbentuk larva stadium I. Bila kondisi tetap menunjang, larva stadium I akan menyilih menjadi larva stadium II yang bersifat infeksius (telur infektif) dan siap menulari ternak babi apabila telur tertelan.

Fase internal dimulai saat telur yang infektif tertelan oleh hospes definitif. Didalam usus halus, telur infektif tersebut dicerna oleh enzim pencernaan dan terbebaslah larva stadium II. Larva II akan menembus dinding usus halus menuju hati atau larva akan mengikuti peredaran darah vena porta menuju ke hati. Selanjutnya larva II tersebut menembus kapsul hati dan masuk melalui sel-sel parenkem hati untuk selanjutnya ikut peredaran darah dari hati menuju ke jantung, paru-paru, dan bahkan dapat menyebar seluruh organ tubuh. Jika babi bunting dapat terjadi infeksi prenatal. Juga larva dapat mencapai kelenjar susu, didalam kelenjar susu, larva cacing akan bersifat dorman (tidak berkembang lebih lanjut atau mengalami fase istirahat ) dan baru akan berkembang didalam tubuh keturunannya (anak) bila mana sudah lahir dan penularannya melalui air susu.

Didalam paru-paru larva stadium II berkembang menjadi larva III, kemudian keluar dari kapiler alveoli paru-paru menuju bronchioli, bronchi dan selanjutnyake trachea, pharing (iritasi terjadi proses batuk) akhirnya larva III tertelan dan sampailah kembali ke dalam usus halus. Di dalam usus halus larva III menyilih menjadi larva IV dan menyilih untuk menjadi larva V (dewasa).

Cacing betina dewasa dapat menghasilkan telur sebanyak 200.000 butir per har, dan diduga bahwa seekor cacing A. suum betina dewasa selama hidupnya dapat menghasilkan telur sebanyak 27 milyard butir. Telur berukuran 50-80 X 40-60 mikron, berdinding tebal, berwarna kuning kecoklatan serta pada bagian luarnya dilapisi oleh lapisan albumin yang tidak rata sehingga membentuk tonjolan yang bergerigi (ciri khas dari genus Ascaris ).

HOSPES DEFINITIF DAN PREDILEKSI, 
berparasit pada babi dan predeleksinya didalam usus halus.


GENUS : PARASCARIS

Merupakan cacing nematodadengan tubuh yang tebal dan bahkan lebih besar dari Ascaris. Ketiga bibir tampak jelas dipisahkan oleh alur horizontal menjadi bagian anterior dan posterior. Ujung posterior cacing jantan membulat atau berbentuk kerucut tumpul dengan sayap kaudal kecil. Tidak ada gubernakulum.

SPESIES, 
Parascaris equorum, berpredeleksi di dalam usus halus kuda termasuk zebra dan equidae. Cacing jantan panjangnya 15 – 28 cm dan diameternya 3-6 mm, spikulanya sama besar dengan panjang 2 – 2,5 mm. Cacing betina panjangnya 18 – 50 cm dengan diameter mencapai 8 mm. Vulva terletak 1/ 4 anterior tubuh, telurnya berbentuk agak bulat dengan diameter 9-10 mikron, kulit tebal berbintik-bintik halus.

SIKLUS HIDUP, sama dengan A. suum.


GENUS : TOXOCARA

Dikenal 3 spesies penting yaitu : Toxocara canis, T. cati dan T. Vitulorum
  1. Toxocara canis, berpredeleksi dalam usus halus anjing dan rubah, lebih besar dari Toxascaris leonina. Cacing jantan panjangnya mencapai 10 cm dan yang betina 18 cm. Telurnya berbentuk agak bulat berukuran 85-90X75 mikron dengan dinding tebal dan berbintik-bintik halus.
  2. Toxocara cati, berpredeleksi didalam usus halus kucing. Morfologinya hampir sama dengan T. canis, cacing jantan panjangnya 3 – 7 cm, spikulumnya tidak sama besar dan bersayap. Cacing betina panjangnya 4-12 cm. Telur berukuran 65 – 75 mikron.
  3. Toxocara vitolurum, berpredeleksi didalam usus halus sapi, kerbau, domba dan kambing. Bibirnya lebar pada pangkalnya dan semakin keujung menyempit. Cacing jantan panjangnya mencapai 25 cm dengan diameter 5 mm. Ujung posteriornya meruncing dan sering disebut berujung paku. Cacing betina panjangnya 30 cm dengan diameter 6 mm. Vulva cacing terletak 1/8 ujung anterior tubuh. Telurnya berukuran 75-95 X 60 – 75 mikron. SIKLUS HIDUP, sama dengan A. suum

GENUS : TOXASCARIS

Cacing dari genus ini hampir sama dengan Toxocara sp., perbedaannya bibir lobulus anterior terpisah oleh sebuah alur yang dalam dan lobulus tersebut melebar dan pada ujungnya berlobus dua.

SPESIES, Toxascaris leonina, berpredeleksi didalam usus halus anjing, kucing, rubah dan berbagai filidae. Ujung anterior cacing dewasa membengkok ke dorsal, cacing jantang panjangnya 2 – 7 cm dengan diameter1,5 – 2 mm. Sedangkan cacing betina panjangnya 2 – 10 cm, vulvanya berada 1/3 anterior tubuh. Telur mempunyai kulit yang tebal dan halus dengan ukuran 5 – 85 X 60 –75 mikron.

SIKLUS HIDUP, larva II infektif menetas didalam usus halus, kemudian masuk kedalam mukosa usus untuk beberapa saat dan akhirnya kembali lagi kedalam usus dan mengalami perkembangan lebih lanjut menjadi dewasa.

GENUS : OXYURIS

SPESIES : O. equi., dijumpai didalam usus besar dari bangsa kuda di seluruh dunia. Cacing jantan Panjang 9 – 12 mm dan betina sampai 150 mm.
MORPOLOGI, Oesofagus sempit ditengah. Yang jantan mempunyai spikulum 120 – 150 mikron. Ekor memiliki 2 pasang papilla besar dan beberapa papilla kecil. Cacing betina muda berwarna hampir putih, agak melengkung dan memiliki ekor pendek dengna ujung membulat runcing. Cacing berwarna keabuan atau kecoklatan dengan ekor langsing. Telur bulat panjang, agak mendatar pada ujungnya dengan sumbat pada satu ujungnya. Ukuran telur 90 X 42 mikron.

SIKLUS HIDUP
Cacing betina dan betina muda hidup di caecum dan colon crasum. Setelah pembuahan, betina yang dewasa kelamin mengembara ke rectum dan merayap ke luar melalui anus. Telur dilepaskan dalam gerombolan-gerombolan di kulit daerah perianal. Perkembangan telur cepat dan menjadi stadium infektif dalam 3-5 hari. Telur infektif dapat mencapai daerah perianal dan menetas disitu, namun biasanya telur-telur terjatuh ditanah. Pada keadaan lembab telur dapat hidup dalam beberapa minggu, tetapi pada kondisi kurang menunjang telur akan mati. Infeksi terjadi karena menelan telur infektif. Larva infektif terbebas di dalam usus halus dan larva stadium III akan dijumpai didalam mukosa cryptus dari colon dan caecum. Larva stadium 4 akan dijumpai sekitar 8 – 10 hari setelah menelan telur. Dewasa kelamin akan dicapai sekitar 4-5 bulan setelah infeksi.


GENUS : ASCARIDIA
SPESIES : Ascaridia galli, A. columbae, A. dissimilis yang predeleksinya di dalam usus halus ternak unggas seperti ayam, mentog, kalkun, itik dan berbagai burung liar di seluruh dunia.
MORFOLOGI : Ascaridia galli merupakan cacing berbentuk silinder, berukuran paling besar pada unggas. Cacingberwarna putih kekuning-kuningan, memiliki tiga buah bibir yang berukuran sama, esofagus berbentuk alat pemukul dan tidak dijumpai adanya bulbus posterior.
Cacing jantan panjangnya 5-6 cm dan ekornya mempunyai alae kecil yang dilengkapi dengan sepuluh pasang papillae yang sebagian besar pendek dan tebal. Mempunyai sucker (batil isap ) precloaka dan berbentuk bundar dengan tepi cutikuler yang tebal. Spikulum tidak sama besarnya, tetapi sama panjang berukuran 1-2,4 mm dan tidak ada gubernakulum.
Cacing betina dewasa berukuran 7,2 – 11,6 cm, bagian ekornya memipih kebagian ujung, sedangkan lubang kelamin terletak lebih kearah depan (pertengahan tubuh).
Telur cacing A. galli berbentuk oval dengan dinding yang halus, licin, tidak bersegmen dan belum berkembang saat dikeluarkan. Telur cacing berukuran 73 – 92 X 45-57 mikron. Cacing betina dewasa mengeluarkan telur sebanyak 250.000 butir setiap hari.

SIKLUS HIDUP
Telur cacing keluar bersama tinja hospes definitif terinfeksi pada saat defikasi. Di alam luar telur akan mengalami perkembangan yaitu di dalam telur akan terbentuk larva, telur infeksius (telur dengan larva stadium II) akan dicapai setelah kira-kira 10 hari dan sangat tahan terhadap pengaruh luar, dan bahkan dapat bertahan selama tiga bulan pada tempat yang teduh tetapi cepat terbunuh dalam kekeringan, kepanasan dan terkena sinar matahari langsung.
Unggas terinfeksi bila makan/minum yang tercemar telur infektif atau termakannya cacing tanah yang sebelumnya menelan telur cacing infektif, transmisi dapat terjadi secara mekanik langsung ke dalam usus hospes definif. Setelah telur infeksius tertelan, didalam saluran pencernaan hospes definitif , karena pengaruh enzem pencernaan telur akan menetas dan terbebaslah larva stadium II. Setelah menetas, larva II akan menetapdidalam lumen usus selama 8 hari dan mengalami ekdisis ( menyilih) menjadi larva III, setelah itu larva III akan masuk kedalam mukosa usus halus sampai hari ke-17 menyilih menjadi larva IV dan akhirnya masuk ke lumen usus dan menjadi dewasa ( 6-8 minggu ).
GENUS : HETERAKIS

Spesies yang penting adalah heterakis gallinarum, dijumpai didalam caecum dari ternak unggas, bebek, mentog, angsa dan bangsa burung.
Cacing jantan berukuran panjang 7-13 mm. Cacing betina 10-15 mm. Memiliki alae lateralis yang besar, dengan esofagusbulbus yang kuat. Ekor cacing jantan diperlengkapi alae yang besar, sebuah sucker precloaca yang menonjol dan membulat serta 12 pasang papillae. Spikula tidak sama, yang kanan langsing 2 mm, yang kiri memiliki sayap lebar 0,65 –0,7 mm. Vulva ditengah-tengah tubuh cacing betina. Telur berdinding tebal, halus dengan ukuran 65-80 u X 35 – 46 mikron.

SIKLUS HIDUP
Telur cacing keluar bersama tinja saat defikasi, kemudian telur cacing diluar tubuh hospes berkembang menjadi stadium II yang infektif setelah 14 hari (270 C), tetapi perkembangan biasanya lebih lama sampai beberapa minggu pada suhu yang lebih rendah. Telur sangat tahan terhadap kondisi lingkungan dan tahan sampai berbulan-bulan.
Bila hospes menelan telur infektif, larva menetas dalam usus halus setelah 1-2 jam. Sekitar 4 hari kemudian cacing-cacing muda tersebut berada dalam mukosa caecum dan dapat merusak kelenjar disitu. Didalam kelenjar larva stadium II berada selama 2-5 hari sebelum melanjutkan perkembangan di dalam lumen. Pada 6 hari setelah infeksi menyilih menjadi stadium III, kemudia pada hari ke-10 menyilih menjadi stadium IV dan pada hari ke-15 menjadi dewasa. Periode prepaten adalah 24-30 hari setelah infeksi.
Cacing tanah dapat membantu sebagai reservoir (inang paretenik), dimana dalam tubuh cacing tanah parasit berada sebagai larva stadium II. Infeksi terjadi karena memakan cacing tanah yang mengandung larva stadium II.



ORDO RABDITIDA
GENUS : STRONGYLOIDES
Cacing ini disebut cacing benang, terdapat bentuk bebas di alam dan bentuk parasitik didalam intestinum vertebrata. Bentuk parasitik adalah PARTHENOGENETIK dan telur dapat berkembang diluar tubuh hospes, langsung menjadi larva infektif yang bersifat parasitik atau dapat menjadi bentuk larva bebas yang jantan dan betina. Cacing ini esofagus panjang dan bentuk selindris, vulva terletak pada bagian pertengahan tubuh posterior, ekor pendek dan telur telah berembrio.

Bentuk bebas : adanya cacing jantan dan betina dengan esofagus rabditiform, ujung posterior cacing betina meruncing ke ujung vulva terletak di pertengahan tubuh.
Bentuk parasitik : esofagus filariform tanpa bulbus posterior, larva infektif dari generasi parasitik mampu menembus kulit dan ikut aliran darah.

SIKLUS HIDUP
Terjadi bentuk parasitik sempurna dan non parasitik sempurna dan terjadi kombinasi dari kedua bentuk. Betina parthenogenetik dijumpai terbenam di dalam mukosa usus halus. Bentuk ini memproduksi telur transparan berdinding tipis yang dikeluarkan bersama tinja. (kecuali S. stercoralis, telur ini menetas didalam tinja dan larva stadium I dijumpai didalam tinja).
Larva stadium I dapat berkembang langsung menjadi larva stadium 3 yang infektif (siklus Homogenik), atau berkembang menjadi bentuk jantan dan betina bebas yang akan dapat memproduksi larva infektif (siklus heterogenik). Bila kondisi lingkungan menunjang siklus heterogenik yang dominant dan bila tidak menunjang siklus homogenik yang dominant.
Pada siklus heterogenik larva stadium I ditransformasikan secara cepat sehingga dalam 48 jam terbentuk cacing jantan dan betina bebas yang dewasa kelamin. Melalui kopulasi, betina bebas memproduksi telur yang akan menetas dalam beberapa jam dan kemudian mengalami metamorposa menjadi larva infektif. Hanya satu generasi larva yang diproduksi oleh betina bebas.
Pada siklus homogenik larva stadium I cepat mengalami perubahan menjadi larva III (infektif) yakni sekitar 24 jam pada suhu 27 0C. infeksi pada hospes vertebrata terjadi dengan menembus kulit, tetapi dapat juga secara oral dan menembus mukosa mulut/esofagus dan dibawa bersama darah ke paru-paru, memecah alveoli – bronchiole – bronchus – trachea – pharing dan tertelan. Periode prepaten 5 – 7 hari. Infeksi prenatal terjadi pada S. ransomi, pada babi dan S. papillosus pada sapi. Dan juga melalui air susu.


ORDO : STRONGYLIDA

GENUS : STRONGYLUS

Terdapat capsulla buccalis bentuk globoid yang berkembang sempurna pada dinding dorsal. Tetapi anterior capsulla buccalis biasanya memiliki alat kutikuler berbentuk daun yang disebut corona radiata. Terdapat corona radiata external pada lubang mulut dan corona radiata internal pada dinding sebelah dalam capsulla buccalis. Bursa pada cacing jantan berkembang sempurna dan kuat yang memiliki cabang-cabang (alur) yang tipik didalamnya.
Strongylus equinus, dijumpai didalam sekum dan colon bangsa kuda , termasuk zebra. Warna cacing abu-abu hitam. Kadang-kadang kemerahan karena darah dalam saluran pencernaan yang tampak. Cacing jantan panjangnya 26-35 mm, yang betina 38-47 mm, dengan penampang 2 mm. Capsulla buccalis oval dan memiliki corona radiata external dan internal. Pada pangkal dari capsula buccalis terdapat gigi dorsal yang besar dan dua gigi subventral yang lebih kecil. Cacing jantan memiliki dua spikula. Vulva dari cacing betina terletak sekitar 12-14 mm dari bagian posterior tubuh.
Bentuk telur oval, dinding tipis dan telah mengalami awal segmentasi pada saat dilepaskan dari tubuh, ukuran telur 70 – 85 u X 40-75 mikron.
Spesies lain : S. edentatus, S. vulgaris, S. asini.

SIKLUS HIDUP
Telur –telur keluar bersama tinja dan telah mengalami awal segmentasi. Dinding telur tipis, terdiri dari lapisan dinding sebelah luar yang terdiri dari bahan chitin dan membrana vitellinus di dalamnya. Pada suhu 26 C terbentuk larva stadium I dalam waktu 20-24 jam yang menetas dari telur dan menjadi larva stadium bebas. Setelah menetas, larva berada pada stadium I, yaitu bentuk rhabditiform. Makanan larva adalah bakteri , kemudian terus bertumbuh dan menyilih menjadi larva stadium II. Bentuk rhabditiform esofagus berkurang, kemudian tumbuh menjadi larva yang kutikulanya masih tetap berasal dari stadium sebelumnya dan bersifat infeksius. Larva stadium infeksius tidak makan bakteri dari alam sekitarnya, tetapi memperoleh makanannya dari granula makanan yang tersimpan didalam sel-sel intestinum.
Larva infeksius tidak aktif masuk kedalam tubuh hospes, tetapi tertelan bersama makanan.
Larva stadium infeksius bersifat :
  1. geotrofik negatif : selalu merayap keatas ke daun-daun rumput dan lain-lain.
  2. Phototropic pada sinar lemah, tapi takut pada sinar kuat, sehingga larva merayap naik pada pagi hari dan sore hari atau pada cuaca mendung.
  3. Migrasi terjadi lebih aktif pada keadaan panas dibanding dingin.

Kemampuan hidup larva pada pasture tergantung pada kondisi lingkungan yaitu, kelembaban, suhu dan sinar matahari. Karena persedian makanan terbatas, kondisi yang mendukung pergerakan maka larva lebih cepat mati. Pada musim panas, larva tidak dapat hidup lebih dari 3 bulan, tetapi pada musim dingin dapat hidup setahun atau lebih.
Infeksi terjadi karena memakan larva infeksius dan perkembangan larva stadium infektifselanjutnya yaitu pelepasan dan pergantian kulit yang terjadi didalam usus halus hospes.
Pada Strongylus equinus, larva yang telah berganti kulit, menembus masuk mukosa sekum dan kolon dan masuk ke sub serosa untuk membentuk nodule disitu. Sebelas hari setelah infeksi, terbentuk larva didalam nodule. Larva stadium 4 migrasi ke rongga peritonium, terus ke hati yang berlangsung selama 6-8 minggu. Antara 2-4 bulan setelah infeksi, larva meninggalkan hati melalui ligamentum hepatika dan pergi ke rongga peritonium melalui pankreas. Setelah 118 hari dari saat infeksi, terbentuk larva stadium 5 dan menuju ke sekum dan kolon. Periode prepaten adalah 260 hari.

GENUS : HAEMONCHUS

MORFOLOGI : Cacing Haemonchus contortus merupakan cacing lambung yang besar, sehingga disebut juga cacing ” Barberpole” , cacing lambung berpilin atau cacing kawat pada ruminansia. Cacing H. contortus berpredeleksi didalam abomasum kambing, sapi, kambing dan ruminansia lain.
Cacing jantan panjangnya 10-20 mm diameter 400 mikron, berwarna merah terang serta memiliki spikula dan bursa. Bursanya ditemukan di bagian posterior tubuh tersusun oleh dua lobus lateral yang simetris dan satu lobus dorsal yang tidak simetris, sehingga membentuk percabangan seperti huruf Y dan berwarna mengkilat.
Cacing betina mempunyai ukuran lebih panjang dari cacing jantan yaitu 18-30 mm dengan diameter 500 mikron, nampak adanya anyaman-anyaman yang membentuk spiral antara organ genital (Ovarium) yang berwarna putih dengan usus yang berwarna merah karena penuh berisi darah, sehingga akan nampak berwarna merah puti secara berselang seling. Mempunyai ” Flaf anterior” yang menutupi permukaan vulva yang umumnya besar dan menonjol. Cacing betina dewasa mampu bertelur sebanyak 5.000 – 10.000 butir setiap hari. Telur berbentuk lonjong dan berukuran 70-85 X 41 –48 mikron yang pada saat keluar bersama tinja, perkembangan telur telah mengalami stadium morula (didalam telur telah mengandung 16-32 sel).

SIKLUS HIDUP
Telur cacing dikeluarkan bersama faeses dari hewan penderita ke alam bebas, setelah 24 jam pada lingkungan yang mendukung (suhu dan kelembaban) akan segera menetas dan terbebaslah larva stadium I. Pada kondisi yang tetap mendukung larva I akan ekdisis menjadi larva II, kemudian akan menjadi larva III yang infektif. Larva III akan merayap keatas daun atau rumput-rumputan serta dapat bertahan hidup untuk beberapa minggu – bulan jika kondisi tetap menunjang.
Jika larva infektif dimakan hospes definitif melalui rumput yang tercemar, maka selanjutnya menyilih menjadi larva IV dan menempel pada mukosa abomasum untuk menghisap darah. Larva IV akan mengalami penyilihan yang terakhir menjadi cacing muda yang berpredeleksi didalam abomasum serta menghisap darah. Cacing betina sudah dapat bertelur dalam waktu 18 – 21 hari setelah infeksi.
Spesies lain :
  1. H. placei , berpredeksi didalam lambung sapi, tetapi juga menginfeksi domba dan ruminansia lain. Morfologi sangat mirip dengan H. contortus hanya spikulum cacing jantan lebih panjang dengan kait-kait terminal panjang juga, sedang cuping vulva cacing betina bentuknya mengecil seperti bintil.
  2. H. similis, menginfeksi lambung sapi dan kadang-kadang domba.


GENUS : OESOPHAGUSTOMUM

MORFOLOGI, Cacing ini memiliki capsula buccalis silindris dan sempit. Memiliki corona radiata. Mempunyai bursa terdiri 3 lobi dan ada spikula. Merupakan parasit pada caecum dan colon pada ternak sapi, kambing, domba, babi dan kera. Sering disebut cacing nodular, sebab larva cacing membentuk nodular pada intestinum.
O. columbionum : dijumpai pada colon domba, kambing, unta. Cacing jantan Panjang 12-16,5 mm. Dan betina sekitar 15-21,5 mm, dengan penampang sekitar 0,45 mm. Ukuran telur berkisar 73-39 U X 34-45 mikron.
O. radiatum : dijumpai didalam colon sapi, kerbau dan zebu. Cacing jantan panjang 14-17mm dan betina 16-22 mm.
O. dentatum : dijumpai di dalam usus besar babi.

SIKLUS HIDUP
Telur keluar bersama tinja hospes . di luar tubuh perkembangan stadium bebas sama dengan Strongylus sp. Stadium infektif dicapai pada kondisi optimum dalam waktu 6-7 hari. Setelah ditelan larva infektif mengalami pergantian kulit dalam usus halus dan sehari setelah infeksi larva menembus dinding usus yakni pylorus sampai ke rectum. Kondisi selanjutnya terjadi didalam muskularis mukosa yaitu 4-5 hari setelah infeksi dan larva tumbuh sampai sekitar 1,5 –2,5 mm setelah 5-7 hari, larva kembali masuk kedalam lumen intestinum dan migrasi kecolon. Disitu mengalami ekdisis ke empat dan berubah menjadi cacing dewasa. Telur tampak pertama pada tinja penderita setelah 41 hari infeksi. Sebagian larva dapat tinggal menetap dalam mukosa dalam waktu yang lebih lama pada anak domba.

GENUS : STEPHUNURUS

MORFOLOGI
Cacing in memilki capsul bukalis berbentuk cawan, berisi gigi-gigi. Spesies yang penting yaitu Stephurus dentatus yang merupakan cacing ginjal pada babi. Dijumpai didalam jaringan lemak perirenal, Pars pelvina dari ginjal dan dinding ureter. Kadang-kadang sebagai parasit eratika pada hati dan alat-alat abdomen lainnya serta alat-alat di rongga thorak. Parasit ini tersebar di wilayah tropis dan sub tropis. Cacing jantan panjangnya 20-30 mm, cacing betina 30-45 mm. Yang betina 2 mm lebarnya. Capsula bukalis berbentuk cawan dengan dinding tebal dengan 6 gigi tebal pada dasarnya. Bursa pada jantan kecil dengan alur yang pendek. Kedua buah spikula sama panjang. Vulva terletak dekat dengan anus. Telur berbentuk elips berdinding tipis dengan ukuran 90-120 u X 43-70 mikron.

SIKLUS HIDUP
Cacing dewasa biasanya hidup berkumpul didalam atau dekat ginjal di tempat [perhubungan dengan ureter dan telur dikeluarkan bersama urine hospes. Pada stadium ini embrio didalam telur terdiri sekitar 32-64 sel. Perkembangan larva stadium preinfektif sama dengan Strongylus sp. Pada suhu optimal 26 C, telur menetas setelah 24-36 hari dan larva mencapai stadium infektif 4 hari setelah mengalami dua kali ekdisis.
Infeksi terjadi per-os atau melalui kulit. Cacing tanah dapat bertindak sebagai pembawa penyakit. Larva infektif dapat berkumpul dalam masa emoebocyte dari cacing tanah dan dapat hidup disini selama beberapa minggu atau bulan. Kulit pembungkus larva infektif segera akan lepas setelah infeksi dan ecdisis ketiga terjadi setelah 72 jam kemudian, yaitu pada dinding lambung atau kulit atau otot-otot abdominal setelah infeksi perkutan.
Dari kedua jalan infeksi, larva menuju ke hati. Bila infeksi per oral melalui pembuluh darah porta dan dicapai sekitar 3 hari, dan bila perkutan melalui paru-paru dan sistem sirkulasi dalam 40 hari. Dari hati mengembara dibawah kapsul hati dan menembus kapsul hati mencapai rongga peritonium. Kemudian mencapai jaringan perirenal dan menembus dinding ureter, serta membentuk cyste yang melanjut menghubungkan diri dengan ureter.

GENUS : BONUSTOMUM

MORFOLOGI
Merupakan cacing kait yang dijumpai didalam usus halus domba, kambing, sapi dan kerbau diseluruh dunia. Ujung anterior cacing melengkung kearah dorsal, sehingga capsula bukalis membuka kearah antero dorsal dan memiliki sepasang papan chitine pada tepi ventral. Di dekat dasarnya terdapat sepasang gigi sub ventral yang kecil. Tidak mempunyai gigi dorsal didalam capsula bukalis. Bursa berkembang dengan baik dan memiliki lobus dorsalis yang asimetris. Ujung telur tumpul membulat dan sel-sel embrional tampak sebagai granula yang berwarna gelap.
SPESIES : B. trigonocephalum dijumpai didalam usus halus domba dan kambing
B. phlebotomum dijumpai didalam usus halus sapi.

SIKLUS HIDUP
Perkembangan telur sama seperti Strongylus sp. Infeksi terjadi melalui makanan atau minuman yang tercemar larva infektif (larva stadium 3) dan dapat juga melalui kulit. Setelah infeksi melalui kulit, larva melanjut mengikuti peredaran darah menuju ke paru-paru dan disini terjadi ekdisis yang ketiga. Larva stadium keempat, memiliki capsula bukalis dan mencapai usus halus setelah 11 hari. Periode prepaten 30-56 hari.
Larva infektif tidak tahan terhadap kering. Infeksi umumnya dijumpai didalam pasture yang terus menerus basah.

GENUS : SYNGAMUS

MORFOLOGI
Speies yang penting Syngamus trachea, dijumpai di dalam trachea mentog, ayam, bebek, angsa dan berbagai burung diseluruh dunia. Berwarna merah tua dan selalu berada dalam keadaan kopulasi. Cacing jantan panjang 2-6 mm, yang betina 5-20 mm. Lubang mulut lebar, tanpa corona radiata. Capsula bucalis bentuk cawan berisi 6-10 gigi-gigi kecil pada dasarnya. Bursa cacing jantan memiliki alur pendek dan kuat. Telur ukurannya 70-100 U X 43-48 mikron, memiliki operculum tebal pada kedua ujung.

SIKLUS HIDUP
Telur cacing pada umumnya dibatukkan keatas dan ditelan masuk alat pencernaan, kemudian keluar tubuh bersama tinja. Larva infeksius terbentuk didalam telur setelah keluar dari dalam tubuh. Pada kondisi optimal yaitu kelembaban tinggi dan suhu optimal dibutuhkan waktu 3 hari, pada kondisi lapangan dibutuhkan waktu 1 sampai 2 minggu. Didalam telur larva ekdisis dua kali dan larva infektif dapat menetas dari telur, namun pada umumnya infeksi terjadi dengan menelan telur yang mengandung larva infektif. Larva yang menetas dapat tertelan oleh cacing tanah, siput, kumbang, kutu dan arthropoda lainnya dan mengkista disitu. Arthropoda dan cacing tanah dapat sebagai inang paratenik.
Larva yang menetas dari telur, didalam usus akan menembus dinding usus, ikut aliran darah sampai ke paru-paru, dicapai selama 6 jam. Ecdisis berikut terjadi 3 hari setelah infeksi . ecdisis terakhir terjadi hari keempat atau kelima dan cacing muda migrasi dari alveoli ke bronchioli yang lebih besar dan copulasi disini. Trachea dicapai setelah 7 hari dan periode prepaten 17 – 20 hari setelah infeksi.




GENUS : ANCYLOSTOMA
MORFOLOGI
Cacing Ancylostoma sp. Juga dikenal dengan cacing tambang. Cacing dewasa berukuran relatif kecil, berbentuk silinder, kaku, berwarna putih kelabu atau kemerahan tergantung banyaknya darah yang ada didalam saluran pencernaannya. Ujung anterior cacing melengkung kearah dorsal dan celah mulut mengarah ke antero dorsal. Capsul buccalisnya dalam dengan 1-3 pasang gigi pada tepinya dan lancet segitiga ” Trianguler ” atau gigi dorsal yang berada didalamnya.
Cacing jantan berukuran panjang 9-12 mm, mempunyai alat kelamin tunggal, dimana bursa cacing jantan mempunyai kerangka yang bentuknya sempurna dan sepasang spikulum sama besar yang panjangnya sekitar 0,9 mm, terdapat gubernakulum bermuara pada kloaka yang terletak pada bursa tersebut. Testis terdapat hanya satu, berbentuk seperti tubulus yang dimulai kira-kira disebelah anterior dari kelenjar air mani yang berjalan ke anterior sampai sebatas kelenjar cervicalis anterior, kemudian berbalik kebelakang membentuk saluran yang berkelok-kelok sampai dipertengahan tubuh cacingdan kemudian tubulus melebar membentuk vesicula seminalis. Saluran reproduksi ini kemudian dilanjutkan dengan duktus ejakulatorius. Ada sepasang spikula yang juga bermuara pada kloaka berfungsi untuk mengarahkan pancaran air mani kedalam saluran reproduksi cacing betina, sedangkan bursa kopulatrik berfungsi untuk memegang tubuh cacing betina pada saat kopulasi.
Cacing betina berukuran panjang 15-18 mm, alat kelaminnya berpasangan, dimana vulvanya terletak kira-kira di 1/3 posterior tubuhnya. Uterus dan ovarium cacing betina mempunyai bentuk yang berkelak-kelok dan dilanjutkan dengan oviduct. Sel telur yang dibuahi akan mengalami perkembangan dengan jalan pembelahan sel, selanjutnya akan dikeluarkan dari tubuh cacing setelah memiliki 2-8 selbersama tinja saat defikasi. Telur cacing berbentuk ovoid dengan ujung membulat atau tumpul, terbungkus dari dinding telur yang tipis dengan ukuran 56-75 X 34-47 mikron.

SIKLUS HIDUP
Cacing Ancylostoma sp. Mengeluarkan telur bersama feses saat defikasi, pada lingkungan yang mendukung (suhu 23 – 30 0C tanah berpasir dan basah, kelembaban tinggi).didalam telur akan terbentuk larva I. Setelah 12-36 jam, telur yang mengandung larva I akan segera menetas dan terbebaslah larva I yang mempunyai bentuk esofagus yang rhabditiform berukuran 275 mikron serta memanfaatkan sisa organik dan bakteri sebagai bahan makanan.
Larva I akan segera memasuki fase lethargi (istirahat) dan selanjutnya menyilih menjadi larva II yang esofagusnya sudah kelihatan lebih langsing, setelah 5-8 hari akan mengalami penyilihan lagi dan menjadi larva III (infektif) dengan esofagus filariform. Baik larva II dan larva III sumber makanan sama dengan Larva I.
Cara penularan cacing ini dengan larva infektif melalui :
  1. Per –oral. Infeksi terjadi karena tertelannya larva III bersama makanan atau minuman. Setelah berada didalam saluran pencernaan, larva III akan segera memasuki kelenjar lambung atau krypta liberkun dan setelah 3 hari larva III akan mengalami penyilihan menjadi IV dan kembali bermigrasi ke lumen usus. Setelah beberapa hari larva IV akan mengalami penyilihan sekali lagi dan berkembang menjadi cacing muda.
  2. Per-kutan (penetrasi kulit), larva infektif (L3) yang aktif akan menembus kulit atau mukosa rongga mulut, selanjutnya bersama aliran darah mencapai jantung dan selanjutnya masuk ke paru-paru. Di dalam paru-paru sebagian besar larva 3 akan tertahan kapiler paru-paru, selanjutnya menembus kapiler dan masuk ke dalam alveoli. setelah berada di alveoli larva 3 menyilih menjadi larva 4, selanjutnya bermigrasi ke bronchiolus, bronchus, trachea, pharing dan akhirnya karena batuk larva 4 tertelan dan sampai di usus halus. Di dalam usus halus mengalami ekdisis menjadi cacing muda. Cacing dewasa akan ditemukan setelah 17 hari setelah infeksi.
  3. Pre-natal. Pada hospes definif bunting infeksi terjadi karena larva 3 yang berada pada aliran darah dapat melehati placenta dan akhirnya menginfeksi foetus. Larva 3 akan mengalami fase istirahat didalam usus foetus sampai dilahirkan. Setelah anak lahir larva 3 baru melanjutkan perkembangannya menjadi cacing dewasa.
  4. Laktogenik. Infeksi pada anak terjadi karena anak menyusu pada induknyadan larva yang berada di dalam kelenjar susuakan keluar bersama air susu. Perkembangan selanjutnya akan terjadi didalam usus anaknya.

Beberapa spesies cacing Ancylostoma yang menginfeksi anjing antara lain : A. caninum, A. braziliense dan A. ceylanicum. Adapun identifikasi cacing tambang dapat dilakukan berdasarkan perbedaan morfologi (ukuran cacing, susunan gigi (alat pemotong) pada kapsul bukalis dan panjang spikulum pada bursa cacing jantan ) dan ukuran telur cacing.
Ada beberapa spesies lain :
  1. A. tubaeforme, predeleksi pada usus halus kucing.
  2. A. duodenale, berparasit pada manusia.


GENUS : METASTRONGYLUS
MORFOLOGI
Cacing ini merupakan cacing paru-paru pada babi. Terdapat dua bibir lateral berlobus tiga dan tersebar adalah lobus yang ditengah. Kapsul bukal sangat kecil, dengan spikula pada yang jantan panjang dan lembut, dengan sayap garis melintang. Ekor berbentuk kerucut. Vulva dekat dengan anus. Uterus paralel. Cacing ini oviparosa. Cacing jantan panjang 11-26mm dan cacing betina 28-60 mm. Telur berukuran 45-57 X 38-41 mikron dan telur berembrio ketika dikeluarkan.
Spesies yang penting : M. apri, M. salmi yang predeleksi pada trakea, bonki dan bronkiola pada babi.

SIKLUS HIDUP
Siklus hidup cacing ini secara tidak langsung yaitu melalui induk semang antara. Telur dikeluarkan pada bronkhus dan bronkhiolus, dibatukkan kemudian ditelan dan dikelurkan bersama tinja. Telur ini harus dimakan cacing tanah untuk perkembangan lebih lanjut. Cacing tanah yang dapat berperan sebagai hospes intermidier antara lain : Allobophora chloritica, Denroboena rubida, Eisenia austriaca, E. foitida dan Lumbricus terrestris. Babi terinfeksi dengan jalan memakan cacing tanah yang mengandung larva stadium 3, kemudian larva dibebaskan didalam usus halus babi, menembus usus halus menuju limfaglandula mesenterika melalui sistem limfe. Di tempat tersebut larva menyilih menyilih menjadi larva stadium 4, kemudian melalui sistem limfa dan peredaran darah menuju jantung dan paru-paru, menyilih menjadi stadium dewasa.


GENUS : DYCTYOCAULUS
MORFOLOGI
Dyctiocaulus viviparus merupakan cacing paru pada sapi. Predeleksinya pada trakea, bronki dan bronkiola pada sapi, zebu, unta dan berbagai ruminansia. Terdapat 4 bibir, yang dorsal dan ventral agak sedikit lebih besar dibanding yang lateral. Kapsul bukal sangat kecil dan terdapat cincin tebal, keras disekeliling bagian posterior. Spikula sama besar, pendek dan kuat. Vulva cacing betina dekat dengan pertengahan tubuh dan uterus arahnya berlawanan. Cacing jantan panjang 17-50 mm, dengan telur berukuran 82-88 X 33-38 mikron.

SIKLUS HIDUP
Cacing dewasa berada didalam paru-paru kemudian mereka mengeluarkan telurnya. Beberapa telur menetas, kemudian telur/larva dibatukkan sehingga dapat tertelan dan keluar melalui tinja atau lendir dari hidung atau mulut. Larva menyilih menjadi larva stadium 3 infektif yang berselubung. Larva termakan oleh sapi bersama makanan/rumput kemudian larva ini menuju limfoglandula mesenterika menyilih menjadi stadium keempat dan kemudian melalui pembuluh darah menuju paru-paru dan menjadi dewasa. Periode prepaten 3-8 minggu.






ORDO SPIRURIDA

GENUS : DIROFILARIA

MORFOLOGI
Cacing Dirofilaria immitis merupakan cacing jantung pada anjing yang berpredeleksi pada ventrikel kanan jantung, arteri pulmonalis dan vena cava. Hewan yang peka dari cacing ini anjing, kucing, serigala dan rubah. Infeksi pada manusia juga pernah dilaporkan.
Cacing jantan berbentuk langsing, berwarna putih dan berukuran panjang12-20 cm dengan diameter 0,7 –0,9 mm. Ujung posterior cacing jantan berbentuk kumparan spiral dan ekornya memiliki 4-6 pasang papilla ovoid, dimana satu pasang papilla terdapat pot kloakal, 2 pasang papilla berbentuk jari terdapat pada bagian lateral dan posterior dari lubang kloaka dan 3-4 pasang papilla berbentuk kerucut terdapat didekat ujung ekornya. Spikula kiri berukuran 0,324-0,375 mm, sedangkan yang sebelah kanan berukuran 0,19-0,229 mm dan tidak memiliki gubernakulum.
Cacing betina berbentuk langsing berwarna putih berukuran panjang 25-30 cm dengan diameter 1 mm. Vulva cacing betina tempatnya persis dibelakang ujung esofagus. Cacing Dirofilaria immitis dapat menghisap makanan lewat mulut (peroral) dan juga lewat kutikula (trans kutikular) dan sering ditemukan adanya eritrosit didalam saluran pencernaannya.
Larva cacing (mikrofilaria) berukuran 286 –300 X 6,1 –7,2 mikron dan bagian yang lebih pipih dibagian anterior, mikrofilaria menghisap sari-sari makanan berupa glukosa dan asam amino (uresil, uredin dan adenosin) lewat kutikulanya.

SIKLUS HIDUP
Cacing betina dewasa mengeluarkan mikrofilaria kedalam aliran darah. Mikrofilaria akan aktif selama 1-3 tahun, akan tetapi tidak mengalami perkembangan lebih lanjut, sampai terhisap oleh hospes intermidier (HI) yaitu berbagai jenis nyamuk (Aedes aegypti, Aedes sollicitans, culex salinarius). Pada saat hospes definitif digigit oleh hospes intermidier, mikrofilaria akan ikut terhisap bersama darah , kemudian berkembang menjadi larva II pada tubulus malphigi HI selama 10-11 hari. Pada hari ke-11 larva II bermigrasi menuju probosis melewati thorak serta mengalami penyilihan menjadi larva III yang bersifat infektif. Pada saat HI menghisap darah hospes definitif, maka larva III akan ikut bermigrasi kedalam tubuh hospes. Larva III selanjutnya akan berpredeleksi didalam jaringan subkutan, sub-serosa atau fascia intermuskuler serta mengalami 2 kali menyilih yaitu pada hari ke-9 - ke-12 dan pada hari ke-16 – ke-17 semenjak infeksi dan masih dibutuhkan waktu selama 2-3 bulan lagi untuk menjadi dewasa, sehingga mikrofilaria pertama akan muncul pada aliran darah tepi 6 bulan setelah infeksi.
Spesies lain : Dirofilaria repens, berpredeleksi pada jaringan ikat anjing, kucing
Dirofilaria tenuis, berpredeleksi pada jaringan sub kutan racoon.



GENUS : HABRONEMA

MORFOLOGI
Habronema muscae merupakan cacing lambung pada kuda dan sebangsanya. Cacing ini kecil berwarna putih , buccal kapsul berkembang baik dan bentuk ekor cacing jantan berupa kumparan. Vulva cacing betina dekat dengan pertengahan tubuh. Panjang cacing jantan 22 mm dan betina 35 mm. Telur kecil dan berembrio ketika dikeluarkan. Ukuran telur 40 – 50 X 10-12 mikron.

SIKLUS HIDUP
Cacing dewasa hidup pada lambung dan telur keluarbersama feses saat defikasi atau dapat menetads dalam usus, kemudian ditelan oleh hospes intermidier dari larva lalat (musca dan stomoxys ) dan parasit berkembang menjadi larva 3 stadium infektif. Larva akan berpindah ke probosis dari lalat dan menginfeksi host ketika lalat makan pada luka sekitar mulut atau lalat terjatuh pada minuman dan makanan. Larva menjadi dewasa dan bermigrasi ke lambung. Periode prepaten 2 bulan.



GENUS : THELAZIA

MORFOLOGI
Thelazia sp. Merupakan cacing berwarna putih yang jantan memiliki 14 pasang papilla prekloaka dan 3 pasang papilla kloaka. Panjang tubuh yang jantan 7-13 mm, yang betina adalah 12-18 mm dan bersifat ovovivipar (bertelur dan mengeluarkan larva). Cacing tidak memiliki memiliki bibir, tetapi tepi anterior rongga mulut terbalik keluar dan terbagi menjadi 6 lekukan (feston). Ekor cacing jantan tumpul dan membelok, sedangkan spikulumnya tidak sama panjang. Cacing Thelazia rodisii dan T. gulosa berpredeleksi didalam kantung konjungtiva dan saluran air mata sapi , domba, kambing dan kerbau.

SIKLUS HIDUP
Siklus hidup Thelasia sp. Adalah tidak langsung yaitu memerlukan induk semang antara lalat musca larvipara dan musca confexifrons. Lalat ini tercemar oleh larva saat menghisap air mata sapi penderita. Larva ini kemudian masuk kedalam perut lalat, menembus folikel ovarium lalat, disini larva berkembang menjadi larva 2 dengan panjang badan 3,6 –4 mm. Selanjutnya berkembang menjadi larva 3 yang merupakan larva infektif. Perkembangan dalam tubuh lalat memerlukan waktu 15-20 hari. Larva 3 selanjutnya meninggalkan folikel ovarium menuju bagian mulut lalat dan akhirnya pindah kepada induk semang definitif dan cacing dewasa akan timbul dalam waktu 20-25 hari.


GENUS : OXYSPIRURA


MORFOLOGI
Cacing Oxyspirura mansoni berpredeleksi pada membrana nictitan dari bangsa unggas. Tidak terdapat bibir, ekor yang jantan melengkung. Mempunyai 4 pasang papil dan 2 pasang setelah kloaka. Vulva terletak bagian posterior dari badan dan ukuran telur 50 –65 X 45 mikron. Panjang cacing jantan 10-16 mm dan betina 12-19 mm.

SIKLUS HIDUP
Telur cacing dikeluarkan melalui feses, kemudian telur ini akan termakan oleh coro (Pycnoscelus surinemensis). Apabila hospes intermidier ini termakan oleh unggas maka larva infektif akan keluar dan mengembara dari esofagus, paring dan ductus lacrimalis dari mata. Larva dapat ditemukan pada mata 20 menit setelah coro infekti termakan.



GENUS : ACUARIA

Host : Unggas
Habitat : empedal, proventrikulus dan esofagus
Spesies : A. hamulosa ------- empedal
A. spiralis --------- proventrikulus dan esofagus

MORFOLOGI
Mulutnya mempunyai dua pseudolabia lateral, terdapat empat kordon yang membentuk bukit yang berjalan ke posterior tidak membalik kedepan. Ujung posterior jantan bergulung, vulva terletak sepertiga posterior tubuh. Ukuran telur 40-45 X 24-75 mikron. Panjang jantan 10-14 mm dan betina 16-29 mm.

SIKLUS HIDUP
Telur dikeluarkan bersama tinja dan tertelan oleh hospes intermidier (A. hamulosa ----- belalang (melanoplus) dan A. spiralis ------- Isopoda) larva akan berkembang dalam hospes intermidier. Host terinfeksi bila memakan host intermidier infektif.


ORDO ENOPLIDA


GENUS : TRICHINELLA

HOST : Babi , tikus, manusia dan mamalia lain (peka), sapi, domba dan kambing (kurang peka). Larva cacing akan mengkista pada urat daging bergaris melintang.
HABITAT : Cacing dewasa pada usus halus sedangkan larvanya pada urat daging
SPESIES : Trichinella spiralis

MORFOLOGI
Cacing dewasa kecil , tetapi sering muncul dalam jumlah besar, larva cacing menyebabkan efek yang serius dengan mengkista pada urat daging. Cacing betina panjangnya 1,4 –1,6 mm dan jantan 3-4 mm, ukuran telur 40 x 30 mikron, telur akan menetas dalam uterus cacing betina (viviparosa). Larva ditemukan dalam kista mikroskopis pada urat daging bergaris melintang . yang jantan mempunyai anus yang ditonjolkan dan sembulan berbentuk kerucut disetiap sisi. Tidak mempunyai spikulum dan selubung. Vulva terletak pertengahan esofagus.

SIKLUS HIDUP
Apabila kista yang infektif termakan oleh induk semang, maka daging yang mengandung kista tercerna oleh pengaruh enzim pencernaan dan larva cacing akan terbebas. Larva akan masuk kedalam usus halus dan menjadi dewasa kelamin.. kemudian cacing jantan dan betina kawin , setelah kawin dacacing jantan segera mati. Cacing betina akan menembus kedalam mukosa usus melalui glandula liberkhun kedalam ruang limfe, disini cacing betina bertelur dan menetas didalam saluran uterus dari cacing. Larva yang dihasilkan masuk saluran limpe, menembus ductus thoracicus, vena cava superior kiri dan kanan jantung, kemudian keperedaran darah yang disebarkan keseluruh tubuh. Penyebaran larva terutama pada urat daging bergaris melintang dan selanjutnya berkembang pada otot maseter, diafragma, inter costae, lidah, larinx dan mata. Kadang-kadang ditemukan pada hati, pankreas dan ginjal. Larva tumbuh sampai berukuran panjang 0,8 – 1 mm dan diameter 30 mikron (16 hari). Dinding kiste terbentuk setelah 3 bulan dan mulai melingkar dalam kista yang dibentuk oleh jaringan sekitarnya. Otot disekitar mengalami degenerasi dan pengapuran setelah 6-9 bulan, tetapi larva dalam kista tetap hidup untuk beberapa tahun (sampai 11 tahun). Kista akan tumbuh menjadi cacing dewasa dalam usus induk semang berikutnya bila termakan oleh induk semang tersebut. Daur hidup cacing ini tertutup.


GENUS : TRICHURIS

HOST : sapi, domba, kambing, babi dan anjing
HABITAT : Caecum
SPESIES :
  • T. ovis pada caecum kambing dan domba
  • T. discolor pada caecum dari sapi
  • T. vulvis pada anjing
  • T. suis pada babi
  • T. trichiura pada manusia
MORFOLOGI
Cacing ini disebut dengan cacing cambuk dengan salah satu satu ujung tebal dan ujung lainnya panjang dan tipis. Bagian anterior panjang dan tipis kira-kira dua kali bagian posterior, ujung posterior cacing jantan bergulung kedorsal dalam bentuk spiral. Vulva terletak antara batas anterior dan posterior. Cacing jantan panjangnya 30-80 mm dan betina 35 – 75 mm, telur mempunyai kulit tebal kecoklatan dengan dua sumbat dikedua ujungnya. Ukukran telur 50-80 x 21-42 u.

SIKLUS HIDUP
Penularan terjadi secara langsung melalui telur infektif (L2), telur sangat resisten, perkembangan didalam induk semang berlangsung didalam lumen usus dan massa prepaten 2-3 bulan. Cacing ini melekat pada caecum


GENUS : CAPILLARIA

Host : mamalia dan unggas
Habitat : tergantung spesies
Siklus hidup : secara langsung melalui telur infektif dan tidak langsung melalui hospes
intermidier.

Spesies pada mamalia :
  1. C. bovis pada usus halus dari sapi, domba dan kambing yang penularannya secara langsung.
  2. C. aerophila pada trachea dan bronchi anjing dan kucing dengan penularan secara langsung.
  3. C. plica pada kandung kemih, ginjal anjing dan kucing, penularan melalui hospes intermidier cacing tanah.
  4. C. plica pada hati dan ginjal tikus dan kelinci ( langsung ).
Spesies pada unggas :
  1. C. caudinflata dan C. columbae pada usus halus ------- cacing tanah (HI)
  2. C. annulata pada tombolok dan esofagus ----------- cacing tanah
  3. C. contorta pada tombolok dan esofagus ---------- langsung.
MORFOLOGI
Mirip dengan Trichuris, tetapi ramping keseluruhan. Tubuhnya kapiler dan mempunyai mulut sederhana. Vulva cacing betina dekat dengan ujung esofagus. Kadang cacing ini mempunyai sebuah spikulum yang selalau ada selubungnya. Panjang cacing jantan 11 – 15 mm, betina 10-25 mm. Telur ini mempunyai dua sumbat pada kedua ujungnya dan ukuran telur 43-70 X 21-30 mikron.














Ikuti Saya ^___^

visitors

 

My Blog List

Feedjit

PLANT HOSPITAL Copyright © 2009 Flower Garden is Designed by Ipietoon for Tadpole's Notez Flower Image by Dapino