Jumat, 01 April 2016

JENIS TRAPPING SERANGGA


A. Perangkap kuning
Jebakan ini didasari sifat serangga yang menyukai warna kuning mencolok. Sebab warna itu mirip warna kelopak bunga yang sedang mekar sempurna. Permukaannya dilumuri lem sehingga serangga yang hinggap akan merekat sampai akhirnya mati. Umumnya seranga yang dapat terjebak adalah hama golongan apid, kutu, dan tungau yang kemudian dijadikan indikator populasi hama sekitar. Biasanya jebakan ini disebut dengan yellow sticky trap.

B. Lampu / Light trap
Lampu perangkap merupakan suatu unit alat untuk menangkap atau menarik serangga yang tertarik cahaya pada waktu malam hari. Alat ini berfungsi untuk mengetahui keberadaan atau jumlah populasi serangga di lahan pertanian.Komponen utama dari lampu perangkap atau yang dikenal juga dengan light trap ini yaitu lampu, corong dan kantung plastik, serta rangka beratap. Lampu, dengan daya minimal 100watt, berfungsi untuk menarik serangga pada waktu malam hari. Corong merupakan tempat masuknya serangga, kantung plastik berfungsi untuk menampung serangga yang tertangkap. Kemudian, rangka beratap fungsinya untuk melindungi lampu dan hasil tangkapan terutama dari hujan.Cara kerja perangkap ini, lampu diletakkan di dalam lahan sawah di pinggir pematang. Letak bisa disesuaikan dengan kondisi tempat karena alat ini menggunakan lampu sehingga memerlukan sumber aliran listrik. Satu unit lampu perangkap sebagai monitoring dapat digunakan untuk luasan 300-500 ha, sedangkan untuk pengendalian seluas 50 ha.Light Trap adalah hasil kolaborasi antara Jonathan Gatto dan Mike Thompson Studio Atùppertù: Pekerjaan yang menawarkan pendekatan baru yang radikal untuk desain pencahayaan. Menggunakan pigmen photoluminescent untuk menangkap dispersi cahaya, mengubah limbah energi dalam suatu sumber penerangan lebih lanjut. fotoluminesen yang sebenarnya, adalah proses di mana energi yang diserap oleh suatu zat yang secara bertahap dirilis sebagai cahaya. ( Gatto, 2009 : 1).
Serangga nokturnal menjadikan cahaya dominan di suatu tempat sebagai panduan utama. Mereka akan terbang mendekat begitu melihat cahaya, baik berasal dari lampu menyala ataupun api. Pada saat terbang mengitari lampu itulah mereka membentuk generasi baru.
Hama dari golongan serangga di kebun juga mempunyai sifat yang sama, sehingga pekebun membuat perangkap lampu. Serangga akan terbang mengitarinya hingga akhirnya jatuh dan masuk ke dalam jebakan beridi air atau lem yang ada di bawah lampu. Umumnya hama yang terperangkap adalah golongan aphid, ngengat, atau coleoptera.

C..Feromon
Jebakan tersebut dibuat dengan memanfaatkan kebutuhan komunikasi serangga pengganggu tanaman. Komunikasi itu dilakukan dengan hormon bernama feromon. Hal ini berguna untuk menunjukkan adanya makanan, memikat pejantan, menandai jejak, membatasi wilayah teritorial, atau memisahkan kelas serangga antara serangga pekerja, tentara dan ratu. Feromon yang umum digunakan adalah feromon untuk menarik pasangan dari hama.
Zat yang berbau seperti feromon betina disebut atraktan yang dipasang pada perangkap yang diletakkan di kebun. Serangga jantan akan tertarik dan masuk ke dalam perangkap yang telah diberi air atau lem. Makhluk yang akhirnya masuk ke dalam jebakan umumnya kana tetap disana hingga mati (Majalah Trubus.2011).

D. Pitfall trap
Perangkap jenis ini digunakan untuk memperangkap serangga yang berjalan di atas permukaan tanah. Pitfall trap dibuat dengan cara membenamkan kaleng kecil ke dalam tanah. Di bagian dalam kaleng kita berikan larutan pengawet yang terdiri atas campuran 5 bagian propylene phenoxytol, 45 bagian propylene glycol, 50 bagian formalin, dan 900 bagian air. Untuk menarik kedatangan serangga, maka kita tempatkan umpan di dalam perangkap tersebut. Umpan diletakkan sedemikian rupa sehingga serangga akan tertarik oleh umpan tersebut. Perangkap ini diberi penutup untuk melindungi dari hujan atau gangguan lainnya (Jumar, 2000).

E. Aerial bait trap
Perangkap jenis ini berukuran relatif kecil, dan biasanya terbuat dari dua buah stoples plastik yang berdiameter 15 cm dengan bagian tutup berulir. Kedua stoples tersebut diletakkan berhadapan pada bagian mulutnya, satu diatas yang lain. Tutup stoples tersebut diberi lubang besar. Pada bagian dalam akan diletakkan corong yang dibuat dari kawat kasa. Bagian dasar dari stoples yang atas diberi ventilasi untuk mencegah kondensasi dan membiarkan serangga yang terperangkap akan tetap hidup.
            Serangga yang tertarik dengan umpan akan masuk melalui lubang pada stoples bagian bawah. Sesuai dengan perilaku serangga, setelah makan mereka akan terbang dan berjalan ke stoples atas melalui corongg kawat kasa dan tidak bisa lagi keluar.Serangga yang tertangkap dipindahkan ke botol lain. Perangkap ini diletakkan dengan cara menggantungkannya di atas sebuah tiang atau tanaman. Pada bagian penggantung diberikan zat penolah (repellan) untuk mencegah semut (Jumar, 2000)

E. ME dan Cue lure
Penggunaan senyawa atraktan dan perangkap dalam pengendalian lalat buah adalah satu hal yang tak dapat dipisahkan; dengan kata lain perangkap dan atraktan adalah komponen yang saling melengkapi sehingga mendapat hasil tangkapan. Aplikasi pengendalian demikian merupakan bentuk penekanan populasi yang dilakukan dengan teknik MAT (male annihilation technique). Lalat buah yang tertarik oleh senyawa yang bersifat penarik atau sebagai feromon seks ini adalah jenis jantan. Diasumsikan apabila populasi serangga jantan lalat buah di alam berkurang akan memberi dampak pada menurunnya regenerasi populasi spesiesnya. Lalat buah Tephritidae (=Trypetidae) merupakan salah satu famili yang memiliki jumlah genus dan spesies terbanyak dari ordo Diptera yakni terdapat sekitar 4000 spesies yang terbagi dalam 500 genus (White dan Elson-Harris, 1992). Menurut Metcalf (1991) dan Kuba (1991), Bactrocera (Dacinae) merupakan salah satu genus yang sangat penting secara ekonomis dan tersebar secara luas di dunia yang dapat ditemukan di daerah tropis maupun subtropis seperti Afrika, India, Taiwan, Jepang, Indonesia dan Kepulauan Pasifik (Anonim, 1988; Fay, 1989). Bactrocera adalah salah satu genus dari lalat buah yang merupakan salah satu serangga hama utama dan penting buah-buahan dan sayuran tropis (White dan Elson Harris, 1992Untuk melakukan monitoring atas populasi dan spesies yang menyenng sekaligus sebarannya dapat digunakan mt penikat atau atraktan. Jenis zat pemikat (ataktan) yang sering digunakan dan memiliki pengaruh daya pikat yang kuat ialah: Methyl Eugenol (ME) dan Cue Lure (Cue). Kedua atlaktan ini meinpunyai daya pikat yang be6eda, ME mempunyai daya pikat dengan j"ngkalan radius lebih kurang 0,8 kro, sedangkan Cue hanya pada radius O3 lm (Drew, 1978)



DAFTAR PUSTAKA/REFERENSI

Busnia, Munzir. 2006. Entomologi. Padang : Universitas Andalas pressAnthony RC, Ksren          FA, Amy E, Carmichael, Jhon AM, Ragbu S, Gmrge KR. Davit K.
Drew RAI. 1989. The Tropical Fruit Flies (Diptera: Tephritidae ) ofthe Australian and Oceanian   Regions. /z: memoirs of Queensland Museum. Vol.25.A-Queensland Gov.Project.52l pp.
Kalshoven.LGE. 1981. The Pest Of Corp Crops In Indonesia . Jakarta : Ichtiar Baru
Michael, P. 1994. Metode ekologi untuk penyelidikan ladang dilaboratorium. Jakarta :  universitas indonesia press.



BAHAN BACAAN
Yeartes. 2005. lnvasive Phytophagous pest arising through recent topical evolutionary radiation: T\e Bactrocera dorsalrs Complex of Fruit F[es. Annual Review of Entomology, 2005; 50:293-319.

Amstrong KF, Cameron CM, Frampton ER. 1997. Fruit Fly (Diptera: Tephritidae) species identification: arapid moleculer diagrostic lgshnigue for quarantine application. Bulletin Entomology Research. 87: I I l-l 18 f,hew RAl, Hooper GHS, Barcman MA. 1978. Economic fruit flies of the south Pacific Region, MCF, Romig Queensland. 137 pp.

Drew RAI, Hancock DL. 1994.'[\e Bactrocera dorsalis complex of fruit fly @iptera: Tepbritidae: Dacinae) in Asia Bulletin of Entomologist Research. Cab. Intemational.

Grainge,M. and S. Ahmed (1987). Handbook of Plants with Pest-Contol Properties. John Wiley & Sons. New York.

Hardy DE. 1983. The fruit flies oftribe Euphrantini of Indonesia" New Cuinea, and adjacent islands (Tephritidae: Diptera). lnternational Journal of Entomology 25:152-205

Kalli MB. 1992. Mengatasi buah rontok, busuk dan berulat Penebar Swadaya. Jakarta
Kardinm, A. 2ffi3. Mengeiral lebih dekat selasih I aeman ketramat multi menfaat. Agromedia Pustaka Taagemng

Liang GQ, Yang GH, Liang F, Ian QQ, Xu W. I 99 I . The first report of an analysis of protein fiom larvae offour species ot fruit fleis with elechoplioresis. Acta Agricultural Univenity Jianxiensis. 13:13zl-'136.

Pujiastuti,Y., T.Adam dan M.tiusmiati. 2007. Bioaktivitas Konrbinasi Minyak selasih hijau daD Ekstrak Buah Belimbing Sebagai Afiattan Lalat Buah (Bactocera spp) (Diptera : Tephritidae) Pada Tanaman Belimbing (Avurhoa carambola L)

Rohani and Ibrahin AG. 1990. llandbook on identification of&uit flies in the tnopics. Universiti Pertanian Malaysia Serdang.

Schoonhoven LM, Jermy T,and Van Loon JJA. 1997. trsect Plant Biology from Physiology to evolution. Chapman & Hall. Loudon

Whit€, I.A. and Errol-Hanis M. 199,4. Fruit flies of Economic Significance: Their identification and bionomics. ACIAR Austalia

0 comments :

Posting Komentar

Ikuti Saya ^___^

visitors

 

My Blog List

Feedjit

PLANT HOSPITAL Copyright © 2009 Flower Garden is Designed by Ipietoon for Tadpole's Notez Flower Image by Dapino